Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Nuansa Hidup – Tetap Tenang Saat Menerima Buah Karma Buruk (14)

Meskipun Anda sudah pernah membaca artikel di bawah ini atau tidak sepenuhnya setuju dengan beberapa paragraf awal dari artikel ini, saya sarankan agar Anda meneruskan membaca sampai akhir.
Anda tidak akan pernah tahu apa yang bakal Anda lewatkan.
Ambil apa yang Anda butuhkan, dan buang yang tidak Anda perlukan. :)

++++++++++++++++++++++++++++++++++

Ada sebuah keluarga kecil yang hanya terdiri dari suami istri dan seorang anak laki-laki. Satu-satunya harta berharga yang mereka miliki adalah seekor kuda. Pada suatu hari, kuda tersebut lepas dan melarikan diri ke hutan, semua tetangganya bersimpati akan hal ini, mereka datang mengunjungi keluarga tersebut dan berkata, “Sungguh malang nasibmu, saya turut bersedih akan hal ini.”
“Terima kasih, tapi saya percaya bahwa ini bukanlah sebuah kemalangan, mungkin ini adalah awal keberuntungan,” jawab tuan rumah. “Semoga demikian”, jawab tetangganya sambil berpamitan dan menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti.
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Orang Yang Tidak Pernah Mengeluh (13)

Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi.
Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan cuaca panas di siang hari dan tebalnya jubah yang saya gunakan. Yang membuat suasana semakin gerah adalah penumpang penumpang lain yang merokok sehingga udara di dalam gerbong tersebut semakin penat. Pada situasi seperti ini, saya sempat mengeluh dan mulai menyalahi orang lain atas ketidaknyamanan yang saya alami. Ada rasa kesal, gelisah dan ingin lari dari kenyataan ini. Saya terus berusaha mengakhiri ketidaknyamanan ini dengan berpikir positif. Saya mencoba menghibur diri dengan mengatakan, “Bukankah ini saat terbaik untuk berlatih menerima kenyataan?”
Read the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Ukuran Kesabaran (12)

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan anak-anak muda berkenaan dengan kesabaran. Diskusi ini terjadi saat saya mendengar salah seorang dari mereka memuju teman lainnya yang dianggap mereka memiliki kesabaran. Sesaat, saya merenungi pembicaraan tersebut, dan kemudian saya mulai bertanya kepada mereka, “Kita sering membuat pernyataan yang menyimpulkan seseorang itu sabar atau tidak sabar. Sebenarnya apa yang menjadi ukuran kesabaran itu? Atas dasar apa kita menyimpulkan seseorang itu sabar atau tidak sabar?”
Pertanyaan saya ini sempat mengejutkan mereka. Diantara mereka kemudian ada yang nyeletuk, “Iya, ya. Kalau dipikir-pikir ukuran kesabaran itu berbeda-beda dari setiap orang. Ada yang tahan terhadap celaan, tapi tidak tahan kalau dipukul. Ada yang sabar dalam bekerja, tapi tidak sabar dengan omongan orang. Wah… kalau begitu sebenarnya ukuran kesabaran itu seperti apa ya?”

Pembicaraan mereka akhirnya terfokus pada kesabaran. Setiap diantara mereka mulai saling bertanya-tanya sambil memberikan pandangan-pandangan mereka sendiri terhadap standar kesabaran. Saya membiarkan mereka berdiskusi dan mengeluarkan pendapat mereka. Ini dimaksudkan agar mereka dapat merenung untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan mengembangkan pengertian yang luas dalam hal ini. Setelah diskusi berjalan cukup panjang, akhirnya mereka sepakat menyimpulkan bahwa kesabaran itu ada batasnya. Lalu mereka meminta pendapat saya mengenai kesimpulan mereka. Saya katakan pada mereka bahwa kesabaran itu tiada batas namun bertingkat.

Setiap orang memiliki tingkat kesabaran yang berbeda. Ada tiga tingkatan seseorang yang dapat dikatakan memiliki kesabaran, yaitu : orang yang tidak pernah mengeluh, orang yang tetap tenang menerima buah karma buruk dan orang yang tetap mengasihi walaupun disakiti. Inilah tiga tingkatan yang menjadi ukuran apakah seseorang itu memiliki kesabaran atau belum.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Melihat Kesalahan Orang Lain, Ia Ragu Akan Hal Itu (11)

Seorang guru berjalan mengelilingi biara. Suatu kali ia melewati dapur dan melihat seorang muridnya sedang mencomot makan siangnya.
“Wah, murid ini kurang ajar! Saya akan menegurnya nanti saat makan bersama nanti!” kata sang guru dalam hati.
Ketika waktu makan tiba, semua murid berkumpul di aula ruang makan. Sang guru kemudian memanggil murid yang mencomot makanan tadi di dapur.
“Saya tadi melihat kamu mencomot makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada Buddha. Kenapa kamu lakukan hal itu?” tanya sang guru. “O, iya guru, pada makanan tersebut ada kotoran yang menempel. Saya ingat pesan guru bahwa kita hendaknya tidak membuang makanan. Karena itulah akhirnya saya makan bagian yang kotor dari makanan itu”, jawab murid. Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru merasa bersalah telah menuduh muridnya yang bukan-bukan. “Maafkanlah saya, ternyata mata ini tidak dapat dipercaya”, kata sang guru.

Ada orang yang dengan hanya mendengar tanpa melihat, langsung percaya. Inilah sebab dari timbulnya prasangka dan perselisihan yang semestinya tidak perlu terjadi. Setiap orang tentu memiliki alasan tersendiri dalam melakukan sesuatu. Jangan mudah terpengaruh oleh apa yang kita dengar dari orang lain sebelum kita mengetahuinya dengan pasti. Sebab orang yang mengabarkan berita ini tentunya sudah menambah bumbu-bumbu di dalamnya (hiperbola) dan mengurangi intinya sehingga cerita itu sudah tidak utuh dan dapat menyesatkan. Orang sering bertengkar untuk hal yang tidak membawa manfaat. Katakanlah ia menang/benar, lalu apa yang ia peroleh? Kecuali menambah ego, ketidaktenangan dan permusuhan. Seperti yang Buddha katakan, “Ia yang selalu mencari kesalahan orang lain dan tidak memperhatikan kesalahan diri sendiri, maka pikirannya akan tercemar.”
Adalah baik bagi kita memiliki pola pikir secara positif untuk menghindari prasangka dan perselisihan yang timbul dari kesalahpahaman.

Meskipun engkau bisa menunjukkan kesalahan orang lain, kesimpulan engkau sendiri juga belum tentu benar. Pun begitu engkau yakini benar.
Syair Zen

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup – Karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Ketika Dipuji Tidak Menjadi Sombong (8)

Setiap orang tentunya merasa senang dipuji. Pujian bagi sementara orang dapat memotivasi mereka untuk terus berkarya, tetapi pujian juga dapat membuat orang terlena dan menjadi sombong.

Tidak ada yang salah terhadap pujian. Yang penting bagaimana kita menyikapi dan merespon pujian yang diberikan seseorang kepada kita.

Memperoleh pujian dari yang lain adalah sebuah penghargaan sekaligus pengakuan mereka terhadap keistimewaan yang dimiliki orang tersebut.

Setiap orang memiliki keistimewaannya sendiri. Karenanya tidak pantas bagi kita merasa “paling dibandingkan dengan yang lain, terlebih menyombongkannya dengan merendahkan orang lain.

Seorang guru Zen berkata, “Orang yang melakukan kebaikan dengan pamrih tidak ada kebajikan. Orang yang menonjolkan diri akan menarik perhatian orang lain. Itu bukan kebijaksanaan melainkan kebodohan”

Banyak orang berlomba menyombongkan diri dan merendahkan orang lain dengan memamerkan karya dan materi mereka. Orang bijaksana bersikap rendah hati dengan tidak merendahkan orang lain.

Seorang guru berkata kepada muridnya, “Mari kita berlomba menjadi yang paling rendah. Yang menang boleh makan kue ini.”

“Baiklah Guru, saya adalah seekor kuda.”, kata si murid.

“Saya kotoran kuda itu”, jawab sang Guru. 

Si murid berpikir sejenak, kemudian dengan semangat ia menjawab,”Saya adalah seekor cacing di dalam kotoran itu”.

“Sedang apa kau disana?”, tanya sang Guru.

“Saya sedang menikmati musim panas sambil minum jus”, jawab si murid dengan penuh semangat.

“Baiklah kalau begitu saya mengaku kalah”, jawab gurunya sambil mengambil kue itu dan memakannya.

Si murid jadi bingung, tapi kemudian ia mengerti bahwa gurunyalah yang memenangkan perlombaan itu karena beliau mengaku kalah.

