Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Nuansa Hidup – Ehipassiko – Datang, Lihat dan Buktikan Sendiri

Suatu kali saya mendengar perbincangan kosong antar mereka yang merasa dirinya telah mengerti tentang banyak hal. Ketika itu saya mengunjungi rumah seorang umat yang sedang sakit. Mereka mengatakan bahwa tidaklah perlu untuk ke vihara. Yang penting keseharian kita banyak berbuat baik, itu sudah cukup.
Sepintas lalu pernyataan tersebut terkesan benar adanya. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah darimana kita tahu perbuatan itu benar atau salah? Atas dasar apa? Menurut siapa? Lihatlah di sekeliling kita! Begitu banyak pendapat dan pandangan salah yang ada di lingkungan kita. Karenanya kita butuh mendengarkan Dharma agar tidak tersesat dan menyesatkan.

Dalam perjalanan saya ke daerah, saya telah bertemu dan berbicara dengan banyak orang. Ketika berbicara dengan mereka, saya menyadari apa yang Buddha katakan sebagai michaditthi – pandangan salah.
“Bagi mereka yang memandang ketidakbenaran sebagai kebenaran, dan menganggap kebenaran sebagai ketidabenaran, berdasarkan cara pandang keliru seperti itu, maka ia tidak akan dapat melihat kesunyataan.”
Hampir di setiap pembicaraan, mereka menyampaikan pendapat yang cenderung didasari kepercayaan takhayul, menurut omongan orang dan bahkan menurut penafsiran mereka sendiri yang tidak mendasar. Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana seseorang yang hidup tanpa penerang (Dhamma) dapat berjalan dengan aman.
Hal yang menggelikan lagi adalah orang yang merasa dirinya paling tahu dan mengerti banyak hal dengan angkuhnya, ia membimbing orang lain. Ini bagaikan orang buta menuntun orang buta. Bagaimana mungkin ia dapat menuntun orang lain kalau dirinya sendiri buta?
Bagi orang yang demikian, hanya ada satu tujuan yang akan dicapai, yaitu jatuh ke dalam jurang. Merasa diri sendiri yang paling benar adalah bahaya yang sering timbul pada orang yang berusaha maju dalam spiritual. Batinnya tidak akan berkembang, kecuali ego dan pandangan salahnya.

Ada seorang guru meminta kepada muridnya agar tidak bertindak tanpa merujuk kepada kitab. Suatu hari gurunya jatuh ke dalam sungai dan meminta tolong. Muridnya sibuk membuka kitab untuk mencari tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya guru tersebut mati tenggelam.
Buddha telah mengajarkan kepada kita agar jangan percaya begitu saja dengan apa yang didengar dari seorang guru, dari apa yang tertera dalam kitab, omongan orang, tradisi, kepercayaan, takhayul dan peramal sekalipun, sebelum kita benar benar menguji dan membuktikannya sendiri (ehipassiko).
Seseorang yang telah benar benar mengerti karena telah mengalami sendiri, barulah dapat meyakini kebenaran akan sesuatu. Dan bukan hanya percaya begitu saja karena diming-imingi tanpa membuktikannya terlebih dahulu.
Seorang guru berkata, “Orang yang benar benar mengetahui dan mengerti ajaran berarti hidupnya telah diubah oleh apa yang telah diketahuinya. Inilah orang yang sungguh mengetahui, bukan hanya sekedar tahu.”

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Komentar :
Ehipassiko artinya datang, lihat, dan buktikan sendiri.
Namun bagaimana caranya kita melihat kebenaran jika kita sendiri tidak yakin bahwa kita bisa melihat kebenaran secara ‘benar’?

Seringkali keraguan selalu meyelimuti pikiran kita, bukan hanya terhadap pemikiran dari luar melainkan juga pemikiran dari dalam diri sendiri.
Apakah ini benar, apakah itu salah? Kita tidak berhenti bertanya.

Pada zaman ketika sang Buddha masih hidup, orang orang yang beruntung dapat bertanya langsung kepada sang Buddha; meskipun sang Buddha sendiri mengatakan agar kita jangan percaya begitu saja dengan apa yang didengar dari seorang guru.

Namun setelah sang Buddha parinibbana, kemanakah kita harus menemukan pedoman hidup?

Tentu saja ajaran Beliau masih ada sampai sekarang.
Namun setelah ribuan tahun berlalu, bagaimana kita tahu mana yang benar benar merupakan ajaran murni dari Beliau, dan mana yang hanya merupakan interpretasi dari ajaran Beliau, yang mana bisa saja merupakan interpretasi yang salah.

