<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; Indonesian Language</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/category/indonesian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 09:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Ketidakkekalan (26)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 13:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ketidakkekalan]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik. Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap orang harus mati? Kalaupun harus mati, kenapa mati di usia muda? Kenapa harus dilahirkan untuk mati? Kenapa kelahiran disambut dengan tawa dan bahagia sementara kematian disambut dengan tangisan? Hahhh&#8230; Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri saya berkenaan dengan kematian teman saya. Inilah kilas balik yang akhirnya membuat saya berpikir tentang tujuan hidup. Dunia ini dalam satu menit telah terjadi begitu banyak kelahiran dan kematian. Kehidupan sungguh tidak pasti, namun kematian adalah pasti. Hidup bagaikan salju, panas matahari akan mencairkannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-ketidakkekalan-26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Saat tepat untuk peduli (25)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 02:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[dana]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Buddha bersabda, &#8220;Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak&#8220; 1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Buddha bersabda, &#8220;<em>Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijak</em>&#8220;<span id="more-450"></span></p>
<p style="text-align: justify;">1. Berdana kepada orang yang baru saja tiba<br />
Ketika seseorang bertamu ke rumah, hendaknya tuan rumah mempersilahkan dengan ramah dan menghidangkan jamuan bagi sang tamu. Ini disebut sebagai waktu yang tepat karena pada saat itu sang tamu membutuhkan kenyamanan dan keramahan. Sebuah sambutan yang hangat merupakan pelepas lelah bagi sang tamu. Ibu Teresa mengatakan, &#8220;Begitu banyak penderitaan fisik yang dialami oleh manusia, seperti terserang penyakit, kelaparan dan cuaca panas. Tetapi diantara semua penderitaan, saya percaya bahwa dikucilkan dan merasa kesepian adalah penderitaan yang paling berat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">2. Berdana kepada orang yang akan bepergian<br />
Jika seseorang melakukan perbuatan baik, hendaknya dituntaskan dari awal hingga akhir. Adalah sangat baik bila kita membekali atau memberikan oleh-oleh kepada orang yang akan bepergian. Ini menunjukkan kepedulian dan keramahan. Semua orang akan senang bila memperoleh perhatian dari orang lain. Seseorang yang bersikap ramah dan peduli dengan yang lain akan memberi kesan yang indah bagi yang lain. Karenanya, kemurahan hati selalu membawa persaudaraan yang lebih hangat. Tapi kebanyakan orang bukannya membekali sesuatu pada mereka yang akan bepergian, malah minta oleh-oleh setelah mereka kembali</p>
<p style="text-align: justify;">3. Berdana kepada orang sakit<br />
Suatu kali seorang bhikkhu menderita sakit perut dan berbaring diatas tanah tempat ia terjatuh karena lemah dengan kotoran-kotoran melekat pada badannya. Sang Bhagava dan Y.A. Ananda, yang sedang berkunjung ke tempat kediaman para bhikkhu, mendatangi tempat bhikkhu yang sakit tersebut berbaring. Bhagava bertanya kepadanya, &#8220;<em>Bhikkhu, apa yang terjadi denganmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Saya menderita sakit perut, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Tidak adakah bhikkhu lain merawatmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Tidak, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Mengapa bhikkhu-bhikkhu lain tidak merawatmu?</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Karena saya tidak berguna bagi mereka, Bhante.</em>&#8221;<br />
Kemudian Bhagava berkata kepada Y.A. Ananda ,&#8221;Pergi dan ambillah air. Kita akan membersihkan tubuh bhikkhu ini.&#8221; Maka Y.A. Ananda mengambil air dan Bhagava menyiramkannya ke tubuh bhikkhu yang sakit itu, sambil Y.A. Ananda membersihkan seluruh tubuhnya. Lalu, dengan memegang kepala dan kaki bhikkhu tersebut, Y.A. Ananda bersama-sama mengangkat dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian Bhagava memanggil semua bhikkhu yang ada dan bertanya kepada mereka, &#8220;O, para bhikkhu, mengapa kalian tidak merawat bhikkhu yang sakit itu?&#8221;<br />
&#8220;<em>Karena ia tidak berguna bagi kami, Bhante.</em>&#8221;<br />
&#8220;<em>Kalian tidak mempunyai ayah dan ibu yang merawat kalian. Jika kalian tidak saling merawat, siapa yang akan melakukan hal itu?<br />
Ia yang merawat Aku (Tathagata), sesungguhnya sama saja dengan merawat si sakit.</em>&#8221;<br />
Kita semestinya merawat dan menjaga mereka yang sedang sakit. Pada situasi seperti itulah mereka sangat membutuhkan bantuan dari kita. Buddha juga telah mengajarkan bagaimana cara kita merawat orang sakit. Beliau berkata, &#8220;<em>Dengan memenuhi lima syarat, seseorang yang merawat orang sakit dikatakan cocok untuk merawat orang sakit. Apakah kelima syarat tersebut? Ia dapat menyiapkan obat-obatan; ia mengetahui mana yang baik dan tidak &#8211; yang baik ditawarkan dan yang tidak baik tidak ditawarkannya; ia merawat si sakit dengan cinta kasih, bukan dengan suatu pamrih; ia tidak tergoyahkan oleh kotoran, air kencing, muntahan dan air liur; dan, setiap saat ia dapat memberikan petunjuk, semangat, hiburan, dan kepuasan kepada si sakit dengan membicarakan Dhamma.</em>&#8221;<br />
Ada banyak obat dan pengobatan untuk segala macam orang sakit. Namun jika tangan yang baik tidak diberikan dalam pelayanan dan hati yang pemurah tidak diberikan dalam kasih, maka tidak akan pernah ada suatu penyembuhan bagi penyakit mengerikan karena tidak disertai kasih. Shantideva, dalam bukunya Bodhicharyavatara melantunkan syair berikut: &#8220;<em>Semoga aku menjadi penawar rasa sakit, bagi semua makhluk. Semoga aku menjadi dokter dan perawat, bagi semua yang sakit.</em>&#8221;<br />
Setiap perbuatan kasih adalah karya damai, tak peduli betapapun kecilnya. Kesucian tumbuh cepat bila ada kebaikan hati. Saya tidak pernah mendengar orang yang baik hati tersesat. Dunia akan kacau karena tidak ada welas kasih dan kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Berdana pada saat sukar mendapatkan makanan<br />
Di India pada abad ke ketujuh, seorang raja bernama Harsha menjadi penganut Buddha yang senang melayani kamu miskin-papa. Suatu hari raja menyampaikan kekhawatirannya kepada peziarah, &#8220;<em>Bertahun tahun sudah aku memerintah seluruh India&#8230; Aku mulai gelisah, karena tidak terdapat kemajuan apapun dalam hal kebajikan.</em>&#8221;<br />
Tiap lima tahun, raja mengadakan apa yang ia sebut sebagai &#8220;Padang Pelimpahan Jasa&#8221;. Banyak orang datang ke padang ini untuk menerima derma darinya. Raja Harsha memasuki tendanya yang amat luas, bersujud menghormati Buddha sambil melantunkan syair berikut; &#8220;<em>Pujilah Buddha, Pujilah Dhamma, Pujilah Sangha ! Dia yang Agung, Yang Diterangi, Yang Dipuja. Bhagava, yang dipuji segala jenis dewa, para suci dan Penyanyi Agung, para makhluk agung di surga dan di bumi. Kepadamu, Buddha aku memuji! Kepadamu Buddha, aku memuji!</em>&#8221;<br />
Kepalanya menunduk hormat kepada &#8220;semua Buddha dari seluruh alam&#8221;. Lalu ia berkata dengan penuh perasaan. &#8220;<em>Pelimpahan harta kekayaanku ini, kusemaikan semua di Tanah Kebahagiaan. Dan semoga pada kelahiran mendatangpun, aku tidak menimbunnya. Melainkan melepaskannya, untuk para miskin-papa.</em>&#8221; Raja kemudian berdoa; &#8220;<em>Semoga aku dapat memberi makan dan minum semua, yang merasakan derita lapar dan kehausan. Semoga aku menjadi mestika yang tak ternilai bagi orang-orang miskin. Semoga aku menjadi pembela bagi mereka, yang dicampakkan terlantar di pinggir jalan. Semoga aku luruh sepenuhnya di dalam pelayanan dan kasih</em>&#8221;<br />
Kemiskinan adalah penyebab kejahatan! Kejahatan akan semakin tumbuh bila tidak ada yang memberi dana. Seseorang akan melakukan kejahatan dikala ia terjepit karena kebutuhan untuk bertahan hidup tidak terpenuhi. Karenanya berikanlah bantuan pada mereka yang membutuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Hasil panen/gaji pertama didanakan kepada orang bijak<br />
Suatu kali beberapa bhikkhu mempertanyakan, kenapa Buddha memilih Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana sebagai siswa utama (agga savaka). Kenapa bukan kelima pertapa yang menjadi bhikkhu pertama yang dipilih Buddha? Menyadari perkembangan dari pembicaraan para bhikkhu tersebut, Buddha kemudian menjawab, &#8220;<em>O, para bhikkhu, bukan karena Aku yang menjadikan Sariputta dan Mogallana sebagai agga savaka. Pada kelahiran sebelumnya mereka mendanakan hasil panen pertama mereka kepada seorang pertapa dan bertekad, semoga di kemudian hari mereka menjadi siswa utama seorang Buddha. Karena kebajikan dan tekad yang mereka milikilah, akhirnya sekarang mereka peroleh buah dari kebajikan masa lalu dan sekarang menjadi siswa utama.</em>&#8221;<br />
Tidak mudah untuk memberikan penghasilan kita yang pertama. Tetapi Y.A. Sariputta dan Y.A. Mogallana telah melakukannya dan memperoleh hasil dari kebajikan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang dalam memberi mempunyai motivasi yang berbeda. Ada orang berdana karena barang yang dimilikinya sudah rusak sehingga ia berikan kepada orang lain. Ada yang berdana karena ia tidak menyukai makanan yang menurutnya tidak enak, bahkan sudah kadaluarsa (lewat waktu). Yang lain memberi karena berharap memperoleh lebih dari yang diberikan. Sebagian lagi karena ingin popularitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara semua itu, pemberian yang didasari kasih dan benda yang diberikan adalah benda terbaik, maka pemberian seperti itu akan menghasilkan kebajikan yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-saat-tepat-untuk-peduli-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Bahagia dalam Pelayanan (24)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 05:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain. Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, &#8220;Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, &#8220;Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi saya bisa berbuat sesuatu untuk pasien yang sedang sakit&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang telah mencari dan menemukan jalan untuk melayani. Mereka mengerti bahwa tidak mungkin berbuat yang terbaik baginya tanpa memberikan yang terbaik bagi yang lain.</p>
