<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; Lesson</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/category/a_life_lesson/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 09:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Ketidakkekalan (26)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 13:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ketidakkekalan]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik. Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap orang harus mati? Kalaupun harus mati, kenapa mati di usia muda? Kenapa harus dilahirkan untuk mati? Kenapa kelahiran disambut dengan tawa dan bahagia sementara kematian disambut dengan tangisan? Hahhh&#8230; Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri saya berkenaan dengan kematian teman saya. Inilah kilas balik yang akhirnya membuat saya berpikir tentang tujuan hidup. Dunia ini dalam satu menit telah terjadi begitu banyak kelahiran dan kematian. Kehidupan sungguh tidak pasti, namun kematian adalah pasti. Hidup bagaikan salju, panas matahari akan mencairkannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Saat tepat untuk peduli (25)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 02:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[dana]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Buddha bersabda, &#8220;Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak&#8220; 1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Buddha bersabda, &#8220;<em>Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak</em>&#8220;<span id="more-450"></span></p>
<p style="text-align: justify;">1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba<br />
Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya tuan rumah mempersilahkan dengan ramah dan menghidangkan jamuan bagi sang tamu. Ini disebut sebagai waktu yang tepat karena pada saat itu sang tamu membutuhkan kenyamanan dan keramahan. Sebuah sambutan yang hangat merupakan pelepas lelah bagi sang tamu. Ibu Teresa mengatakan, &#8220;Begitu banyak penderitaan fisik yang dialami oleh manusia, seperti terserang penyakit, kelaparan dan cuaca panas. Tetapi diantara semua penderitaan, saya percaya bahwa dikucilkan dan merasa kesepian adalah penderitaan yang paling berat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">2. Berdana kepada orang yang akan bepergian<br />
Jika seseorang melakukan perbuatan baik, hendaknya dituntaskan dari awal hingga akhir. Adalah sangat baik bila kita membekali atau memberikan oleh-oleh kepada orang yang akan bepergian. Ini menunjukkan kepedulian dan keramahan. Semua orang akan senang bila memperoleh perhatian dari orang lain. Seseorang yang bersikap ramah dan peduli dengan yang lain akan memberi kesan yang indah bagi yang lain. Karenanya, kemurahan hati selalu membawa persaudaraan yang lebih hangat. Tapi kebanyakan orang bukannya membekali sesuatu pada mereka yang akan bepergian, malah minta oleh-oleh setelah mereka kembali</p>
<p style="text-align: justify;">3. Berdana kepada orang sakit<br />
Suatu kali seorang bhikkhu menderita sakit perut dan berbaring diatas tanah tempat ia terjatuh karena lemah dengan kotoran-kotoran melekat pada badannya. Sang Bhagava dan Y.A. Ananda, yang sedang berkunjung ke tempat kediaman para bhikkhu, mendatangi tempat bhikkhu yang sakit tersebut berbaring. Bhagava bertanya kepadanya, &#8220;<em>Bhikkhu, apa yang terjadi denganmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Saya menderita sakit perut, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Tidak adakah bhikkhu lain merawatmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Tidak, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Mengapa bhikkhu-bhikkhu lain tidak merawatmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Karena saya tidak berguna bagi mereka, Bhante.</em>&#8221;<br />
Kemudian Bhagava berkata kepada Y.A. Ananda ,&#8221;Pergi dan ambillah air. Kita akan membersihkan tubuh bhikkhu ini.&#8221; Maka Y.A. Ananda mengambil air dan Bhagava menyiramkannya ke tubuh bhikkhu yang sakit itu, sambil Y.A. Ananda membersihkan seluruh tubuhnya. Lalu, dengan memegang kepala dan kaki bhikkhu tersebut, Y.A. Ananda bersama-sama mengangkat dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian Bhagava memanggil semua bhikkhu yang ada dan bertanya kepada mereka, &#8220;O, para bhikkhu, mengapa kalian tidak merawat bhikkhu yang sakit itu?&#8221;<br />
