Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Kunci Kebahagiaan Hidup adalah Hidup dengan Sedikit Pengharapan

Sewaktu saya masih muda, teman-teman menasehati saya bahwa jadi orang saya harus punya pengharapan tinggi, harus punya cita-cita tinggi. Karena hanya dengan begitulah maka hidup ini akan jadi lebih berarti.

28 tahun sudah saya hidup di dunia ini, saya telah merasakan begitu banyak asam garam kehidupan, dan saya punya pemikiran sendiri berdasarkan pengalaman hidup saya bahwa nasehat teman-teman saya sewaktu saya masih muda adalah sama sekali tidak benar.
Read the rest of this entry »

Share

36 Strategi Perang – Strategi 2 : Mengepung Wei Menyelamatkan Zhao

Asli : 共敌不如分敌,敌阳不如敌阴。
Modern : 如果要打击强大的敌人,应当设法使之分散兵力,然后各个击破。与其向敌人面前进攻,不如在他空虚的后方给以痛击。
Terjemahan : Untuk mengalahkan musuh yang lebih kuat, seseorang harus mampu membuat musuhnya membagi kekuatannya dan pada saat itu terjadi memanfatkan kesempatan untuk menyerang setiap bagian secara terpisah. Dari pada menyerang secara frontal, seseorang hendaknya mempertimbangkan untuk menyerang bagian belakang ketika penjagaan kendor.

Read the rest of this entry »

Share

Kutipan Kata-Kata Bijak

Sudah lama tidak menulis di blog ini.
Beberapa saat yang lalu saya menemukan sebuah artikel yang cukup bagus mengenai kutipan kata-kata bijak dari tokoh masa lalu.
Artikel tersebut dalam bahasa Inggris.
Disini saya mengutip kata-kata tersebut dan menjelaskannya dengan kata-kata saya sendiri.
Read the rest of this entry »

Share

Only 3 (Three) Rules

rule no. 1 is not to underestimate anyone around you
rule no. 2 is to learn anytime anywhere with anyone anything while you can.
rule no. 3 is to avoid unproductive debate, no insulting, no harsh words, no bad intentions.

Share

Renungan : Hargailah WAKTU

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN,
tanyakan pada murid yang gagal naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN,
tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU,
tanyakan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM,
tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT,
tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK,
tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK,
tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.

RENUNGANNYA …
“Hargailah setiap waktu yang anda miliki. Dan ingatlah waktu tidaklah menunggu siapa-siapa”
Diambil dari suatu tempat di dunia maya.

Share

Nuansa Hidup – Ketidakkekalan (26)

Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik.

Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap orang harus mati? Kalaupun harus mati, kenapa mati di usia muda? Kenapa harus dilahirkan untuk mati? Kenapa kelahiran disambut dengan tawa dan bahagia sementara kematian disambut dengan tangisan? Hahhh… Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri saya berkenaan dengan kematian teman saya. Inilah kilas balik yang akhirnya membuat saya berpikir tentang tujuan hidup. Dunia ini dalam satu menit telah terjadi begitu banyak kelahiran dan kematian. Kehidupan sungguh tidak pasti, namun kematian adalah pasti. Hidup bagaikan salju, panas matahari akan mencairkannya.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Saat tepat untuk peduli (25)

Buddha bersabda, “Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijakRead the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Bahagia dalam Pelayanan (24)

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.

Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, “Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi saya bisa berbuat sesuatu untuk pasien yang sedang sakit”.

Orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang telah mencari dan menemukan jalan untuk melayani. Mereka mengerti bahwa tidak mungkin berbuat yang terbaik baginya tanpa memberikan yang terbaik bagi yang lain.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Memberi berarti juga menerima (23)

Buddha bersabda, “Seandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.
Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya.
Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia menganjurkan kepada kita agar jangan ragu dalam memberi. Banyak diantara kita masih berpikir bahwa memberi berarti berkurang. Cara berpikir seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita terhadap hukum karma. Siapa yang menabur benih, dia yang akan memetik hasilnya.
Karenanya berikanlah dana pada mereka yang membutuhkan. Kebajikanmu akan memberikan kebahagiaan, tidak peduli apakah engkau memintanya atau tidak.

