Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Nuansa Hidup – Kesederhanaan – Mencari Kekayaan (16)

Seorang tua berusia 70 tahun dalam kesehariannya membuka toko onderdil. Usaha ini telah digelutinya sejak usia muda hingga sekarang. Satu kali teman bermain semasa mudanya mengunjungi dirinya. Mereka larut dalam pembicaraan mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu dalam kebersamaan mereka. Sebagai penutup pembicaraan, temannya mulai bertanya, “Anda sudah memiliki lebih daripada yang Anda perlukan, sekarang usia kita sudah tidak muda lagi. Tidakkah Anda dapat berhenti setiap saat untuk menikmati sisa hidup ini?”
“Saya tidak tahu caranya untuk berhenti”, jawab orang tua tersebut.

Ada pepatah yang berbunyi demikian, “Semakin kita punya, semakin kita cari; semakin kita dambakan, semakin kita tidak puas.
Hal ini dikarenakan seseorang selalu mengejar materi maka perasaan dan pikirannya juga sangat dipengaruhi oleh materi. Akibatnya, ia terperangkap dan sulit untuk melepaskan diri.
Read the rest of this entry »

Share

Aktivitas di Akhir Pekan

Haiiii… Hari Senin, 26 Oktober 2009 adalah saatnya kembali bekerja. Awal pekan telah tiba dan akhir pekan baru saja lewat. Masih 5 hari lagi harus dilewati sebelum bisa merasakan hari hari tenang di akhir pekan [lagi].

Btw, saya sangat penasaran dengan kisah akhir pekan Anda sekalian, apakah menyenangkan, menyedihkan, atau membosankan ?!?

Akhir pekan yang lalu bagi saya tidak terlalu membosankan; ada hal-hal yang menyenangkan juga ada hal-hal yang menyedihkan. Lalu, apa saja yang saya lakukan di rumah?
Jawabannya adalah : duduk, menyilangkan kaki, sambil nonton film seri the proud twins. :)
Saya lupa, entah berapa lama sejak terakhir kalinya saya menonton film seri karena DVD-ROM saya yang rusak.

Hmmmm….mungkin bagi sebagian orang hanya duduk bersantai nonton di rumah sendirian sepanjang hari adalah kegiatan yang membosankan. Tapi tidak bagi saya, karena bagi saya menonton film itu sama seperti mempelajari dan mengobservasi kehidupan manusia.

Saya tidak terlalu menggemari film yang selalu membuat penontonnya merasa sedih. Tapi film the proud twins ini ternyata adalah tipe film semacam itu. Hmmmm… benar benar tidak menyangka, karena jika seandainya saya tahu bahwa ini adalah film sedih, mungkin saya akan menimbang ulang sebelum membeli film ini.

Yah…meskipun nggak begitu suka, namun rasanya juga nggak terlalu menyesal.
Meskipun film ini banyak sedihnya, tapi juga terdapat banyak kegembiraan di dalamnya. Melihat bagaimana gembira dan sedih datang dan pergi silih berganti… saya merasa film ini lebih mendekati realitas kehidupan manusia yang sebenarnya.
Coba saja pikirkan, jika kita tidak mengenal air mata, bagaimana kita bisa mengenal apa yang dimaksud dengan penderitaan dalam arti yang sesungguhnya, dan jika kita tidak mengenal senyum, bagaimana kita bisa mengenal apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dalam arti sesungguhnya?

Karena film ini, satu waktu saya dibuat tersenyum, tertawa dan di waktu lainnya saya dibuat menangis. Teman teman saya bilang tertawa sendiri, menangis sendiri persis orgil (orang gila). :)
Perubahan kondisi mental yang terjadi secara cepat membuat saya menyadari bahwa kebahagiaan memberi makan kehidupan, kehidupan memberi makan penderitaan, dan penderitaan memberi makan kebahagiaan. Siklus seperti ini rasanya tidak akan pernah berhenti.

Lalu, secara keseluruhan, apa yang dapat saya simpulkan… apakah hidup ini bisa dibilang menyedihkan, menyenangkan, atau tidak menyedihkan dan tidak menyenangkan?
Apakah ada yang bisa menjawab pertanyaan ini?
Saya untuk saat ini masih belum menemukan jawaban yang pas… oleh karena itu untuk sementara pertanyaan ini tidak perlu dijawab dulu. Saya yakin suatu saat nanti saya akan menemukan jawabannya. hehe.

Hmmmm… waktu sudah siang, sudah waktunya untuk kembali bekerja. TETAP SEMANGAT !!

