Kutipan Kata-Kata Bijak

Sudah lama tidak menulis di blog ini.
Beberapa saat yang lalu saya menemukan sebuah artikel yang cukup bagus mengenai kutipan kata-kata bijak dari tokoh masa lalu.
Artikel tersebut dalam bahasa Inggris.
Disini saya mengutip kata-kata tersebut dan menjelaskannya dengan kata-kata saya sendiri.

Berikut diantaranya :

I do not believe in a fate that falls on men however they act; but I do believe in a fate that falls on them unless they act.

Saya tidak percaya pada takdir yang menimpa manusia tidak peduli apapun yang mereka lakukan; tapi saya percaya pada takdir yang menimpa manusia jika mereka tidak melakukan apapun untuk mengubah nasibnya.

Takdir apakah ada atau tidak ada?
Beberapa orang sangat percaya dengan takdir dengan mengatakan bahwa perjumpaan yang indah ini adalah takdir, kesengsaraan ini adalah takdir, kesedihan ini adalah takdir, keberuntungan dan kebahagiaan ini adalah takdir.
Jika dikatakan bahwa keadaan saat ini sebagai takdir adalah akibat perbuatan di masa lalu maka takdir itu benar adanya. Namun bagi yang percaya bahwa takdir itu pemberian Tuhan atau makhluk yang lebih tinggi, maka kepercayaan seperti itu belum tentu benar.
Ini satu-satunya cara untuk menjelaskan bahwa Tuhan tidak secara kejam menentukan takdir seseorang. Setiap orang punya kebebasan untuk memilih takdirnya sendiri, namun dalam prosesnya setiap orang mengalami hambatan-hambatannya sendiri.
Manusia adalah makhluk yang merdeka namun juga harus selalu bertarung dengan dirinya sendiri dalam perjalanannya menjadi ‘seseorang’.
Hambatan terbesar dalam usaha manusia mencapai kebahagiaan bukan berasal dari luar melainkan berasal dari dalam dirinya sendiri. Melakukan sesuatu untuk mengubah nasib bisa diartikan melakukan sesuatu untuk mengendalikan diri sendiri agar tidak jatuh ke lubang kesengsaraan.
Manusia hendaknya seperti kusir yang cekatan menguasai kudanya agar tidak jatuh ke jurang yang dalam. Kuda disini adalah ego kita – segala bentuk emosi yang ada dalam diri kita.

In a controversy the instant we feel anger we have already ceased striving for the truth, and have begun striving for ourselves.

Dalam sebuah perdebatan ketika kita merasakan kemarahan kita berhenti mencari kebenaran, dan kita mulai berjuang demi diri kita sendiri.

Dalam sebuah perdebatan ketika kemarahan muncul, maka apa yang kita bela bukan lagi kebenaran atas sesuatu yang kita perdebatkan melainkan diri kita sendiri.
Terlepas dari apa yang kita percaya itu benar atau salah, kita akan selalu menganggap diri kita yang paling benar dan orang lain yang salah.
Inilah kesalahan manusia yang paling utama. Ketika ego dan kemarahan menguasai kita, kita seperti kereta kuda yang berjalan tanpa arah, tanpa kusir yang mengemudikannya. Kita beresiko untuk jatuh ke dalam jurang yang menghancurkan diri kita sendiri.
Tidak jarang ditemui orang yang ngotot pada pendiriannya tanpa mau melihat sudut pandang orang lain. Orang seperti ini tidak belajar apapun selain pandangan-pandangannya sendiri.
Kita hendaknya bersedia rendah hati untuk mencoba melihat sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya kita lihat. Hanya dengan cara inilah kita benar-benar dapat dikatakan sedang belajar dan bukannya sedang melakukan propaganda atas ide-ide sendiri.
Terkadang kita bertemu dengan orang yang ngotot dengan pemikirannya sendiri dan tidak mau mengalah. Jika mereka ingin selalu menang, maka biarkanlah mereka ‘menang’ dengan cara mereka sendiri, sedangkan kita harus tetap belajar demi kebaikan diri kita sendiri.
Dalam proses pembelajaran, menang atau kalah tidak ada relevansinya sama sekali.

It is better to conquer yourself than to win a thousand battles. Then the victory is yours. It cannot be taken from you, not by angels or by demons, heaven or hell.

Lebih baik mengalahkan diri sendiri dibanding memenangkan seribu pertempuran. Karena kemenangan terhadap diri sendiri adalah milikmu. Kemenangan seperti itu tidak bisa direbut darimu, baik oleh malaikat ataupun setan, oleh surga atau neraka.

