Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Definisi Kebijaksanaan

Pernah suatu ketika teman saya bertanya, apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan? Bisakah kamu menjelaskannya kepada saya?

Saya tidak mampu menjelaskannya.

Dapatkah kebijaksanaan disamakan dengan kecerdasan? Jika bisa, apakah orang yang licik, pandai menggunakan tipu muslihat adalah termasuk orang bijaksana?
Itu semua tergantung penilaian masing-masing orang.

Namun saya pernah membaca disebuah artikel bahwa kebijaksanaan dimulai dari moral. Mendisiplinkan diri untuk berbuat hal-hal yang benar, kemudian dari sana akan tumbuh konsentrasi yang diperoleh melalui samadhi. Dari konsentrasi terpusat itu barulah akan timbul kebijaksanaan.

Dengan demikian, jika didasarkan atas artikel itu, maka dapat dikatakan bahwa kebijaksanaan bukanlah kecerdasan seperti yang diasumsikan oleh banyak orang.
Bisa jadi orang bijaksana malah melakukan hal-hal yang tampak bodoh bagi orang yang tidak mengerti jalan pikiran orang bijaksana.

Sebagai contoh, orang bijaksana yang ada dalam pandangan saya adalah orang yang tidak mudah terganggu oleh gangguan dari luar yang sifatnya duniawi.
Salah satu sifat yang paling saya ingat dari seorang bijak adalah kemampuan mereka untuk melihat persoalan bukan hanya dari kulitnya; seolah-olah mereka bisa melihat sesuatu hal yang terpendam dari sebuah kebohongan yang menyaru sebagai fakta.

Itulah sebabnya pada umumnya mereka sangat tenang, dan jarang terlihat tertekan.

Meskipun terkadang saya tidak mengerti alasan dari cara berpikir dan cara hidup mereka, saya yakin mereka mempunyai alasan mereka sendiri dan ada beberapa hal yang tidak bisa mereka sampaikan hanya dengan kata-kata.

Dalam pandangan saya, orang bijak itu seperti orang yang tinggal di penjara, namun dapat sesuka hati keluar penjara ketika mereka menginginkannya. Dalam artian, mereka hidup ditengah-tengah masyarakat, mengikuti aturan-aturan yang berlaku di masyarakat namun tidak selalu mengikuti cara pandang/cara pikir/budaya masyarakat umum. Meskipun begitu, mereka tidak pernah merugikan masyarakat dimana mereka tinggal.

Seperti halnya seorang sobat yang saya kenal, yang saya anggap juga adalah orang bijaksana, pernah berkata kepada saya. “Jika kamu sedih karena sebuah alasan yang dianggap orang lain adalah sebuah kemalangan, maka biar kukatakan kepadamu bahwa apa yang dianggap orang banyak sebagai benar, belum tentu benar adanya, dan apa yang kamu anggap sebagai benar, juga belum tentu benar adanya.
Jika kamu menilai dengan cara berpikir orang kebanyakan yang penuh dengan batasan dan kelemahan, maka selamanya kamu tidak akan pernah menemukan kebenaran, karena satu-satunya hal yang menghalangimu dari kebenaran adalah dirimu sendiri.”

Kata-kata itu benar-benar membuat saya berpikir, membuat saya mengevaluasi diri saya sendiri. Apakah yang selama ini saya percayai sebagai benar memang adalah benar adanya?
Selama ini saya tidak pernah mengevaluasinya dengan pikiran yang jernih, karena selama ini penilaian saya dibuat dengan memanfaatkan instrumen standar yang sudah melekat pada diri saya dari kecil hingga sekarang. Sebuah instrumen yang ditanamkan oleh lingkungan, yang mana bisa saja adalah sebuah standar yang menyesatkan.

Sampai tiba saatnya saya mengevaluasi dengan benar dan menyimpulkan dengan objektif, tanpa tercemar oleh banyak dogma dan standar yang tidak masuk akal, maka saya masih jauh dari seorang yang bijak.

Share

Category: Indonesian Language, Inside My Mind

Tagged:

Comments are closed.