Saya pernah membaca entah dimana, disana dikatakan bahwa disaat cahaya sebelah luar telah padam, maka kita harus menjadi pelita bagi diri kita sendiri dan menerangi jalan kita sendiri.

Namun apa jadinya jika kita selalu ragu?
Bagaimana jika ternyata pelita kita cahayanya sangat redup, atau bahkan mati? Kita kehilangan arah dan merasa kebingungan, sulit mengambil keputusan?
Beberapa orang tinggal diam dalam kebingungan dan beberapa lagi berjalan dalam kegelapan.

Jadi bagaimana caranya mengembangkan api dalam diri sendiri?
Mungkin disinilah peran dari meditasi.
Membersihkan pikiran seperti halnya cermin yang memantulkan bayangan sesuai aslinya, demikian juga pikiran yang murni melihat kebenaran sebagai kebenaran.

Share

Can you just sit?

No I can’t.

Of, course it would be very relaxed when you just sit, empty your mind, and enjoy the peacefulness. But this is not the time to do that.

We’re still young.

We’re still have lot to do. Not to say that we have to be workaholic, but just fill the empty space which can be more useful for our own.

If we’re just sitting, not doing anything except waiting for the shinigami picking us, then what’s seperated us from pigs which only know eat and sleep.

It’s a lot of things we need to care. We’re living in a cubicle, not physically, but in your mind. Sometimes we need to enlarge to cubicle, or if you ready, you don’t need any cubicle.

Haizz… I don’t know how’s the best way to explain this. My mind is stuck and my language is a mess.

Share

Global Warming, Let’s Go Green !!!

Recently, It become so hot in here.Some people said it’s hot, some said it’s warm. No ! it’s hot. NO !!! It’s global warming.

What is going on with our earth?

I thought that most people is not unfamiliar with “global warming”, but do they care?
Sadly to say they some of them (and I think majority of them) didn’t care or didn’t want to know about it.
They are too busy to work with their own problem, and when the days come, the day that they will be punished for what they’ve done, they will start to care about it.

Sigh… Living in this world, you’re too easy to be distracted. Distracted by money, distracted by conflict, etc, and forget another essential things.

What will happen to this earth? I don’t know, but at least I will do my part to save the planet. Let’s go green !!! ^^

Share

Nuansa Hidup – Michaditthi – Pandangan Salah

Satu kali datanglah 3 orang pelajar yang akan mengikuti ujian negara pada seorang guru. Ketika bertemu dengan guru tersebut, salah seorang pelajar tersebut kemudian bertanya, “Guru, di antara kami bertiga siapa yang akan lulus ujian?” guru itu menjawab dengan menunjukkan satu jari telunjuk. Setelah itu mereka pamit dan meneruskan perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka masing masing memiliki perbedaan pendapat terhadap jawaban yang diberikan sang guru. Ada yang berpendapat cuma satu yang lulus. Orang kedua berpendapat cuma satu yang tidak lulus. Orang ketiga berpendapat tidak seorang pun yang lulus. Sang murid yang mendengar pembicaraan mereka, menemui sang guru dan bertanya, “Guru, maksud guru menjawab dengan menunjukkan jari telunjuk itu apa? Kenapa mereka memiliki kesimpulan yang berbeda?”

“Maksud saya menunjukkan jari telunjuk adalah meminta mereka tunggu sebentar”, jawab sang guru.

Kita seringkali bagaikan tiga orang pelajar itu dalam menyimpulkan apa yang kita dengar dan lihat sebagai hal yang dapat dipercaya. Celakanya, jika kita sudah mengambil kesimpulan tersebut, kesimpulan itulah yang menjadi pegangan kita untuk waktu yang lama. Seorang guru berkata, “Telinga orang mendengar banyak, mata orang melihat banyak. Orang bijaksana tidak percaya begitu saja atas semua yang dilihat dan didengar. Pun terpengaruh olehnya.”

Saya ingin memberikan sebuah perumpamaan untuk menggambarkan bagaimana cara seseorang mengambil kesimpulan terhadap sebuah kejadian. Misalnya di pagi hari Anda melihat seekor anjing tetangga kencing di pagar rumah Anda. Apa yang Anda simpulkan tentang anjing itu? 

Lalu andaikan Anda hanya melihat kejadian di siang harinya dimana anjing itu menggagalkan sebuah usaha pencurian. Apa yang Anda simpulkan tentang anjing itu?

Kemudian, jika Anda melihat kedua kejadian tersebut, di pagi harinya mengencingi pagar rumah Anda dan di siang harinya menggagalkan usaha pencurian. Apa yang Anda pikirkan tentang anjing itu?

