Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

How Should We Live

Work as if you have no need of the money.

Love as if nobody ever made you suffer.

Dance as if nobody is watching you.

Sing as if nobody is hearing you.

Live as if the paradise were on this earth.

Share

Ilusi Kehidupan

Sometimes you got a feeling that you can’t explain. Somehow you feel upset for nothing. It feels like you want something you don’t really want. Strange… eh?

Yuppieee… ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mood seseorang bisa berubah ubah dari waktu.

Meskipun mungkin kita tidak kekurangan apapun, kita tetap bisa merasakannya. Itulah salah satu sifat keras yang dimiliki manusia, termasuk saya sendiri.
Saya percaya bahwa semua ini terjadi karena ego yang tidak bisa dikendalikan, selalu ingin lebih dan mengejar kesenangan tanpa akhir, padahal diri sendiri juga tidak banyak berbuat banyak demi mencapai tujuan itu.

Itu adalah satu hal. Hal lain adalah berhubungan dengan gengsi.
Terkadang saya sulit mengakui kepada orang lain kalau saya memiliki masalah, just because I don’t want they think that I’m weak.
That’s the negative, the positive is I never want to tell negative things about my current condition because it may somehow tempt other people to think negatively too. And also to keep the heart of people who always regards me as a “strong” person, altough in reality I’m not. For the sake of others and also my pride I won’t tell anybody. So, why I write it in here?

The answer is because : ini semua hanyalah pelampiasan.
Saya tahu bahwa blog ini tidak memiliki banyak pembaca, oleh karena itu saya tidak perlu khawatir jika seseorang yang saya kenal membaca tulisan ini. Dan bagi yang tidak mengenal siapa saya, mari saya beberkan sisi gelap yang mungkin tidak hanya saya yang memilikinya, tapi mungkin juga orang-orang lain termasuk Anda sendiri.

Manusia adalah makhluk yang egois.

Mungkin sudah dari sananya kita mempunyai bibit untuk menjadi orang egois. Mungkin saja mekanisme pertahanan diri yang membuat kita menjadi orang yang egois. Sangat jarang dimana bibit egois tidak tumbuh subur dalam diri manusia, kecuali manusia tersebut punya kemampuan kontrol diri yang kuat.

Sebagai manusia kita punya banyak kebutuhan, mulai dari materi, ataupun yang sifatnya abstrak seperti kasih sayang dari orang lain, pengakuan dan penerimaan dari orang lain, dan lain sebagainya. Tentu saja hal itu adalah lumrah mengingat kita adalah makhluk biasa, namun ada hal hal lain yang ikut menentukan hasil akhir.

Seberapa banyak yang kita harapkan dan seberapa banyak harapan yang menjadi kenyataan akan menjadi sebuah cobaan bagi kita, apakah kita menerimanya atau sebaliknya tidak menerimanya dan terus menggerutu.
Jika kita tidak bisa menerima apa yang terjadi pada kita dengan lapang dada (meskipun mungkin itu adalah akibat kesalahan sendiri), maka pada akhirnya kita hanya akan jatuh ke dalam penderitaan.

Saya sudah menemui dan berbincang bincang dengan beberapa orang yang menurut saya memiliki pemikiran dan filosofi yang luar biasa. Jika pemikiran dan filosofi itu benar benar diterapkan, seharusnya hidup tidak lagi menjadi terlalu bermasalah. Namun pada kenyataannya, hampir semua orang hebat yang saya temui pada akhirnya juga harus jatuh ke dalam jurang penderitaan, kekecewaan, kesepian, dan lain sebagainya.
Kata kata yang indah tidaklah lagi indah, dan mutiara yang berkilauan sekarang menjadi kusam – setidaknya begitulah cara mereka melihat pemikiran dan filosofi hidup mereka sendiri – saya berspekulasi.

Tentu saja mutiara tetaplah mutiara. Namun masalahnya bukan terdapat dalam filosofi, namun dalam bagaimana mereka mempraktekkan apa yang mereka percayai sebagai benar. Orang bilang lebih mudah bicara daripada berbuat – ini mungkin ada benarnya, karena saya juga mengalaminya.

Contohnya, ada orang orang tertentu yang sangat tidak tahu malu, sedangkan saya sebaliknya sangat tahu malu. Terus terang saja ini tidak dapat dibanggakan karena sifat sangat tahu malu ini tidak lain adalah sifat pemalu. Bah !!
Bukan hanya itu saja, bahkan saking pemalunya jadi mudah tersinggung. Sedikit sedikit malu, dan jika respon orang lain tidak sesuai harapan lantas jadi malu dan tersinggung, kemudian pengen bunuh diri !!!
Untungnya saya nggak (atau belum) sampe kesitu. haha

Kebutuhan kebutuhan (dan juga keinginan keinginan) manusia pada akhirnya menjadi titik lemah manusia. Lihat saja bagaimana orang-orang bisa saling membunuh gara-gara makanan, uang ataupun kekuasaan. Juga lihat bagaimana orang-orang pada berlomba lomba bunuh diri gara gara nggak naik kelas ataupun cinta ditolak. Jah… terlalu banyak kekacauan disini… bahkan menjabarkannya saja sudah membuat saya sakit kepala !

Lalu, jika kita sudah mengetahui hal ini mengapa kita masih saja terperangkap dalam hal ini?
Itu karena kita sudah terbiasa hidup dalam ilusi tak berkesudahan. Uang membuat kita gelap mata, pujian membuat kita menjadi angkuh, cinta membuat kita mudah cemburu, perhatian dan kasih sayang membuat kita candu, dan lain lain dan lain lain.

Hidup dalam ilusi, kita tidak sadar bahwa ini semua hanyalah ilusi. Jika kita tidak menyadarinya, bagaimana kita bisa keluar darinya? Film the matrix menggambarkan dengan cara yang mirip, meskipun mungkin tidak sempurna.

Cobalah untuk berpikir secara rasional, meskipun sebenarnya rasional itu sendiri mungkin tidak absolut.
Jika kita hidup di dunia ini, lahir menjadi remaja, kemudian dewasa, kemudian tua, dan lantas mati. Membangun rumah yang bagus kemudian lapuk, reot terakhir jadi makanan rayap, apa yang Anda pikirkan?
Jika Anda berpikir logis tentu saja Anda akan berpikir bahwa semuanya itu tidak berguna. Kalau begitu untuk apa hidup? Untuk apa bekerja, makan, minum, tidur, eek? Kalau makanan yang masuk ke perut lantas jadi eek untuk apa coba??

Jadi apakah itu artinya kita harus menyerah pada hidup? Kita ini siapa? Kenapa kita ada disini?
Jika Anda tanyakan ke saya, saya juga bakal bungkam, karena jujur saya juga tidak tahu jawabannya !!

Tapi ada beberapa orang yang memberi satu petunjuk buat saya. Jika hidup tidak ada artinya bukan berarti benar benar tidak ada artinya. Ada satu kondisi yang tidak bisa dijangkau logika biasa, dan mereka sering menyebutnya “pulau seberang”. Rasa makanan tidak bisa diberitahukan kepada orang lain melalui kata-kata, oleh karena itulah bagi yang ingin tahu harus memakan sendiri makanan tersebut.

Saat ini saya sedang berusaha menggapai “makanan” itu, dan ketika saya tahu rasanya ya nggak apa apa…haha…
Emangnya apa yang Anda harapkan? Saya juga masih dalam tahap belajar dan saya tidak bisa meramal masa depan. Namun yang bisa saya katakan untuk hari ini adalah saya akan berusaha meyakinkan diri saya sendiri agar tidak termakan ilusi. Saya akan berusaha, dan Anda juga harus berusaha… siapapun Anda.

TETAP SEMANGAT !

Share

Is Life Hard?

When you have a lot of work to do, are you feel depressed? When you just broke up with your lover, are you feel hurt deep inside your heart?

To be honest, life is really hard if we can’t open our mind.

Like what happened to me in recent days, I have tons of job to do. If I keep on using my usual way of thinking, I’ll be stressed very easily. But in this case I try to change my mindset.

So what if I got a lot of work? Isn’t that good? Because I have a lot of work I wont get bored easily. I bored with one job, I just need to switch to another. The more important is, it’s my choice to work on this field. I love it so much, so what turned me so I hate this job?

It’s my point of view which is not right.

I don’t have to be in hurry. I’ll just need to work with the best effort I can afford. I don’t want bothering to carry a burden in my shoulder. It will just slow me down.

So, just take it easy and fully live your live. Ganbatteeeee… !

Share

Manipulasi Pikiran

Manusia adalah makhluk yang mudah dimanipulasi. Jika ingin mereka bahagia cukup dihibur dan ‘dijilat’. Jika ingin mereka sedih atau marah, cukup dihina, difitnah atau dipojokkan. Bahkan manipulator sejati mampu mengarahkan hidup Anda, apakah menjadi lebih berantakan atau sebaiknya menjadi lebih baik atau hanya terlihat baik namun rapuh.

See… mungkin banyak yang tidak percaya dengan omongan saya, namun pada kenyataannya memang seperti itu.

Justru karena ego yang semakin tinggi, ego itu bisa dipakai oleh orang lain untuk keuntungan mereka sendiri atau jika mereka adalah orang yang baik, bisa juga dipakai untuk menyelamatkan orang lain.

Pertanyaannya, apakah Anda selama ini lebih nyaman di posisi manipulator ataukah sebagai korban manipulasi?

Jika pertanyaan itu ditanyakan kepada saya, maka jawaban saya adalah… saya suka “memanipulasi” orang lain untuk membantu mereka, namun saya juga tidak menolak “dimanipulasi” orang lain sejauh hal itu memang berguna bagi saya.

Yang terpenting adalah bagaimana cara saya menjaga kesadaran dan pikiran yang bersih, tidak ternoda, sehingga saya tidak tersesat di jalan yang gelap.

Orang yang suka membantu orang lain namun mempunyai pandangan yang tidak jernih, mudah dikotori orang lain. Cukup dengan mencari cari alasan mengapa dia lebih pantas disebut “dimanfaatkan orang” dibanding “membantu orang”.

So, berhati hatilah… terkadang proses manipulasi itu sendiri berjalan autopilot, bahkan kita sendiri tidak menyadari prosesnya. Yang kita tahu hanya hasilnya.

Tidak percaya? Silahkan tanya pada salesman dan orang yang sedang jatuh cinta… LoL

Bagaimanapun, dimanipulasi tidaklah buruk… asalkan mampu menjaga pikiran.

SEMANGAT !!!

Share

Cara Pandang

Seorang pak tua ditanya oleh seseorang yang lebih muda. “Menurut Anda bagaimana yang bisa disebut sebagai makmur?”

Pak tua itu menjawab : “Kakek mati, Bapak dan Ibu mati, Anak mati, Cucu Mati !”

Kontan anak muda itu marah dan berkata “Apa yang kamu katakan !!! Tidak seharusnya Anda mengatakan hal seperti itu !!”

Lalu pak Tua itu menjawab, “Semua orang pasti mati. Hal itu tidak bisa dihindarkan. Oleh karena itu mati dalam urutan yang benar seperti itu adalah kemakmuran yang sesungguhnya. Bayangkan jika cucu yang mati duluan, kemudian disusul anak, Bapak dan terakhir kakek yang stress gara-gara melihat semua keturunannya mati. Apakah itu dapat disebut sebagai beruntung?”

Cerita itu saya dapat disebuah buku yang pernah saya baca. Sayang saya lupa judul bukunya.
Tapi apa pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini? Bukan tentang mati berurutan itu bagus… tp lebih ke bagaimana kita menyikapi respon dari seseorang.

Seringkali kita terlalu cepat mengambil kesimpulan atas jawaban tidak mengenakkan dari orang lain. Jika kita mengenal orang tersebut cukup lama dan memang orang tersebut mempunyai sifat yang kurang menyenangkan.. yah apa mau dikata.

Namun terkadang ada juga orang orang tertentu yang mungkin hanya terlihat kasar, namun sebenarnya punya hati yang lembut.

Yang lebih penting lagi adalah apa yang yang mereka sampaikan, terlepas dari apakah itu kasar atau tidak.. apa yang bisa kita pelajari darinya.

SEMANGAT !!!

Share

Do you have your own goals or…

You just keep comparing yourself to others?

Recently, I saw a quite creative advertisement in a video posted by one of my friend. It’s about a woman who is deaf, but she has a dream to become a violinist.

Ordinary people would think that this is crazy. A violinist but deaf ?

Hmmm… actually she did it well and became a champion in music competition. Her achievement is not that easy.
She is always complaining why she is different from others. But an old man tell her, “Why should you same like the others?”

