Nuansa Hidup – Ehipassiko – Datang, Lihat dan Buktikan Sendiri
Suatu kali saya mendengar perbincangan kosong antar mereka yang merasa dirinya telah mengerti tentang banyak hal. Ketika itu saya mengunjungi rumah seorang umat yang sedang sakit. Mereka mengatakan bahwa tidaklah perlu untuk ke vihara. Yang penting keseharian kita banyak berbuat baik, itu sudah cukup.
Sepintas lalu pernyataan tersebut terkesan benar adanya. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah darimana kita tahu perbuatan itu benar atau salah? Atas dasar apa? Menurut siapa? Lihatlah di sekeliling kita! Begitu banyak pendapat dan pandangan salah yang ada di lingkungan kita. Karenanya kita butuh mendengarkan Dharma agar tidak tersesat dan menyesatkan.
Dalam perjalanan saya ke daerah, saya telah bertemu dan berbicara dengan banyak orang. Ketika berbicara dengan mereka, saya menyadari apa yang Buddha katakan sebagai michaditthi – pandangan salah.
“Bagi mereka yang memandang ketidakbenaran sebagai kebenaran, dan menganggap kebenaran sebagai ketidabenaran, berdasarkan cara pandang keliru seperti itu, maka ia tidak akan dapat melihat kesunyataan.”
Hampir di setiap pembicaraan, mereka menyampaikan pendapat yang cenderung didasari kepercayaan takhayul, menurut omongan orang dan bahkan menurut penafsiran mereka sendiri yang tidak mendasar. Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana seseorang yang hidup tanpa penerang (Dhamma) dapat berjalan dengan aman.
Hal yang menggelikan lagi adalah orang yang merasa dirinya paling tahu dan mengerti banyak hal dengan angkuhnya, ia membimbing orang lain. Ini bagaikan orang buta menuntun orang buta. Bagaimana mungkin ia dapat menuntun orang lain kalau dirinya sendiri buta?
Bagi orang yang demikian, hanya ada satu tujuan yang akan dicapai, yaitu jatuh ke dalam jurang. Merasa diri sendiri yang paling benar adalah bahaya yang sering timbul pada orang yang berusaha maju dalam spiritual. Batinnya tidak akan berkembang, kecuali ego dan pandangan salahnya.
Ada seorang guru meminta kepada muridnya agar tidak bertindak tanpa merujuk kepada kitab. Suatu hari gurunya jatuh ke dalam sungai dan meminta tolong. Muridnya sibuk membuka kitab untuk mencari tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya guru tersebut mati tenggelam.
Buddha telah mengajarkan kepada kita agar jangan percaya begitu saja dengan apa yang didengar dari seorang guru, dari apa yang tertera dalam kitab, omongan orang, tradisi, kepercayaan, takhayul dan peramal sekalipun, sebelum kita benar benar menguji dan membuktikannya sendiri (ehipassiko).
Seseorang yang telah benar benar mengerti karena telah mengalami sendiri, barulah dapat meyakini kebenaran akan sesuatu. Dan bukan hanya percaya begitu saja karena diming-imingi tanpa membuktikannya terlebih dahulu.
Seorang guru berkata, “Orang yang benar benar mengetahui dan mengerti ajaran berarti hidupnya telah diubah oleh apa yang telah diketahuinya. Inilah orang yang sungguh mengetahui, bukan hanya sekedar tahu.”
Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda
Komentar :
Ehipassiko artinya datang, lihat, dan buktikan sendiri.
Namun bagaimana caranya kita melihat kebenaran jika kita sendiri tidak yakin bahwa kita bisa melihat kebenaran secara ‘benar’?
Seringkali keraguan selalu meyelimuti pikiran kita, bukan hanya terhadap pemikiran dari luar melainkan juga pemikiran dari dalam diri sendiri.
Apakah ini benar, apakah itu salah? Kita tidak berhenti bertanya.
Pada zaman ketika sang Buddha masih hidup, orang orang yang beruntung dapat bertanya langsung kepada sang Buddha; meskipun sang Buddha sendiri mengatakan agar kita jangan percaya begitu saja dengan apa yang didengar dari seorang guru.
Namun setelah sang Buddha parinibbana, kemanakah kita harus menemukan pedoman hidup?
Tentu saja ajaran Beliau masih ada sampai sekarang.
Namun setelah ribuan tahun berlalu, bagaimana kita tahu mana yang benar benar merupakan ajaran murni dari Beliau, dan mana yang hanya merupakan interpretasi dari ajaran Beliau, yang mana bisa saja merupakan interpretasi yang salah.
Saya pernah membaca entah dimana, disana dikatakan bahwa disaat cahaya sebelah luar telah padam, maka kita harus menjadi pelita bagi diri kita sendiri dan menerangi jalan kita sendiri.
Namun apa jadinya jika kita selalu ragu?
Bagaimana jika ternyata pelita kita cahayanya sangat redup, atau bahkan mati? Kita kehilangan arah dan merasa kebingungan, sulit mengambil keputusan?
Beberapa orang tinggal diam dalam kebingungan dan beberapa lagi berjalan dalam kegelapan.
Jadi bagaimana caranya mengembangkan api dalam diri sendiri?
Mungkin disinilah peran dari meditasi.
Membersihkan pikiran seperti halnya cermin yang memantulkan bayangan sesuai aslinya, demikian juga pikiran yang murni melihat kebenaran sebagai kebenaran.

Leave a Reply