Feb 1, 2011
Kebahagiaan dan Penderitaan
Luka di tubuh tidak lebih sakit dibanding duka di pikiran.
Pada saat pikiran ini merasa sedih, semuanya terlihat tidak sama.
Semuanya terlihat buruk, dan masa depan terasa suram. Anda benci sinar matahari, nyanyian burung terdengar tidak merdu, dan hembusan angin sejuk membuat pikiran ini semakin sepi dan menderita.
Pada saat itu pikiran ini seperti sedang berjalan menuju ke jurang dengan kecepatan tinggi, mengerem ataupun mengelak tidak akan sempat.
Satu-satunya harapan adalah keajaiban. Bisakah jurang itu menghilang tepat ketika saya akan menabraknya?
Jurang adalah simbolisasi dari kehancuran. Ketika saya jatuh ke jurang, pada saat itu saya akan hancur.
Saya mengerti bahwa saya tidak boleh membawa kerinduan ataupun penyesalan dalam pikiran saya. Lebih-lebih saya tidak boleh membawa siksaan dalam pikiran saya karena semua hal itu akan menyebabkan saya jatuh ke jurang.
Namun mengusir pikiran seperti itu bukan perkara gampang. Rasanya saya seperti diikuti seorang anak yang sangat nakal yang selalu mengganggu saya. Sekuat apapun saya berusaha mengusir anak itu, ia tetap tidak mau pergi.
Lalu saya berpikir, jika dia tidak mau pergi, bagaimana jika saya yang pergi?
Saya berpikir bahwa di tempat lain tidak akan ada anak nakal yang mengganggu saya lagi.
Namun ternyata saya keliru. Di dunia yang luas ini anak nakal ada di mana-mana. Anda tidak dapat melarikan diri darinya. Ia ada karena Anda mengizinkannya untuk berada di sana, berada di dalam pikiran Anda. Kenakalannya ada di dalam pikiran Anda. Yang Anda benci adalah pikiran Anda tentang kenakalan anak itu.
Kerinduan adalah tali yang mengikat diri saya dengan penderitaan. Ikatan ini begitu kuat dan akan semakin kuat ketika saya memaksa untuk melepaskan diri.
Saya sadar, agar dapat sepenuhnya terbebas, saya harus ‘menghilang’.
Saya harus melupakan siapa diri saya, darimana saya datang, dan kemana saya akan pergi.
Penderitaan selalu melekat pada ego. Dan ketika ego menghilang dimanakah ia dapat melekat?
Saya tahu begitu saya dipenjara oleh pemikiran negatif, saya melihat dunia dengan cara yang negatif pula.
Jika saya melihat dunia dengan kaca mata positif, maka saya juga akan melihat dunia dengan cara yang positif.
Dua hal tersebut, negatif dan positif selalu berkecamuk dalam pikiran saya. Mereka seperti 2 saudara yang tidak kenal lelah membuat kekacauan dimana-mana. Mereka adalah 2 sisi dari satu pedang yang sama.
Yang satu adalah sisi yang tumpul dan satunya lagi adalah sisi yang tajam.
Dari sudut pandang pengamat, Anda akan melihat bahwa pedang adalah benda yang berbahaya. Anda tidak akan mengatakan bahwa satu sisi pedang sangat berbahaya dan sisi pedang lainnya tidak berbahaya. Anda hanya akan mengatakan bahwa pedang sangat berbahaya, jika Anda senang bermain-main dengannya.
Sebuah sisi pedang tidak akan meninggalkan sisi lainnya. Begitupun juga kebahagiaan semu tidak akan jauh meninggalkan kesedihan.
Bagi orang bijak, mereka tidak lagi bermain-main dengan pedang, melainkan memanfaatkan pedang itu dengan hati-hati sehingga tidak melukai diri mereka sendiri.
Begitu juga dalam kehidupan, orang bijak hendaknya sadar sepenuhnya sehingga dirinya tidak dipermainkan oleh permainan kehidupan yang mengandung 2 sisi yang saling berlawanan namun berada dalam satu entitas yang sama ini.
Menjadi orang bijak, selalu eling dan waspada setiap saat. Tidak tenggelam dalam kesedihan dan tidak terlena oleh kebahagiaan. Pikirannya murni seperti air. Pedang setajam apapun tidak akan mampu membelahnya.
