Jun 23, 2010
Nuansa Hidup – Saat tepat untuk peduli (25)
Buddha bersabda, “Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak“
1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba
Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya tuan rumah mempersilahkan dengan ramah dan menghidangkan jamuan bagi sang tamu. Ini disebut sebagai waktu yang tepat karena pada saat itu sang tamu membutuhkan kenyamanan dan keramahan. Sebuah sambutan yang hangat merupakan pelepas lelah bagi sang tamu. Ibu Teresa mengatakan, “Begitu banyak penderitaan fisik yang dialami oleh manusia, seperti terserang penyakit, kelaparan dan cuaca panas. Tetapi diantara semua penderitaan, saya percaya bahwa dikucilkan dan merasa kesepian adalah penderitaan yang paling berat.”
2. Berdana kepada orang yang akan bepergian
Jika seseorang melakukan perbuatan baik, hendaknya dituntaskan dari awal hingga akhir. Adalah sangat baik bila kita membekali atau memberikan oleh-oleh kepada orang yang akan bepergian. Ini menunjukkan kepedulian dan keramahan. Semua orang akan senang bila memperoleh perhatian dari orang lain. Seseorang yang bersikap ramah dan peduli dengan yang lain akan memberi kesan yang indah bagi yang lain. Karenanya, kemurahan hati selalu membawa persaudaraan yang lebih hangat. Tapi kebanyakan orang bukannya membekali sesuatu pada mereka yang akan bepergian, malah minta oleh-oleh setelah mereka kembali
3. Berdana kepada orang sakit
Suatu kali seorang bhikkhu menderita sakit perut dan berbaring diatas tanah tempat ia terjatuh karena lemah dengan kotoran-kotoran melekat pada badannya. Sang Bhagava dan Y.A. Ananda, yang sedang berkunjung ke tempat kediaman para bhikkhu, mendatangi tempat bhikkhu yang sakit tersebut berbaring. Bhagava bertanya kepadanya, “Bhikkhu, apa yang terjadi denganmu?”
“Saya menderita sakit perut, Bhante.”
“Tidak adakah bhikkhu lain merawatmu?”
“Tidak, Bhante.”
“Mengapa bhikkhu-bhikkhu lain tidak merawatmu?”
“Karena saya tidak berguna bagi mereka, Bhante.”
Kemudian Bhagava berkata kepada Y.A. Ananda ,”Pergi dan ambillah air. Kita akan membersihkan tubuh bhikkhu ini.” Maka Y.A. Ananda mengambil air dan Bhagava menyiramkannya ke tubuh bhikkhu yang sakit itu, sambil Y.A. Ananda membersihkan seluruh tubuhnya. Lalu, dengan memegang kepala dan kaki bhikkhu tersebut, Y.A. Ananda bersama-sama mengangkat dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian Bhagava memanggil semua bhikkhu yang ada dan bertanya kepada mereka, “O, para bhikkhu, mengapa kalian tidak merawat bhikkhu yang sakit itu?”
“Karena ia tidak berguna bagi kami, Bhante.”
“Kalian tidak mempunyai ayah dan ibu yang merawat kalian. Jika kalian tidak saling merawat, siapa yang akan melakukan hal itu?
Ia yang merawat Aku (Tathagata), sesungguhnya sama saja dengan merawat si sakit.”
Kita semestinya merawat dan menjaga mereka yang sedang sakit. Pada situasi seperti itulah mereka sangat membutuhkan bantuan dari kita. Buddha juga telah mengajarkan bagaimana cara kita merawat orang sakit. Beliau berkata, “Dengan memenuhi lima syarat, seseorang yang merawat orang sakit dikatakan cocok untuk merawat orang sakit. Apakah kelima syarat tersebut? Ia dapat menyiapkan obat-obatan; ia mengetahui mana yang baik dan tidak – yang baik ditawarkan dan yang tidak baik tidak ditawarkannya; ia merawat si sakit dengan cinta kasih, bukan dengan suatu pamrih; ia tidak tergoyahkan oleh kotoran, air kencing, muntahan dan air liur; dan, setiap saat ia dapat memberikan petunjuk, semangat, hiburan, dan kepuasan kepada si sakit dengan membicarakan Dhamma.”
Ada banyak obat dan pengobatan untuk segala macam orang sakit. Namun jika tangan yang baik tidak diberikan dalam pelayanan dan hati yang pemurah tidak diberikan dalam kasih, maka tidak akan pernah ada suatu penyembuhan bagi penyakit mengerikan karena tidak disertai kasih. Shantideva, dalam bukunya Bodhicharyavatara melantunkan syair berikut: “Semoga aku menjadi penawar rasa sakit, bagi semua makhluk. Semoga aku menjadi dokter dan perawat, bagi semua yang sakit.”
