Ini pertama kalinya harga diri yang kutawarkan sendiri kepada seseorang dibuang begitu saja ke tong sampah di depan mataku sendiri !
Aku adalah orang memiliki gengsi yang tinggi.
Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan ini sangat memalukan.
Tidak ada perasaan benci, tapi hatiku remuk redam, mungkin hampir tak bersisa.
Bagaimana mungkin, seseorang yang sangat kamu kagumi dan karena itu kamu mencintainya – menghancurkan dirimu begitu saja dengan tanpa sedikitpun belas kasih, tanpa toleransi.
Apakah hatinya lebih dingin dari es? Membuat hatiku ikut beku dan kemudian hancur berkeping-keping.
Aku ingin membenci dunia karena mempertemukan diriku dengan dia. Mengapa dari begitu banyak orang di dunia ini aku bertemu dengannya dan paling parah mencintainya?
Apakah dulu, di kehidupan sebelumnya aku pernah menyinggung perasaan orang lain seperti caranya menyinggung diriku hari ini?
Jika memang begitu, maka makhluk malang itu bukan cuma aku, tapi mungkin juga dia. Karena karma akan terus berputar.
Walaupun aku ingin menghentikan roda karma supaya tidak berputar kearahnya – usahaku mungkin hanya akan berakhir sia-sia.
Lalu salah siapa ini?
Apakah salahku?
Apakah karena aku idiot?
Pastinya aku benar2 sangat idiot karena meskipun aku sudah tau hasil akhirnya mungkin akan tidak baik, aku masih tetap mencoba. Dan ketika hasil akhirnya memang benar2 tidak baik, aku mengeluh.
Salahkan aku.
Aku orang Idiottttttttttttttttttttt !
Hahahaha. A very very BIG Joke.
No matter how bad your condition today, no matter how much mistake been made, no matter about the circumstances, you can’t just give up.
Believe yourself, forgive yourself, and do the best for yourself and the everyone you care about.
Don’t afraid to be victim, don’t afraid of suffering, do belive in your own strength and keep going on.
Even when you have no one to rely on, be a master of yourself. Be a brave elephant that walked down the jungle all by itself, with no fear, only a calm mind and immovable resolution.
Do not afraid of losing for all of these are impermanent.
Promise me, don’t give up and keep going on. Your trueself is always be with you. Believe in him.
Dalam posting sebelumnya (Kebahagiaan dan Penderitaan), saya pernah menyebutkan bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah seperti 2 sisi pada satu pedang yang sama.
Jika Anda melihat pedang samurai, satu sisi adalah sisi yang tumpul dan sisi lainnya adalah sisi yang tajam. Anda tidak akan mengatakan bahwa pedang itu berbahaya disatu sisi dan tidak berbahaya disisi lainnya. Anda hanya akan mengatakan bahwa pedang itu berbahaya, jika Anda senang bermain-main dengannya.
Read the rest of this entry »
Perasaan cemburu erat hubungannya dengan kebencian, dan kebencian membuat otot muka menjadi tegang. Oleh karena itu perasaan cemburu membuat kita terlihat buruk.
Perasaan cemburu juga erat hubungannya dengan perasaan suka terhadap sesuatu.
Ketika kita menyukai sesuatu namun tidak mendapatkannya, sebaliknya orang lain mendapatkannya dengan mudah perasaan cemburu itu juga akan muncul.
Tidak mudah untuk hidup dengan membawa perasaan semacam itu, karena perasaan itu akan meracuni pikiran kita sehingga diri kita terpancing untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan bagi diri sendiri dan atau orang lain. Oleh karena itu kita mesti mencamkan baik-baik dalam pikiran kita supaya tidak terlalu berharap terhadap sesuatu yang ada di luar penguasaan kita.
Alih-alih merasa tidak senang karena tidak mendapatkan apa yang kita sukai, akan lebih baik jika kita memikirkan apa yang kita miliki saat ini dan merasa puas terhadapnya.
Read the rest of this entry »
Jika Anda berusaha terlalu keras untuk mengejar kebahagiaan, Anda akan semakin jauh dari kebahagiaan tersebut.
Kebahagiaan bukanlah untuk dikejar melainkan untuk dirasakan.
Kebahagiaan tidak semata-mata mengenai apa yang harus Anda korbankan untuk mendapatkan sesuatu yang membuat Anda bahagia.
Kebahagiaan juga berfokus pada apa yang Anda miliki saat ini.
Apakah Anda sudah cukup berterima kasih untuk apa yang Anda miliki saat ini?
Oleh karena itulah ada orang yang mengatakan bahwa mengejar kebahagiaan tidaklah mesti menderita. Jika Anda menghargai apa yang Anda miliki saat ini dan bekerja bersama-sama dengan semuanya itu untuk meraih kebahagiaan lainnya maka Anda tidak punya alasan untuk menderita.
Tentang Rasa Sakit
Rasa sakit yang kita rasakan adalah sebesar perhatian dan kekhawatiran yang kita berikan kepada rasa sakit itu.
Jika kita menerima rasa sakit itu apa adanya, memperhatikannya dengan pikiran yang tenang, lambat laun rasa sakit itu tidak akan mengganggu kita lagi, meskipun ia hanya akan tetap berada disana.
the taste of bitterness is not only provided by the food but also the one who eat it. even consession doesn’t prove anything if every mind are troubled.
