Nuansa Hidup – Rasa Puas dan Tahu Cukup (18)
Seorang saudagar kaya di suatu pagi berjalan menghirup udara segar di tepi pantai. Pada waktu itu ia terus mengamati seorang nelayan yang sedang asyik merokok sambil tiduran di kapalnya.
Kemudian ia mendekati nelayan itu dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?”
“Saya baru saja selesai menangkap ikan dan hasilnya sudah saya jual cukup untuk makan hari ini”, jawab nelayan itu.
“Hari masih pagi, mengapa engkau tidak melanjutkan menangkap ikan?” tanya saudagar itu lebih lanjut.
“Untuk apa?” tanya balik sang nelayan.
“Dengan begitu, engkau bisa memperoleh penghasilan lebih untuk mengembangkan usahamu dan kelak engkau dapat menikmati ketenangan dan kenyamanan hidup”, jawab sang saudagar.
“Lalu menurut Anda sekarang saya sedang apa?” jawab nelayan itu.
Kalau kita menyimak kisah nelayan tersebut diatas, kita dapat mempelajari makna yang terkandung didalamnya. Untuk menikmati hidup, tidaklah perlu menunggu menjadi kaya terlebih dahulu. Banyak hal yang selalu diukur dengan materi sehingga kita menganggap materi sebagai tujuan kebahagiaan. Pola hidup dan cara pandang seperti itu hanya akan menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan.
Apa yang membuat hati kita puas biasanya tidak bisa dibeli dengan uang. Hanya hati yang lega yang bisa merasakan kepuasan.
Uang cuma bisa membeli lebih banyak nafsu. Kita harus memahami bahwa kekayaan tidak diukur dari seberapa banyak harta seseorang, tetapi dari apakah ia merasa cukup.
Ada sebuah ungkapan yang perlu kita renungkan, “Aku mengeluh tidak punya sepatu hingga bertemu dengan orang yang tak punya kaki”.
Kita mesti menyadari banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari kita. Maka bersyukurlah.
Jika Anda ingin menghindari penderitaan, Anda harus merasa puas. Rasa puas adalah dasar dari pencapaian ketenangan dan kedamaian hati.
Seseorang yang penuh dengan rasa puas, walaupun ia berbaring diatas tanah, tetap juga berada dalam keadaan tenang dan bahagia.
Ia yang tidak merasa puas, walaupun ia kaya, tetap juga disebut miskin!
Ia yang merasa puas, walaupun ia miskin, dapat dikatakan orang kaya yang sebenarnya. Orang yang tidak pernah puas terikat oleh bermacam-macam keinginan dan karenanya sering dikasihani oleh orang yang puas. Inilah makna dari rasa puas.
Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Leave a Reply