Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Good Living with Just Merely Playing A Game?

I’m very excited.

I’m really exicited that people can live well only by playing game. Yea… maybe it’s not a game, but for me it just a game. A trick, merely a valuation game.

But still, I keep on wondering… we’ll always going up and down. For everything that happen to us, we tend to follow the flow. Is that good or bad?
Hmmm.. I don’t know, but maybe it’s neither good nor bad. And I guess I don’t have to care much about that.

Let’s see if my goal will become reality. At least some people will happy with my achievement, because I will share my winning prize with them. Hmmm… to be honest, maybe that’s not my achievement, because I get some help from unknown source, but I’ll still keep on working so I can win without any assistance.

And for you who are starting to think… STOP !!! I’m NOT cheating !!!
Cheating is not my style of playing.

I win because someone tell me how to win without CHEATING, but unfortunately that person didn’t teach me how it works, so I got to find it by myself. *sigh

GANBATTE !!

Share

Love is …

“without your love, dayz are “saddy, moanday, tearsday, wasteday, thirstday, frightday, shatterday”

Hahaha… That’s the sentence I got from one of my friend online status.

People are addicted to Love. But what’s love?
Maybe love is just something that fulfill our needs of attention from other people.
People loves being loved, and when it become addiction… hooooo.. is that good or bad?

Haha. :lol:

Share

Cara Pandang dalam Hidup

Jeni (nama samaran) adalah seorang gadis yang sangat baik hati. Ia mempunyai hati yang lembut, dan tidak pernah segan membantu teman-temannya yang sedang mengalami kesusahan. Selain itu Jeni juga adalah seorang gadis yang pintar, sehingga kecil kemungkinan orang lain bisa memanfaatkan kebaikan hatinya.

Joni (juga nama samaran) adalah teman dekat Jeni.
Joni sangat terkesan dengan sifat Jeni. Tidak butuh waktu lama baginya untuk yakin bahwa ia telah jatuh cinta kepada Jeni. Seperti yang umumnya dilakukan pria lainnya, Joni mengutarakan perasaannya kepada Jeni dan meminta Jeni untuk menjadi kekasihnya.

Namun saat itu Jeni hanya menganggap Joni sebagai teman. Tidak lebih dari pada itu.
Jeni tahu bahwa tindakan penolakan akan membuat salah satu teman dekatnya menjadi sedih dan kecewa, namun Jeni juga tidak ingin berbohong kepada siapapun, tidak kepada Joni ataupun kepada dirinya sendiri. Maka Jeni tidak dapat mengabulkan keinginan teman dekatnya.

Joni merasa sedih dan kecewa. Ia tidak pernah tersenyum lagi. Ia selalu murung. Pekerjaannya mulai berantakan, dan semenjak hari itu ia berusaha menjauhi Jeni. Namun Jeni tidak bisa membiarkan temannya terus menerus sedih dan menderita seperti ini. Jeni selalu berusaha untuk menemui Joni agar bisa menghiburnya dan sekaligus memberikan pengertian dan nasehat padanya.

Namun Joni tidak ingin bertemu dengan Jeni. Setiap kali ditanya, Joni hanya bisa terdiam. Sampai satu hari akhirnya Joni tidak tahan dan berkata kepada Jeni : “Jangan dekati aku. Jangan juga berbicara denganku lagi. Aku berharap bisa pergi dari tempat ini. Aku berharap aku bisa pergi jauh darimu. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku selalu menderita ketika melihatmu atau mendengarmu berbicara.
Kamu adalah orang yang sangat baik, orang yang sangat aku kagumi dan sangat kusayangi. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu membuatku merasa semakin sayang padamu, dan setiap kali melihatmu akan membuat perasaanku semakin kuat. Kenyataan bahwa kita tidak bisa bersama telah membalik kebahagiaan itu menjadi rasa sakit yang juga berlipat lipat.
Aku tahu kamu tidak salah. Namun aku memohon padamu, bantulah aku… jangan biarkan perasaanku terhadapmu bertambah dalam, dan jangan lagi berbicara padaku. Lambat laun aku akan segera mencari cara untuk pindah dari tempat ini”.

Jeni hanya tersenyum dan kemudian berkata : “Hanya dirimu yang bisa membantu dirimu sendiri. Kamu harus mencari cara untuk memperbaiki cara pandang dan cara berpikirmu itu.
Aku tidak akan pergi darimu, aku akan tetap peduli padamu karena seperti itulah aku dan akan tetap seperti itu caraku memperlakukan temanku.
Jika kamu menderita karena kepedulianku, seperti yang kamu bilang.. itu bukan salahku. Yang menyakiti dirimu adalah dirimu sendiri. Yang mengizinkan penderitaan tetap tinggal di pikiranmu juga adalah dirimu sendiri.
Sebagai seorang teman yang baik aku berharap kamu bisa bertahan dengan kondisi ini. Percayalah bahwa semua butuh waktu.
Mungkin ini adalah cobaan yang cukup berat untuk kamu rasakan, namun jika kamu bisa melewatinya kamu akan menjadi orang yang jauh lebih baik lagi.

Dan satu hal lagi, janganlah begitu pesimistis.
Aku bukanlah orang yang terlalu keras dengan pendirianku, aku juga bukan orang yang terlalu lunak.
Aku juga tidak akan gengsi untuk meralat keputusanku jika kurasa perlu.
Jadi ada kemungkinan di masa yang akan datang aku bisa berubah pikiran. Bisa jadi aku yang akan berbalik memintamu menjadi pacarku, dan bisa juga tidak sama sekali.
Semua tergantung pada aku dan juga kamu. Jadi… jangan terlalu berharap, tapi juga jangan terlalu pesimistis.
Marilah kita hidup bergembira tanpa diikat harapan masa depan ataupun penyesalan masa lalu. OK ???”

Kemudian Jeni pun berlalu meninggalkan Joni sambil mengucapkan sampai jumpa lagi besok.

Share

Purifying The Mind

Recently I got headache.
It’s not because of something you might think.

There’s too much distraction, too much temptation, and it makes me feel a little bit worry about much things.
The Buddha teaching taught us not to follow our bad desire, not to chase after something which is impermanent. But it also doesn’t mean that we have to let go everything behing, numbs ourself.

What do people try to find in this world? Most of them try to find happiness. But where to find happiness? Most of people who seek for happiness try to find it on external sources, and when they already get it, they will try to find any other happiness. If they don’t find it then they will get stress, they will feel sad. And why is that happen?
I don’t know about other opinion, but I think maybe it’s because we are looking for something that we can’t fully own it. Something that is outside ourself, something that is more like a ‘trap’.

I try to look at everything around me. People made mistakes, then their neighbour started to spreading the word about their neighbour bad habit. The started to spoke ill of their neighbour without realizing that they might do the same mistakes. And it’s pretty bad that this is used to be my bad behaviour too.

So, the first lesson for me is to shut my mouth off. If I have something to say about others then I should have say it in front of the person who are making the mistakes, not behind that person.

The second lesson is to purify my mind. I often feel dishonest to myself. I often feel that I try so hard to manipulate my mind. It’s not good, because at the end I’ll be the one who losing the game. I don’t want too much things for my own, but I still wants to help people.

The third lesson is I have to learn to let go, not to forget. There’s no need to forget something you don’t want, but if you can let it go from your mind, it will just become the past and it will not live in the present. The past is still exist but it won’t influence the present condition. The reason why people sink in deep suffering is because they try too hard to revive the past.
Living with experience from the past without ‘drinking the poison’ is the best way to keep going on.

Share