Life is Not Fair?
Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu.
Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat?
Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah lagi keseimbangan jiwanya terganggu. Masih untung jika dia benar-benar jadi gila (setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan kemalangan tersebut), tapi kenyataannya dia masih waras dengan luka berat di hatinya.
Inilah penderitaan.
Lantas dia berkata : “Hidup TIDAK ADIL !!!”
Life is unfair,… huh ?

Tentu saja… jika hidup memang serba enak, tentunya dia tidak akan seberuntung ini bisa dilahirkan di dunia yang serba enak ini (dengan kata lain pejabat akhirat sudah keliru menaikkannya di pesawat menuju dunia yang salah) !

Life is unfair?… yes !! Life is fair? … yes juga !!
Jika semua hal di dunia ini berjalan dengan baik, maka sangatlah tidak adil buat orang-orang yang sedang mempersiapkan tiketnya ke neraka. Karena mereka jadi tidak punya tempat transit untuk mengisi bahan bakar pesawat mereka !!!

Masalahnya adalah jika tidak hati-hati-hanya karena ketidaktahuan, ketidakpedulian dan kecerobohan, bisa-bisa Anda juga ikut terbuai naik pesawat kelas VIP – berlibur ke dunia paling hangat yang pernah ada, dan GRATIS tentunya! Sangat menggiurkan bukan????

Pernah seorang teman yang lain lagi bertanya – mengapa orang yang tidak bersalah menjadi korban – mengapa orang yang bersalah malah dipuji – puji?
Ya… mana kutehek?
Mungkin aja itu strategi dari “dunia bawah” supaya banyak orang bersedia menghabiskan “devisa” mereka – berlibur ke pulau hangat nun jauh disana. Siapa yang tahu??

Mungkin beberapa orang lantas berpikir,… strategi black campaign “pulau hangat” tersebut sangat keji !
Sejujurnya, kalo mau dikata itu keji, itu sih masih belum seberapa. Ada yang lebih keji lagi, yaitu diri sendiri.

Coba pikirkan bagaimana caranya kita meracuni diri sendiri dengan dendam, kebencian, iri, cemburu, dlsbg? Bukankah itu termasuk keji?
Ada yang bilang bahwa itu pengaruh dari luar.
Memang benar bahwa granat bisa meledak apabila dipicu, namun pertanyaannya mengapa granat bisa memiliki mekanisme yang membuat dirinya memiliki pemicu untuk menghancurkan dirinya sendiri.

Sampai sekarang pertanyaan itu masih belum terjawab dengan memuaskan, karena kepuasan itu sangat relatif terhadap orang yang mendengar jawaban itu.

Jika tidak ingin menderita – maka lepaskanlah !

Statement ini pernah ditanggapi secara ngawur oleh seseorang. Dia mengatakan “jika tidak ingin menderita – maka pergilah mati !”
Tentu itu adalah statement sembrono dari mulut asbun (asal bunyi).
Kecuali dia pernah pergi bertamasya ke alam setelah kematian dan pulang dengan membawa bukti-bukti dan asal usul yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa kehidupan setelah kematian tidak ada penderitaan, maka kata-katanya yang tadi masih belum dapat dipertanggung jawabkan !

Maksud dari pernyataan “jika tidak dapat menderita maka lepaskanlah” adalah jika memang tidak dapat banyak berbuat, maka tidak perlu banyak berbuat.
Teman saya itu, dulunya adalah orang yang miskin sehingga sepiring nasi putih dengan tempe pun terasa sangat berharga, terasa sangat enak.
Sekarang setelah dia mengalami masalah keluarga, meskipun keadaan ekonominya sudah jauh lebih baik, dia bagaimanapun juga sudah tidak mampu lagi merasakan nikmatnya sepiring nasi tempe!

Beruntung dia masih punya sedikit cahaya dalam hatinya, sehingga usaha yang telah dirintisnya dengan susah payah selama beberapa tahun ini tidak dibiarkan terlantar begitu saja.
Perlahan-lahan dia bisa bangkit dan menjadi orang yang lebih baik, mengingat kembali masa lalunya – belajar dari masa lalunya bahwa dia pernah mengalami hari-hari yang lebih berat dibanding problemnya yang sekarang – ia telah kembali ke semangat awalnya. Masa mudanya telah kembali !!!