Share

Nuansa Hidup – Tetap Mengasihi Walau Telah Disakiti (15)

Suatu kali seorang perampok masuk ke biara seorang guru Zen. “Harta atau nyawa” kata perampok itu sambil menunjukkan pisaunya pada sang guru. Sang guru dengan tetap tenang menjawab, “Kalau mau harta, di laci lemari ada sedikit uang. Ambillah.”
Kemudian perampok itu menuju ke lemari yang ditunjukkan oleh guru tersebut. Ia menemukan sedikit uang seperti yang telah dikatakan oleh sang guru. Dengan tergesa-gesa, ia mengambil uang itu dan meninggalkan tempat tersebut.
“Tunggu dulu! Setelah menerima sesuatu, engkau mesti mengucapkan terima kasih”, kata sang guru kepada perampok itu. “Thank you”, jawab perampok itu sambil berlalu.
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Tetap Tenang Saat Menerima Buah Karma Buruk (14)

Meskipun Anda sudah pernah membaca artikel di bawah ini atau tidak sepenuhnya setuju dengan beberapa paragraf awal dari artikel ini, saya sarankan agar Anda meneruskan membaca sampai akhir.
Anda tidak akan pernah tahu apa yang bakal Anda lewatkan.
Ambil apa yang Anda butuhkan, dan buang yang tidak Anda perlukan. :)

++++++++++++++++++++++++++++++++++

Ada sebuah keluarga kecil yang hanya terdiri dari suami istri dan seorang anak laki-laki. Satu-satunya harta berharga yang mereka miliki adalah seekor kuda. Pada suatu hari, kuda tersebut lepas dan melarikan diri ke hutan, semua tetangganya bersimpati akan hal ini, mereka datang mengunjungi keluarga tersebut dan berkata, “Sungguh malang nasibmu, saya turut bersedih akan hal ini.”
“Terima kasih, tapi saya percaya bahwa ini bukanlah sebuah kemalangan, mungkin ini adalah awal keberuntungan,” jawab tuan rumah. “Semoga demikian”, jawab tetangganya sambil berpamitan dan menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti.
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Orang Yang Tidak Pernah Mengeluh (13)

Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi.
Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan cuaca panas di siang hari dan tebalnya jubah yang saya gunakan. Yang membuat suasana semakin gerah adalah penumpang penumpang lain yang merokok sehingga udara di dalam gerbong tersebut semakin penat. Pada situasi seperti ini, saya sempat mengeluh dan mulai menyalahi orang lain atas ketidaknyamanan yang saya alami. Ada rasa kesal, gelisah dan ingin lari dari kenyataan ini. Saya terus berusaha mengakhiri ketidaknyamanan ini dengan berpikir positif. Saya mencoba menghibur diri dengan mengatakan, “Bukankah ini saat terbaik untuk berlatih menerima kenyataan?”
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Ukuran Kesabaran (12)

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan anak-anak muda berkenaan dengan kesabaran. Diskusi ini terjadi saat saya mendengar salah seorang dari mereka memuju teman lainnya yang dianggap mereka memiliki kesabaran. Sesaat, saya merenungi pembicaraan tersebut, dan kemudian saya mulai bertanya kepada mereka, “Kita sering membuat pernyataan yang menyimpulkan seseorang itu sabar atau tidak sabar. Sebenarnya apa yang menjadi ukuran kesabaran itu? Atas dasar apa kita menyimpulkan seseorang itu sabar atau tidak sabar?”
Pertanyaan saya ini sempat mengejutkan mereka. Diantara mereka kemudian ada yang nyeletuk, “Iya, ya. Kalau dipikir-pikir ukuran kesabaran itu berbeda-beda dari setiap orang. Ada yang tahan terhadap celaan, tapi tidak tahan kalau dipukul. Ada yang sabar dalam bekerja, tapi tidak sabar dengan omongan orang. Wah… kalau begitu sebenarnya ukuran kesabaran itu seperti apa ya?”

Pembicaraan mereka akhirnya terfokus pada kesabaran. Setiap diantara mereka mulai saling bertanya-tanya sambil memberikan pandangan-pandangan mereka sendiri terhadap standar kesabaran. Saya membiarkan mereka berdiskusi dan mengeluarkan pendapat mereka. Ini dimaksudkan agar mereka dapat merenung untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan mengembangkan pengertian yang luas dalam hal ini. Setelah diskusi berjalan cukup panjang, akhirnya mereka sepakat menyimpulkan bahwa kesabaran itu ada batasnya. Lalu mereka meminta pendapat saya mengenai kesimpulan mereka. Saya katakan pada mereka bahwa kesabaran itu tiada batas namun bertingkat.