Akhirnya si murid memperoleh sebuah pengertian bahwa yang rendah hati itu sungguh bernilai.

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Michaditthi – Pandangan Salah

Satu kali datanglah 3 orang pelajar yang akan mengikuti ujian negara pada seorang guru. Ketika bertemu dengan guru tersebut, salah seorang pelajar tersebut kemudian bertanya, “Guru, di antara kami bertiga siapa yang akan lulus ujian?” guru itu menjawab dengan menunjukkan satu jari telunjuk. Setelah itu mereka pamit dan meneruskan perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka masing masing memiliki perbedaan pendapat terhadap jawaban yang diberikan sang guru. Ada yang berpendapat cuma satu yang lulus. Orang kedua berpendapat cuma satu yang tidak lulus. Orang ketiga berpendapat tidak seorang pun yang lulus. Sang murid yang mendengar pembicaraan mereka, menemui sang guru dan bertanya, “Guru, maksud guru menjawab dengan menunjukkan jari telunjuk itu apa? Kenapa mereka memiliki kesimpulan yang berbeda?”

“Maksud saya menunjukkan jari telunjuk adalah meminta mereka tunggu sebentar”, jawab sang guru.

Kita seringkali bagaikan tiga orang pelajar itu dalam menyimpulkan apa yang kita dengar dan lihat sebagai hal yang dapat dipercaya. Celakanya, jika kita sudah mengambil kesimpulan tersebut, kesimpulan itulah yang menjadi pegangan kita untuk waktu yang lama. Seorang guru berkata, “Telinga orang mendengar banyak, mata orang melihat banyak. Orang bijaksana tidak percaya begitu saja atas semua yang dilihat dan didengar. Pun terpengaruh olehnya.”

Saya ingin memberikan sebuah perumpamaan untuk menggambarkan bagaimana cara seseorang mengambil kesimpulan terhadap sebuah kejadian. Misalnya di pagi hari Anda melihat seekor anjing tetangga kencing di pagar rumah Anda. Apa yang Anda simpulkan tentang anjing itu? 

Lalu andaikan Anda hanya melihat kejadian di siang harinya dimana anjing itu menggagalkan sebuah usaha pencurian. Apa yang Anda simpulkan tentang anjing itu?

Kemudian, jika Anda melihat kedua kejadian tersebut, di pagi harinya mengencingi pagar rumah Anda dan di siang harinya menggagalkan usaha pencurian. Apa yang Anda pikirkan tentang anjing itu?

Seperti inilah kebanyakan orang menyimpulkan suatu permasalahan. Bila kita melihat sebuah kejadian secara utuh, maka akan lebih objektiflah kesimpulan yang kita ambil. Jika kita hanya melihat sisi buruknya saja, maka akan buruklah orang yang kita nilai. Begitu juga bila sisi baiknya saja yang dilihat, maka akan baiklah orang itu di mata kita. Jadi penilaian baik buruk adalah sesuatu yang relatif dan tidak dapat dijadikan sebagai kebenaran mutlak.

Dikutip dari Buku karangan hikkhu Nyanakumuda – Nuansa Hidup

Share

Cara Pandang dalam Hidup

Jeni (nama samaran) adalah seorang gadis yang sangat baik hati. Ia mempunyai hati yang lembut, dan tidak pernah segan membantu teman-temannya yang sedang mengalami kesusahan. Selain itu Jeni juga adalah seorang gadis yang pintar, sehingga kecil kemungkinan orang lain bisa memanfaatkan kebaikan hatinya.

Joni (juga nama samaran) adalah teman dekat Jeni.
Joni sangat terkesan dengan sifat Jeni. Tidak butuh waktu lama baginya untuk yakin bahwa ia telah jatuh cinta kepada Jeni. Seperti yang umumnya dilakukan pria lainnya, Joni mengutarakan perasaannya kepada Jeni dan meminta Jeni untuk menjadi kekasihnya.

Namun saat itu Jeni hanya menganggap Joni sebagai teman. Tidak lebih dari pada itu.
Jeni tahu bahwa tindakan penolakan akan membuat salah satu teman dekatnya menjadi sedih dan kecewa, namun Jeni juga tidak ingin berbohong kepada siapapun, tidak kepada Joni ataupun kepada dirinya sendiri. Maka Jeni tidak dapat mengabulkan keinginan teman dekatnya.

Joni merasa sedih dan kecewa. Ia tidak pernah tersenyum lagi. Ia selalu murung. Pekerjaannya mulai berantakan, dan semenjak hari itu ia berusaha menjauhi Jeni. Namun Jeni tidak bisa membiarkan temannya terus menerus sedih dan menderita seperti ini. Jeni selalu berusaha untuk menemui Joni agar bisa menghiburnya dan sekaligus memberikan pengertian dan nasehat padanya.

Namun Joni tidak ingin bertemu dengan Jeni. Setiap kali ditanya, Joni hanya bisa terdiam. Sampai satu hari akhirnya Joni tidak tahan dan berkata kepada Jeni : “Jangan dekati aku. Jangan juga berbicara denganku lagi. Aku berharap bisa pergi dari tempat ini. Aku berharap aku bisa pergi jauh darimu. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku selalu menderita ketika melihatmu atau mendengarmu berbicara.
Kamu adalah orang yang sangat baik, orang yang sangat aku kagumi dan sangat kusayangi. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu membuatku merasa semakin sayang padamu, dan setiap kali melihatmu akan membuat perasaanku semakin kuat. Kenyataan bahwa kita tidak bisa bersama telah membalik kebahagiaan itu menjadi rasa sakit yang juga berlipat lipat.
Aku tahu kamu tidak salah. Namun aku memohon padamu, bantulah aku… jangan biarkan perasaanku terhadapmu bertambah dalam, dan jangan lagi berbicara padaku. Lambat laun aku akan segera mencari cara untuk pindah dari tempat ini”.

Jeni hanya tersenyum dan kemudian berkata : “Hanya dirimu yang bisa membantu dirimu sendiri. Kamu harus mencari cara untuk memperbaiki cara pandang dan cara berpikirmu itu.
Aku tidak akan pergi darimu, aku akan tetap peduli padamu karena seperti itulah aku dan akan tetap seperti itu caraku memperlakukan temanku.
Jika kamu menderita karena kepedulianku, seperti yang kamu bilang.. itu bukan salahku. Yang menyakiti dirimu adalah dirimu sendiri. Yang mengizinkan penderitaan tetap tinggal di pikiranmu juga adalah dirimu sendiri.
Sebagai seorang teman yang baik aku berharap kamu bisa bertahan dengan kondisi ini. Percayalah bahwa semua butuh waktu.
Mungkin ini adalah cobaan yang cukup berat untuk kamu rasakan, namun jika kamu bisa melewatinya kamu akan menjadi orang yang jauh lebih baik lagi.

Dan satu hal lagi, janganlah begitu pesimistis.
Aku bukanlah orang yang terlalu keras dengan pendirianku, aku juga bukan orang yang terlalu lunak.
Aku juga tidak akan gengsi untuk meralat keputusanku jika kurasa perlu.
Jadi ada kemungkinan di masa yang akan datang aku bisa berubah pikiran. Bisa jadi aku yang akan berbalik memintamu menjadi pacarku, dan bisa juga tidak sama sekali.
Semua tergantung pada aku dan juga kamu. Jadi… jangan terlalu berharap, tapi juga jangan terlalu pesimistis.
Marilah kita hidup bergembira tanpa diikat harapan masa depan ataupun penyesalan masa lalu. OK ???”

Kemudian Jeni pun berlalu meninggalkan Joni sambil mengucapkan sampai jumpa lagi besok.

Share

Cara Pandang Orang Tua dan Anak Muda

Suatu kali saya didatangi seorang tua yang mengeluh bahwa anaknya tidak mau mendengar nasehatnya. Hal ini membuat dirinya sedih dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara dirinya dan sang anak. Apa yang salah pada ini semua? Orangtua karena rasa sayang dan khawatir akan masa depan sang anak, membuat peraturan-peraturan yang lebih dikenal dengan, “Ini boleh dan itu tidak boleh.” Disisi lain, sang anak juga mengeluh kebijakan orang tua yang dianggap over protecting hingga terkesan tidak bisa mandiri dan yang lebih ekstrim lagi, ia katakan sebagai “mematikan kreativitas atau membunuh karakter”.

