Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan anak-anak muda berkenaan dengan kesabaran. Diskusi ini terjadi saat saya mendengar salah seorang dari mereka memuju teman lainnya yang dianggap mereka memiliki kesabaran. Sesaat, saya merenungi pembicaraan tersebut, dan kemudian saya mulai bertanya kepada mereka, “Kita sering membuat pernyataan yang menyimpulkan seseorang itu sabar atau tidak sabar. Sebenarnya apa yang menjadi ukuran kesabaran itu? Atas dasar apa kita menyimpulkan seseorang itu sabar atau tidak sabar?”
Pertanyaan saya ini sempat mengejutkan mereka. Diantara mereka kemudian ada yang nyeletuk, “Iya, ya. Kalau dipikir-pikir ukuran kesabaran itu berbeda-beda dari setiap orang. Ada yang tahan terhadap celaan, tapi tidak tahan kalau dipukul. Ada yang sabar dalam bekerja, tapi tidak sabar dengan omongan orang. Wah… kalau begitu sebenarnya ukuran kesabaran itu seperti apa ya?”

Pembicaraan mereka akhirnya terfokus pada kesabaran. Setiap diantara mereka mulai saling bertanya-tanya sambil memberikan pandangan-pandangan mereka sendiri terhadap standar kesabaran. Saya membiarkan mereka berdiskusi dan mengeluarkan pendapat mereka. Ini dimaksudkan agar mereka dapat merenung untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan mengembangkan pengertian yang luas dalam hal ini. Setelah diskusi berjalan cukup panjang, akhirnya mereka sepakat menyimpulkan bahwa kesabaran itu ada batasnya. Lalu mereka meminta pendapat saya mengenai kesimpulan mereka. Saya katakan pada mereka bahwa kesabaran itu tiada batas namun bertingkat.

Setiap orang memiliki tingkat kesabaran yang berbeda. Ada tiga tingkatan seseorang yang dapat dikatakan memiliki kesabaran, yaitu : orang yang tidak pernah mengeluh, orang yang tetap tenang menerima buah karma buruk dan orang yang tetap mengasihi walaupun disakiti. Inilah tiga tingkatan yang menjadi ukuran apakah seseorang itu memiliki kesabaran atau belum.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – karangan Bhikkhu Nyanakumuda