&#8220;<em>Karena ia tidak berguna bagi kami, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Kalian tidak mempunyai ayah dan ibu yang merawat kalian. Jika kalian tidak saling merawat, siapa yang akan melakukan hal itu?<br />
Ia yang merawat Aku (Tathagata), sesungguhnya sama saja dengan merawat si sakit.</em>&#8221;<br />
Kita semestinya merawat dan menjaga mereka yang sedang sakit. Pada situasi seperti itulah mereka sangat membutuhkan bantuan dari kita. Buddha juga telah mengajarkan bagaimana cara kita merawat orang sakit. Beliau berkata, &#8220;<em>Dengan memenuhi lima syarat, seseorang yang merawat orang sakit dikatakan cocok untuk merawat orang sakit. Apakah kelima syarat tersebut? Ia dapat menyiapkan obat-obatan; ia mengetahui mana yang baik dan tidak &#8211; yang baik ditawarkan dan yang tidak baik tidak ditawarkannya; ia merawat si sakit dengan cinta kasih, bukan dengan suatu pamrih; ia tidak tergoyahkan oleh kotoran, air kencing, muntahan dan air liur; dan, setiap saat ia dapat memberikan petunjuk, semangat, hiburan, dan kepuasan kepada si sakit dengan membicarakan Dhamma.</em>&#8221;<br />
Ada banyak obat dan pengobatan untuk segala macam orang sakit. Namun jika tangan yang baik tidak diberikan dalam pelayanan dan hati yang pemurah tidak diberikan dalam kasih, maka tidak akan pernah ada suatu penyembuhan bagi penyakit mengerikan karena tidak disertai kasih. Shantideva, dalam bukunya Bodhicharyavatara melantunkan syair berikut: &#8220;<em>Semoga aku menjadi penawar rasa sakit, bagi semua makhluk. Semoga aku menjadi dokter dan perawat, bagi semua yang sakit.</em>&#8221;<br />
Setiap perbuatan kasih adalah karya damai, tak peduli betapapun kecilnya. Kesucian tumbuh cepat bila ada kebaikan hati. Saya tidak pernah mendengar orang yang baik hati tersesat. Dunia akan kacau karena tidak ada welas kasih dan kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Berdana pada saat sukar mendapatkan makanan<br />
Di India pada abad ke ketujuh, seorang raja bernama Harsha menjadi penganut Buddha yang senang melayani kamu miskin-papa. Suatu hari raja menyampaikan kekhawatirannya kepada peziarah, &#8220;<em>Bertahun tahun sudah aku memerintah seluruh India&#8230; Aku mulai gelisah, karena tidak terdapat kemajuan apapun dalam hal kebajikan.</em>&#8221;<br />
Tiap lima tahun, raja mengadakan apa yang ia sebut sebagai &#8220;Padang Pelimpahan Jasa&#8221;. Banyak orang datang ke padang ini untuk menerima derma darinya. Raja Harsha memasuki tendanya yang amat luas, bersujud menghormati Buddha sambil melantunkan syair berikut; &#8220;<em>Pujilah Buddha, Pujilah Dhamma, Pujilah Sangha ! Dia yang Agung, Yang Diterangi, Yang Dipuja. Bhagava, yang dipuji segala jenis dewa, para suci dan Penyanyi Agung, para makhluk agung di surga dan di bumi. Kepadamu, Buddha aku memuji! Kepadamu Buddha, aku memuji!</em>&#8221;<br />
Kepalanya menunduk hormat kepada &#8220;semua Buddha dari seluruh alam&#8221;. Lalu ia berkata dengan penuh perasaan. &#8220;<em>Pelimpahan harta kekayaanku ini, kusemaikan semua di Tanah Kebahagiaan. Dan semoga pada kelahiran mendatangpun, aku tidak menimbunnya. Melainkan melepaskannya, untuk para miskin-papa.</em>&#8221; Raja kemudian berdoa; &#8220;<em>Semoga aku dapat memberi makan dan minum semua, yang merasakan derita lapar dan kehausan. Semoga aku menjadi mestika yang tak ternilai bagi orang-orang miskin. Semoga aku menjadi pembela bagi mereka, yang dicampakkan terlantar di pinggir jalan. Semoga aku luruh sepenuhnya di dalam pelayanan dan kasih</em>&#8221;<br />
Kemiskinan adalah penyebab kejahatan! Kejahatan akan semakin tumbuh bila tidak ada yang memberi dana. Seseorang akan melakukan kejahatan dikala ia terjepit karena kebutuhan untuk bertahan hidup tidak terpenuhi. Karenanya berikanlah bantuan pada mereka yang membutuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Hasil panen/gaji pertama didanakan kepada orang bijak<br />
Suatu kali beberapa bhikkhu mempertanyakan, kenapa Buddha memilih Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana sebagai siswa utama (agga savaka). Kenapa bukan kelima pertapa yang menjadi bhikkhu pertama yang dipilih Buddha? Menyadari perkembangan dari pembicaraan para bhikkhu tersebut, Buddha kemudian menjawab, &#8220;<em>O, para bhikkhu, bukan karena Aku yang menjadikan Sariputta dan Mogallana sebagai agga savaka. Pada kelahiran sebelumnya mereka mendanakan hasil panen pertama mereka kepada seorang pertapa dan bertekad, semoga di kemudian hari mereka menjadi siswa utama seorang Buddha. Karena kebajikan dan tekad yang mereka milikilah, akhirnya sekarang mereka peroleh buah dari kebajikan masa lalu dan sekarang menjadi siswa utama.</em>&#8221;<br />
Tidak mudah untuk memberikan penghasilan kita yang pertama. Tetapi Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana telah melakukannya dan memperoleh hasil dari kebajikan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang dalam memberi mempunyai motivasi yang berbeda. Ada orang berdana karena barang yang dimilikinya sudah rusak sehingga ia berikan kepada orang lain. Ada yang berdana karena ia tidak menyukai makanan yang menurutnya tidak enak, bahkan sudah kadaluarsa (lewat waktu). Yang lain memberi karena berharap memperoleh lebih dari yang diberikan. Sebagian lagi karena ingin popularitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara semua itu, pemberian yang didasari kasih dan benda yang diberikan adalah benda terbaik, maka pemberian seperti itu akan menghasilkan kebajikan yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Bahagia dalam Pelayanan (24)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 05:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain. Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, &#8220;Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, &#8220;Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi saya bisa berbuat sesuatu untuk pasien yang sedang sakit&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang telah mencari dan menemukan jalan untuk melayani. Mereka mengerti bahwa tidak mungkin berbuat yang terbaik baginya tanpa memberikan yang terbaik bagi yang lain.</p>
<p><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Memberi berarti juga menerima (23)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 10:13:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[memberi]]></category>
		<category><![CDATA[menerima]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Buddha bersabda, &#8220;Seandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.&#8221; Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya. Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buddha bersabda, &#8220;S<em>eandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.</em>&#8221;<br />
Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya.<br />
Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia menganjurkan kepada kita agar jangan ragu dalam memberi. Banyak diantara kita masih berpikir bahwa memberi berarti berkurang. Cara berpikir seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita terhadap hukum karma. Siapa yang menabur benih, dia yang akan memetik hasilnya.<br />
Karenanya berikanlah dana pada mereka yang membutuhkan. Kebajikanmu akan memberikan kebahagiaan, tidak peduli apakah engkau memintanya atau tidak.</p>
<p>Seorang Boddhisatva bernama Sumedha, suatu kali di keheningan malam menyadari kehampaan dunia yang indah ini. Ia berkata, &#8220;<em>Aku kehilangan dengan apa yang kusimpan, namun aku memperoleh dengan apa yang kuberikan. Memberi adalah menyebar benih yang akan membuahkan hasil.</em>&#8221;<br />
Keesokan harinya, ia mendermakan semua kekayaannya bagi para miskin, sambil mengucapkan pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Inilah salah satu praktek kesempurnaan kemurahan hati dari seorang boddhisatva yang tidak lagi melekat pada kekikiran dan mementingkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin membantu orang lain tanpa membantu diri sendiri, atau merugikan orang lain tanpa merugikan diri sendiri. Memberi berarti juga akan menerima.</p>
<p>Suatu hari seorang guru zen mendatangi rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kekikirannya. Setibanya di rumah saudagar tersebut, sang guru memberi sebuah teka-teki (koan). &#8220;<em>Bagaimana menurutmu jika tangan selalu terbuka?</em>&#8221; tanya sang guru.<br />
&#8220;<em>haha..Itu berarti tangan yang tidak berguna</em>&#8220;, jawab saudagar tersebut.<br />