“Burung Gereja Tidak Akan Memahami Maksud dan Tujuan Burung Phoenix” – AT
Itulah kira-kira isi status facebook yang diposting salah satu teman saya beberapa waktu lalu.
Kata-kata tersebut membuat saya berpikir, apakah benar maksud dan tujuan (dari pikiran) burung phoenix selalu adalah yang paling tepat dan paling baik?
Read the rest of this entry »
Siapakah diri saya yang sebenarnya?
Saya bukan sedang amnesia, juga bukan orang yang tidak waras.
Apa yang saya tanyakan adalah sebuah pertanyaan yang sangat sederhana yang mungkin dirasa terlalu tolol bagi orang-orang yang merasa dirinya pintar.
Kenyataannya saya tidak tahu persis apakah perasaan mereka tentang diri mereka yang pintar lebih akurat dari kenyataan sebenarnya yang ada di lapangan.
Lalu, siapa diri saya?
Pertanyaan itu mungkin terlalu sederhana. Namun jawaban yang bisa dihasilkan mempunyai potensi menjadi lebih dari sekedar jawaban yang secara umum membuat orang mengantuk.
Jika kita berpikir seperti orang kebanyakan, pertanyaan seperti itu mungkin akan dijawab dengan memberikan nama, atau profesi atau jabatan, atau kewarganegaraan. Namun bagi orang yang pemikirannya mencakup ruang lingkup yang jauh lebih luas mungkin akan mempunyai jawaban yang sama-sekali tidak biasa dan membuat kita tergelitik untuk mengetahui lebih lanjut.
Seperti misalnya jika saya ditanya pertanyaan seperti itu, mungkin saya akan menjawab bahwa saya bukan orang yang tidak bisa diandalkan namun juga bukan orang yang bisa diandalkan.
Saya adalah saya, seorang pekerja keras, seorang yang hanya tahu berbuat yang terbaik tanpa dibebani harapan orang lain tentang anggapan bahwa saya orang yang bisa diandalkan atau tidak bisa diandalkan.
Sejujurnya saya tidak terlalu perduli bagaimana orang lain memandang saya, saya berusaha untuk fokus kepada diri saya sendiri. Saya bertanya kepada diri saya sendiri… “Siapa saya sebenarnya”? – Lalu saya menjawabnya sendiri : ”Saya bukan siapa-siapa namun hanya seseorang”. Tidak kurang dan tidak lebih, tidak ada penitikberatan pada reputasi ataupun citra yang dibangun melainkan hanya sebuah pribadi yang berkembang secara alami layaknya buah pisang yang tumbuh dari sebatang pohon pisang.
Lalu jawaban apa lagi yang bisa muncul dari pertanyaan : “Siapa saya?”
Mungkin hanya orang lain yang akan bercerita panjang tentang siapa diri saya. Mereka akan bercerita mengenai apa yang mereka lihat dan menilai dengan pengetahuan yang mereka rasa paling benar. Itu sama sekali kurang penting, namun jika saya sendiri tidak mampu mengenali diri saya sendiri maka saya juga akan gagal mengenali realitas murni dari hidup ini.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa pengenalan diri yang paling ultimit adalah pengenalan secara holistik, dan bukannya sebagai individual demi sebuah pencapaian yang sebenarnya tidak terlalu signifikan.

Jika suatu saat Anda berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan tidak ada satu orang pun yang datang memberi uluran tangan atau setidaknya mendengar keluh-kesah Anda, apakah Anda akan merasa sangat kasihan terhadap diri sendiri?
Pada dasarnya mengasihani diri sendiri sangat mendekati perasaan putus asa dimana Anda tidak lagi punya semangat untuk melanjutkan atau bisa dibilang Anda pasrah mengenai nasib Anda.
Tapi ada satu hal dimana ketika perasaan kasihan terhadap diri sendiri itu bertolak menjadi sesuatu yang positif.
Read the rest of this entry »

The first time we born into this world, we don’t have anything in our memories. It’s just like a book with white blank pages inside.
How old are you now?
What memories do you have until now?
In real life, we can always erase the unwanted part of the book, but also in real life no matter how hard we try it’s impossible to erase unwanted memories.
If that happen, then what should we do?
Read the rest of this entry »
All you need is to be happy, and you can’t get that by bowing down to someone nor by giving flowers to someone you like.
Because the happiness we talk about is not that kind of (happiness)..
Worldly happiness, that’s how I called it.. even though the feeling seems so real, it will eventually wilt, because time will take it all and give something new only for it to be taken again.
This is what we called ‘change‘.
‘Change’ is inevitable,
that’s why…
-The real happiness is not the exact opposite of suffering.-
To see the real one, you can’t wear any kind of glasses that will manipulate your sight.
Some people surrounded by problems thus looking for a way out, but they seems unable to find a way out.
Why?
Because their mind has already set boundaries that should not be crossed under any circumstances.
They are trapped in their self-made prison.
They live behind the bar and doesn’t even realize that the bar isn’t really exist.
…
…
Happiness: The Final Conclusion …
You must set your vision further in order to understand how things works.
Fail to do so, you will just live in ordinary life, vulnerable to suffering and sorrow of the world.