Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Moving Forward, Moving Backward, or Just Stand Still?

It’s near end of year right now.
Usually, every end of year we will try to review what we have achieved in this year. Did we make any progress this year, or just suffering a set back or no progress at all?

For me this year somehow better than previous one. But strangely, I feel the same. Nothing improve too much this year. I’m still lonely, searching for something that I don’t really want… etc etc… I realize that something which is not easy to attain is satisfaction.

As human, it’s natural that we want more and more. Every time we get something, we’re tend to search more and more. It’s not uncommon when we do love more than one thing. We’re not only seeking for love, we’re also seeking for money, fame, adventure, etc. When we try to stop, we often feel empty. Our mind is keep yelling “Hoi… do something… It’s boring in here !!!”.

People often tell me if I have a lot of money, I will happy. If I have a goddess like beautiful wife, it will be a bliss.
Is that true?

I have seen my neighbor committing suicide. He has beautiful wife, a lot of money and good fortune. But what happened was the good fortune come to turn into bad fortune.The lucky star turned into bad luck star which is become the reason that force him to commit suicide.

So… what’s happiness exactly?

If you have a lot of money, you will be haunted by fear. If you have someone that you love the most, you’ll keep missing that person when they are not around. That’s why I’m starting to think that worldly happiness is just another mask of suffering.

So whether I make any progress or no at all it’s not important. The more important thing is whether I’m fully satisfied with my life. Am I making too much complaint or not?
I remember a quote from a story about wishing game… The only happiness that I wished for is when I don’t need any wish to be happy. :)

Share

Nuansa Hidup – Sederhana dalam Bicara (20)

Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, "Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu".
"Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, kamu tidak perlu menjilat atasan", jawab temannya.
Keteguhan hati karyawan yang rela makan ubi daripada menjilat atasan patut dikagumi.
Jarang orang bisa memegang teguh kebenaran ketika ada godaan. Kata-kata yang enak terdengar untuk mempengaruhi orang lain nilainya pantas diragukan dan sering membawa hasil yang lebih buruk. Tidak mengatakan apa yang tidak benar adalah dasar dari perbuatan benar.

Seseorang yang sederhana dalam berbicara adalah mereka yang tidak banyak bicara. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia menghindari kegemaran gosip dan omong kosong.
Bila kita suka menyebarkan gosip yang kita dengar dari orang lain, berarti kita membuang jasa dan kebajikan kita.
Ada sebuah syair yang berbunyi; "Banyak berkata banyak bahaya. Diam menjauhkan nasib buruk. Kakaktua bicara dalam sangkar dikurung. Burung burung tak bisa bicara terbang melayang bebas"
Sudah barang tentu jika seseorang banyak bicara, maka semakin besar pula resiko kesalahan yang dibuatnya.
Daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat dan membuat orang marah atau benci, lebih baik sepatah kalimat yang bermanfaat dan memberikan kedamaian bagi pendengarnya. Inilah yang disebut kesederhanaan dalam berbicara.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Sederhana dalam Bertindak (19)

Seorang pemuda yang bercita cita ingin menjadi orang besar berkunjung ke biara untuk meminta bantuan dari seorang guru terkenal. Ketika bertemu dengan guru tersebut, ia langsung bertanya, “Bagaimana saya dapat menjadi orang besar seperti guru?
Mengapa mau jadi orang besar? Menjadi orang itu sudah merupakan keberhasilan cukup besar“, jawab sang guru dengan santai. “Daripada mengeluh dan tidak puas dengan apa yang ada, lebih baik mensyukuri betapa beruntungnya Anda yang hari ini sehat dan masih hidup. Bukankah ini lebih berharga?” sang guru memberi jawaban lebih lanjut.

Jika kita menjalani hidup hanya untuk mengejar ketenaran dan keuntungan dalam hidup ini, berarti kita telah memutarbalikkan arti hidup. Orang bijak tidak akan mau menukarkan hidupnya dengan keuntungan sesaat. Kita mesti menyadari bahwa kemashyuran, status, dan kekayaan cenderung membesarkan ego. Sebagai akibatnya, kita dibawa menyimpang seperti pengembara yang tersesat dan tak bisa kembali. Ciri terbaik kebahagiaan saat ini dan yang akan datang adalah pelepasan dari semua keinginan.
Saat kita tidak menginginkan ketenaran, ketenaran itu terkadang malah datang.

Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.
Buddha bersabda, “Kerendahan hati berarti kesederhanaan dalam sikap dan pikiran. Seseorang yang memiliki hal ini berarti telah menyingkirkan kesombongan dan tinggi hati, ia seperti kain pembersih kaki, banteng tak bertanduk, ular yang tak bertaring. Ia lemah lembut, ceria, dan mudah bergaul.

Walaupun orang lain memiliki kekayaan dan popularitas, kita tidak perlu menjadi minder apalagi iri hati. Turut bergembira dan hidup bersahaja adalah hal yang dapat membawa kebahahagiaan terbesar bagi kita. Jangan pernah mengeluh kekurangan dan mencari reputasi. Hidup apa adanya, sederhana, dan merasa puas dengan yang dimiliki adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Seperti yang dikatakan J. Khrisnamurti, “Kesederhanaan tidak dapat ditemukan kecuali seseorang itu merdeka batinnya. Karenanya, kesederhanaan itu haruslah dimulai dari dalam batin, bukan dari kehidupan lahir.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Rasa Puas dan Tahu Cukup (18)

Seorang saudagar kaya di suatu pagi berjalan menghirup udara segar di tepi pantai. Pada waktu itu ia terus mengamati seorang nelayan yang sedang asyik merokok sambil tiduran di kapalnya.
Kemudian ia mendekati nelayan itu dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?”
“Saya baru saja selesai menangkap ikan dan hasilnya sudah saya jual cukup untuk makan hari ini”, jawab nelayan itu.
“Hari masih pagi, mengapa engkau tidak melanjutkan menangkap ikan?” tanya saudagar itu lebih lanjut.
“Untuk apa?” tanya balik sang nelayan.
“Dengan begitu, engkau bisa memperoleh penghasilan lebih untuk mengembangkan usahamu dan kelak engkau dapat menikmati ketenangan dan kenyamanan hidup”, jawab sang saudagar.
“Lalu menurut Anda sekarang saya sedang apa?” jawab nelayan itu.

Kalau kita menyimak kisah nelayan tersebut diatas, kita dapat mempelajari makna yang terkandung didalamnya. Untuk menikmati hidup, tidaklah perlu menunggu menjadi kaya terlebih dahulu. Banyak hal yang selalu diukur dengan materi sehingga kita menganggap materi sebagai tujuan kebahagiaan. Pola hidup dan cara pandang seperti itu hanya akan menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan.
Apa yang membuat hati kita puas biasanya tidak bisa dibeli dengan uang. Hanya hati yang lega yang bisa merasakan kepuasan.
Uang cuma bisa membeli lebih banyak nafsu. Kita harus memahami bahwa kekayaan tidak diukur dari seberapa banyak harta seseorang, tetapi dari apakah ia merasa cukup.
Ada sebuah ungkapan yang perlu kita renungkan, “Aku mengeluh tidak punya sepatu hingga bertemu dengan orang yang tak punya kaki”.
Kita mesti menyadari banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari kita. Maka bersyukurlah.

Jika Anda ingin menghindari penderitaan, Anda harus merasa puas. Rasa puas adalah dasar dari pencapaian ketenangan dan kedamaian hati.
Seseorang yang penuh dengan rasa puas, walaupun ia berbaring diatas tanah, tetap juga berada dalam keadaan tenang dan bahagia.
Ia yang tidak merasa puas, walaupun ia kaya, tetap juga disebut miskin!
Ia yang merasa puas, walaupun ia miskin, dapat dikatakan orang kaya yang sebenarnya. Orang yang tidak pernah puas terikat oleh bermacam-macam keinginan dan karenanya sering dikasihani oleh orang yang puas. Inilah makna dari rasa puas.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

affiliate_link

Categories