“Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti”
Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Karena ego, maka ada yang disebut ‘pengorbanan’, berguna ataupun tidak berguna.
Lalu apakah harus melepaskan ego?
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?
Read the rest of this entry »
Hidup itu sangat mudah kalau w hanya memikirkan diri sendiri.
Namun kenyataannya kita tidak hidup sendirian. Banyak orang menaruh harapannya di pundak kita, entah itu orang tua, saudara, famili, ataupun teman teman.
Untuk menjadi orang yang egois tentu saja sangat mudah. Melupakan semua harapan itu dan mengejar keinginan sendiri. Namun tegakah kita melakukan itu?
Terkadang juga kita juga terpaksa harus berpura pura, berbohong, dan sok kuat di depan orang lain hanya supaya mereka mau mendengarkan apa yang ingin kita katakan. Bahkan terkadang hal itu malah bertolak belakang dengan apa yang kita percayai selama ini.
Mengapa?
Karena sebagian dari kebenaran terlalu menyakitkan untuk dikatakan secara gamblang, karena sebagian nasehat juga terlalu mudah untuk diucapkan dibanding dilakukan, maka terjadilah hal seperti itu.
Pada saat kita memberi nasehat pada orang lain ada kalanya kita seperti menyentak diri sendiri, menyinggung diri sendiri. Mengapa pada kondisi yang sama kita berbuat yang berbeda?
Seperti saat orang tersandung, ada kalanya ia tidak dapat menolong dirinya sendiri, ia membutuhkan bantuan orang lain, sama halnya ketika kita yang tersandung, terkadang kita membutuhkan orang lain untuk ‘menangkap’ kita karena pada saat itu posisi kita sudah tidak stabil.
Namun ada kalanya juga kita benar benar harus bergantung pada diri sendiri. Pada saat kita jatuh dan tidak ada orang yang datang menolong, maka kita hanya bisa berharap pada diri sendiri. Bangkit dengan kekuatan sendiri dengan sisa sisa tenaga dan tekad yang ada.
Oleh karena itulah… TETAP SEMANGAT !!!
Suatu kali saya didatangi seorang tua yang mengeluh bahwa anaknya tidak mau mendengar nasehatnya. Hal ini membuat dirinya sedih dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara dirinya dan sang anak. Apa yang salah pada ini semua? Orangtua karena rasa sayang dan khawatir akan masa depan sang anak, membuat peraturan-peraturan yang lebih dikenal dengan, “Ini boleh dan itu tidak boleh.” Disisi lain, sang anak juga mengeluh kebijakan orang tua yang dianggap over protecting hingga terkesan tidak bisa mandiri dan yang lebih ekstrim lagi, ia katakan sebagai “mematikan kreativitas atau membunuh karakter”.
Jika kita membayangkan diri kita sebagai orang tua tersebut dan mencoba untuk merasakan bagaimana perasaan orang tua terhadap anaknya, maka kita dapat memahami bahwa tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya menderita. Orang tua tentunya menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Pada saat yang sama, kita menukar diri kita sebagai seorang anak yang merasa dikekang oleh peraturan peraturan orang tua, kita dapat merasakan bagaimana tekanan yang ada bila harus mengikuti kemauan orang tua yang tidak sesuai dengan bakat dan minat kita. Tentu hal ini dapat membuat sang anak frustasi dan putus asa.
Sebenarnya akar persoalan bukan terletak pada mana yang mesti dipilih, tetapi lebih dikarenakan kurangnya saling pengertian antara orang tua dan anak. Komunikasi merupakan hal penting untuk menyamakan persepsi dan menumbuhkan saling pengertian pada orang tua dan anak. Seringkali orang tua dalam berkomunikasi, selalu satu arah. Orang tua ingin sang anak mengerti dan melakukan apa yang mereka harapkan. Sementara itu mereka tidak mencoba untuk mengerti cara berpikir dan keluhan sang anak. Ketika sang anak merasa tidak mungkin bisa curhat dengan orang tua, maka disaat mereka memiliki masalah, orang tua sudah tidak lagi menjadi orang terdekat yang bisa memberikan kesejukan dan kedamaian. Hal yang sering dilupakan orang tua seperti yang Buddha katakan adalah pentingnya melakukan pendekatan dengan kasih sayang.
