Monster in our heart
Setiap manusia memiliki monster dalam dirinya. Ketika manusia menemukan sesuatu yang sangat ia sukai, ia tidak kuasa untuk melepaskannya.. Karena monster bernama egoisme selalu memiliki kekuatan yang sangat hebat untuk membuat kita menderita, karena monster ini tidak pernah ingin kalah.
Dalam kiprahnya, monster bernama egoisme sering kali masih kalah kuat dari monster lainnya yang ada dalam diri manusia yaitu gengsi. Terkadang gengsi mengarahkan perbuatan kita menuju arah yang benar (meskipun tidak selalu begitu).
Ketika egoisme tidak mampu mengalahkan gengsi maka egoisme hanya bisa melakukan hal yang nekat, mencoba menyerang gengsi secara frontal dan menyebabkan peperangan di dalam diri manusia. Dan ketika peperangan itu terjadi, manusia sering kali menjadi bingung, dan marah, sedih juga sekaligus kecewa.. Semua perasaan berkecamuk menjadi satu dan membuat perasaan manusia tidak tenang.
Mungkin jika hal tersebut tidak bisa ditenangkan, maka bisa membuat manusia menjadi gila, atau melakukan hal-hal yang bodoh, seperti melukai diri sendiri.
Dalam kasus seperti ini, apa yang harus dilakukan oleh ‘intisari jiwa’, sebagai pemimpin bagi tubuh dan pikiran manusia ini ??
Seringkali kekuasaan sang pemimpin terlalu lemah sehingga semuanya dilakukan ataupun dikendalikan oleh monster-monster itu (yaitu para menterinya sendiri). Sang pemimpin dalam hal ini memiliki beberapa pilihan :
1. Membiarkan perang itu terus berlanjut sampai ada pemenangnya.
2. Membiarkan perang itu terus berlanjut meskipun tidak terlihat tanda-tanda akan keluar pemenangnya.
3. Mengutus pasukan rahasia (special forces) untuk melumpuhkan(membius) atau bahkan membunuh kedua monster yang sedang bertarung. Tapi opsi membunuh sangat sulit dilakukan mengingat meskipun kedua monster ini seringkali membuat kekacauan, tapi mereka juga yang berperan membuat manusia tetap bisa berperan hidup (tentu saja dengan pengaruh yang terbatas)

Leave a Reply