May 24, 2010 Comments Off
Nuansa Hidup – Dasarnya adalah Kasih (21)
Dalam perjalanan ke daerah, suatu kali saya melihat seorang tua innocent yang menjajakan pisang dagangannya di terik matahari. Usia ibu ini kira kira 65 tahun. Entah mengapa ketika saya melihat raut wajah ibu tersebut, ada rasa ingin membuatnya bahagia. Padahal ia bukanlah seorang peminta-minta, ia adalah seorang yang memikul pisang sebagai dagangannya. Saya yakin Anda juga pernah mengalami perasaan demikian tatkala Anda berjumpa dengan seseorang yang belum Anda kenal dan timbul perasaan mengharapkan ia bahagia.
Dapatkah kita katakan bahwa perasaan seperti ini adalah perasaan kasih?
Seperti yang Buddha katakan bahwa setiap orang memiliki benih kasih di dalam dirinya, tinggal apakah seseorang itu mengembangkan kasih yang telah ada dalam dirinya atau tidak.
Walaupun saat itu saya tidak berencana membeli pisang, dikarenakan perasaan demikian, akhirnya saya membeli pisang tersebut sebagai ungkapan kepedulian saya kepada ibu tersebut.
Yang membuat saya kagum lagi adalah reaksi rasa syukur dan berterima kasihnya yang sangat mendalam hingga terpancar di wajahnya. Inikah tipe orang yang merasa puas dan berterima kasih atas apa yang telah diperolehnya meskipun hanya cukup untuk makan satu hari?
Ibu ini bahkan telah membuat saya menyadari betapa kasih dapat memberikan kebahagiaan besar bagi orang lain. Saya hanya memberi kebahagiaan kecil padanya, tapi ia telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga bagi saya. Ia telah memberikan sesuatu yang besar pada saya.
Peristiwa ini bagaikan air penyejuk bagi perjalanan saya di siang hari yang panas. Senyuman dan kegembiraannya menjadi penghibur bagi saya dalam meneruskan perjalanan. Setibanya saya pada tujuan, pisang yang telah dibeli dari ibu tersebut saya berikan kepada keluarga yang menjaga vihara. Mereka menerimanya dengan gembira dan berterima kasih atas pemberian tersebut.
Bayangkan berapa banyak orang yang dibahagiakan jika kita memberi perhatian pada mereka.
Ibu Teresa berkata, “Sebenarnya dalam memberi, bukan berapa banyak yang dapat kita berikan, tapi berapa besar kasih yang menyertai pemberian itu.“.
Pemberian seperti inilah yang saya percaya dapat memberikan kebahagiaan besar dan bermakna bagi yang menerima daripada pemberian tanpa disertai kasih.
Dalam keheningan malam, saya merenungi betapa indahnya kebersamaan bila diliputi dengan kasih. Hari ini saya mempelajari sesuatu yang bernilai dari seorang ibu yang menjajakan pisang.
Sebenarnya hidup adalah untuk memberi. Mereka yang tidak dapat memberi, sebenarnya tidak hidup.
Berikanlah apa saja yang kita punyai. Pengetahuan kita, materi, semangat, kasih sayang, nasehat dan sebuah senyuman. Saya teringat apa yang dikatakan Ibu Teresa, “Semua yang kau berikan kepada orang lain adalah pemberian untuk dirimu sendiri. Kasih menyembuhkan semua orang, baik yang menerimanya maupun yang memberikannya“.
Bila kita ingin bahagia, berikan kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan yang kita berikan akan kembali kepada kita. Karenanya, setiap hari setidaknya lakukanlah kebaikan.
Ada kisah seorang yang bekerja sebagai pengayam keranjang. Ia adalah orang sederhana yang menikmati pekerjaannya sebagai pengayam keranjang. Ia bersiul dan bernyanyi selagi mengerjakan pekerjaannya dan menjalani hari harinya dengan gembira dan bahagia.
Ajaran Buddha tidak menentang seseorang untuk mengembangkan kekayaan atau giat dalam berusaha mengumpulkan materi. Buddha bahkan menganjurkan bagi perumah tangga untuk menggunakan kepandaian yang dimiliki dengan bijaksana untuk mendapatkan penghasilan dengan cara yang sah dan jujur.