Setiap perbuatan kasih adalah karya damai, tak peduli betapapun kecilnya. Kesucian tumbuh cepat bila ada kebaikan hati. Saya tidak pernah mendengar orang yang baik hati tersesat. Dunia akan kacau karena tidak ada welas kasih dan kebaikan.
4. Berdana pada saat sukar mendapatkan makanan
Di India pada abad ke ketujuh, seorang raja bernama Harsha menjadi penganut Buddha yang senang melayani kamu miskin-papa. Suatu hari raja menyampaikan kekhawatirannya kepada peziarah, “Bertahun tahun sudah aku memerintah seluruh India… Aku mulai gelisah, karena tidak terdapat kemajuan apapun dalam hal kebajikan.”
Tiap lima tahun, raja mengadakan apa yang ia sebut sebagai “Padang Pelimpahan Jasa”. Banyak orang datang ke padang ini untuk menerima derma darinya. Raja Harsha memasuki tendanya yang amat luas, bersujud menghormati Buddha sambil melantunkan syair berikut; “Pujilah Buddha, Pujilah Dhamma, Pujilah Sangha ! Dia yang Agung, Yang Diterangi, Yang Dipuja. Bhagava, yang dipuji segala jenis dewa, para suci dan Penyanyi Agung, para makhluk agung di surga dan di bumi. Kepadamu, Buddha aku memuji! Kepadamu Buddha, aku memuji!”
Kepalanya menunduk hormat kepada “semua Buddha dari seluruh alam”. Lalu ia berkata dengan penuh perasaan. “Pelimpahan harta kekayaanku ini, kusemaikan semua di Tanah Kebahagiaan. Dan semoga pada kelahiran mendatangpun, aku tidak menimbunnya. Melainkan melepaskannya, untuk para miskin-papa.” Raja kemudian berdoa; “Semoga aku dapat memberi makan dan minum semua, yang merasakan derita lapar dan kehausan. Semoga aku menjadi mestika yang tak ternilai bagi orang-orang miskin. Semoga aku menjadi pembela bagi mereka, yang dicampakkan terlantar di pinggir jalan. Semoga aku luruh sepenuhnya di dalam pelayanan dan kasih”
Kemiskinan adalah penyebab kejahatan! Kejahatan akan semakin tumbuh bila tidak ada yang memberi dana. Seseorang akan melakukan kejahatan dikala ia terjepit karena kebutuhan untuk bertahan hidup tidak terpenuhi. Karenanya berikanlah bantuan pada mereka yang membutuhkan.
5. Hasil panen/gaji pertama didanakan kepada orang bijak
Suatu kali beberapa bhikkhu mempertanyakan, kenapa Buddha memilih Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana sebagai siswa utama (agga savaka). Kenapa bukan kelima pertapa yang menjadi bhikkhu pertama yang dipilih Buddha? Menyadari perkembangan dari pembicaraan para bhikkhu tersebut, Buddha kemudian menjawab, “O, para bhikkhu, bukan karena Aku yang menjadikan Sariputta dan Mogallana sebagai agga savaka. Pada kelahiran sebelumnya mereka mendanakan hasil panen pertama mereka kepada seorang pertapa dan bertekad, semoga di kemudian hari mereka menjadi siswa utama seorang Buddha. Karena kebajikan dan tekad yang mereka milikilah, akhirnya sekarang mereka peroleh buah dari kebajikan masa lalu dan sekarang menjadi siswa utama.”
Tidak mudah untuk memberikan penghasilan kita yang pertama. Tetapi Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana telah melakukannya dan memperoleh hasil dari kebajikan tersebut.
Banyak orang dalam memberi mempunyai motivasi yang berbeda. Ada orang berdana karena barang yang dimilikinya sudah rusak sehingga ia berikan kepada orang lain. Ada yang berdana karena ia tidak menyukai makanan yang menurutnya tidak enak, bahkan sudah kadaluarsa (lewat waktu). Yang lain memberi karena berharap memperoleh lebih dari yang diberikan. Sebagian lagi karena ingin popularitas.
Diantara semua itu, pemberian yang didasari kasih dan benda yang diberikan adalah benda terbaik, maka pemberian seperti itu akan menghasilkan kebajikan yang besar.
Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda
