Nuansa Hidup – Michaditthi – Pandangan Salah
Satu kali datanglah 3 orang pelajar yang akan mengikuti ujian negara pada seorang guru. Ketika bertemu dengan guru tersebut, salah seorang pelajar tersebut kemudian bertanya, “Guru, di antara kami bertiga siapa yang akan lulus ujian?” guru itu menjawab dengan menunjukkan satu jari telunjuk. Setelah itu mereka pamit dan meneruskan perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka masing masing memiliki perbedaan pendapat terhadap jawaban yang diberikan sang guru. Ada yang berpendapat cuma satu yang lulus. Orang kedua berpendapat cuma satu yang tidak lulus. Orang ketiga berpendapat tidak seorang pun yang lulus. Sang murid yang mendengar pembicaraan mereka, menemui sang guru dan bertanya, “Guru, maksud guru menjawab dengan menunjukkan jari telunjuk itu apa? Kenapa mereka memiliki kesimpulan yang berbeda?”
“Maksud saya menunjukkan jari telunjuk adalah meminta mereka tunggu sebentar”, jawab sang guru.
Kita seringkali bagaikan tiga orang pelajar itu dalam menyimpulkan apa yang kita dengar dan lihat sebagai hal yang dapat dipercaya. Celakanya, jika kita sudah mengambil kesimpulan tersebut, kesimpulan itulah yang menjadi pegangan kita untuk waktu yang lama. Seorang guru berkata, “Telinga orang mendengar banyak, mata orang melihat banyak. Orang bijaksana tidak percaya begitu saja atas semua yang dilihat dan didengar. Pun terpengaruh olehnya.”
Saya ingin memberikan sebuah perumpamaan untuk menggambarkan bagaimana cara seseorang mengambil kesimpulan terhadap sebuah kejadian. Misalnya di pagi hari Anda melihat seekor anjing tetangga kencing di pagar rumah Anda. Apa yang Anda simpulkan tentang anjing itu?
Lalu andaikan Anda hanya melihat kejadian di siang harinya dimana anjing itu menggagalkan sebuah usaha pencurian. Apa yang Anda simpulkan tentang anjing itu?
Kemudian, jika Anda melihat kedua kejadian tersebut, di pagi harinya mengencingi pagar rumah Anda dan di siang harinya menggagalkan usaha pencurian. Apa yang Anda pikirkan tentang anjing itu?
Seperti inilah kebanyakan orang menyimpulkan suatu permasalahan. Bila kita melihat sebuah kejadian secara utuh, maka akan lebih objektiflah kesimpulan yang kita ambil. Jika kita hanya melihat sisi buruknya saja, maka akan buruklah orang yang kita nilai. Begitu juga bila sisi baiknya saja yang dilihat, maka akan baiklah orang itu di mata kita. Jadi penilaian baik buruk adalah sesuatu yang relatif dan tidak dapat dijadikan sebagai kebenaran mutlak.
Dikutip dari Buku karangan hikkhu Nyanakumuda – Nuansa Hidup

April 21st, 2009 at 10:35 am
how are u??