Jeni (nama samaran) adalah seorang gadis yang sangat baik hati. Ia mempunyai hati yang lembut, dan tidak pernah segan membantu teman-temannya yang sedang mengalami kesusahan. Selain itu Jeni juga adalah seorang gadis yang pintar, sehingga kecil kemungkinan orang lain bisa memanfaatkan kebaikan hatinya.
Joni (juga nama samaran) adalah teman dekat Jeni.
Joni sangat terkesan dengan sifat Jeni. Tidak butuh waktu lama baginya untuk yakin bahwa ia telah jatuh cinta kepada Jeni. Seperti yang umumnya dilakukan pria lainnya, Joni mengutarakan perasaannya kepada Jeni dan meminta Jeni untuk menjadi kekasihnya.
Namun saat itu Jeni hanya menganggap Joni sebagai teman. Tidak lebih dari pada itu.
Jeni tahu bahwa tindakan penolakan akan membuat salah satu teman dekatnya menjadi sedih dan kecewa, namun Jeni juga tidak ingin berbohong kepada siapapun, tidak kepada Joni ataupun kepada dirinya sendiri. Maka Jeni tidak dapat mengabulkan keinginan teman dekatnya.
Joni merasa sedih dan kecewa. Ia tidak pernah tersenyum lagi. Ia selalu murung. Pekerjaannya mulai berantakan, dan semenjak hari itu ia berusaha menjauhi Jeni. Namun Jeni tidak bisa membiarkan temannya terus menerus sedih dan menderita seperti ini. Jeni selalu berusaha untuk menemui Joni agar bisa menghiburnya dan sekaligus memberikan pengertian dan nasehat padanya.
Namun Joni tidak ingin bertemu dengan Jeni. Setiap kali ditanya, Joni hanya bisa terdiam. Sampai satu hari akhirnya Joni tidak tahan dan berkata kepada Jeni : “Jangan dekati aku. Jangan juga berbicara denganku lagi. Aku berharap bisa pergi dari tempat ini. Aku berharap aku bisa pergi jauh darimu. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku selalu menderita ketika melihatmu atau mendengarmu berbicara.
Kamu adalah orang yang sangat baik, orang yang sangat aku kagumi dan sangat kusayangi. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu membuatku merasa semakin sayang padamu, dan setiap kali melihatmu akan membuat perasaanku semakin kuat. Kenyataan bahwa kita tidak bisa bersama telah membalik kebahagiaan itu menjadi rasa sakit yang juga berlipat lipat.
Aku tahu kamu tidak salah. Namun aku memohon padamu, bantulah aku… jangan biarkan perasaanku terhadapmu bertambah dalam, dan jangan lagi berbicara padaku. Lambat laun aku akan segera mencari cara untuk pindah dari tempat ini”.
Jeni hanya tersenyum dan kemudian berkata : “Hanya dirimu yang bisa membantu dirimu sendiri. Kamu harus mencari cara untuk memperbaiki cara pandang dan cara berpikirmu itu.
Aku tidak akan pergi darimu, aku akan tetap peduli padamu karena seperti itulah aku dan akan tetap seperti itu caraku memperlakukan temanku.
Jika kamu menderita karena kepedulianku, seperti yang kamu bilang.. itu bukan salahku. Yang menyakiti dirimu adalah dirimu sendiri. Yang mengizinkan penderitaan tetap tinggal di pikiranmu juga adalah dirimu sendiri.
Sebagai seorang teman yang baik aku berharap kamu bisa bertahan dengan kondisi ini. Percayalah bahwa semua butuh waktu.
Mungkin ini adalah cobaan yang cukup berat untuk kamu rasakan, namun jika kamu bisa melewatinya kamu akan menjadi orang yang jauh lebih baik lagi.
Dan satu hal lagi, janganlah begitu pesimistis.
Aku bukanlah orang yang terlalu keras dengan pendirianku, aku juga bukan orang yang terlalu lunak.
Aku juga tidak akan gengsi untuk meralat keputusanku jika kurasa perlu.
Jadi ada kemungkinan di masa yang akan datang aku bisa berubah pikiran. Bisa jadi aku yang akan berbalik memintamu menjadi pacarku, dan bisa juga tidak sama sekali.
Semua tergantung pada aku dan juga kamu. Jadi… jangan terlalu berharap, tapi juga jangan terlalu pesimistis.
Marilah kita hidup bergembira tanpa diikat harapan masa depan ataupun penyesalan masa lalu. OK ???”
Kemudian Jeni pun berlalu meninggalkan Joni sambil mengucapkan sampai jumpa lagi besok.