&#8220;<em>Kalau tangan yang selalu tertutup?</em>&#8220;, tanya guru lagi.<br />
&#8220;<em>Itu juga tidak berguna</em>&#8220;, jawabnya dengan mantap.<br />
&#8220;<em>Bagus. Tangan yang selalu terbuka atau tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tidak akan pernah dapat terbang. Jika engkau mengerti dan menjalani hidup sesuai dengan pengertian tersebut, maka engkau akan menjadi orang makmur yang sebenarnya. Renungkan itu.</em>&#8220;, kata sang guru sambil berlalu.<br />
Setelah mendengar Dharma dari guru, saudagar tersebut mengerti bahwa kekikiran dan pemborosan adalah dua hal yang tidak berguna. Esok harinya ia membagikan beras kepada orang-orang yang tidak mampu. Sang guru setelah mengetahui hal ini berkata, &#8220;<em>Ia sedang membuat jalan ke surga.</em>&#8221;</p>
<p><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Kekikiran, Iri Hati dan Keserakahan Sebagai Penghalang (22)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, &#34;Maaf, tak ada seorang pun disini&#34;. &#34;Aku tak ingin siapapun&#34;, kata pengemis, &#34;Aku cuma ingin makanan&#34;. Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, &#34;Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa.&#34; Seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, &quot;Maaf, tak ada seorang pun disini&quot;.    <br />&quot;Aku tak ingin siapapun&quot;, kata pengemis, &quot;Aku cuma ingin makanan&quot;. </p>
<p align="justify">Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, &quot;Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa.&quot;    <br />Seseorang yang menikmati buah karma baik masa lalu dan sekarang tidak bermurah hati, ia seperti orang yang hidup dari tabungannya di bank. Terus menerus menarik uang tabungan tanpa menambahnya. </p>
<p align="justify">Kita mesti memahami bahwa kelimpahan adalah mencari si miskin. Bagaikan kecantikan mencari cermin. Maka para miskin adalah cermin kemurahan hati kita. Yang dermawan membuka jalan bahagia bagi dirinya. </p>
<p align="justify">Buddha mengatakan, &quot;sesungguhnya, siapapun yang menghalang-halangi orang lain berdana akan melakukan tiga kesalahan. Apakah tiga kesalahan itu?    <br />Ia menghalangi pemberi dana untuk mendapatkan kebaikan, ia menghalangi penerima dana untuk mendapatkan persembahan, dan ia telah merusak dirinya sendiri dengan kekejiannya.&quot;     <br />Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut ketulusan mereka. Karena itu barang siapa yang iri terhadap keberuntungan orang lain, tidak akan memperoleh kedamaian sepanjang hari. </p>
<p align="justify">Praktek berdana akan membantu usaha kita untuk memurnikan pikiran. Keserakahan dan kekikiran dapat dikikis. Kebahagiaan dan berkecukupan adalah hasil dari berdana. Kita mesti mengingat sebuah syair yang berbunyi: Iri hati melenyapkan perbuatan baik, seperti api membakar kayu. Kemurahan hati menghancurkan permusuhan, seperti air menyiram api. </p>
<p align="justify"><strong><em>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Dasarnya adalah Kasih (21)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 03:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan ke daerah, suatu kali saya melihat seorang tua innocent yang menjajakan pisang dagangannya di terik matahari. Usia ibu ini kira kira 65 tahun. Entah mengapa ketika saya melihat raut wajah ibu tersebut, ada rasa ingin membuatnya bahagia. Padahal ia bukanlah seorang peminta-minta, ia adalah seorang yang memikul pisang sebagai dagangannya. Saya yakin Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan ke daerah, suatu kali saya melihat seorang tua innocent yang menjajakan pisang dagangannya di terik matahari. Usia ibu ini kira kira 65 tahun. Entah mengapa ketika saya melihat raut wajah ibu tersebut, ada rasa ingin membuatnya bahagia. Padahal ia bukanlah seorang peminta-minta, ia adalah seorang yang memikul pisang sebagai dagangannya. Saya yakin Anda juga pernah mengalami perasaan demikian tatkala Anda berjumpa dengan seseorang yang belum Anda kenal dan timbul perasaan mengharapkan ia bahagia.<br />
Dapatkah kita katakan bahwa perasaan seperti ini adalah perasaan kasih?<br />