Dia belajar bahwa sebanyak apapun ia kehilangan, ia tidak boleh dan tidak bisa kehilangan dirinya sendiri, sebab segala apa yang dimilikinya sekarang adalah hasil usaha dirinya sendiri, tidak perduli kehilangan berapa banyak selagi dia masih mempunyai modal – yakni dirinya sendiri, dia tidak perlu merasa takut.

Berkaca dari kasus itu, seorang temannya kemudian tidak menahan diri untuk mengutarakan pendapatnya “memang benar terkadang proses itu lebih berharga dibanding hasil. orang yang terbuai akan hasil yang bagus akan semakin terperosok dan selamanya susah melepaskan diri darinya. mirip seperti kecanduan narkoba. hidup serba enak oi… naik kereta mewah oi… sampe lupa diri akhirnya masuk jurang oi… mati juga tidak membawa kereta mewahnya !!

Jika lengket, bagaimana lepaskan?

Ini satu pertanyaan yang bikin kacau pikiran saya. Kok bisa lengket???
Mendengar kata lengket, hal pertama yang saya pikirkan adalah permen karet !!!
Tapi ternyata yang dia maksudkan adalah rasa sakit… dia tidak tahu bagaimana cara melepaskannya!
Yah… terkadang semakin berusaha melepaskan malah semakin gak bisa dilepaskan.
Lo, kok bisa???
Mana kutehek !!!
Memangnya benda apa yang bisa dilepaskan sesuka hatinya? Jika tulang Anda sakit, bagaimana caranya Anda melepaskan tulang tersebut dari daging Anda? Bah… konyol banget !!!

Kita ambil contoh permen karet tadi. Dikunyah enak… trus sakit gigi, waktu ke dokter disuruh lepaskan giginya malah gak mau. Takut katanya! Ya udah kalo begitu lepaskan aja dokternya trus simpan giginya !!!

Jika Anda mengerti maksud moral dari cerita itu, ya bagus. Namun di dunia ini masih ada orang yang meskipun ngerti masih tetap nggak mau ngerti – mereka malah nanya – “Loh, kalo dokter bilang gak perlu cabut, cuma kasih obat tapi untuk sementara bakal tetap sakit gimana?”
“Ya udah… ikutin lo saran dokternya … ditahan dong! Kalo gak mau sakit, ya pergi mati aja !”
Pertanyaan menyebalkan ini akhirnya dijawab dengan jawaban yang juga sama menyebalkan dan juga sekaligus sembrono !

Tahapan melepaskan

Pelepasan ada tahapnya. Semakin tinggi tahapnya semakin banyak penderitaan yang bisa dikurangi, namun semakin banyak juga yang harus “dikorbankan”. (Dikorbankan disini diberi tanda petik karena bagi orang-orang yang masih terikat kata pelepasan sama artinya dengan pengorbanan)

Dalam satu sesi meditasi, melalui satu tahapan saya pernah mengalami bagaimana rasanya berjuang melawan sakit gigi. Konyol memang,… sakit gigi kok malah meditasi. Emangnya bisa fokus?
Tentu saja nggak bisa !!
Setiap kali saya memikirkan nafas, rasa sakit itu kembali datang dan datang lagi. Jengkel, akhirnya saya mengubah obyek meditasi dari nafas menjadi rasa sakit.

Pada awalnya sakitnya semakin menjadi-jadi. Saya mengerang, menangis tapi sayangnya rasa sakit itu tidak berperasaan ! terus menerus menyiksa !
Pada akhirnya karena cape, saya membiarkan rasa sakit itu menyerang otak saya, “memperhatikan” rasa sakit tersebut secara seksama dan tidak berusaha melawannya.

Perlahan-lahan … rasa sakit itu TETAP ADA ! Tapi tidak lagi membuat menderita, seolah olah rasa sakit itu tetap terasa namun terpisah dari tubuh. Seperti halnya sentuhan di kulit yang kita sadari namun tidak sampai membuat kita menderita.

Tapi sayangnya pengalaman itu cuma sekejap. Beberapa hari kemudian saya kembali “lengket” dengan segala rasa manis dan pahitnya hal duniawi. :P

Memang pengalaman masing-masing orang bisa berbeda, namun setiap orang punya kemampuan untuk mencari jalan bagi dirinya sendiri – asal mau melihat dengan lebih jelas, maka setiap kesakitan – setiap penderitaan bisa dipegang dan dilepaskan, hanya singgah namun tidak sampai meninggalkan kotoran. :D
Percaya ? Atau tidak percaya?
Itu hak Anda. Peduli amat !!! LoLs

Sampai jumpa.