Mengelola Diri Sendiri
Pepatah lama mengatakan sebelum mengalahkan orang lain, kalahkan dulu diri sendiri.
Mungkin banyak yang sudah bosan mendengarnya.
Mengalahkan diri sendiri bukan berarti memukul diri sendiri, menghukum diri sendiri. Rasanya semua orang juga tahu.. haha
Tapi mengalahkan orang lain?? Apakah ada gunanya? Entahlah…
~~~
Ada orang yang menjudge orang lain sebagai orang yang tidak sabaran.
“Ih sabar sikit napa sih??” kata-kata ini sering terucap, disertai dengan ekspresi kekesalan.
Mengatakan orang lain tidak sabar padahal diri sendiri juga tidak bisa sabar dengan ketidaksabaran orang lain. Apakah orang tersebut juga bisa merasakan hal itu?
Dan ada juga orang yang kena marah lantas secara reflek menyalahkan orang lain atas kesalahan yang telah diperbuatnya.
Ha… emangnya repot ya sekedar minta maaf dan mengakui kesalahan sendiri.
Untung orang yang dijadikan kambing hitam bersedia jadi kambing dan mewakilinya mengucapkan satu kata yang sangat sederhana “Maaf”.
Kemudian ada juga orang yang hari ini bilang A, besok bilang B. Lusa moodnya bagus, 3 hari kemudian mukanya berubah jadi sangat memprihatinkan…
…
Semuanya berubah !
Masalahnya bukan bagaimana cara melawan/menolak perubahan itu, namun bagaimana hidup dalam perubahan, dan mengelola perubahan itu sehingga tidak berjalan terlalu cepat ataupun sebaliknya terlalu lambat.
~~~
Kenapa suasana hati cepat berubah?
Ada faktor yang bisa kita kontrol yaitu faktor dari dalam diri sendiri dan ada juga faktor yang sulit kita kontrol yaitu faktor dari luar.
Jika di dalam diri ini terjadi ketidakstabilan, maka lihatlah ke dalam diri sendiri.
Observasi diri sendiri dan jangan ikut campur pada saat terjadi perubahan suasana hati itu. Just waittttttt… and seeeeeeee.. Apakah trendnya bakal naik atao turun.. mirip mirip forex. LoL
Yah.. jika momennya pas, mudah mudahan bisa menemukan ‘nada’ yg tidak tepat itu dan memperbaikinya.
Jika tidak, maka coba lagi. Jangan menyerah & TETAP SEMANGAT !!!
Jika gagal, belajarlah untuk memaafkan diri sendiri.
…
Ada orang yang terlalu sering jatuh bangun sebelum bisa menguasai dirinya sendiri. Namun untungnya dia cukup persisten dan tidak melupakan semua pengalamannya, sehingga pada waktunya dia bisa menemukan kedamaiannya kembali.
Ketika ditanya bagaimana rasanya kedamaian… seperti sebuah ungkapan yang pernah diungkapkan dalam sebuah cerita : orang itu seperti orang bisu yang mencicipi madu.
Ada hal hal yang melampaui kata-kata, karena kata-kata juga sangat terbatas. Orang yang tidak paham akan mengatakan bahwa dia sangat cuek, tidak peduli dengan orang lain. Tapi apakah benar begitu?
Entahlah…
Mari belajar dengan cara mengamati, memperhatikan, dan menyelami sendiri – bukan hanya dengan bertanya tanpa henti. (bukan berarti tidak boleh atau tidak akan bertanya lagi)

Leave a Reply