Suatu kali seorang perampok masuk ke biara seorang guru Zen. “Harta atau nyawa” kata perampok itu sambil menunjukkan pisaunya pada sang guru. Sang guru dengan tetap tenang menjawab, “Kalau mau harta, di laci lemari ada sedikit uang. Ambillah.”
Kemudian perampok itu menuju ke lemari yang ditunjukkan oleh guru tersebut. Ia menemukan sedikit uang seperti yang telah dikatakan oleh sang guru. Dengan tergesa-gesa, ia mengambil uang itu dan meninggalkan tempat tersebut.
“Tunggu dulu! Setelah menerima sesuatu, engkau mesti mengucapkan terima kasih”, kata sang guru kepada perampok itu. “Thank you”, jawab perampok itu sambil berlalu.

Beberapa hari kemudian perampok itu tertangkap polisi, kemudian dibawa ke biara untuk menemui guru tersebut. Setibanya di biara polisi bertanya kepada sang guru, “Benarkah orang ini yang telah mencuri uang Anda?”
“Dia tidak mencuri, dan saya tidak merasa kecurian. Setelah menerima sesuatu, ia mengucapkan terima kasih”, jawab guru tersebut.
Mendengar pernyataan sang guru, perampok itu langsung menangis sesegukan, ia tidak menyangka sang guru memiliki kasih sayang yang besar walau dirinya telah dirampok.
Setelah menjalani masa tahanan, perampok itu langsung mendatangi guru tersebut dan belajar di bawah bimbingannya.

Kita mungkin tak cukup luhur untuk mengasihani musuh, namun demi kesehatan dan kebahagiaan kita sendiri, marilah setidaknya kita maafkan dan lupakan mereka. Tidak mudah untuk tetap bersikap dengan penuh kasih sayang kepada orang yang telah menyakiti kita. Begitu juga meninggalkan kejahatan dan segera bertobat adalah sukar dilaksanakan.
Kekuatan apa yang dapat membuat orang meninggalkan kejahatan?
Belas kasih, cuma itu.
Saya teringat sebuah syair yang mengagumkan dan menggetarkan hati saya. Sebuah syair dari seorang yang penuh kasih, seorang penyayang, seorang pencinta kehidupan. Shantideva namanya.
Dalam Bodhicharyavatara, beliau menulis syair berikut : “Dalam kelahiran ini, pun semua tumimbal lahirku nanti, ku lepaskan segala milik. Dan semua berkah di masa lalu, saat ini dan yang akan datang, ku lepaskan, lepas, lepas. Jika hanya dengan itu, semua makhluk sungguh dapat berbahagia.

Hati Shantideva penuh dengan belas kasih kepada yang miskin dan rendah, begitu juga kepada semua hewan. Ia memohon kepada para Buddha, “Tuntunlah mereka dengan penuh kelembutan, simpati dan belas kasih.” Dan kemudian beliau berkata, “Gagasan untuk mengorbankan semua yang dipunyai, bahkan buah pengorbanan itu kepada semua makhluk, adalah perwujudan belas kasih nan sempurna” Haah… Saya sungguh mengagumi beliau. Saat saya membaca lebih lanjut syair-syairnya, saya tak kuasa menahan rasa haru atas kemuliaan hatinya.

Izinkalah saya melanjutkan syair yang juga merupakan ikrar beliau untuk melayani semua makhluk. “Kulepaskan juga tubuh ini untuk melayani semua makhluk. Tiada lain harapan dalam hati, mereka bisa menemukan kebijaksanaan sejati. Sesungguhnya, melayani semua makhluk berarti melayani pada Buddha.
Shantideva memenuhi hati siswa-siswanya dengan satu kebenaran, yaitu menaklukkan keangkuhan dan melenyapkan ego, juga menjadikan hidup ini pengabdian kepada Cahaya yang Tunggal, Kebebasan abadi. Akhirnya Shantideva memanjatkan doa, “Semoga semua keangkuhan lenyap, semoga rasa hausku akan kebahagiaan yang lain, tumbuh dengan segera. Semoga tekadku untuk melayani lurus selalu. Dan semoga keinginanku untuk memberi tumbuh terus dan terus.

Bila kita dapat terus mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk, berarti kita secara otomatis dapat dikatakan memiliki kesabaran dari orang yang tetap mengasihi walau telah disakiti.

Alam memberkahi semua hal, tanpa kecuali, dan tidak menuntut pujian. Orang yang bekerja tanpa keluhan adalah satu dengan jalan alam.

Syair Zen

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda