Oh… Damn… God Damn Shit !! – Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut.

Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film – bukan kenyataan, sudah bisa menghancurkan hati saya sampai berkeping keping?

Kebanyakan orang tentu tidak suka dengan ending yang tragis. Namun ada beberapa orang justru senang. Sepertinya memainkan perasaan sendiri adalah pekerjaan yang begitu menyenangkan, huh?

Hidup itu tidak selalu seindah yang kita kira, dan juga tidak selalu sejelek yang kita kira. Kenyataannya adalah hidup ini ada senang, ada sedih, juga ada bosan. Namun tidak semua orang dapat menerima kenyataan itu, sehingga pada akhirnya malah menyiksa diri sendiri.

Alkisah, ada seorang pria yang memiliki seorang kekasih yang amat dicintainya. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain, namun pemikiran mereka sama sekali berbeda.
Sang pria menyadari bahwa cinta sangatlah indah namun sewaktu waktu dapat berubah menjadi racun, karena tidak ada hal yang abadi di dunia ini, termasuk cinta itu sendiri. Sedangkan sang wanita sama sekali tidak memiliki pemikiran itu. Sang wanita selalu berpikir optimis bahwa semuanya akan selalu indah seperti hari ini, selamanya…

Suatu hari, sang pria mengalami sakit parah dan nyawanya sudah diujung tanduk. Peluangnya untuk bertahan hidup sangatlah tipis. Disisa waktu hidupnya yang semakin menipis, ia berpesan kepada kekasihnya agar tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik, jangan bersedih terlalu lama dan berharap agar ia dapat menjaga dirinya sendiri dengan baik. Namun kekasihnya yang selalu berpikir optimis kali ini tidak lagi optimis dengan peluang kesembuhan kekasihnya. Ia merasa sangat sedih dan hatinya hancur berkeping keping. Setiap hari ia hanya bisa menangis dan meratapi nasib kekasihnya.

Sang pria yang melihat keadaan seperti ini merasa sangat kasihan kepada kekasihnya dan karena rasa cintanya yang besar terhadap kekasihnya ia bertekad untuk sembuh, separah apapun keadaannya saat ini.

Karena tekadnya yang kuat itu telah menguasai seluruh tubuhnya, berangsur angsur tubuhnya mulai pulih dan akhirnya ia sembuh total.
Semenjak itu ia bertekad tidak akan mati mendahului kekasihnya karena rasa belas kasihnya yang besar terhadap kekasihnya.
Ditinggalkan lebih menyakitkan dibanding meninggalkan, bukan?

Dari cerita ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya pikiran kita tidaklah benar benar bebas.
Kita dikuasai oleh kebahagiaan kita dan penderitaan kita. Kitalah yang tidak melepaskan diri dari jeratan yang kita buat sendiri. Kehancuran ataupun kelanjutan/keberlangsungan kebahagiaan kita ditentukan oleh faktor-faktor yang sifatnya tidak pasti. Dengan demikianlah kita jatuh ke kolam lumpur dan/atau terbang ke langit ke 7.

Oleh karena itulah, jika kita tidak ingin menderita, tidak ingin dilempar kesana kemari, kita harus mampu menerima kenyataan. Apapun yang akan pergi biarkanlah pergi, apapun yang akan datang biarlah datang… namun begitu, jangan selalu menyerahkan semuanya kepada nasib. Apa yang masih bisa diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Apa yang sudah tidak mungkin diperjuangkan, maka lepaskanlah.

Semoga semua makhluk mampu menemukan kebahagiaannya sendiri.