Jika kita melihat pertandingan tinju, gelar juara dunia selalu berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Bagaimanapun hebatnya seseorang, selalu akan ada orang atau hal lain yang akan menggantikannya.
Bahkan seorang pegulat professional yang tidak pernah kalah satu kalipun akan dikalahkan oleh dirinya sendiri. Pada saatnya nanti dia akan merasa bosan ketika tidak ada lagi orang yang bisa mengalahkannya, dan mulai berpikir bahwa kemenangannya hanya kemenangan semu belaka.
Bahkan sekalipun dia tidak merasa bosan, dan sebaliknya merasa bangga, maka kebanggaan tersebut juga bukan berasal dari dalam dirinya sendiri, melainkan datang dari pujian orang-orang yang selama ini mengelu-elukan dirinya.
Ketika orang-orang sudah terbiasa melihat dirinya terus menerus memenangkan setiap pertandingan, orang juga mulai akan merasa bosan dan semuanya jadi terlihat biasa. Tidak ada lagi sesuatu yang perlu diberi pujian dan lama-lama kebanggaan itu juga akan pudar dengan sendirinya.
Jika saja kita mampu menguasai diri sendiri dan mengendalikan ritme kehidupan, kita tidak akan begitu mudah terperosok dalam lubang kesengsaraan.

It is a man’s own mind, not his enemy or foe that lures him to evil ways.

Adalah pikiran mereka sendiri, bukan musuh atau lawannya yang membawa mereka kepada jalan hidup yang tidak baik.

Seberapa sering kita menyalahkan orang lain atas apa yang sekarang menimpa diri kita?
Kita menjadi jahat karena kita dijahati, kita menjadi monster hanya karena kita dijahili oleh orang lain.
Begitu mudahnya kita mencari kambing hitam bahwa kita menjadi seperti ini atau seperti itu adalah karena seseorang atau sesuatu.
Jika tidak ada sebab maka tidak akan ada akibat, begitulah pembelaan orang-orang yang berusaha menjustifikasi kejahatan yang dilakukannya atas dasar balas dendam.
Pertanyaannya, jika dia menjadikan pernyataan itu sebagai dasar pembelaannya, apakah dia bisa percaya bahwa kemalangan yang dideritanya adalah akibat dari perbuatannya di masa lalu?
Jika tidak ada bukti kesalahan di masa lalu bukan berarti bahwa kenyataan itu tidak ada sama sekali.
Manusia mempunyai banyak keterbatasan. Oleh karena itu apa yang tidak bisa dilihatnya bukan berarti tidak ada sama sekali. Sama halnya seperti angin yang tidak bisa dilihat namun pada kenyataannya angin itu benar-benar ada.
Berusaha mencari kesalahan masa lalu juga terkadang tidak membawa manfaat apapun bagi kita. Yang perlu kita lakukan adalah introspeksi diri dan tidak membiarkan diri kita dikuasai oleh kebencian ataupun dendam.
Faktor dari luar hanyalah pemicu, namun bahan bakar yang membuat diri kita ‘terbakar’ dosa ada di dalam diri kita sendiri. Bangunlah benteng yang kuat dalam diri sendiri sehingga kita tidak mudah terpancing oleh dosa akibat kemarahan dan kebencian, karena kemarahan bukan hanya ‘membakar’ orang lain melainkan juga diri sendiri.
Surga dan neraka selalu ada dalam diri kita sendiri. Pada saat kita marah, dendam, disitulah neraka, dan pada saat kita sabar, tenang, tidak membenci dan mendendam, disitulah surga berada.

Let us rise up and be thankful, for if we didn’t learn a lot today, at least we learned a little, and if we didn’t learn a little, at least we didn’t get sick, and if we got sick, at least we didn’t die; so, let us all be thankful.

Mari kita bangkit dan berterima kasih, karena jika kita tidak belajar banyak hari ini, setidaknya kita belajar sedikit, dan jika kita tidak belajar sedikit, setidaknya kita tidak sakit, dan jika kita sakit, setidaknya kita tidak mati, marilah kita semua berterima kasih atas apa yang bersama kita saat ini.

