Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya.
Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi… tetap saja akan menderita.
Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan?

Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak akan bertahan selamanya.
Orang bilang mengapa harus berpikir pesimistis. Kebahagiaan saat ini adalah kebahagiaan saat ini, tidak perlu memikirkan masa depan yang tidak pasti.

Hal ini betul, namun hal ini juga sekaligus menegaskan bahwa penderitaan akibat ketidakpastian masa depan juga tidak dapat dihindarkan.

Benarkah seperti itu?

Salah satu penyebab penderitaan manusia adalah adanya pemikiran tentang kepemilikan. Harta ini adalah milikku, cinta ini adalah milikku, kebahagiaan ini adalah milikku.
Karena adanya pemikiran seperti ini, maka ketika ketidakpastian merenggut semuanya itu…akibatnya timbullah penderitaan.

Kita seakan tidak sadar bahwa bahkan tubuh kita juga bukanlah milik kita. Setiap detiknya ada sel sel yang mati dan lahir dalam tubuh kita. Apa yang dulunya dianggap sebagai kepunyaan, sekarang mati dan digantikan yang lain. Jika begitu, masih relevankah konsep kepemilikan ini?

Dalam hidup ini setiap bentuk kehidupan akan terus berusaha mempertahankan eksistensinya. Tanpa adanya sifat seperti itu, tidak akan pernah ada makhluk yang bisa hidup, tidak ada regenerasi, tidak ada kehidupan.
Demikian juga dengan kita. Adalah sudah kodratnya kita makan, dan minum untuk mempertahankan hidup kita. Juga sudah kodratnya kita mencintai sesama kita; namun terkadang, tanpa kita sadari kita telah melakukannya secara berlebihan.

Seseorang pernah bertanya, apakah mungkin kita bisa mencintai orang lain tanpa terikat dengan orang tersebut?
Orang tersebut menjawab tidak mungkin.
Dia bertanya lantas menjawab sendiri. Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat.
Dalam cerita zen, orang tersebut seperti cangkir yang telah penuh. Apapun yang diisikan kedalamnya akan tumpah keluar. Apapun hal yang kita sampaikan tidak akan didengar, kecuali jika hal tersebut sesuai dengan pemikirannya sendiri. Orang tersebut tidak pernah belajar apapun kecuali pandangan-pandangannya sendiri terhadap kehidupan.

Dimanakah penderitaan?

Sebenarnya salah satu alasan mengapa kita menderita adalah kita sendiri yang telah mengikatkan diri ke dalam penderitaan itu. Sebagai contoh, pada saat kita mencintai seseorang, kemudian orang tersebut meninggalkan kita – kita lantas berpikir bahwa mereka benar benar telah meninggalkan kita. Ini adalah sebuah pandangan yang mungkin tidak tepat.

Sebenarnya, apa definisi yang paling tepat untuk kata ‘ditinggalkan’?
Apakah karena orang tersebut tidak ada lagi?
Jika orang tersebut masih ada (masih hidup), namun tidak terlihat oleh kita entah karena sudah pergi ke tempat yang jauh atau karena alasan lain – apakah itu masih dapat disebut ditinggalkan?
Jika demikian istilah ditinggalkan lebih mengacu kepada apakah orang tersebut masih bisa dilihat dengan mata kepala kita sendiri.

Jika begitu halnya…seumpamanya kita masih bisa melihatnya (tubuhnya), tapi orang tersebut sudah mati, apakah masih bisa disebut ditinggalkan?
Anngaplah orang tersebut masih hidup namun tiba tiba dia berubah mempunyai perangai (tabiat/sifat) yang lain dari yang kita kenal… apakah itu juga bisa didefinisikan bahwa orang tersebut telah pergi?

Sebenarnya ‘orang’ tersebut tidaklah benar-benar pergi.
Semua yang telah dilakukan orang tersebut telah membuat banyak kesan di pikiran kita. Pada saat orang tersebut meninggalkan kita (meninggal atau telah pergi jauh) – kesan-kesan tentang dirinya di pikiran kita tetap ada, namun ia telah berhenti berkembang, atau dengan kata lain sudah berhenti bergerak.
Dan karena sudah berhenti bergerak inilah, kita cenderung menganggapnya sebagai mati. Padahal sebenarnya, meskipun orang tersebut telah hilang secara fisik, namun ia tetap hidup dalam pikiran kita. Bahkan ketika orang tersebut masih hidup, yang kita kenali/akui sebenarnya bukanlah fisik dari orang yang kita cintai itu, melainkan kesan kesan yang muncul dalam pikiran kita. Fisik hanyalah salah satu input untuk menciptakan kesan dalam pikiran kita. Creatornya tetap adalah pikiran kita.
Lagipula, jika memang kita mengakui orang tersebut hanya secara fisik, tentunya kita tidak akan merasa tidak nyaman jika orang yang kita cintai bersikap/bertindak tidak sesuai dengan harapan kita, karena yang kita cintai hanya fisiknya. Juga kita tidak akan keberatan jika fisiknya jelek karena yang kita cintai adalah fisiknya, bukan hasil penilaian (kesan) terhadap fisik tersebut.

Sebenarnya,… yang kita cintai bukanlah fisik orang tersebut, melainkan kesan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri mengenai orang tersebut. Penciptaan kesan tersebut bervariasi tergantung penilaian pikiran kita terhadap orang yang bersangkutan.

Jika semua hal itu tinggal dalam pikiran kita, mengapa kita harus khawatir bahwa ini telah pergi dan itu telah datang? Apa yang harus pergi biarkanlah pergi… apa yang harus datang biarkanlah datang, tidak perlu terikat kepada banyak hal, karena hal-hal itu tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, juga tidak pernah benar-benar mendatangi kita. Semuanya berasal dari pikiran dan dapat diselesaikan dalam pikiran.