Tulisan ini diambil dari sebuah buku karangan Bhikkhu Nyanakumuda.
Diketik ulang untuk memuaskan rasa ingin tahu seorang teman tentang buku ini.
Namun berhubung waktu yang sangat terbatas, isi dari buku ini akan diketik dan dibagi dalam banyak bagian dan akan diposting sesegera mungkin setelah selesai diketik. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman teman yang lainnya juga.

Dalam memandang suatu hal, orang lebih sering menyimpulkannya berdasarkan pengertian mereka yang lebih cenderung mengacu pada “rasa suka dan tidak suka”. Sementara yang lain memandang dari sisi “untung dan rugi”. Jika cara pandang seperti ini yang kita anut, maka kita berada sangat jauh dari kebijaksanaan. Cara pandang dapatlah diumpamakan dengan memakai kacamata. Jika Anda menggunakan kacamata hitam, maka pemandangan yang Anda lihat menjadi gelap. Jika Anda menggunakan kacamata kuning, maka kuninglah semua yang Anda lihat. Jika kacamata transparan yang Anda gunakan, maka transparan pula apa yang Anda lihat. Ini sama halnya dalam memandang suatu masalah. Jika Anda tidak senang terhadap seseorang, walaupun ia telah melakukan banyak kebaikan, tetap saja di mata Anda, ia tidak benar. Ini dikarenakan rasa tidak suka atau kebencian yang ada pada diri Anda sehingga Anda tidak dapat melihat persoalan secara jernih. Sebaliknya, jika Anda senang dengan seseorang, walau keburukan apapun yang ia lakukan, Anda seolah olah buta akan hal itu. Terlebih bila ia dapat membawa manfaat bagi kepentingan Anda. Anda seolah-olah menjadi orang bijak dengan dalih berpikir positif untuk memaklumi kecerobohannya. Inilah segelintir debu yang menutupi mata kita untuk memandang segala hal dengan jelas, jernih, dan benar.

~~
credit to Bhikkhu Nyanakumuda.