Seorang tua berusia 70 tahun dalam kesehariannya membuka toko onderdil. Usaha ini telah digelutinya sejak usia muda hingga sekarang. Satu kali teman bermain semasa mudanya mengunjungi dirinya. Mereka larut dalam pembicaraan mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu dalam kebersamaan mereka. Sebagai penutup pembicaraan, temannya mulai bertanya, “Anda sudah memiliki lebih daripada yang Anda perlukan, sekarang usia kita sudah tidak muda lagi. Tidakkah Anda dapat berhenti setiap saat untuk menikmati sisa hidup ini?”
“Saya tidak tahu caranya untuk berhenti”, jawab orang tua tersebut.

Ada pepatah yang berbunyi demikian, “Semakin kita punya, semakin kita cari; semakin kita dambakan, semakin kita tidak puas.
Hal ini dikarenakan seseorang selalu mengejar materi maka perasaan dan pikirannya juga sangat dipengaruhi oleh materi. Akibatnya, ia terperangkap dan sulit untuk melepaskan diri.

Keserakahan Berarti Kemiskinan

Dulu mungkin Anda pernah berpikir bahwa jika Anda memiliki uang seratus juta, sudah cukup bagi Anda untuk berpenghidupan yang layak.
Sekarang mungkin Anda telah memiliki lebih dari itu, tapi Anda tetap merasa tidak cukup. Sebenarnya apa yang terjadi? Ternyata keinginan Anda juga ikut bertambah!
Dunia ini berkecukupan untuk setiap kebutuhan manusia, namun tidak akan pernah cukup bagi keserakahan kita.
Orang serakah tidak akan pernah benar-benar menikmati kekayaannya. Dalam mencari, kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah kita dapatkan. Adalah baik jika kita memiliki kemampuan untuk menikmati hidup seutuhnya daripada sekedar memupuk materi. Kita harus menyadari bahwa menjadi kaya atau miskin tidak karena uang tetapi karena kemampuan kita untuk bergembira.

Saya pernah mengamati seorang pengemudi becak.
Kita tahu, menarik becak paling memperoleh penghasilan cukup untuk makan hari itu. Tapi saya tidak melihat ia merasa tertekan akan kondisinya yang pas-pasan itu. Ia tetap bisa tertawa dan bergembira bersama keluarganya. Bahkan istri dan anak-anaknya dapat menerima keadaan tersebut dengan penuh rasa syukur yang mendalam.
Lain sekali dengan pengusaha yang memiliki kekayaan jauh lebih besar dari pengemudi becak tersebut, namun tampak lebih tertekan hidupnya dibandingkan pengemudi becak. Saya kemudian bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang salah dari itu semua? Bukankah menurut orang-orang memiliki kekayaan merupakan faktor kebahagiaan?

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Berjuang mengumpulkan materi dan tidak mampu bergembira sama dengan sendok yang berada di dalam sup, tapi tidak tahu rasa sup“.
Kalau kita menganggap kebahagiaan hanya datang dari materi, kita tentu akan terperangkap dan dihanyutkan oleh materi itu. Kita akan terikat oleh pikiran serakah dan kikir. Karenanya, bagi mereka yang menginginkan kebahagiaan harus menghindari ketamakan. Sebab ketamakan berarti kemiskinan. Orang tidak pernah tahu rasa cukup dan bersyukur adalah orang miskin yang sebenarnya.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda