Nuansa Hidup – Ketika Dipuji Tidak Menjadi Sombong (8)
Setiap orang tentunya merasa senang dipuji. Pujian bagi sementara orang dapat memotivasi mereka untuk terus berkarya, tetapi pujian juga dapat membuat orang terlena dan menjadi sombong.
Tidak ada yang salah terhadap pujian. Yang penting bagaimana kita menyikapi dan merespon pujian yang diberikan seseorang kepada kita.
Memperoleh pujian dari yang lain adalah sebuah penghargaan sekaligus pengakuan mereka terhadap keistimewaan yang dimiliki orang tersebut.
Setiap orang memiliki keistimewaannya sendiri. Karenanya tidak pantas bagi kita merasa “paling dibandingkan dengan yang lain, terlebih menyombongkannya dengan merendahkan orang lain.
Seorang guru Zen berkata, “Orang yang melakukan kebaikan dengan pamrih tidak ada kebajikan. Orang yang menonjolkan diri akan menarik perhatian orang lain. Itu bukan kebijaksanaan melainkan kebodohan”
Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.
Seorang guru berkata kepada muridnya, “Mari kita berlomba menjadi yang paling rendah. Yang menang boleh makan kue ini.”
“Baiklah Guru, saya adalah seekor kuda.”, kata si murid.
“Saya kotoran kuda itu”, jawab sang Guru.
Si murid berpikir sejenak, kemudian dengan semangat ia menjawab,”Saya adalah seekor cacing di dalam kotoran itu”.
“Sedang apa kau disana?”, tanya sang Guru.
“Saya sedang menikmati musim panas sambil minum jus”, jawab si murid dengan penuh semangat.
“Baiklah kalau begitu saya mengaku kalah”, jawab gurunya sambil mengambil kue itu dan memakannya.
Si murid jadi bingung, tapi kemudian ia mengerti bahwa gurunyalah yang memenangkan perlombaan itu karena beliau mengaku kalah.
Akhirnya si murid memperoleh sebuah pengertian bahwa yang rendah hati itu sungguh bernilai.
Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Leave a Reply