Hardy Chen Power Blog

Powered by STRONG WILL !!!

Cloudy Day…

Today, surprisingly the weather is a lil bit cloudy.

Heh… to think about it, I always like this kind of weather, but one of my friend don’t like it. He said cloudy weather is like giving an impression that someone is sick.

Hm.. I think it’s just a matter of point of view.

To be honest, I hate sunny hot weather. But I always wonder why people in european country mostly like to take on vacation to tropical island? It’s hot in here you know !!!

Ha… maybe they are just bored with cold weather at their own country. It can be helped, of course.

In my country there’s a popular idiom : “neighbour’s grass is always greener than your own grass”. It means that we often feel that what we have is not as good as what the neighbour has. To sum it up, it also means that human will never satisfied with what they have, instead they’re always jealous with what other people had. What a pity, right?

We seemed to chase on a lot of things endlessly to the point that we forget to appreciate what we already had.

Greed is one of human problem. It consume your precious time without you knowing about it. It’s progressed to a degree that we actually don’t know what we want. We become confused, unsettled, lost in the middle of nowhere.

So, what would you gonna do if you come into this circumstances?

Honestly said, it once happened to me, and sometimes if I get lucky, I feel tired and easily forget anything. That’s the only time when I feel really relaxed. But most of time, I can’t let go of all my daily works, all my worries, and every stuffs in my head. It’s like your brain tied up to a strong iron chain that made you hard to let go all your problems.

I always said to myself that in order to free myself I need to rely on myself. Others can just give some help, but they will never be able to take the problems out of your head and finish it off at once. But sure, words is always easier to said than to be accomplished.

Argh… I think I gonna need good rest and meditate to calm my mind.

Nuansa Hidup – Ketidakkekalan (26)

Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik.

Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap orang harus mati? Kalaupun harus mati, kenapa mati di usia muda? Kenapa harus dilahirkan untuk mati? Kenapa kelahiran disambut dengan tawa dan bahagia sementara kematian disambut dengan tangisan? Hahhh… Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri saya berkenaan dengan kematian teman saya. Inilah kilas balik yang akhirnya membuat saya berpikir tentang tujuan hidup. Dunia ini dalam satu menit telah terjadi begitu banyak kelahiran dan kematian. Kehidupan sungguh tidak pasti, namun kematian adalah pasti. Hidup bagaikan salju, panas matahari akan mencairkannya.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Nuansa Hidup – Saat tepat untuk peduli (25)

Buddha bersabda, “Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak[Read the rest of this entry...]

Nuansa Hidup – Bahagia dalam Pelayanan (24)

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.

Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, “Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi saya bisa berbuat sesuatu untuk pasien yang sedang sakit”.

Orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang telah mencari dan menemukan jalan untuk melayani. Mereka mengerti bahwa tidak mungkin berbuat yang terbaik baginya tanpa memberikan yang terbaik bagi yang lain.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Nuansa Hidup – Memberi berarti juga menerima (23)

Buddha bersabda, “Seandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.
Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya.
Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia menganjurkan kepada kita agar jangan ragu dalam memberi. Banyak diantara kita masih berpikir bahwa memberi berarti berkurang. Cara berpikir seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita terhadap hukum karma. Siapa yang menabur benih, dia yang akan memetik hasilnya.
Karenanya berikanlah dana pada mereka yang membutuhkan. Kebajikanmu akan memberikan kebahagiaan, tidak peduli apakah engkau memintanya atau tidak.

Seorang Boddhisatva bernama Sumedha, suatu kali di keheningan malam menyadari kehampaan dunia yang indah ini. Ia berkata, “Aku kehilangan dengan apa yang kusimpan, namun aku memperoleh dengan apa yang kuberikan. Memberi adalah menyebar benih yang akan membuahkan hasil.
Keesokan harinya, ia mendermakan semua kekayaannya bagi para miskin, sambil mengucapkan pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Inilah salah satu praktek kesempurnaan kemurahan hati dari seorang boddhisatva yang tidak lagi melekat pada kekikiran dan mementingkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin membantu orang lain tanpa membantu diri sendiri, atau merugikan orang lain tanpa merugikan diri sendiri. Memberi berarti juga akan menerima.