Seperti yang Buddha katakan bahwa setiap orang memiliki benih kasih di dalam dirinya, tinggal apakah seseorang itu mengembangkan kasih yang telah ada dalam dirinya atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun saat itu saya tidak berencana membeli pisang, dikarenakan perasaan demikian, akhirnya saya membeli pisang tersebut sebagai ungkapan kepedulian saya kepada ibu tersebut.<br />
Yang membuat saya kagum lagi adalah reaksi rasa syukur dan berterima kasihnya yang sangat mendalam hingga terpancar di wajahnya. Inikah tipe orang yang merasa puas dan berterima kasih atas apa yang telah diperolehnya meskipun hanya cukup untuk makan satu hari?<br />
Ibu ini bahkan telah membuat saya menyadari betapa kasih dapat memberikan kebahagiaan besar bagi orang lain. Saya hanya memberi kebahagiaan kecil padanya, tapi ia telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga bagi saya. Ia telah memberikan sesuatu yang besar pada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini bagaikan air penyejuk bagi perjalanan saya di siang hari yang panas. Senyuman dan kegembiraannya menjadi penghibur bagi saya dalam meneruskan perjalanan. Setibanya saya pada tujuan, pisang yang telah dibeli dari ibu tersebut saya berikan kepada keluarga yang menjaga vihara. Mereka menerimanya dengan gembira dan berterima kasih atas pemberian tersebut.<br />
Bayangkan berapa banyak orang yang dibahagiakan jika kita memberi perhatian pada mereka.<br />
Ibu Teresa berkata, &#8220;<em>Sebenarnya dalam memberi, bukan berapa banyak yang dapat kita berikan, tapi berapa besar kasih yang menyertai pemberian itu.</em>&#8220;.<br />
Pemberian seperti inilah yang saya percaya dapat memberikan kebahagiaan besar dan bermakna bagi yang menerima daripada pemberian tanpa disertai kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keheningan malam, saya merenungi betapa indahnya kebersamaan bila diliputi dengan kasih. Hari ini saya mempelajari sesuatu yang bernilai dari seorang ibu yang menjajakan pisang.<br />
Sebenarnya hidup adalah untuk memberi. Mereka yang tidak dapat memberi, sebenarnya tidak hidup.<br />
Berikanlah apa saja yang kita punyai. Pengetahuan kita, materi, semangat, kasih sayang, nasehat dan sebuah senyuman. Saya teringat apa yang dikatakan Ibu Teresa, &#8220;<em>Semua yang kau berikan kepada orang lain adalah pemberian untuk dirimu sendiri. Kasih menyembuhkan semua orang, baik yang menerimanya maupun yang memberikannya</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita ingin bahagia, berikan kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan yang kita berikan akan kembali kepada kita. Karenanya, setiap hari setidaknya lakukanlah kebaikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Egoistic Nature of Human</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 04:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[egoistic]]></category>
		<category><![CDATA[meditation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/</guid>
		<description><![CDATA[An old woman, Marsha, had a relationship with a man who was also old for about 20 years, and although they are not married, the man loved her very much. Nevertheless, Marsha was always afraid that his friend would leave her someday when she grew older and looked for other younger women. Secretly, she believed [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">An old woman, Marsha, had a relationship with a man who was also old for about 20 years, and although they are not married, the man loved her very much. Nevertheless, Marsha was always afraid that his friend would leave her someday when she grew older and looked for other younger women. Secretly, she believed that men had a child. As the time went by, this belief became an obsession for her, so that wherever they went and whatever they did, Marsha became increasingly convinced that this was the situation. This attitude was damaging no matter what they did, and disrupt their togetherness that should be fun.</p>
<p align="justify">On a spring, they were on vacation to the beach and got a room with a terrace overlooked to the sea. Meanwhile, terraced room next to them rented by an elderly man with a younger woman, and a little baby. This was the thing feared by Marsha most.</p>
<p align="justify">It was not unusual if we got what we fear most, and what was worried by Marsha had present, right next to her room. Seeing the family, friends, Marsha said, &quot;Wow, look at that. Lover of the person is still very young. &quot;</p>
<p align="justify">At this point, the holiday was already over for Marsha. She was devastated, she could not sleep, did not want to eat, and felt as if her world was collapsed.</p>
<p align="justify">&quot;I&#8217;m nothing at that time,&quot; she said. &quot;The energy of my youth, beauty, all of my grades as a human have been taken from me.&quot;</p>
<p align="justify">The next day, as they sat on the beach, the couple arrived with their small children and Marsha began to be afraid. A huge hatred arose, and it made her more afraid. She was on vacation in a beautiful place, with the sun shining, but at the same time filled with fear and hate.</p>
<p align="justify">However, when she began talking with them, she knew that they were not lovers, but the father and daughter. &quot;Ah,&quot; she said, and since that time, she began to like the little charming boy. Moment later, she realized that besides her daughter, the old man has no partner. How wonderful, she thought, now her friend got to know that older man was often left alone. Then, she saw that the man looked at her with admiration. Now, she feels pretty, like being on top of the world. The previous night, she suffered greatly; now, she sat on the beach with great joy.</p>
<p align="justify">This was the machination of ego and false pride. A time filled with hatred for a child for no clear reason, the next moment feel on top of the world, because the circumstances seemed different and because the ego felt loved.&#160; </p>
<p align="justify">Zazen (note: meditation) destroying this great suffer by constantly helping us to realize the difference between fantasy and reality, between seeing who we really were and what we dreamed.&#160;&#160; <br />Truly Free human is an individual who does not need to project anything. He is a clear mirror, just look at what the present is, offer compassion, and enlighten anything.</p>
<p align="justify"><strong>Source : Unknown</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ID Theft &#8211; Lindungi ID Facebook Anda dari Tangan2 Jahil</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/05/id-theft-lindungi-id-facebook-anda-dari-tangan2-jahil/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/05/id-theft-lindungi-id-facebook-anda-dari-tangan2-jahil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 08:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[id theft]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/05/id-theft-lindungi-id-facebook-anda-dari-tangan2-jahil/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa teman sudah ada yg terjebak dan account mereka diambil alih oleh orang-orang yang berniat tidak baik dengan account facebook curian tersebut. Lalu langkah-langkah preventif apa yang bisa kita lakukan? Berikut adalah tips-tips yang mungkin berguna sebagai langkah-langkah pencegahan. 1. Jangan menampilkan seluruh informasi pribadi Anda pada facebook profile Anda untuk semua orang yang ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa teman sudah ada yg terjebak dan account mereka diambil alih oleh orang-orang yang berniat tidak baik dengan account facebook curian tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu langkah-langkah preventif apa yang bisa kita lakukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut adalah tips-tips yang mungkin berguna sebagai langkah-langkah pencegahan.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Jangan menampilkan seluruh informasi pribadi Anda pada facebook profile Anda untuk semua orang yang ada dalam friend list Anda.<br />
Untuk menampilkan informasi tertentu pada orang-orang tertentu yang Anda percayai saja, bisa Anda lakukan melalui menu Privacy Settings.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Jangan gunakan password yang sama untuk semua account yang Anda miliki (email, fb, friendster, paypal, dll).<br />
Memang tidak mudah untuk menghapal password yang berbeda-beda untuk setiap account yang Anda miliki, namun cara seperti ini tentunya akan mempersulit mereka untuk mencuri password Anda. Program seperti RoboForm Password Manager bisa membantu Anda mengingat semua password Anda. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mengingat satu master password.<br />