Setiap orang memiliki tingkat kesabaran yang berbeda. Ada tiga tingkatan seseorang yang dapat dikatakan memiliki kesabaran, yaitu : orang yang tidak pernah mengeluh, orang yang tetap tenang menerima buah karma buruk dan orang yang tetap mengasihi walaupun disakiti. Inilah tiga tingkatan yang menjadi ukuran apakah seseorang itu memiliki kesabaran atau belum.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Melihat Kesalahan Orang Lain, Ia Ragu Akan Hal Itu (11)

Seorang guru berjalan mengelilingi biara. Suatu kali ia melewati dapur dan melihat seorang muridnya sedang mencomot makan siangnya.
“Wah, murid ini kurang ajar! Saya akan menegurnya nanti saat makan bersama nanti!” kata sang guru dalam hati.
Ketika waktu makan tiba, semua murid berkumpul di aula ruang makan. Sang guru kemudian memanggil murid yang mencomot makanan tadi di dapur.
“Saya tadi melihat kamu mencomot makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada Buddha. Kenapa kamu lakukan hal itu?” tanya sang guru. “O, iya guru, pada makanan tersebut ada kotoran yang menempel. Saya ingat pesan guru bahwa kita hendaknya tidak membuang makanan. Karena itulah akhirnya saya makan bagian yang kotor dari makanan itu”, jawab murid. Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru merasa bersalah telah menuduh muridnya yang bukan-bukan. “Maafkanlah saya, ternyata mata ini tidak dapat dipercaya”, kata sang guru.

Ada orang yang dengan hanya mendengar tanpa melihat, langsung percaya. Inilah sebab dari timbulnya prasangka dan perselisihan yang semestinya tidak perlu terjadi. Setiap orang tentu memiliki alasan tersendiri dalam melakukan sesuatu. Jangan mudah terpengaruh oleh apa yang kita dengar dari orang lain sebelum kita mengetahuinya dengan pasti. Sebab orang yang mengabarkan berita ini tentunya sudah menambah bumbu-bumbu di dalamnya (hiperbola) dan mengurangi intinya sehingga cerita itu sudah tidak utuh dan dapat menyesatkan. Orang sering bertengkar untuk hal yang tidak membawa manfaat. Katakanlah ia menang/benar, lalu apa yang ia peroleh? Kecuali menambah ego, ketidaktenangan dan permusuhan. Seperti yang Buddha katakan, “Ia yang selalu mencari kesalahan orang lain dan tidak memperhatikan kesalahan diri sendiri, maka pikirannya akan tercemar.”
Adalah baik bagi kita memiliki pola pikir secara positif untuk menghindari prasangka dan perselisihan yang timbul dari kesalahpahaman.

Meskipun engkau bisa menunjukkan kesalahan orang lain, kesimpulan engkau sendiri juga belum tentu benar. Pun begitu engkau yakini benar.
Syair Zen

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – Karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Memuji Dengan Tulus Kebaikan Orang Lain (10)

Jarang orang berjiwa besar untuk mengakui kelebihan orang lain, apalagi untuk memberikan sebuah pujian. Adalah mudah bagi kita untuk memuji dan bersikap baik kepada mereka yang dapat menyenangkan hati kita. Tapi sulit bagi kita untuk bersikap baik dan memuji pada mereka yang tidak menyenangkan hati kita. Terkadang kita pun menunjukkan sikap kurang bersahabat pada mereka. Ini disebabkan cara kita berpikir yang terlalu “Elu, elu, gue, gue, Elu baik ama gue, gue baik ama elu. Elu cuek ama gue, gue lebih cuek ama elu.”

Kita tidak perlu cemas bila orang lain tidak mengakui jasa kita. Kita baru boleh cemas apabila diri kita tidak mau mengakui jasa orang lain. Terlebih bila kita mengakui jasa orang lain sebagai jasa kita. Tidak seharusnya kita mencela orang lain dengan mengutip kelemahan-kelemahan mereka dan mengabaikan sifat baik serta karya mereka yang bermanfaat. Memuji adalah hal yang dapat membantu membangkitkan semangat dan keceriaan seseorang. Karenanya pujilah dengan tulus setiap kebaikan apapun yang dilakukan seseorang pada siapapun. Jadilah para bijaksana yang menghargai kebaikan orang lain dengan memujinya, karena para bijaksana selalu memuji setiap kebaikan yang dilakukan semua makhluk. Menyadari bahwa setiap orang senang menerima apakah itu materi, keramahan, pujian, perhatian, atau menyelesaikan pekerjaan kecil mereka, maka membuat yang lain bahagia adalah sangat mungkin.

