Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Perlukah Mengasihani Diri Sendiri?


Jika suatu saat Anda berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan tidak ada satu orang pun yang datang memberi uluran tangan atau setidaknya mendengar keluh-kesah Anda, apakah Anda akan merasa sangat kasihan terhadap diri sendiri?

Pada dasarnya mengasihani diri sendiri sangat mendekati perasaan putus asa dimana Anda tidak lagi punya semangat untuk melanjutkan atau bisa dibilang Anda pasrah mengenai nasib Anda.

Tapi ada satu hal dimana ketika perasaan kasihan terhadap diri sendiri itu bertolak menjadi sesuatu yang positif.

Ketika Anda berada dalam kondisi seperti itu, kesombongan perlahan-lahan sirna dan ego melemah. Seiring dengan melemahnya ego tersebut, energi yang dipakai oleh emosi Anda juga semakin berkurang sehingga diri Anda merasa lebih rileks dibanding sebelumnya. Seolah-olah Anda baru saja menyelesaikan sebuah perjalanan yang panjang. Meskipun pada saat itu Anda merasa kelelahan, akan tetapi ada kelegaan yang muncul yang membuat Anda bisa beristirahat dengan tenang.

Ketenangan adalah kualitas manusia yang sangat langka, maka dari itu sangat jarang ada orang yang setelah melepaskan masalahnya (apapun hasil akhirnya) dapat menjadi lebih tenang. Kebanyakan akan kebablasan, terhanyut dalam keputusasaan dan hancur dalam jurang kekecewaan dan kesedihan.

Ini tentunya tidak baik. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan. Sifat tenang adalah simbol dari keseimbangan itu. Maka dari itu sebagai seorang manusia, Anda patut belajar bagaimana menempatkan perasaan Anda dengan benar.

Ambil contoh, ada seorang pria yang jatuh hati pada seorang gadis. Itu adalah hal yang wajar. Kemudian pria itu berusaha melakukan banyak hal untuk gadis yang disukainya. Itu juga wajar. Pada saat yang tepat, pria itu akhirnya mengutarakan perasaannya namun sayangnya gadis itu lebih menganggapnya sebagai abang ketimbang sosok seorang kekasih. Itu semua masih dalam batas kewajaran. Bagaimanapun perasaan bukanlah sesuatu yang selalu bisa diciptakan dengan kesengajaan, karena perasaan tidak selalu bisa mengikuti alur logika yang diciptakan oleh pikiran.

Tentu saja pria itu sedih dengan kenyataan seperti itu. Dia sempat merasa dirinya kurang cukup baik, meskipun si gadis terus berusaha meyakinkan bahwa pria tersebut adalah orang yang sangat baik yang pernah dikenalnya.
Singkat kata, pria itu kecewa terhadap dirinya sendiri.

Lalu apa yang terjadi berikutnya?
Setelah penolakan itu, seiring dengan berjalannya waktu ia mulai perlahan-lahan hidup dengan semangat baru.
Kekecewaan yang dirasakannya mulai terasa tidak relevan, ia berpikir apa salahnya jika ia menjadi figur seorang kakak bagi gadis itu?
Kekecewaan telah mengantarnya pada satu titik dimana egonya melemah dan setelah itu perasaan kecewa itu perlahan-lahan pudar.

Ia merasa lebih bebas dengan keadaannya sekarang.
Memikirkan ke masa lalu dimana dia menghabiskan banyak tenaga, waktu dan energi melakukan banyak hal, mengkhawatirkan banyak kemungkinan hasil akhir, terasa sangat melelahkan. Dan sekarang ketika dia terbebas dari semua beban itu, ia mencurahkan perhatiannya kepada si gadis dengan perasaan tanpa pamrih dan kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Hal apa yang lebih baik dibanding melakukan sesuatu yang baik tanpa harus mengkhawatirkan hasil akhir yang mengecewakan? Apa yang perlu dikecewakan?

Ia menyadari bahwa di masa lalu ia melakukan semua perbuatan ‘baik’ itu hanya untuk mendapatkan perhatian dari si gadis. Dan ketika respon yang didapatkannya tidak sesuai dengan harapan, ia merasa sedih luar biasa.
Sekarang keadaannya jauh berbeda. Ia melakukan sesuatu demi kebaikan orang yang dikasihinya, bukan demi dirinya sendiri, karena ia sudah melepaskan keinginan untuk memuaskan diri sendiri sehingga dia tidak lagi diganggu dengan segala bentuk kekecewaan atau kesedihan yang pernah dia rasakan sebelumnya.

Dari kasus ini kita bisa belajar bahwa kekecewaan, perasaan kasihan pada diri sendiri bisa membawa Anda ‘turun ke bumi’, dan dengan turunnya diri Anda ke bumi, Anda tidak perlu lagi khawatir akan jatuh dari tempat yang tinggi. Perasaan apakah yang lebih baik dari itu?
Melepaskan hasrat dan hidup dalam kegembiraan saat ini adalah berkah terbesar yang dapat Anda terima.
Pertanyaannya, siapkah Anda untuk menerima berkah itu?

Hadiah tidak diterima seseorang bukan selalu karena tidak ada yang mengirimkan hadiah itu, namun karena sang penerima enggan menerima hadiah itu.

4 Agustus 2011
— Catatanku

Share

Category: Indonesian Language

Tagged: , , ,

Comments are closed.