Dengan program ini Anda juga tidak perlu mengetik username dan password secara manual untuk setiap account Anda pada saat login. Dengan demikian akan sulit bagi program keylogger untuk mencuri username dan password Anda. (Keylogger adalah program yang bekerja di background yang fungsinya adalah untuk merekam semua huruf yang Anda ketikkan pada keyboard Anda).</p>
<p style="text-align: justify;">3. Hati-hati terhadap phising site.<br />
Phising site adalah situs web yang menyaru sebagai halaman facebook dengan tampilan yang sama persis seperti tampilan halaman login facebook. Situs-situs seperti ini akan merekam username dan password yang Anda masukkan, maka dari itu pastikan bahwa Anda login di situs facebook yang benar (lihat pada address bar apakah tertulis facebook.com &#8211; Waspadalah terhadap situs2 yang memakai nama-nama yang mirip dengan facebook misalnya facebook.zzy.com, facebook.tnty.com, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">4. Sebisa mungkin hindari pemakaian software bajakan.<br />
Biasanya software bajakan perlu dicrack agar dapat dipakai. Masalahnya adalah pada crack tersebut biasanya tidak jarang disusupi oleh trojan dan malware-malware lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Gunakan browser yang aman. Internet explorer adalah browser yang sangat tidak aman dan tidak direkomendasikan. Gunakan Google Chrome atau Mozilla Firefox.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Jika Anda menggunakan Chrome atau Firefox, pasanglah add-ons McAfee SiteAdvisor. Add-on ini akan memberikan peringatan kepada Anda saat Anda mengunjungi situs-situs berbahaya.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Rajin2lah mengupdate Antivirus Anda. Virus virus baru bermunculan setiap hari dan bersamaan dengan itu virus signature juga harus selalu diupdate setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify;">8. Titik lemah pertama yang diincar oleh para hacker sebenarnya adalah email Anda, karena melalui email Anda, mereka bisa dengan mudah mendapatkan akses ke account-account Anda yang lain.<br />
Oleh karena itu, secara berkala gantilah password email Anda. Jangan gunakan password yang mudah ditebak orang lain seperti nama pacar, nama ibu, tanggal lahir dan lain sebagainya.<br />
Sebagai langkah pencegahan, jika provider email Anda mempunyai fitur autoforward, maka gunakanlah fitur tersebut untuk mengirimkan secara otomatis duplikat dari seluruh email yang masuk ke inbox Anda ke account email Anda yang lain. Jika hacker tersebut tidak menyadari bahwa Anda mengaktifkan fitur tersebut, ada kemungkinan Anda bisa melakukan perlawanan terhadap aksi si hacker dalam membajak account-account milik Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">NB: Jika ada yang ingin ditambahkan atau dikurangkan, silahkan tinggalkan comment. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/05/id-theft-lindungi-id-facebook-anda-dari-tangan2-jahil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>36 Strategi Perang</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/03/36-strategi-perang/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/03/36-strategi-perang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 09:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[36 Strategi Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Art of War]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Sun Tzu]]></category>
		<category><![CDATA[Sun Wu]]></category>
		<category><![CDATA[Zhuge Liang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/03/36-strategi-perang/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sejarah tiongkok, ada 36 strategi perang yang cukup terkenal. Tidak jelas siapa yang menciptakan 36 strategi ini namun jika dilihat, nampaknya 36 strategi perang ini adalah kumpulan strategi yang dibuat berdasarkan banyak contoh kasus peperangan di Cina kuno zaman dahulu. Ada yang mengatakan bahwa 36 strategi perang ini adalah ciptaan Sun Wu (atau lebh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Dalam sejarah tiongkok, ada 36 strategi perang yang cukup terkenal. Tidak jelas siapa yang menciptakan 36 strategi ini namun jika dilihat, nampaknya 36 strategi perang ini adalah kumpulan strategi yang dibuat berdasarkan banyak contoh kasus peperangan di Cina kuno zaman dahulu.</p>
