Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Haus Pengakuan

Saya merasa sedikit tertohok pada saat salah satu teman saya mengatakan bahwa pada dasarnya manusia selalu haus akan perhatian.
Saya merasa,.. mungkin saya juga seperti itu.

Bagi orang yang jarang mendapatkannya,  mereka akan berusaha mendapatkannya dengan banyak cara. Ada yang berusaha mendapatkan perhatian dengan menyebabkan chaos/kekacauan, ada yang berusaha menjadi ‘lucu’, menjadi ‘cool’ atau sebaliknya ‘hot’, dan tidak sedikit juga yang berusaha mendapatkannya dengan cara mencoba menjadi orang ‘bijak’, pahlawan bagi orang-orang yang hidup tertekan dalam kesedihan dan kemalangan.

Harus diakui memang terkadang nasihat yang diberikan boleh dikatakan memang sangat bagus sekali. Namun disadari atau tidak, selalu ada kemungkinan bahwa sang pemberi nasehat sendiri juga sedang memiliki masalah dengan dirinya sendiri.
Mungkin mereka sendiri tidak merasakannya, ataupun tidak bersedia mengakuinya. Namun dalam lubuk hati yang terdalam tidak tertutup kemungkinan tumbuh keinginan seperti itu, sebuah bentuk ego yang selalu haus akan pengakuan dari orang lain.
Rumus dasarnya kurang lebih seperti ini : “Menjadi ‘hebat’ adalah perlu agar hidup ini berarti”  :)

Sebenarnya cukup disayangkan karena orang-orang yang berakting menjadi bijak berusaha mencari kebahagiaan dengan menjadi orang hebat, sedangkan orang bijak menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sebagai orang biasa.
Oleh karena itulah salah satu teman pernah berkata “kebahagiaan sejati timbul bukan karena kamu berusaha mendapatkannya, tapi karena kamu memang pantas mendapatkannya”
Yah… Tidak mengherankan memang. :)

Bagi orang ‘awam’ kata-kata orang yang mereka anggap bijak adalah kata-kata mutiara yang indah, sedangkan bagi orang-orang bijak kata kata tersebut hanyalah hal biasa yang sudah dilupakan kebanyakan orang. :)

Mengapa bisa begitu?
Menurut pandangan saya sebagai pengamat, itu karena pemikiran orang bijak tidak tercemar oleh kepentingan-kepentingan tertentu, tidak terjebak dalam dualisme dan konvensi umum, dan tidak berdasarkan suasana hati ataupun emosi sesaat. Sepenuhnya murni dan tidak ternoda.

Share

Nafsu Duniawi, Kemelekatan, dan Kebodohan

Bagaimana cara mengalahkan ‘musuh’ jika ‘musuh’ tersebut tidak terlihat?
Bagaimana cara melepaskan diri dari cengkraman ‘musuh’ jika ‘musuh’ itu tidak kita kenal?
Bagaimana cara memperbaiki diri jika kesalahan dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Bagaimana cara menyembuhkan diri jika obat yang pahit disangka sebagai racun?

Jika kita perhatikan bagaimana bodohnya seekor monyet yang tidak dapat melepaskan tangannya dari botol hanya karena mahkluk itu tidak bersedia melepaskan kacang yang digenggamnya di dalam botol.
Mungkin seperti itulah kita manusia tidak menyadari bahwa untuk melepaskan diri dari penderitaan kita perlu melepas kemelekatan.

Seperti berada dalam perahu yang bocor, kita terus menerus menuang air dalam perahu ke lautan.
Pekerjaan seperti itu tidak akan ada akhirnya, karena kita tidak pernah berpikir bagaimana caranya menyumbat lubang di perahu tersebut.
Demikianlah kita tanpa henti-hentinya menderita karena membiarkan nafsu duniawi terus-terusan masuk dan membanjiri pikiran kita.
Sampai kapan kita bisa terus bertahan? Karena setelah tenggelam, akan sangat sulit bagi kita untuk kembali muncul ke permukaan.

Share

Satu Hal Yang Tidak Bisa Dilakukan Seorang Pemenang adalah [Mengalah]

Suatu hari seorang pendekar terkenal mengunjungi seorang pendekar tua yang digosipkan orang-orang dunia persilatan sebagai ahli bela diri terhebat yang pernah ada.
Tujuan dari pendekar itu tidak lain adalah untuk menantang si tua untuk membuktikan siapa pendekar terkuat pada masa itu.

Namun pendekar tua itu menolak tantangan pendekar muda tersebut dengan alasan bahwa dia sudah tua dan dengan kondisinya sekarang tidak mungkin bisa mengalahkan pendekar muda tersebut.
Singkatnya, dia mengaku kalah.

Pendekar muda tersebut tentu tidak senang dengan penolakan itu karena dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dialah pendekar tak terkalahkan di kolong langit ini.
Dia terus mencaci maki pendekar tua tersebut dengan harapan supaya pendekar tua itu menjadi marah dan menerima tantangannya. Namun apapun yang dia katakan sama sekali tidak membuahkan hasil. Kakek tua itu tidak bergeming.

Lalu dia pun mengancam pak tua itu. “hei.. jika kamu tidak mau bertarung maka sekarang juga aku akan membunuhmu. Satu-satunya pilihan bagimu adalah melawan untuk mempertahankan nyawamu”

Lalu kakek itu berkata “sebagai seorang pendekar muda berkemampuan tinggi, kemampuanmu tentu tidak perlu diragukan lagi. kamu bisa menaklukkan banyak orang kecuali satu.”

“Satu??? Siapa dia??” kata si pemuda keheranan.

“Dia adalah dirimu sendiri.” Jawab si kakek.
“Dulu aku juga seperti kamu, melanglang buana mencari orang berkemampuan tinggi. Satu persatu mereka kukalahkan. Dan disaat aku tidak lagi bisa menemukan lawan yang sepadan, aku merasa kesepian, aku tidak bisa menahan gejolak dalam diri yang terus menerus menginginkan pertempuran tanpa akhir. Dari sanalah aku menyadari bahwa satu-satunya musuh yang tidak bisa kukalahkan adalah diriku sendiri.
Percayalah anak muda, meskipun hari ini kamu mengalahkan aku, kamu tetap tidak akan merasakan kebahagiaan yang berkelanjutan. Seorang ‘pemenang’ bisa melakukan banyak hal, kecuali mengalah. Namun pemenang yang sesungguhnya bisa melakukan banyak hal, termasuk mengalah, karena dengan demikian dia bisa yakin bahwa dia tidak dikalahkan oleh egonya sendiri.
Kata-kataku sudah selesai. Sekarang kamu boleh membunuh saya.”

Mendengar kata-kata kakek tua itu, pendekar muda itu hanya bisa terdiam. Ia kemudian menyarungkan pedangnya dan pergi tanpa berkata apa-apa.

Share

Only 3 (Three) Rules

rule no. 1 is not to underestimate anyone around you
rule no. 2 is to learn anytime anywhere with anyone anything while you can.
rule no. 3 is to avoid unproductive debate, no insulting, no harsh words, no bad intentions.

Share

affiliate_link

Categories