Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Nuansa Hidup – Tetap Tenang Saat Menerima Buah Karma Buruk (14)

Meskipun Anda sudah pernah membaca artikel di bawah ini atau tidak sepenuhnya setuju dengan beberapa paragraf awal dari artikel ini, saya sarankan agar Anda meneruskan membaca sampai akhir.
Anda tidak akan pernah tahu apa yang bakal Anda lewatkan.
Ambil apa yang Anda butuhkan, dan buang yang tidak Anda perlukan. :)

++++++++++++++++++++++++++++++++++

Ada sebuah keluarga kecil yang hanya terdiri dari suami istri dan seorang anak laki-laki. Satu-satunya harta berharga yang mereka miliki adalah seekor kuda. Pada suatu hari, kuda tersebut lepas dan melarikan diri ke hutan, semua tetangganya bersimpati akan hal ini, mereka datang mengunjungi keluarga tersebut dan berkata, “Sungguh malang nasibmu, saya turut bersedih akan hal ini.”
“Terima kasih, tapi saya percaya bahwa ini bukanlah sebuah kemalangan, mungkin ini adalah awal keberuntungan,” jawab tuan rumah. “Semoga demikian”, jawab tetangganya sambil berpamitan dan menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti.

Seminggu kemudian, pada sore hari, terdengarlah suara kaki kuda. Semua orang keluar dan melihat kuda yang hilang itu kembali dengan membawa kuda kuda liar lainnya.

“Wah, selamat ya. Kamu sekarang benar-benar beruntung memiliki kuda yang banyak”, kata tetangga-tetangganya.
“Terima kasih, tapi saya tidak berpikir ini sebuah keberuntungan, esok kita tidak tahu apa yang akan terjadi”, jawab tuan rumah. Sekali lagi tetangganya berlalu dengan kebingungan atas pernyataannya.

Esok harinya, anaknya mencoba untuk menjinakkan seekor kuda liar yang datang bersama kuda miliknya. Ketika ia mencoba menaiki kuda tersebut, tiba-tiba kuda itu memberontak, ia terjatuh dan mematahkan salah satu kaki anak tersebut. Kemudian para tetangga pada hadir dan berkata pada tuan rumah, “Kali ini engkau benar-benar mengalami kesialan. Anak semata wayangmu sekarang mengalami patah kaki. Apa lagi yang akan kau katakan?”
“Saya percaya kemalangan awal dari keberuntungan”, jawab tuan rumah.
“Huuhhh… Sudah mengalami musibah, masih saja berkelit!” gerutu tetangganya.

Tiga hari kemudian, terdengarlah suara segerombolan kuda yang berlari dengan kencang. Ternyata suara kuda itu adalah pasukan kerajaan yang membawa perintah raja agar semua anak di kampung tersebut dibawa untuk ikut dalam perang. Hanya anak yang kakinya patah itulah yang tidak diikutsertakan karena cacat. Semua penduduk menangisi anak-anak mereka yang dibawa paksa oleh pasukan kerajaan. Dan akhirnya mereka mengerti bahwa kemalangan itu tidak selalu benar-benar malang, bahkan bisa merupakan keberuntungan.

Dari cerita tersebut, kita dapat memahami bahwa ketabahan dalam menghadapi situasi sulit adalah merupakan jalan mengakhiri penderitaan. Memang merupakan suatu penderitaan kehilangan orang yang dicintai, tapi yang lebih membuat kita menderita adalah pikiran yang tidak dapat menerima kenyataan itu.

Saya sering mengamati orang orang yang datang ke vihara. Sebagian dari mereka datang untuk sembahyang, dikarenakan menghadapi masalah-masalah rumit yang tidak dapat mereka atasi. Ada yang datang dengan membawa banyak persembahan seperti buah, dupa, lilin dan minyak. Dalam doa, mereka umumnya memohon berkah kekayaan, kesehatan, kesuksesan dan lain lain. Pada batasan ini, saya memandang sah-sah saja dan ketika ada kesulitan adalah tepat berdoa ke vihara. Namun sayangnya mereka hanya mengingat vihara di saat mereka mengalami kesulitan. Padahal ada banyak hal indah bila mereka datang juga untuk mendengarkan Dharma. Dharma dibutuhkan untuk mencegah timbulnya penderitaan. “Lebih baik mencegah daripada mengobati.”

Seperti yang Buddha katakan bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui adanya penderitaan. Kita juga harus mencari tahu sebab dari penderitaan. Untuk lebih tidak menderita, kita diminta untuk menghentikan sebab dari penderitaan. Dan akhirnya kita menyembuhkan penderitaan yang ada dengan mengikuti petunjuk yang diajarkanNya. Sebenarnya penderitaan yang kita alami timbul dari ketidaktahuan kita terhadap kebenaran. Seseorang harus menyadari bahwa apa yang ia alami bukan merupakan hasil rekayasa dari Yang Maha Kuasa, melainkan buah dari apa yang telah ia lakukan di masa lalu.

Sedehana saja. Ketika penderitaan muncul, berpikirlah seperti ini: “Karma buruk saya sekarang lagi berbuah. Biarlah saya melunasinya dengan kesabaran. Dengan berbuahnya karma buruk ini, saya tidak akan menimbulkan penyebab baru dengan kemarahan dan menyalahi orang lain”. Kuncinya terletak bagaimana kita dapat mengarahkan pikiran pada hal yang positif. Dengan kesabaran, penderitaan bukan lagi menjadi penderitaan bagi kita. Bila Anda dapat melakukan hal ini dengan baik, dan Anda dapat menerima kenyataan sebagaimana apa adanya, maka Anda dapat dikatakan memiliki kesabaran dari orang yang tetap tenang menerima buah karma buruk.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Category: Indonesian Language, Lesson

Tagged: , , ,

Comments are closed.