<p align="justify">Ada yang mengatakan bahwa 36 strategi perang ini adalah ciptaan Sun Wu (atau lebh terkenal dengan nama Sun Tzu dewasa ini), dan ada juga yang mengatakan bahwa 36 strategi perang ini adalah warisan dari Zhuge Liang dari zaman 3 kerajaan (Three Kingdom).</p>
<p align="justify">Tidak peduli dari mana asalnya kitab 36 strategi perang tersebut, ada banyak hal yang bisa kita pelajari darinya. Bahkan di dunia yang aman damai sentosa seperti ini. Karena yang namanya perang itu selalu terjadi dari dulu sampai sekarang, hanya saja bentuknya yang berubah dari perang secara fisik ke bentuk perang lain misalnya politik, ekonomi, dan psikologi.</p>
<p align="justify">Dengan mempelajari 36 strategi perang tersebut setidaknya kita bisa menarik manfaat yang berharga, tergantung bagaimana kita memandang pelajaran tersebut.   <br />Jika kita adalah orang yang picik dan licik, tentu yang kita lihat hanyalah sisi negatifnya, namun jika kita adalah orang yang positif dan punya misi mulia, 36 strategi tersebut bisa membantu kita mencapai tujuan-tujuan mulia kita.</p>
<p align="justify">Kebetulan saya juga kehilangan ide tentang apa yang seharusnya saya tuliskan di blog ini. Jadi saya memutuskan untuk membahas tentang strategi perang kerajaan China kuno dan bagaimana penerapannya di masa sekarang.</p>
<p align="justify">Tentu saja saya tidak akan semata-mata membahas 36 strategi perang tok. Saya juga akan mencampurkannya dengan teori perang dari Sun Wu (Sun Tzu) yang terkenal, ZhuGe Liang dan ahli strategi lainnya. Semoga apa yang saya bahas disini dapat berguna dan dipergunakan untuk tujuan yang baik. Karena pisau itu menjadi kejam atau baik bukan tergantung dari pisau itu sendiri, namun tergantung pada orang yang memakai pisau itu.</p>
<p align="justify">Akhir kata, saya hanya bisa mengucapkan : Selamat Menikmati postingan-postingan berikutnya.   <br />Kritik dan saran sangat diterima dan untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/03/36-strategi-perang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Sederhana dalam Bicara (20)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 06:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, &#34;Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu&#34;. &#34;Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Seorang karyawan yang telah bekerja lama di sebuah perusahaan dan belum memiliki jabatan tinggi, suatu kali sedang makan malam dengan ubi. Temannya yang hidup enak dan mewah karena menjilat atasannya kemudian berkata, &quot;Kalau kamu mau belajar menjilat kepada atasan, kamu tidak perlu makan sampah seperti ubi itu&quot;.    <br />&quot;Kalau kamu sudah belajar hidup dengan makan ubi, kamu tidak perlu menjilat atasan&quot;, jawab temannya.     <br />Keteguhan hati karyawan yang rela makan ubi daripada menjilat atasan patut dikagumi.     <br />Jarang orang bisa memegang teguh kebenaran ketika ada godaan. Kata-kata yang enak terdengar untuk mempengaruhi orang lain nilainya pantas diragukan dan sering membawa hasil yang lebih buruk. Tidak mengatakan apa yang tidak benar adalah dasar dari perbuatan benar. </p>
<p align="justify">Seseorang yang sederhana dalam berbicara adalah mereka yang tidak banyak bicara. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia menghindari kegemaran gosip dan omong kosong.    <br />Bila kita suka menyebarkan gosip yang kita dengar dari orang lain, berarti kita membuang jasa dan kebajikan kita.     <br />Ada sebuah syair yang berbunyi; &quot;<em>Banyak berkata banyak bahaya. Diam menjauhkan nasib buruk. Kakaktua bicara dalam sangkar dikurung. Burung burung tak bisa bicara terbang melayang bebas</em>&quot;     <br />Sudah barang tentu jika seseorang banyak bicara, maka semakin besar pula resiko kesalahan yang dibuatnya.     <br />Daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat dan membuat orang marah atau benci, lebih baik sepatah kalimat yang bermanfaat dan memberikan kedamaian bagi pendengarnya. Inilah yang disebut kesederhanaan dalam berbicara. </p>
<p align="justify"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/nuansa-hidup-sederhana-dalam-bicara-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