Suatu hari seorang guru zen mendatangi rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kekikirannya. Setibanya di rumah saudagar tersebut, sang guru memberi sebuah teka-teki (koan). “Bagaimana menurutmu jika tangan selalu terbuka?” tanya sang guru.
haha..Itu berarti tangan yang tidak berguna“, jawab saudagar tersebut.
Kalau tangan yang selalu tertutup?“, tanya guru lagi.
Itu juga tidak berguna“, jawabnya dengan mantap.
Bagus. Tangan yang selalu terbuka atau tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tidak akan pernah dapat terbang. Jika engkau mengerti dan menjalani hidup sesuai dengan pengertian tersebut, maka engkau akan menjadi orang makmur yang sebenarnya. Renungkan itu.“, kata sang guru sambil berlalu.
Setelah mendengar Dharma dari guru, saudagar tersebut mengerti bahwa kekikiran dan pemborosan adalah dua hal yang tidak berguna. Esok harinya ia membagikan beras kepada orang-orang yang tidak mampu. Sang guru setelah mengetahui hal ini berkata, “Ia sedang membuat jalan ke surga.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Hidup Tidak Adil ?

Life is Not Fair?
Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu.
Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat?
Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah lagi keseimbangan jiwanya terganggu. Masih untung jika dia benar-benar jadi gila (setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan kemalangan tersebut), tapi kenyataannya dia masih waras dengan luka berat di hatinya.
Inilah penderitaan.
Lantas dia berkata : “Hidup TIDAK ADIL !!!”
Life is unfair,… huh ? [Read the rest of this entry...]

Menghadapi Kekalahan

Menurut Anda siapakah lawan terberat Anda selama ini? Apakah orang tersebut adalah orang yang sudah mengalahkan Anda dalam sebuah pertandingan atau kompetisi yang Anda lakoni?

Perlu Anda ketahui, lawan terberat Anda adalah lawan yang sama sekali tidak membenci Anda ketika ia mengalami kekalahan, sebaliknya ia malah akan merasa sangat senang dan sangat berterimakasih atas perlawanan ketat yang telah Anda berikan kepadanya. [Read the rest of this entry...]

Nyata atau Tidak Nyata ?

Seseorang pernah bertanya kepada saya, apa yang nyata dan apa yang tidak nyata?
Saya tidak bisa memberikan jawabannya, karena saya merasa saya memang tidak perlu menemukan jawabannya.

Jika saya tetap berkutat dengan pertanyaan itu, maka apa yang saya pikirkan waktu itu adalah tidak nyata. Namun jika saya berhenti bertanya dan menerima segala sesuatu apa adanya maka itulah kenyataan. [Read the rest of this entry...]

Jalan Menuju Pencerahan

Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan?

Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan?

Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet? :)

Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu kita tanyakan diri kita sendiri… kenapa kita mencari tempat seperti itu?

Alasannya sederhana, karena kita mencari kebahagiaan yang sejati. Namun apakah kebahagiaan yang sejati bisa ditemukan di “suatu tempat”?

Apa yang kita cari bukanlah tempat, melainkan kondisi. Hanyalah bahasa yang terkadang memiliki ambiguitas sehingga sering kali kita terjebak dalam kata-kata.

Orang yang hidupnya senang, tentu akan sangat sulit untuk berpikir untuk mencari kebahagiaan sejati, karena apa yang dipikirnya sebagai kebahagiaan sejati adalah apa yang dirasakannya sekarang, yang tidak lain adalah kebahagiaan duniawi.

Jika itu adalah kebahagiaan duniawi, lantas bagaimana yang disebut dengan kebahagiaan yang sejati. Menjawab pertanyaan itu adalah sangat tidak mungkin untuk saya, karena saya sendiri belum mencapai pencerahan sempurna. :)

Namun meski begitu saya tahu bahwa kebahagiaan duniawi bukanlah kebahagiaan sejati. Mengapa?
Karena kebahagiaan seperti itu ada kondisi, ada syaratnya. Katakanlah Anda hidup bisa makan enak, bisa punya ini punya itu, semua itu harus ada syaratnya, yaitu harus punya uang. Tanpa uang, mungkin Anda punya cara lain untuk mendapatkannya. Cara tersebut juga adalah sebuah syarat, sebuah kondisi yang harus dipenuhi. Sedangkan kondisi selalu berubah, sehingga dengan demikian kebahagiaan tersebut tidak abadi. Kebahagiaan itu mengandung cacat, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yg sifatnya ‘sejati’.

Dulu, saya bukanlah seseorang yang peduli dengan segala tetek bengek filosofi seperti ini. Namun setelah mengalami penderitaan dan kesedihan yang mendalam, barulah saya sedikit demi sedikit menyadari ketidakkekalan – kebahgiaan yan berkondisi, tidak memuaskan, namun sangat sulit untuk dilepaskan.

Oleh karena itu saya berpikir, terkadang karena satu pengalaman yang sangat pahit barulah kita bisa sedikit membuka mata kita terhadap kebenaran dengan pengeculian terhadap beberapa orang yang malah semakin gelap mata – tidak mau melepaskan perasaan yang sudah seharusnya dilepaskan, dan terus menerus meracuni diri sendiri dengan kebencian, dendam, keputusasaan dan penderitaan yang ikut bersama-sama dengan perasaan tersebut.

Pertama kalinya saya mengalami kesedihan yang sangat hebat, saya tidak menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Namun sebelum saya sempat berpikiran bodoh, satu pikiran berkelebat di otak saya – bahwa kematian menyakitkan – bahwa saya tidak yakin bahwa di masa yang akan datang saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang baik lagi. Saya merasa takut kehilangan kesempatan akan sesuatu yang baik yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang seandainya saya tetap bertahan.

Begitulah saya terus melewati hari demi hari dengan penuh kesedihan. Satu tahun lewat, dua tahun juga lewat namun rasa sakit itu masih belum hilang.
Ternyata luka dihati lebih susah sembuh dibanding luka di badan. Semakin lama saya semakin merasa menderita karena semakin banyak kenangan indah yang saya ingat rasanya semakin sakit hati.

Dari sanalah saya mulai berpikir, semakin besar kebahagiaan yang saya rasakan semakin besar juga penderitaan yang saya terima saat kebahagiaan itu pergi. Kebahagiaan tidak lain adalah satu bagian dari koin bersisi dua, satunya adalah surga dan satunya adalah neraka. Kebahagiaan dan penderitaan yang saya alami juga bukanlah berasal dari luar, melainkan berasal dari dalam. Faktor faktor luar hanyalah sebuah pemicu atau mungkin lebih tepat disebut sebagai umpan dan saya nyata-nyata telah memakan umpan itu karena ketidaktahuan saya.

Lalu saya mulai belajar untuk menenangkan pikiran saya.
Disanalah tanpa saya sadari, saya perlahan-lahan sudah mempraktekkan meditasi. Dan setelah saya benar benar mengenal istilah meditasi, saya membeli banyak buku-buku tentang meditasi dan mempraktekkannya.

Pada saat awal mempraktekkannya dengan serius, saya merasa meditasi itu sangat susah. Pikiran ini seperti monyet, tidak bisa dikendalikan. Sekali diam setelah beberapa saat kembali akan muncul banyak pikiran yang menghalangi proses meditasi saya.
Perlu diketahui bahwa dalam meditasi, kita tidak belajar untuk mengosongkan pikiran, namun secara santai memfokuskan pikiran pada satu objek. Pada saat itu objek meditasi saya adalah pernafasan.

Pada saat-saat awal, saya tidak pernah bisa meditasi lewat dari 15 menit, sungguh sangat menyebalkan pikir saya waktu itu.

Saya merasa ada yang salah. Meditasi tentu bukan begini caranya. Saya kembali berpikir di masa yang lalu ketika saya belum begitu mengenal istilah meditasi, secara tidak sadar saya sudah melakukannya dengan sangat mudah. Mengapa setelah saya mengetahui lebih banyak teori tentang meditasi, semuanya malah semakin rumit?

Kemudian saya memutuskan untuk tidak memperdulikan semua teori-teori itu lagi. Saya duduk, kemudian memfokuskan pikiran pada pernafasan. Setiap kali muncul satu pikiran, saya menanggapinya dengan santai, saya menerima pikiran itu apa adanya, tidak berusaha untuk menolaknya. Terkadang saya malah bisa menemukan sesuatu yang lucu dari pikiran pikiran yang datang itu, tidak peduli apa jenis pikiran yang datang itu.

Setiap kali ada pikiran yang datang saya menerima pikiran itu dan kemudian perlahan-lahan memfokuskan pikiran kembali ke pernafasan. Hal tersebut terjadi berulang-ulang, namun saya biarkan saja. Padahal jika ditilik dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya seharusnya sudah merasa sangat jengkel. Tapi kali ini sama sekali tidak. Karena pada saat itu boleh dibilang saya sudah berada pada keadaan yang setengah serius dan setengah bermain-main. :)

Dari sanalah saya mulai sadar, mengapa latihan-latihan saya yang sebelumnya saya lakukan semakin lama semakin pendek jangka waktunya. Itu karena semakin lama semakin besar kejengkelan yang saya rasakan. Saya telah gagal mendeteksi perasaan itu dan inilah yang menjadi penghalang utama dalam proses meditasi saya. Semua teori-teori yang saya pelajari saya anggap sebagai sebuah beban, sebuah misi yang harus saya selesaikan – padahal meditasi adalah belajar untuk melepaskan beban, bukan sebaliknya mengangkat beban tersebut dipikiran saya. Saya telah melakukan sebuah kesalahan dan sekarang saya memperbaiki kesalahan tersebut.

Setelah saya berhasil mengatasi rasa jengkel tersebut dan menerima dengan lapang dada semua pemikiran yang muncul dalam pikiran saya, kemudian perlahan-lahan mengarahkannya untuk pergi – saya merasa seperti mendapatkan pengalaman baru.

Semakin lama frekwensi datangnya pikiran-pikiran itu semakin sedikit, dan pikiran saya makin lama makin halus. Tidak ada bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan seperti ini. Pada waktu itu saya merasa bahwa hati ini sangat damai, pikiran sangat bersih, tanpa hambatan dan segala sesuatunya terasa berjalan begitu lancar. Aliran darah dan nafas sangat teratur, dan pikiran menjadi jauh lebih terang dibanding sebelumnya. Setiap kejadian, setiap hal sekecil apapun dilihat dengan pandangan terbuka, persis seperti anak kecil yang baru lahir yang sedang mempelajari dunia luar. Bedanya sekarang saya lebih mempunyai pertimbangan dibanding anak kecil. :)
Dalam keadaan seperti itu, bahkan kejadian jatuhnya sehelai daun bisa memberikan banyak pelajaran kepada saya.

Pengalaman seperti itu sama sekali bukan pencerahan. Bahkan boleh dibilang saya bahkan belum menempuh 1/8 jalan yang harus saya tempuh. Jadi saya terus berlatih, sampai pada tahap dimana kekuatan jahat itu muncul dari dalam, menggoyahkan batin dan menguasai pikiran saya sewaktu saya sedang tidur. Pada saat sebelumnya, ketika meditasi saya sudah mencapai tahap yang mencukupi, saya bisa mengontrol mimpi dalam tidur saya. Tapi kali ini saya gagal. Semua usaha saya hancur seketika, dan pikiran saya kembali ke keadaan semula.

Saya sedikit merasa kecewa. Namun saya tidak berhenti untuk berusaha. Saya akan mengulang dari awal. Saya masih ingat bagaimana perasaan luar biasa yang saya rasakan pada saat meditasi saya berhasil dan itu sudah menjadi satu pengalaman yang berharga buat saya. Saya juga sudah melihat sendiri bagaimana bentuk kekuatan jahat yang bersemayam di dalam diri setiap manusia dan itu akan menjadi pelajaran buat saya untuk kembali menghadapinya suatu saat nanti.

Semoga…
Dan setelah saat itu tiba, saya akan kembali menulis. Mungkin untuk dibaca diri saya sendiri di kehidupan yang akan datang. :)

Nuansa Hidup – Kekikiran, Iri Hati dan Keserakahan Sebagai Penghalang (22)

Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, "Maaf, tak ada seorang pun disini".
"Aku tak ingin siapapun", kata pengemis, "Aku cuma ingin makanan".

Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, "Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa."
Seseorang yang menikmati buah karma baik masa lalu dan sekarang tidak bermurah hati, ia seperti orang yang hidup dari tabungannya di bank. Terus menerus menarik uang tabungan tanpa menambahnya.

Kita mesti memahami bahwa kelimpahan adalah mencari si miskin. Bagaikan kecantikan mencari cermin. Maka para miskin adalah cermin kemurahan hati kita. Yang dermawan membuka jalan bahagia bagi dirinya.

Buddha mengatakan, "sesungguhnya, siapapun yang menghalang-halangi orang lain berdana akan melakukan tiga kesalahan. Apakah tiga kesalahan itu?
Ia menghalangi pemberi dana untuk mendapatkan kebaikan, ia menghalangi penerima dana untuk mendapatkan persembahan, dan ia telah merusak dirinya sendiri dengan kekejiannya."
Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut ketulusan mereka. Karena itu barang siapa yang iri terhadap keberuntungan orang lain, tidak akan memperoleh kedamaian sepanjang hari.

Praktek berdana akan membantu usaha kita untuk memurnikan pikiran. Keserakahan dan kekikiran dapat dikikis. Kebahagiaan dan berkecukupan adalah hasil dari berdana. Kita mesti mengingat sebuah syair yang berbunyi: Iri hati melenyapkan perbuatan baik, seperti api membakar kayu. Kemurahan hati menghancurkan permusuhan, seperti air menyiram api.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

  • Categories

  • Archives

  • Amazon Product

  • Sponsors