Jika kita membayangkan diri kita sebagai orang tua tersebut dan mencoba untuk merasakan bagaimana perasaan orang tua terhadap anaknya, maka kita dapat memahami bahwa tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya menderita. Orang tua tentunya menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Pada saat yang sama, kita menukar diri kita sebagai seorang anak yang merasa dikekang oleh peraturan peraturan orang tua, kita dapat merasakan bagaimana tekanan yang ada bila harus mengikuti kemauan orang tua yang tidak sesuai dengan bakat dan minat kita. Tentu hal ini dapat membuat sang anak frustasi dan putus asa.

Sebenarnya akar persoalan bukan terletak pada mana yang mesti dipilih, tetapi lebih dikarenakan kurangnya saling pengertian antara orang tua dan anak. Komunikasi merupakan hal penting untuk menyamakan persepsi dan menumbuhkan saling pengertian pada orang tua dan anak. Seringkali orang tua dalam berkomunikasi, selalu satu arah. Orang tua ingin sang anak mengerti dan melakukan apa yang mereka harapkan. Sementara itu mereka tidak mencoba untuk mengerti cara berpikir dan keluhan sang anak. Ketika sang anak merasa tidak mungkin bisa curhat dengan orang tua, maka disaat mereka memiliki masalah, orang tua sudah tidak lagi menjadi orang terdekat yang bisa memberikan kesejukan dan kedamaian. Hal yang sering dilupakan orang tua seperti yang Buddha katakan adalah pentingnya melakukan pendekatan dengan kasih sayang.

Walaupun orang tua mengharapkan yang terbaik bagi anaknya, bukan berarti jalan yang mereka pilih untuk anaknya tepat. Hal penting yang harus dipahami adalah perubahan dan perkembangan ilmu dan teknologi tentunya menuntut anak-anak sekarang lebih kreatif dan inivatif. Anak-anak bagaikan cermin. Kalau mereka berada dalam suasana kasih, kasih itulah yang mereka pantulkan. Kalau kasih tidak ada, mereka tidak mempunyai apapun untuk dibagikan.

Khalil Gibran suatu kali berkata : Anak-anakmu adalah bukan anak-anakmu. Meskipun mereka bersamamu, tapi mereka bukan milikmu. Engkau boleh memberikan cintamu tapi bukan pemikiranmu. Janganlah membuat mereka sama denganmu. Biarkanlah mereka tumbuh dengan bebas.

Pada batasan tertentu, orang tua memang mesti mengambil peranan penting bagi perkembangan anak-anak mereka (seperti moral etika) sebagai wujud tanggung jawab dan kasih sayang mereka. Namun pada hal-hal tertentu orang tua dapat memberikan kepercayaan kepada anaknya untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka.

Dikutip dari buku Nuansa Hidup – Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Memandang dari Berbagai Sisi

Banyak permasalahan yang timbul sering kali hanya dikarenakan keterbatasan pemahaman kita terhadap realita yang sebenarnya. Pikiran sempit, sifat ingin menang sendiri dan prasangka buruk adalah akar dari permasalahan. Seseorang yang berpikiran sempit, selalu saja menutup diri dari kemungkinan kemungkinan lain. Ia tidak dapat menerima pandangan orang lain dan menanggap dirinyalah yang paling benar, terlebih lagi ia akan menanggap orang yang berbeda pandangan dengan dirinya sebagai musuh sekaligus orang yang menyesatkan. Orang dengan cara pandang seperti ini bagaikan cangkir yang telah penuh dengan air kotor dan tidak ada gunanya bila diisi dengan air yang bersih.

Ada sebuah syair zen berbunyi: “Mengerti banyak hal menjadi pandai, mengerti banyak orang menjadi bijaksana, mengerti diri sendiri menjadi cerah.” Ketika seseorang mengerti banyak hal, berarti dia memiliki wawasan luas sehingga dapat menghindari pikiran sempit menanggap apa yang diketahui adalah merupakan satu-satunya kebenaran. Proses belajar tidak berhenti pada saat seseorang menyelesaikan study dan mendapat gelar profesor atau PhD. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan baru juga terus berlangsung. Karenanya seseorang hendaknya terus belajar dan mengikuti perkembangan yang ada agar terhindar dari berpikiran sempit.

Thich Nhat Hanh dalam bukunya berjudul interbeing mengatakan : “Kebenaran ditemukan dalam kehidupan dan tidak hanya dalam konsep pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar melalui semua kehidupan Anda dan amati kenyataan yang ada di dalam dirimu dan dunia setiap saat.”

