Oct 19, 2009
Nuansa Hidup – Orang Yang Tidak Pernah Mengeluh (13)
Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi.
Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan cuaca panas di siang hari dan tebalnya jubah yang saya gunakan. Yang membuat suasana semakin gerah adalah penumpang penumpang lain yang merokok sehingga udara di dalam gerbong tersebut semakin penat. Pada situasi seperti ini, saya sempat mengeluh dan mulai menyalahi orang lain atas ketidaknyamanan yang saya alami. Ada rasa kesal, gelisah dan ingin lari dari kenyataan ini. Saya terus berusaha mengakhiri ketidaknyamanan ini dengan berpikir positif. Saya mencoba menghibur diri dengan mengatakan, “Bukankah ini saat terbaik untuk berlatih menerima kenyataan?”
Kemudian saya membuka tas saya dan mengambil sebuah buku yang memang telah saya siapkan untuk dibaca dalam perjalanan. Buku itu berjudul “Bermasalah Namun Tetap Bahagia” karya Lama Zopa Rinpoche.
Pada saat saya membuka dan membaca halaman demi halaman buku tersebut, saya semakin damai dan semakin dicerahkan bahwa bukan karena kondisi luar yang membuat saya menderita, tetapi pikiran yang menolak kenyataanlah yang lebih membuat saya menderita. Saya pun akhirnya dapat menggunakan cuaca panas dan bau asap rokok untuk membakar ego saya. Saya menyadari akar permasalahannya terletak pada ego yang tidak ingin diganggu, yang mau menang sendiri dan mementingkan diri sendiri. Inilah sumber penderitaan yang sebenarnya. Pada saat itu saya teringat apa yang telah dikatakan oleh Ajahn Chah “Kita bagaikan orang yang berada di jalan raya dan merasa terganggu dengan suara bising mobil, lalu kita berteriak ‘Oooooii jangan jalan disini’. Tidaklah mungkin mengharapkan mobil untuk tidak berjalan di jalan raya. Jalan itu adalah jalan untuk mobil. Kitalah yang salah. Jangan menyalahkan orang lain”
Lebih lanjut saya pun teringat sebuah pribahasa yang berbunyi:buruk muka cermin dibelah.
Disaat kita menjalankan tugas dengan tanpa mengeluh, kita akan menyadari bahwa apa yang kadang-kadang menjadi penghalang, tidak lebih adalah sebuah batu karang yang bisa kita injak. Dengan merenungi Dharma yang telah saya pelajari, akhirnya saya dapat meneruskan perjalanan ini dengan senyuman manis dan penuh dengan bau keringat bercampur bau rokok. Saya sadar bahwa kesabaran akan hadir ketika pikiran terkendali dan dapat menerima kenyataan sebagaimana apa adanya atau mengada sepenuhnya pada saat ini.
Lebih daripada itu, merasa diri lebih penting dari yang lain dan mengasihani diri sendiri adalah penyebab kemarahan dan penderitaan.
Jika seseorang telah dapat mengatasi gangguan luar dengan mengubah cara berpikirnya, maka ia dapatlah dikatakan memiliki kesabaran dari orang yang tidak pernah mengeluh.
Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda
