Banyak permasalahan yang timbul sering kali hanya dikarenakan keterbatasan pemahaman kita terhadap realita yang sebenarnya. Pikiran sempit, sifat ingin menang sendiri dan prasangka buruk adalah akar dari permasalahan. Seseorang yang berpikiran sempit, selalu saja menutup diri dari kemungkinan kemungkinan lain. Ia tidak dapat menerima pandangan orang lain dan menanggap dirinyalah yang paling benar, terlebih lagi ia akan menanggap orang yang berbeda pandangan dengan dirinya sebagai musuh sekaligus orang yang menyesatkan. Orang dengan cara pandang seperti ini bagaikan cangkir yang telah penuh dengan air kotor dan tidak ada gunanya bila diisi dengan air yang bersih.

Ada sebuah syair zen berbunyi: “Mengerti banyak hal menjadi pandai, mengerti banyak orang menjadi bijaksana, mengerti diri sendiri menjadi cerah.” Ketika seseorang mengerti banyak hal, berarti dia memiliki wawasan luas sehingga dapat menghindari pikiran sempit menanggap apa yang diketahui adalah merupakan satu-satunya kebenaran. Proses belajar tidak berhenti pada saat seseorang menyelesaikan study dan mendapat gelar profesor atau PhD. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan baru juga terus berlangsung. Karenanya seseorang hendaknya terus belajar dan mengikuti perkembangan yang ada agar terhindar dari berpikiran sempit.

Thich Nhat Hanh dalam bukunya berjudul interbeing mengatakan : “Kebenaran ditemukan dalam kehidupan dan tidak hanya dalam konsep pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar melalui semua kehidupan Anda dan amati kenyataan yang ada di dalam dirimu dan dunia setiap saat.”

Syair berikutnya adalah mengerti banyak orang menjadi bijaksana. Ada pepatah yang mengatakan : seribu orang, seribu karakter. Ketika kita berkumpul dengan banyak orang atau katakanlah dalam keluarga kita sendiri, kita akan menemukan perbedaan karakter dari setiap anggota keluarga kita. Terkadang masalah muncul lebih disebabkan oleh kurangnya saling pengertian antar mereka. Satu sama lain saling menyalahkan dan menanggap merekalah yang paling benar. Kita selalu dapat memaklumi dan mengecilkan kesalahan yang kita lakukan. Pada saat yang sama, kita membesar-besarkan kesalahan orang lain kepada kita(hiperbola). Inilah salah satu sisi lemah yang ada pada diri kita. Seseorang tidak semestinya mengasihani dirinya sendiri dengan memaklumi kesalahannya dan membesar-besarkan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Seperti yang YM. Jinadhammo Mahathera katakan, “Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dilupakan.” Demikianlah yang seharusnya kita lakukan agar keharmonian dan kebersamaan menjadi mungkin.

Sifat seseorang terbentuk dari kebiasaan yang ia lakukan dan dipengaruhi lingkungan sekitarnya yang ia cerap. Dalam bahasa Sansekerta disebut vasana atau sifat dasar yang mempengaruhi kecenderungan seseorang melakukan sesuatu. Karenanya marilah kita mencoba untuk mengerti keberagaman yang ada dengan pengertian benar. Ini sama halnya dengan makanan. Ada yang makan nasi, ada yang makan roti dan yang lain makan jagung. Walaupun jenisnya berbeda, tapi itu semua toh merupakan makanan dan dapat mengenyangkan. Seorang bijak semestinya mengerti orang lain daripada berharap orang lain mengerti dirinya.

Ajaran Buddha dibabarkan agar kita dapat hidup harmoni dengan sesama dan mengerti diri kita sendiri. Untuk dapat mengerti segala sesuatunya sebagaimana adanya, kita harus memahami diri kita yang sebenarnya. Penderitaan seringkali muncul dikarenakan ego yang kita miliki. Sepanjang pandangan tentang “Aku dan Milikku” masih melekat pada diri seseorang, penderitaan akibat dari pandangan salah ini akan terus berlangsung. Jika seseorang telah mengerti eksistensi ‘diri’ yang sebenarnya, maka pencerahan sebagai hasilnya.