Walaupun orang tua mengharapkan yang terbaik bagi anaknya, bukan berarti jalan yang mereka pilih untuk anaknya tepat. Hal penting yang harus dipahami adalah perubahan dan perkembangan ilmu dan teknologi tentunya menuntut anak-anak sekarang lebih kreatif dan inivatif. Anak-anak bagaikan cermin. Kalau mereka berada dalam suasana kasih, kasih itulah yang mereka pantulkan. Kalau kasih tidak ada, mereka tidak mempunyai apapun untuk dibagikan.
Khalil Gibran suatu kali berkata : Anak-anakmu adalah bukan anak-anakmu. Meskipun mereka bersamamu, tapi mereka bukan milikmu. Engkau boleh memberikan cintamu tapi bukan pemikiranmu. Janganlah membuat mereka sama denganmu. Biarkanlah mereka tumbuh dengan bebas.
Pada batasan tertentu, orang tua memang mesti mengambil peranan penting bagi perkembangan anak-anak mereka (seperti moral etika) sebagai wujud tanggung jawab dan kasih sayang mereka. Namun pada hal-hal tertentu orang tua dapat memberikan kepercayaan kepada anaknya untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka.
Dikutip dari buku Nuansa Hidup – Bhikkhu Nyanakumuda
Banyak permasalahan yang timbul sering kali hanya dikarenakan keterbatasan pemahaman kita terhadap realita yang sebenarnya. Pikiran sempit, sifat ingin menang sendiri dan prasangka buruk adalah akar dari permasalahan. Seseorang yang berpikiran sempit, selalu saja menutup diri dari kemungkinan kemungkinan lain. Ia tidak dapat menerima pandangan orang lain dan menanggap dirinyalah yang paling benar, terlebih lagi ia akan menanggap orang yang berbeda pandangan dengan dirinya sebagai musuh sekaligus orang yang menyesatkan. Orang dengan cara pandang seperti ini bagaikan cangkir yang telah penuh dengan air kotor dan tidak ada gunanya bila diisi dengan air yang bersih.
Ada sebuah syair zen berbunyi: “Mengerti banyak hal menjadi pandai, mengerti banyak orang menjadi bijaksana, mengerti diri sendiri menjadi cerah.” Ketika seseorang mengerti banyak hal, berarti dia memiliki wawasan luas sehingga dapat menghindari pikiran sempit menanggap apa yang diketahui adalah merupakan satu-satunya kebenaran. Proses belajar tidak berhenti pada saat seseorang menyelesaikan study dan mendapat gelar profesor atau PhD. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan baru juga terus berlangsung. Karenanya seseorang hendaknya terus belajar dan mengikuti perkembangan yang ada agar terhindar dari berpikiran sempit.
Thich Nhat Hanh dalam bukunya berjudul interbeing mengatakan : “Kebenaran ditemukan dalam kehidupan dan tidak hanya dalam konsep pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar melalui semua kehidupan Anda dan amati kenyataan yang ada di dalam dirimu dan dunia setiap saat.”
Syair berikutnya adalah mengerti banyak orang menjadi bijaksana. Ada pepatah yang mengatakan : seribu orang, seribu karakter. Ketika kita berkumpul dengan banyak orang atau katakanlah dalam keluarga kita sendiri, kita akan menemukan perbedaan karakter dari setiap anggota keluarga kita. Terkadang masalah muncul lebih disebabkan oleh kurangnya saling pengertian antar mereka. Satu sama lain saling menyalahkan dan menanggap merekalah yang paling benar. Kita selalu dapat memaklumi dan mengecilkan kesalahan yang kita lakukan. Pada saat yang sama, kita membesar-besarkan kesalahan orang lain kepada kita(hiperbola). Inilah salah satu sisi lemah yang ada pada diri kita. Seseorang tidak semestinya mengasihani dirinya sendiri dengan memaklumi kesalahannya dan membesar-besarkan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Seperti yang YM. Jinadhammo Mahathera katakan, “Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dilupakan.” Demikianlah yang seharusnya kita lakukan agar keharmonian dan kebersamaan menjadi mungkin.
Sifat seseorang terbentuk dari kebiasaan yang ia lakukan dan dipengaruhi lingkungan sekitarnya yang ia cerap. Dalam bahasa Sansekerta disebut vasana atau sifat dasar yang mempengaruhi kecenderungan seseorang melakukan sesuatu. Karenanya marilah kita mencoba untuk mengerti keberagaman yang ada dengan pengertian benar. Ini sama halnya dengan makanan. Ada yang makan nasi, ada yang makan roti dan yang lain makan jagung. Walaupun jenisnya berbeda, tapi itu semua toh merupakan makanan dan dapat mengenyangkan. Seorang bijak semestinya mengerti orang lain daripada berharap orang lain mengerti dirinya.
Ajaran Buddha dibabarkan agar kita dapat hidup harmoni dengan sesama dan mengerti diri kita sendiri. Untuk dapat mengerti segala sesuatunya sebagaimana adanya, kita harus memahami diri kita yang sebenarnya. Penderitaan seringkali muncul dikarenakan ego yang kita miliki. Sepanjang pandangan tentang “Aku dan Milikku” masih melekat pada diri seseorang, penderitaan akibat dari pandangan salah ini akan terus berlangsung. Jika seseorang telah mengerti eksistensi ‘diri’ yang sebenarnya, maka pencerahan sebagai hasilnya.
Tulisan ini diambil dari sebuah buku karangan Bhikkhu Nyanakumuda.
Diketik ulang untuk memuaskan rasa ingin tahu seorang teman tentang buku ini.
Namun berhubung waktu yang sangat terbatas, isi dari buku ini akan diketik dan dibagi dalam banyak bagian dan akan diposting sesegera mungkin setelah selesai diketik. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman teman yang lainnya juga.
Dalam memandang suatu hal, orang lebih sering menyimpulkannya berdasarkan pengertian mereka yang lebih cenderung mengacu pada “rasa suka dan tidak suka”. Sementara yang lain memandang dari sisi “untung dan rugi”. Jika cara pandang seperti ini yang kita anut, maka kita berada sangat jauh dari kebijaksanaan. Cara pandang dapatlah diumpamakan dengan memakai kacamata. Jika Anda menggunakan kacamata hitam, maka pemandangan yang Anda lihat menjadi gelap. Jika Anda menggunakan kacamata kuning, maka kuninglah semua yang Anda lihat. Jika kacamata transparan yang Anda gunakan, maka transparan pula apa yang Anda lihat. Ini sama halnya dalam memandang suatu masalah. Jika Anda tidak senang terhadap seseorang, walaupun ia telah melakukan banyak kebaikan, tetap saja di mata Anda, ia tidak benar. Ini dikarenakan rasa tidak suka atau kebencian yang ada pada diri Anda sehingga Anda tidak dapat melihat persoalan secara jernih. Sebaliknya, jika Anda senang dengan seseorang, walau keburukan apapun yang ia lakukan, Anda seolah olah buta akan hal itu. Terlebih bila ia dapat membawa manfaat bagi kepentingan Anda. Anda seolah-olah menjadi orang bijak dengan dalih berpikir positif untuk memaklumi kecerobohannya. Inilah segelintir debu yang menutupi mata kita untuk memandang segala hal dengan jelas, jernih, dan benar.
~~
credit to Bhikkhu Nyanakumuda.