Yea… I’m quite agree with that old man. Why should we bother to see what other people had compared to what we had.
We tend to value something based on the valuation of others. That’s not completely wrong. But that’s not absolutely true too..

What’s your dream? What do you want? Where will you go?
These kind of questions is simple but not everyone can make a good answer out of it.

Share

Nuansa Hidup – Ketika Dicela Tidak Menjadi Marah (9)

Buddha bersabda, “O, Athula. Bukan hanya sekarang mereka mencela orang yang banyak bicara. Mereka juga mencela orang yang sedikit bicara. Begitu juga mereka mencela orang yang tidak bicara. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang tidak dicela.”
Kita harus menahan ego dan tidak menghujani orang yang mengkritik kita dengan kebencian. Jangan menganggap musuh pada orang yang tidak sependapat dengan kita. Kritikan dapat membawa kemajuan. Kita tidak hanya belajar dari teman, namun juga dari mereka yang mengkritik kita.
Mereka mungkin benar. Jika kita tidak mendengarkan apa yang mereka katakan, kita mungkin melepaskan kesempatan untuk belajar. Jadilah seperti seekor gajah di medan perang, bertahan terhadap rasa sakit karena anak panah. Kita juga bisa menahan celaan dari orang lain dan mencapai kedamaian dengan kesabaran.

Pada suatu kesempatan, Buddha diundang oleh seorang brahmana untuk menerima persembahan makanan di rumahnya. Bersama dengan rombongan para bhikkhu, Buddha mengunjungi rumah brahmana tersebut. Setibanya di tempat tujuan, brahmana tersebut bukannya mempersembahkan makanan kepada Buddha dan para bhikkhu, ia malah mencaci maki Buddha dengan kata-kata kasar.

Dengan tenang Buddha bertanya kepada brahmana tersebut, “Apakah tamu-tamu mengunjungi rumahmu O brahmana?

Ya”, jawab brahmana.

Apa yang engkau lakukan ketika para tamu hadir?

Saya akan menyiapkan jamuan yang istimewa.

Jika mereka tidak makan, apa yang engkau lakukan atas hidangan yang telah disiapkan?

Wah, dengan senang hati saya akan makan sendiri hidangan tersebut.

Demikianlah O brahmana, engkau telah mengundang Bhagava dan engkau telah menjamu Bhagava dengan caci maki. Bhagava tidak menerimanya. Semua itu akan kembali kepadamu.
Buddha mengatakan “Jika seseorang mencaci maki seorang suci dengan kata-kata yang tidak pantas, maka semua keburukan itu akan kembali kepadanya. Ini bagaikan melempar debu berlawanan dengan angin dan debu tersebut akan mengenai wajahnya sendiri. Atau bagaikan seseorang yang meludah keatas dan ludah tersebut akan jatuh mengenai wajahnya sendiri.

Ada sebuah syair yang berbunyi, “Bunga yang mekar siap menerima embun yang jatuh dengan lembut dan tahan dengan hujan yang deras. Sama halnya ketika kita ditegur dengan cara yang halus atau keras, kita mesti tegar.

Orang yang mau mendengar kritikan dan memperbaiki kesalahan adalah seorang satria yang memiliki kebesaran jiwa untuk kemajuan dirinya dan yang lain.

Seperti Yang Mulia Dalai Lama katakan, “Dari pengalaman saya sendiri, masa yang paling sulit dalam hidup ini merupakan masa yang paling menghasilkan pengetahuan dan pengalaman.” Jika Anda hanya menjalani segala sesuatunya dengan mudah, Anda akan merasa “Semuanya baik baik saja”. Hingga pada suatu hari ketika Anda menghadapi masalah, Anda merasa tertekan dan tidak berdaya. Melalui masa masa sulit Anda dapat belajar, dapat mengembangkan kekuatan di dalam diri, pengendalian diri, dan keberanian untuk menghadapi masalah. Siapa yang memberimu kesempatan seperti ini? Musuhmu.

Untuk mengembangkan benih belas kasih, kita mesti memiliki toleransi dan kesabaran. Dalam rangka melatih toleransi ini, musuh kita adalah guru terbaik. Karena musuh dapat mengajarkan kita toleransi, yang tidak dapat diajarkan oleh guru dan orangtua kita. Jadi untuk melatih toleransi, seorang musuh sungguh sangat menolong – mereka adalah kawan dan guru yang terbaik.”

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

affiliate_link

Categories