Inti yang ingin disampaikan adalah apakah kita merasa puas?
Berapa banyak butir nasi yang harus dimakan agar kita merasa kenyang?
Ada berapa orang di dunia yang selalu merasa kelaparan. Mereka selalu merasa kurang, apapun yang mereka punya selalu tidak cukup.
Mereka terus berkelana untuk mendapatkan banyak hal sampai akhirnya beberapa dari mereka menyadari bahwa semua yang mereka dapatkan tidak benar-benar mereka butuhkan.
Ada juga orang yang serba kekurangan dan selalu mengeluh mengenai hidup mereka.
Saya kurang makan, saya kurang perhatian, saya kurang tampan, kurang cantik, kurang gizi, kurang duit, kurang ini kurang itu.
Salah satu syarat dari kebahagiaan adalah merasa puas. Jika kita tidak pernah merasa puas, bagaimana mungkin kita bisa merasakan kebahagiaan.
Beberapa dari kita tidak beruntung hidup dibawah garis kemiskinan, dilahirkan dengan fisik yang cacat, kurang mendapat kasih sayang dan lain sebagainya.
Hidup dalam keadaan yang kurang beruntung seperti ini membawa pikiran kita berfokus pada hal-hal yang tidak kita punya.
Orang yang tidak punya tangan selalu iri pada orang yang punya tangan, orang yang tidak punya mata iri pada orang yang bisa melihat, orang yang tidak punya duit iri pada orang berduit, orang berduit iri pada orang yang berkuasa, dan orang yang berkuasa iri pada kebahagiaan orang tak bernama. Semua ini tidak ada habisnya !
Sesekali kita perlu melihat dan berterima kasih atas apa yang kita punya ketimbang hidup terus menerus mengeluhkan apa yang tidak kita punya.
Hidup di dunia, apakah termasuk berkah atau kutukan, tiada orang lain yang menentukannya selain diri kita sendiri.

The only real failure in life is not to be true to the best one knows.

Satu-satunya kegagalan dalam hidup adalah tidak menjadi yang terbaik bagi diri sendiri.

Sebelumnya apa yang dimaksud dengan yang terbaik bagi diri sendiri, bagaimana kita menentukan bahwa ini yang terbaik dan bukannya itu?
Jangan menentukan apa yang terbaik bagi diri sendiri dengan melihat pada kesuksesan orang lain. Kesuksesan orang lain adalah milik orang lain dan belum tentu cocok dengan diri sendiri. Bahkan orang lain yang dicap sukses sekalipun terkadang merasa bahwa kesuksesan yang dialaminya bukanlah apa yang ia cari selama ini.
Lalu apa yang terbaik bagi diri kita?
Sebelum kita menemukan jawabannya, kita belum menjadi apa-apa.

There are two mistakes one can make along the road to truth – not going all the way, and not starting.

Ada dua kesalahan yang bisa dibuat seseorang sepanjang jalan menuju kebenaran – tidak menyelesaikan perjalanan, dan tidak memulai sama sekali.

Ada dua hal yang sama buruknya, bekerja setengah jalan kemudian berhenti atau tidak memulai sama sekali.
Memang ada kalanya kita harus berhenti karena apa yang kita lakukan ternyata salah atau tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun jika kita berhenti hanya karena kemalasan, atau merasa jenuh maka waktu yang telah dihabiskan selama ini hanya terbuang percuma.
Jika kita tidak bisa konsisten melakukan satu hal, maka besar kemungkinan kita tidak akan bisa konsisten melakukan hal lainnya.
Dalam hal mencari kebenaran, kita tidak boleh berhenti. Jika kita berhenti maka di kemudian hari kita memerlukannya, kita akan memulai dari awal lagi. Ini akan menjadi pencarian tanpa henti.
Tidak memulai juga adalah sebuah kesalahan yang lain. Jika pikiran ini hanya dipenuhi angan-angan namun tidak ada usaha untuk melakukan sesuatu, maka hal itu selamanya akan menjadi mimpi. Kita tidak melakukan apapun selain bermimpi sepanjang hari.

“However many holy words you read, however many you speak, what good will they do you if you do not act on upon them?”

Berapapun banyaknya kata-kata kebijaksanaan yang kamu baca, berapapun banyaknya kamu berbicara, apa gunanya jika kamu tidak pernah melaksanakannya?

Ada berapa banyak orang di dunia ini yang cuma sekedar terkesan pada kata-kata yang enak didengar namun tidak pernah melaksanakannya?
Ada banyak orang di dunia yang mencari, membaca dan mendengar kata-kata semacam itu hanya demi pengalaman ‘pencerahan’ sementara.
Banyak orang yang hidup dalam kekecewaan dan kata-kata semacam itu menjadi semacam penghibur bagi pikiran mereka yang sedang sengsara.
Tidak ada salahnya membaca, mendengar dan menghayatinya namun yang terpenting adalah melakukan sesuatu sesuai dengan ajaran itu agar pelajaran itu tidak hilang dimakan waktu.
Kata-kata bijak, bagaimanapun indahnya akan dilupakan seiring berjalannya waktu karena kehidupan manusia selalu penuh dengan lika liku yang secara perlahan-lahan akan menimpa pengalaman-pengalaman sebelumnya sebelum akhirnya terlupakan sama sekali.
Kita bisa melihat orang yang bahagia melupakan banyak hal, begitupun dengan orang yang sedang bersedih tidak melihat apapun kecuali kesedihan.

One thought on “Kutipan Kata-Kata Bijak

  1. Pingback: Kata – Kata Bagus - Hardy Chen Power Blog

Comments are closed.