Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Siapakah Yang Menghambat Anda?

Sebagian orang tentu punya keinginan untuk menjadi sukses, namun mengapa tidak semua orang dapat mencapai kesuksesan yang diinginkannya? Siapakah yang patut disalahkan?

Setiap manusia memiliki potensinya sendiri. Tidak ada satu orang pun yang pantas kita remehkan, betapapun rendahnya derajat orang itu. Karena tidak meremehkan satu orang pun, setidaknya kita telah mengurangi satu peluang untuk kehilangan kesempatan ataupun mengalami kekalahan telak dan menerima rasa malu.

Jika kita perhatikan dalam perlombaan balap mobil, kenapa ada orang yang tetap tidak bisa juara meskipun mobil yang dinaikinya adalah mobil yang terbaik?
Tidak lain karena si pengemudi memiliki banyak hambatan, sehingga membuatnya tidak mampu memanfaatkan potensi mobil yang dikendarainya secara maksimal.

Demikian juga sama dengan manusia yang juga memiliki faktor penghambatnya sendiri. Yang paling utama dan yang paling perlu diperhatikan adalah penghambat yang datangnya dari dalam diri sendiri.

Alkisah, ada seorang pedagang yang kerjanya sangat hati-hati. Ia tidak mempercayai siapapun. Segala hal dilakukan dengan sangat teliti dan penuh perencanaan. Setiap transaksi dan persetujuan kerjasama bisnis dilakukan dengan prosedur yang ketat dan berbelit-belit. Sistem pengeluaran keuangan juga dikontrol sangat ketat, sehingga aktivitas bisnis di perusahaannya sangatlah lambat dan bertele-tele. Akibatnya perusahaannya menjadi sulit berkembang dan dia juga tidak terlalu disukai orang.

Di sisi lain, ada seorang pengusaha yang sangat royal dan tidak hati-hati dalam melakukan banyak hal. Semua hal dilakukan dengan praktis, meneken perjanjian tanpa melihat terlebih dahulu butir-butir kesepakatan, aliran keuangan juga sangat lancar, baik ke tangan yang benar maupun ke tangan para koruptor. Pada akhirnya perusahaannya cepat bangkrut dan merosot. Meskipun dia sangat baik hati, namun kebaikannya telah dimanfaatkan oleh orang lain dengan sangat baik pula.

2 contoh tadi adalah 2 ekstrim yang sangat tidak baik. Kita juga sebaiknya tidak jatuh kedalam ekstrim-ekstrim seperti itu. Kita harus belajar untuk memelihara keseimbangan. Hal ini juga telah ditekankan oleh para pemikir terkenal sejak dulu.

Manusia juga mempunyai hambatan-hambatan dalam dirinya. Rasa takut, rasa khawatir, cemas adalah bentuk bentuk dari hambatan tersebut.
Hal tersebut adalah sangat wajar, karena kita memiliki sistem self-defense untuk mempertahankan diri sendiri. Fungsinya kurang lebih seperti rem mobil. Ketika kita sadar bahwa kita sedang berlari dengan kecepatan yang di luar batas, kita lantas menginjak rem agar tidak mencelakai pengemudi dan penumpang yang ada di dalam mobil.

Seperti halnya seorang driver yang handal, kita juga perlu mempunyai keahlian yang baik dalam mengendarai mobil. Kita harus tahu kapan kita harus mengerem dan kapan kita harus tancap gas, kapan harus berbelok dan kapan harus mengganti persneling.
Singkat kata – harus pandai dalam mengambil keputusan; kapan kita harus mengambil kesempatan dan kapan kita harus melepaskan kesempatan, kapan harus berhati-hati dan kapan harus mengambil resiko.

Ada pandangan yang mengatakan bahwa orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang pandai mengambil keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi hidupnya.
Tidak salah, orang-orang tersebut tentunya adalah orang-orang yang sangat berbakat. Namun bakat itu tidak serta merta adalah bawaan dari lahir.

