Sep 16, 2009
Terang
Di kehidupan ini aku bertemu seorang guru.
Aku belajar banyak hal darinya. Aku tidak bisa bilang bahwa aku percaya atau tidak percaya dengan ajarannya. Namun untuk saat ini, aku masih berharap suatu saat nanti aku bisa membuktikan kebenaran ajarannya dengan usahaku sendiri.
Sangat disayangkan, mungkin aku tidak bisa membuktikan semua ajaran untuk semua orang, karena untuk beberapa hal tertentu masing-masing orang harus menemukan jalannya sendiri.
Istilahnya panduan bisa jadi ada di depan mata, namun kembali pada diri kita sendiri apakah ingin membuktikan kebenaran jalan itu atau mengabaikannya.
Begitupun juga, meskipun ingin, masih tergantung pada diri sendiri apakah akan melangkahkan kaki atau tidak. Tekad tanpa perbuatan hanya akan menjadi sia sia bukan?
Belakangan ini aku merenungkan betapa pikiran ini sangat ternoda, juga sangat diikat, dan terpenjara.
Siapa yang bisa lolos dari penjara jika orang tersebut menganggap penjara itu adalah bagian dari dirinya?
Tanpa sadar, mungkin kita telah dipaksa hidup sukarela dalam penjara ini.
Sukarela dalam keterpaksaan, 2 kata yang benar benar sangat kontradiktif, setidaknya begitulah menurut pikiran yang menganut dualisme ini.
Pikiran ini menciptakan baik dan buruk untuk dirinya sendiri, dan tanpa adanya pengetahuan dan pandangan yang benar, kita senantiasa tersesat. Terkadang berada di surga, terkadang berada di neraka, dan terkadang berada di tempat yang bukan neraka juga bukan surga.
Apakah hidup demikian tidak menderita?
Sangat mudah bagi kita untuk jatuh terpeleset dalam penderitaan. Inilah salah satu alasan mengapa kemelekatan sangatlah berbahaya.
Kita dikendalikan oleh hal hal yang kita sukai, juga oleh hal hal yang tidak kita sukai.
Kedua ekstrim tersebut bukanlah sesuatu yang benar. Keduanya menahan kita agar tetap dalam lingkaran kehidupan dan kematian tanpa akhir.
Untuk melepaskan diri dari jeratan ini tentunya tidak mudah.
Banyak orang bertanya-tanya bagaimana cara mengendalikan dirinya sendiri. Bagaimana caranya menjadi seperti kusir yang mahir mengendalikan kereta kudanya, dan bukan hanya sekedar pemegang tali kekang kuda?
Jawabannya tidak sulit, juga tidak sederhana. Dan lagi, ada banyak variasi jawaban atas pertanyaan semacam ini. Banyak ketidakpastian…
Salah satu jawaban yang belum pasti benar itu adalah dengan melihat ke dalam diri sendiri.
Dengan merenungkan fluktuasi perasaan kita; bagaimana kondisi perasaan kita berubah dari senang menjadi sedih, kemudian menjadi tidak senang juga tidak sedih, menjadi bosan, menjadi marah, kecewa, lalu merenungkan keadaan mental dari marah menjadi dendam, dan dari dendam akhirnya melakukan perbuatan buruk yang pada akhirnya merugikan diri sendiri, mirip seperti menaburkan pasir melawan angin. Dengan terus menerus mengamati hal hal tersebut semoga kita bisa menjadi sadar dan memperoleh kendali yang lebih besar terhadap apa yang kita sebut sebagai ‘diri’ ini.
Sebenarnya, ada banyak hal lain yang ingin kukatakan, namun seorang guru yang lain mengatakan bahwa kita harus membuktikannya sendiri sebelum menyampaikannya kepada orang lain.
Itu bukanlah sebuah larangan; bagiku itu adalah sebuah saran yang baik. Jadi untuk saat ini lebih baik aku diam dan menyimpan sisanya untuk diriku sendiri; hanya berbicara pada saat diperlukan dan pada saat yang tepat saja; karena kebenaran yang sekarang aku lihat masih samar. Aku masih punya pekerjaan membersihkan ‘mata’ku yang masih kotor ini.
Salam.
