Seorang guru berjalan mengelilingi biara. Suatu kali ia melewati dapur dan melihat seorang muridnya sedang mencomot makan siangnya.
“Wah, murid ini kurang ajar! Saya akan menegurnya nanti saat makan bersama nanti!” kata sang guru dalam hati.
Ketika waktu makan tiba, semua murid berkumpul di aula ruang makan. Sang guru kemudian memanggil murid yang mencomot makanan tadi di dapur.
“Saya tadi melihat kamu mencomot makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada Buddha. Kenapa kamu lakukan hal itu?” tanya sang guru. “O, iya guru, pada makanan tersebut ada kotoran yang menempel. Saya ingat pesan guru bahwa kita hendaknya tidak membuang makanan. Karena itulah akhirnya saya makan bagian yang kotor dari makanan itu”, jawab murid. Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru merasa bersalah telah menuduh muridnya yang bukan-bukan. “Maafkanlah saya, ternyata mata ini tidak dapat dipercaya”, kata sang guru.

Ada orang yang dengan hanya mendengar tanpa melihat, langsung percaya. Inilah sebab dari timbulnya prasangka dan perselisihan yang semestinya tidak perlu terjadi. Setiap orang tentu memiliki alasan tersendiri dalam melakukan sesuatu. Jangan mudah terpengaruh oleh apa yang kita dengar dari orang lain sebelum kita mengetahuinya dengan pasti. Sebab orang yang mengabarkan berita ini tentunya sudah menambah bumbu-bumbu di dalamnya (hiperbola) dan mengurangi intinya sehingga cerita itu sudah tidak utuh dan dapat menyesatkan. Orang sering bertengkar untuk hal yang tidak membawa manfaat. Katakanlah ia menang/benar, lalu apa yang ia peroleh? Kecuali menambah ego, ketidaktenangan dan permusuhan. Seperti yang Buddha katakan, “Ia yang selalu mencari kesalahan orang lain dan tidak memperhatikan kesalahan diri sendiri, maka pikirannya akan tercemar.”
Adalah baik bagi kita memiliki pola pikir secara positif untuk menghindari prasangka dan perselisihan yang timbul dari kesalahpahaman.

Meskipun engkau bisa menunjukkan kesalahan orang lain, kesimpulan engkau sendiri juga belum tentu benar. Pun begitu engkau yakini benar.
Syair Zen

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – Karangan Bhikkhu Nyanakumuda