Bakat juga bisa diasah, asalkan berani untuk menerima kekalahan, berani untuk mengakui kesalahan, dan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kesalahan kesalahan tersebut.

Seperti halnya sebuah pesawat terbang yang terbang zig-zag untuk mencapai tujuannya, demikianlah manusia tidak mungkin bisa selalu luput dari kesalahan. Kesalahan adalah sangat manusiawi. Selebihnya tergantung pada diri sendiri apakah mau belajar dari kesalahan tersebut atau sebaliknya malah memperburuk keadaan akibat dari kesalahan tersebut.

Ada beberapa nasehat yang mungkin bisa berguna bagi kita semua.

Pertama, jangan meremehkan satu orang pun, karena sekalipun dari seorang yang menurut anggapan umum jauh lebih rendah dari posisi kita sekarang, kita tetap dapat menarik pelajaran yang sangat berharga. Tidak perduli apakah orang tersebut dari golongan apa, kita harus bisa memetik pelajaran yang baik; bahkan tanpa kita harus berguru terhadap orang tersebut.
Meskipun orang tersebut adalah seorang kriminal misalnya, kita bisa belajar dari kasus mereka – apa yang menyebabkan mereka melakukan tindakan tersebut, dimana letak kesalahan dalam cara berpikir mereka, apa yang menjadi motivasi mereka, dan bagaimana sifat mereka menentukan seberapa besar kemungkinan mereka bisa bertobat atau semakin jatuh ke jurang yang dalam.
Ada juga kasus seorang Ayah yang terang-terangan mengakui bahwa ia belajar banyak dari anak-anaknya yang masih kecil kecil, bagaimana kepolosan mereka dan bagaimana spontanitas yang mereka tunjukkan dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang sulit dijawab oleh seorang dewasa sekalipun.

Kedua, jangan cepat emosi. Jika kita tidak ingin melakukan sesuatu yang diperintahkan kepada kita, cukup bilang tidak. Jangan beri bumbu omelan ataupun ejekan dalam penolakan tersebut.
Memang terkadang kita bisa dibuat dongkol, marah, tak berdaya karena tidak mempunyai pilihan selain melakukan hal yang tidak kita kehendaki. Namun meski demikian, cobalah untuk menjaga emosi, karena kemarahan mungkin tidak bisa selalu menyelesaikan persoalan, kecuali sebaliknya.
Disinilah seharusnya kita mempelajari seni melepaskan.
Pastinya tidak akan mudah dan mungkin akan banyak menyiksa Anda. Namun jika Anda benar benar teguh dan benar benar membuka wawasan dan sudut pandang Anda, Anda akan tahu jelas apa manfaatnya.

Ketiga adalah belajar untuk tidak terlalu dimakan oleh bayangan kesalahan di masa lalu ataupun dihantui kecemasan di masa yang akan datang.
Dulu ada seorang pemuda yang hampir bunuh diri karena patah hati. Namun saat itu temannya datang pada saat yang tepat menolongnya dan memberinya banyak nasehat mengenai melepaskan. Dia juga diajari meditasi untuk menghilangkan kegalauan dalam hatinya. Pada akhirnya ia merasa sangat cocok, ia mulai bisa melepaskan diri dari siksaan akibat pengalaman pahit tersebut. Namun sampai di tengah jalan ia berhenti berlatih. Mengapa?
Setelah ditelusuri, ternyata meskipun ia sudah mampu melepaskan pengalaman pahit di masa lalu, ia masih belum mampu melepaskan kecemasan atas kondisi di masa yang akan datang.
Ia adalah orang yang memiliki ambisi untuk menjadi orang sukses, dan oleh karena itu ia khawatir latihan meditasi ini akan membuatnya melepaskan segala-galanya termasuk cita-citanya itu.
Bagaimana jika di masa yang akan datang nanti ia tiba-tiba melepaskan cita-citanya dan beralih menjadi seorang pertapa? :)
Sebenarnya jika ditilik dengan lebih seksama, rasa takut yang muncul itu sangat tidak beralasan. Pertama, siapa yang bisa menjamin bahwa masa depannya akan seperti apa yang dia pikirkan?
Kedua, seandainya hal tersebut memang benar-benar terjadi, itu adalah atas keinginannya sendiri, bukan atas paksaan siapapun… jadi untuk apa dia perlu merasa khawatir? Apakah dirinya sendiri di masa sekarang ini ingin menentang dirinya sendiri yang ada di masa yang akan datang? :)

Keempat adalah pantang menyerah. Jangan biarkan pujian dari orang lain terus berbunyi di pikiran kita lebih dari 1 menit, juga jangan goyah karena kekalahan memalukan ataupun ejekan dan hinaan dari orang lain. Kita tentunya menginginkan satu alasan mengapa harus begitu.
Itu karena pujian adalah candu dan ejekan, hinaan adalah racun. Jangan mau diperbudak oleh kedua macam penilaian seperti itu. Penilaian adalah berasal dari orang lain namun yang paling penting adalah penilaian kita terhadap diri kita sendiri. Jujur pada diri sendiri dan juga jangan terlalu memuji diri sendiri setinggi langit. :D

Kelima adalah demi kebahagiaan diri Anda sendiri. Hilangkan sifat egois, dan sebarkan cinta kasih terhadap sesama. Jangan diracuni oleh kebencian dan sifat iri, karena perasaan tersebut tentunya sangat tidak menyenangkan, maka dari itu untuk apa dipelihara?
Belajarlah untuk menumbuhkan kebahagiaan itu dari dalam diri sendiri, bukan hanya semata-mata mengandalkan kesenangan dari luar. :)

o00oo~ Sekian ~oo00o

Apa yang harus pergi biarlah pergi.
Apa yang harus datang biarlah datang.
Apa yang harus dikhawatirkan biarkanlah menjadi semacam pikiran belaka.
Apa yang harus disedihkan biarkanlah larut dalam samudera yang luas.

Kebahagiaan datang dan pergi.
Saat kebahagiaan pergi yang ditinggalkannya hanyalah kesedihan.
Yah… kebahagiaan memang tidak punya pilihan lain karena sewaktu ia akan pergi, aku memaksa… dan sebagai ganti dititipkanlah adiknya yang bernama kesedihan – untuk menemaniku.
Benar benar teman yang tidak diharapkan.

Namun memangnya apa yang benar-benar bisa diharapkan?
Jika kebahagiaan datangnya tidak pasti, begitupun juga dengan kesedihan.
Lalu untuk apa aku ditemani terlalu lama oleh teman yang tidak diinginkan ini.
Maka setelah lewat 1 bulan kuizinkan dia untuk pergi, sesekali dia boleh berkunjung lagi dengan kakaknya.

Kebahagiaan dan kesedihan datang dan pergi.
Meskipun tidak berbicara banyak tapi telah memberikan satu pelajaran penting kepadaku.
Bisa memegang juga bisa melepas.
Tidak ada tempat tinggal permanen dalam hidup ini.
Hanya berpindah pindah dari satu penginapan ke penginapan lainnya.

Tempat dimana aku hidup adalah sebuah labirin besar.
Setiap kali aku menemukan satu jalan keluar, sebenarnya aku hanya tersesat dalam labirin yang jauh lebih besar.
Mungkin karena aku memaksakan untuk hidup pada satu tempat, selama itu juga aku akan tetap berada disana, kemanapun kaki ini melangkah.

Suatu hari nanti akan kutemukan satu orang pembawa lentera, yang mampu menerangi sekat-sekat dalam labirin, yang akan membawaku menuju tempat perhentian terakhir.
Aku menunggu datangnya hari itu, detik demi detik, menit demi menit… terus menunggu.

Share

Category: Indonesian Language, Inside My Mind

Tagged:

Comments are closed.