Seorang Boddhisatva bernama Sumedha, suatu kali di keheningan malam menyadari kehampaan dunia yang indah ini. Ia berkata, “Aku kehilangan dengan apa yang kusimpan, namun aku memperoleh dengan apa yang kuberikan. Memberi adalah menyebar benih yang akan membuahkan hasil.
Keesokan harinya, ia mendermakan semua kekayaannya bagi para miskin, sambil mengucapkan pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Inilah salah satu praktek kesempurnaan kemurahan hati dari seorang boddhisatva yang tidak lagi melekat pada kekikiran dan mementingkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin membantu orang lain tanpa membantu diri sendiri, atau merugikan orang lain tanpa merugikan diri sendiri. Memberi berarti juga akan menerima.

Suatu hari seorang guru zen mendatangi rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kekikirannya. Setibanya di rumah saudagar tersebut, sang guru memberi sebuah teka-teki (koan). “Bagaimana menurutmu jika tangan selalu terbuka?” tanya sang guru.
haha..Itu berarti tangan yang tidak berguna“, jawab saudagar tersebut.
Kalau tangan yang selalu tertutup?“, tanya guru lagi.
Itu juga tidak berguna“, jawabnya dengan mantap.
Bagus. Tangan yang selalu terbuka atau tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tidak akan pernah dapat terbang. Jika engkau mengerti dan menjalani hidup sesuai dengan pengertian tersebut, maka engkau akan menjadi orang makmur yang sebenarnya. Renungkan itu.“, kata sang guru sambil berlalu.
Setelah mendengar Dharma dari guru, saudagar tersebut mengerti bahwa kekikiran dan pemborosan adalah dua hal yang tidak berguna. Esok harinya ia membagikan beras kepada orang-orang yang tidak mampu. Sang guru setelah mengetahui hal ini berkata, “Ia sedang membuat jalan ke surga.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Kekikiran, Iri Hati dan Keserakahan Sebagai Penghalang (22)

Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, "Maaf, tak ada seorang pun disini".
"Aku tak ingin siapapun", kata pengemis, "Aku cuma ingin makanan".

Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, "Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa."
Seseorang yang menikmati buah karma baik masa lalu dan sekarang tidak bermurah hati, ia seperti orang yang hidup dari tabungannya di bank. Terus menerus menarik uang tabungan tanpa menambahnya.

Kita mesti memahami bahwa kelimpahan adalah mencari si miskin. Bagaikan kecantikan mencari cermin. Maka para miskin adalah cermin kemurahan hati kita. Yang dermawan membuka jalan bahagia bagi dirinya.

Buddha mengatakan, "sesungguhnya, siapapun yang menghalang-halangi orang lain berdana akan melakukan tiga kesalahan. Apakah tiga kesalahan itu?
Ia menghalangi pemberi dana untuk mendapatkan kebaikan, ia menghalangi penerima dana untuk mendapatkan persembahan, dan ia telah merusak dirinya sendiri dengan kekejiannya."
Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut ketulusan mereka. Karena itu barang siapa yang iri terhadap keberuntungan orang lain, tidak akan memperoleh kedamaian sepanjang hari.

Praktek berdana akan membantu usaha kita untuk memurnikan pikiran. Keserakahan dan kekikiran dapat dikikis. Kebahagiaan dan berkecukupan adalah hasil dari berdana. Kita mesti mengingat sebuah syair yang berbunyi: Iri hati melenyapkan perbuatan baik, seperti api membakar kayu. Kemurahan hati menghancurkan permusuhan, seperti air menyiram api.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share