Seperti inilah kebanyakan orang menyimpulkan suatu permasalahan. Bila kita melihat sebuah kejadian secara utuh, maka akan lebih objektiflah kesimpulan yang kita ambil. Jika kita hanya melihat sisi buruknya saja, maka akan buruklah orang yang kita nilai. Begitu juga bila sisi baiknya saja yang dilihat, maka akan baiklah orang itu di mata kita. Jadi penilaian baik buruk adalah sesuatu yang relatif dan tidak dapat dijadikan sebagai kebenaran mutlak.

Dikutip dari Buku karangan hikkhu Nyanakumuda – Nuansa Hidup

Share

Simple but Meaningful

You can’t decide the length of life, but you can control how you want to live it.

You can’t control the weather, but you can control your mood.

You can’t change your look, but you can smile.

You can’t control others, but you can control yourself.

You can’t foresee tomorrow, but you can utilize today wisely.

You can’t win everything, but you can try your very best to achieve that.

Share

Mengelola Diri Sendiri

Pepatah lama mengatakan sebelum mengalahkan orang lain, kalahkan dulu diri sendiri.

Mungkin banyak yang sudah bosan mendengarnya. 

Mengalahkan diri sendiri bukan berarti memukul diri sendiri, menghukum diri sendiri. Rasanya semua orang juga tahu.. haha :P  

Tapi mengalahkan orang lain?? Apakah ada gunanya? Entahlah…

~~~

Ada orang yang menjudge orang lain sebagai orang yang tidak sabaran. 

“Ih sabar sikit napa sih??” kata-kata ini sering terucap, disertai dengan ekspresi kekesalan.

Mengatakan orang lain tidak sabar padahal diri sendiri juga tidak bisa sabar dengan ketidaksabaran orang lain. Apakah orang tersebut juga bisa merasakan hal itu?

Dan ada juga orang yang kena marah lantas secara reflek menyalahkan orang lain atas kesalahan yang telah diperbuatnya. 

Ha… emangnya repot ya sekedar minta maaf dan mengakui kesalahan sendiri.

Untung orang yang dijadikan kambing hitam bersedia jadi kambing dan mewakilinya mengucapkan satu kata yang sangat sederhana “Maaf”.

Kemudian ada juga orang yang hari ini bilang A, besok bilang B. Lusa moodnya bagus, 3 hari kemudian mukanya berubah jadi sangat memprihatinkan…

Semuanya berubah !

Masalahnya bukan bagaimana cara melawan/menolak perubahan itu, namun bagaimana hidup dalam perubahan, dan mengelola perubahan itu sehingga tidak berjalan terlalu cepat ataupun sebaliknya terlalu lambat.

~~~

Kenapa suasana hati cepat berubah?

Ada faktor yang bisa kita kontrol yaitu faktor dari dalam diri sendiri dan ada juga faktor yang sulit kita kontrol yaitu faktor dari luar.

Jika di dalam diri ini terjadi ketidakstabilan, maka lihatlah ke dalam diri sendiri. 

Observasi diri sendiri dan jangan ikut campur pada saat terjadi perubahan suasana hati itu. Just waittttttt… and seeeeeeee.. Apakah trendnya bakal naik atao turun.. mirip mirip forex. LoL

Yah.. jika momennya pas, mudah mudahan bisa menemukan ‘nada’ yg tidak tepat itu dan memperbaikinya. :D

Jika tidak, maka coba lagi. Jangan menyerah & TETAP SEMANGAT !!!

Jika gagal, belajarlah untuk memaafkan diri sendiri.

Ada orang yang terlalu sering jatuh bangun sebelum bisa menguasai dirinya sendiri. Namun untungnya dia cukup persisten dan tidak melupakan semua pengalamannya, sehingga pada waktunya dia bisa menemukan kedamaiannya kembali. 

Ketika ditanya bagaimana rasanya kedamaian… seperti sebuah ungkapan yang pernah diungkapkan dalam sebuah cerita : orang itu seperti orang bisu yang mencicipi madu.

Ada hal hal yang melampaui kata-kata, karena kata-kata juga sangat terbatas. Orang yang tidak paham akan mengatakan bahwa dia sangat cuek, tidak peduli dengan orang lain. Tapi apakah benar begitu? 

Entahlah… 

Mari belajar dengan cara mengamati, memperhatikan, dan menyelami sendiri – bukan hanya dengan bertanya tanpa henti. (bukan berarti tidak boleh atau tidak akan bertanya lagi)

Share