Orang bijak adalah ia yang dapat menghargai kebaikan orang lain dan dengan rasa simpati, ia turut bergembira atas kebaikan yang telah dilakukan seseorang. Seorang picik adalah ia yang selalu tidak bahagia melihat kesuksesan orang lain, dengan cemburu dan iri hati, ia berusaha menghancurkan kesuksesan orang lain. Ia berbahagia melihat orang lain menderita, ia tidak menginginkan ada orang lain yang lebih darinya.

Sebenarnya sangat memungkinkan bagi kita untuk menciptakan suasana bersahabat dan menumbuhkan kebersamaan dalam hubungan kita dengan yang lain. Seperti yang Buddha sabdakan, ” Ada empat sifat yang membawa persahabatan. Apakah empat sifat itu? Murah hati, ramah melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain, serta tidak sombong dan merendahkan yang lain”. Jika kita mengembangkan rasa simpati dan dapat menghargai orang lain, maka kebersamaan akan tumbuh dengan sangat indah. Tidak ada rasa iri,dengki dan saling menyalahi. Yang ada adalah perkembangan dan kemajuan bersama.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Hiduplah Dengan Damai

Hiduplah dalam Kedamaian…

Suara suara, gangguan gangguan itu sebenarnya bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam diri.

Teriakan teriakan dari dalam terdengar jauh lebih keras dibanding teriakan teriakan dari luar.

Oleh karena itu,…

Jika mereka ingin ribut, maka biarkanlah mereka ribut.
Yang kuinginkan hanyalah ketenangan di dalam hati.

Jika mereka ingin marah, maka biarkanlah mereka marah.
Yang kuinginkan hanyalah ketenangan di dalam hati.

Jika mereka ingin menangis, maka biarkanlah mereka menangis.
Yang kuinginkan hanyalah ketenangan di dalam hati.

Jika mereka ingin tidur, tenggelam dalam kesedihan, tenggelam dalam kesenangan, tertawa, bingung, kecewa; maka biarkanlah mereka melakukan apa yang mereka mau karena yang kuinginkan hanyalah kedamaian yang murni, hidup tanpa kekangan, tanpa beban, dan tanpa kekhawatiran.

Di sisi lain, hanya nasehat yang bisa kutawarkan.
Hanya kata-kata yang bisa kuberikan.
Dengan demikianlah caranya aku tidak perlu mencampuri kehidupan orang lain, juga tidak perlu menjadi egois.

Semoga semua makhluk bisa menemukan kebahagiaannya yang sejati.

Share

Ego. Apakah Teman atau Musuh?

Jika engkau marah kepada sesuatu, maka binasakanlah dia.
Apakah pandangan seperti ini benar?

Musuh dari luar dibasmi sampai berapa kalipun tidak akan pernah habis selama masih ada kebencian dalam hati, sedangkan musuh dari dalam-sekali dihabisi dengan tuntas dan ditambah dengan fondasi yang kuat, maka selamanya ia tidak akan pernah muncul lagi.

Pada dasarnya, siapa yang telah melukai diri ini?
Bukan orang lain, bukan siapa siapa selain dari diri sendiri. Ego yang berlebihan adalah penyebab penderitaan manusia.  Jika tidak ada yang namanya ego, maka apa yang bisa dilukai?

Sebagian orang berpendapat, jika tidak ada ego, apalah artinya hidup ini? Apa gunanya kekayaan dan kehormatan yang diperoleh dengan susah payah?
Benar ! Apa arti hidup ini? Apa arti kekayaan dan kehormatan? Apakah hidup ini hanya demi ego? Apakah kekayaan dan kehormatan dapat dimiliki selamanya?

Kekayaan, kehormatan ataupun hal hal lainnya adalah barang titipan. Semuanya bisa datang dan pergi dalam sekejap. Lalu apa gunanya memperlakukan barang titipan seolah olah barang tersebut adalah milik diri sendiri?

Tentu saja, orang yang dikuasai nafsu keinginan akan berpikir bahwa meskipun itu adalah titipan, setidaknya bisa dipakai untuk kebahagiaan saat ini.
Sifat acuh tak acuh seperti ini timbul karena ketidaktahuan. Tentu saja kebahagiaan adalah kebahagiaan, namun kemelekatan yang dalam terhadap kebahagiaan itu pada saatnya nanti akan berubah menjadi racun. Lihat bagaimana orang menjadi sangat menderita hanya karena berusaha mempertahankan kebahagiaan. Orang yang belum mengerti tidak akan paham bahaya dibalik kemelekatan itu. Bahkan jika dihitung hitung, terkadang nilai penderitaan yang sudah dialami seseorang karena berusaha mempertahankan kebahagiaan atau meratapi perginya kebahagiaan itu sudah tidak sebanding dengan nilai kebahagiaan itu sendiri.

– sebuah perumpamaan –
Ada seorang anak yang diberi oleh oleh sepotong kue oleh temannya. Temannya mengatakan bahwa kue tersebut rasanya enak sekali. Namun karena bentuknya yang menarik, ia tidak ingin memakannya. Ia tidak ingin kehilangan kue tersebut, sehingga akhirnya ia menyimpannya.
Selang beberapa hari, kue itu rusak dan bentuknya sudah tidak bagus lagi. Kue itu tidak lagi indah.
Pada akhirnya ia kehilangan kesempatan untuk mencicipi rasa kue tersebut, ia tidak pernah tahu bagaimana rasa kue tersebut.

Ada sebagian orang yang juga seperti itu. Mereka bekerja keras untuk mencari uang. Mereka mengumpulkan harta kekayaan yang jumlahnya sudah diluar kebutuhannya, tapi mereka terlalu kikir untuk menggunakannya. Sampai akhirnya ketika ajal mereka tiba, uang itu tidak terpakai sama sekali, dan satu satunya hal yang diwarisi oleh kekayaannya adalah penderitaan akibat kerja keras selama puluhan tahun.

Disisi lainnya, ada juga orang yang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang banyak dan bisa menikmatinya, namun ia tidak bersedia membagi kemakmurannya kepada orang lain. Setelah semua hal yang bisa dibeli dengan uang ia miliki, ia tidak tahu lagi hal apa yang bisa dia beli. Ia tenggelam dalam kebosanan, ia mulai merasa bahwa uang bukanlah segala galanya, dan pada saat ia telah sadar, sudah tidak banyak waktu baginya untuk mulai menggunakan kekayaannya secara bijak.

Kemudian ada juga orang yang berusaha membeli semua hal dengan uang. Dengan uang ia membeli kehormatan, membeli cinta, membeli teman temannya. Namun karena hatinya tidak tulus, maka orang orang yang menjual cinta, kehormatan dan persahabatan kepadanya juga adalah orang yang tidak tulus. Dengan demikian ia mulai melihat kepalsuan dalam segala hal. Ia akhirnya menderita karena menjadi orang yang penuh curiga, skeptis dan pesimistik terhadap semua hal.

Selanjutnya adalah orang yang licik. Dengan kebodohannya ia mempermainkan ketulusan manusia, mempermainkan perasaan manusia, dan secara konstan tetap menjaga dirinya di posisi sebagai ‘orang baik’. Orang seperti ini sepertinya tidak tersentuh oleh penderitaan, namun sebenarnya ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang mempersiapkan balasan yang setimpal atas semua perbuatannya. Tentu saja ia tidak akan menyadarinya karena dalam pikirannya sesuatu yang belum bisa dibuktikan pastilah tidak ada. Dengan cara seperti inilah maka karma buruk akan selalu tersenyum kepadanya dan mengikuti dirinya kemanapun ia pergi.

Sebagai seorang tukang taman sudah seharusnya jika memiliki tangan yang baik dan terampil. Tangan yang suka merusak sudah pasti tidak akan bisa dipakai untuk menciptakan taman yang indah. Demikianlah orang yang suka berbuat jahat perlahan lahan merusak tamannya sendiri. Ia akan terkejut setelah ia berdiri dan menyaksikan keseluruhan pemandangan tamannya, karena selama ini ia hanya melihat bagian per bagian dari taman itu.

Ingatlah bahwa Anda tidak bisa selalu mempercayai mata Anda. Anda juga tidak bisa selalu mempercayai telinga, hidung, kulit, dan lidah Anda. Anda bahkan tidak bisa selalu mempercayai pikiran Anda. Namun meskipun demikian, pengalaman kelima indra itu ditambah dengan pikiran Anda adalah input yang berharga bagi Anda untuk mengembangkan kebijaksanaan Anda.

Semoga semua makhluk memperoleh kesempatan untuk terlepas dari penderitaannya. Semoga semua makhluk berbahagia.

Share
affiliate_link

Categories