Syair berikutnya adalah mengerti banyak orang menjadi bijaksana. Ada pepatah yang mengatakan : seribu orang, seribu karakter. Ketika kita berkumpul dengan banyak orang atau katakanlah dalam keluarga kita sendiri, kita akan menemukan perbedaan karakter dari setiap anggota keluarga kita. Terkadang masalah muncul lebih disebabkan oleh kurangnya saling pengertian antar mereka. Satu sama lain saling menyalahkan dan menanggap merekalah yang paling benar. Kita selalu dapat memaklumi dan mengecilkan kesalahan yang kita lakukan. Pada saat yang sama, kita membesar-besarkan kesalahan orang lain kepada kita(hiperbola). Inilah salah satu sisi lemah yang ada pada diri kita. Seseorang tidak semestinya mengasihani dirinya sendiri dengan memaklumi kesalahannya dan membesar-besarkan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Seperti yang YM. Jinadhammo Mahathera katakan, “Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dilupakan.” Demikianlah yang seharusnya kita lakukan agar keharmonian dan kebersamaan menjadi mungkin.

Sifat seseorang terbentuk dari kebiasaan yang ia lakukan dan dipengaruhi lingkungan sekitarnya yang ia cerap. Dalam bahasa Sansekerta disebut vasana atau sifat dasar yang mempengaruhi kecenderungan seseorang melakukan sesuatu. Karenanya marilah kita mencoba untuk mengerti keberagaman yang ada dengan pengertian benar. Ini sama halnya dengan makanan. Ada yang makan nasi, ada yang makan roti dan yang lain makan jagung. Walaupun jenisnya berbeda, tapi itu semua toh merupakan makanan dan dapat mengenyangkan. Seorang bijak semestinya mengerti orang lain daripada berharap orang lain mengerti dirinya.

Ajaran Buddha dibabarkan agar kita dapat hidup harmoni dengan sesama dan mengerti diri kita sendiri. Untuk dapat mengerti segala sesuatunya sebagaimana adanya, kita harus memahami diri kita yang sebenarnya. Penderitaan seringkali muncul dikarenakan ego yang kita miliki. Sepanjang pandangan tentang “Aku dan Milikku” masih melekat pada diri seseorang, penderitaan akibat dari pandangan salah ini akan terus berlangsung. Jika seseorang telah mengerti eksistensi ‘diri’ yang sebenarnya, maka pencerahan sebagai hasilnya.

Share

Nuansa Hidup – Cara Pandang

Tulisan ini diambil dari sebuah buku karangan Bhikkhu Nyanakumuda.
Diketik ulang untuk memuaskan rasa ingin tahu seorang teman tentang buku ini.
Namun berhubung waktu yang sangat terbatas, isi dari buku ini akan diketik dan dibagi dalam banyak bagian dan akan diposting sesegera mungkin setelah selesai diketik. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman teman yang lainnya juga.

Dalam memandang suatu hal, orang lebih sering menyimpulkannya berdasarkan pengertian mereka yang lebih cenderung mengacu pada “rasa suka dan tidak suka”. Sementara yang lain memandang dari sisi “untung dan rugi”. Jika cara pandang seperti ini yang kita anut, maka kita berada sangat jauh dari kebijaksanaan. Cara pandang dapatlah diumpamakan dengan memakai kacamata. Jika Anda menggunakan kacamata hitam, maka pemandangan yang Anda lihat menjadi gelap. Jika Anda menggunakan kacamata kuning, maka kuninglah semua yang Anda lihat. Jika kacamata transparan yang Anda gunakan, maka transparan pula apa yang Anda lihat. Ini sama halnya dalam memandang suatu masalah. Jika Anda tidak senang terhadap seseorang, walaupun ia telah melakukan banyak kebaikan, tetap saja di mata Anda, ia tidak benar. Ini dikarenakan rasa tidak suka atau kebencian yang ada pada diri Anda sehingga Anda tidak dapat melihat persoalan secara jernih. Sebaliknya, jika Anda senang dengan seseorang, walau keburukan apapun yang ia lakukan, Anda seolah olah buta akan hal itu. Terlebih bila ia dapat membawa manfaat bagi kepentingan Anda. Anda seolah-olah menjadi orang bijak dengan dalih berpikir positif untuk memaklumi kecerobohannya. Inilah segelintir debu yang menutupi mata kita untuk memandang segala hal dengan jelas, jernih, dan benar.

~~
credit to Bhikkhu Nyanakumuda.

Share
affiliate_link

Categories