<p><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-bahagia-dalam-pelayanan-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Memberi berarti juga menerima (23)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 10:13:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[memberi]]></category>
		<category><![CDATA[menerima]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Buddha bersabda, &#8220;Seandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.&#8221; Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya. Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buddha bersabda, &#8220;S<em>eandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.</em>&#8221;<br />
Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya.<br />
Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia menganjurkan kepada kita agar jangan ragu dalam memberi. Banyak diantara kita masih berpikir bahwa memberi berarti berkurang. Cara berpikir seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita terhadap hukum karma. Siapa yang menabur benih, dia yang akan memetik hasilnya.<br />
Karenanya berikanlah dana pada mereka yang membutuhkan. Kebajikanmu akan memberikan kebahagiaan, tidak peduli apakah engkau memintanya atau tidak.</p>
<p>Seorang Boddhisatva bernama Sumedha, suatu kali di keheningan malam menyadari kehampaan dunia yang indah ini. Ia berkata, &#8220;<em>Aku kehilangan dengan apa yang kusimpan, namun aku memperoleh dengan apa yang kuberikan. Memberi adalah menyebar benih yang akan membuahkan hasil.</em>&#8221;<br />
Keesokan harinya, ia mendermakan semua kekayaannya bagi para miskin, sambil mengucapkan pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Inilah salah satu praktek kesempurnaan kemurahan hati dari seorang boddhisatva yang tidak lagi melekat pada kekikiran dan mementingkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin membantu orang lain tanpa membantu diri sendiri, atau merugikan orang lain tanpa merugikan diri sendiri. Memberi berarti juga akan menerima.</p>
<p>Suatu hari seorang guru zen mendatangi rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kekikirannya. Setibanya di rumah saudagar tersebut, sang guru memberi sebuah teka-teki (koan). &#8220;<em>Bagaimana menurutmu jika tangan selalu terbuka?</em>&#8221; tanya sang guru.<br />
&#8220;<em>haha..Itu berarti tangan yang tidak berguna</em>&#8220;, jawab saudagar tersebut.<br />
&#8220;<em>Kalau tangan yang selalu tertutup?</em>&#8220;, tanya guru lagi.<br />
&#8220;<em>Itu juga tidak berguna</em>&#8220;, jawabnya dengan mantap.<br />
&#8220;<em>Bagus. Tangan yang selalu terbuka atau tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tidak akan pernah dapat terbang. Jika engkau mengerti dan menjalani hidup sesuai dengan pengertian tersebut, maka engkau akan menjadi orang makmur yang sebenarnya. Renungkan itu.</em>&#8220;, kata sang guru sambil berlalu.<br />
Setelah mendengar Dharma dari guru, saudagar tersebut mengerti bahwa kekikiran dan pemborosan adalah dua hal yang tidak berguna. Esok harinya ia membagikan beras kepada orang-orang yang tidak mampu. Sang guru setelah mengetahui hal ini berkata, &#8220;<em>Ia sedang membuat jalan ke surga.</em>&#8221;</p>
<p><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-memberi-berarti-juga-menerima-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Tidak Adil ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 10:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[adil]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kebencian]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[melepas]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Life is Not Fair? Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu. Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat? Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Life is Not Fair?<br />
Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu.<br />
Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat?<br />
Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah lagi keseimbangan jiwanya terganggu. Masih untung jika dia benar-benar jadi gila (setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan kemalangan tersebut), tapi kenyataannya dia masih waras dengan luka berat di hatinya.<br />
Inilah penderitaan.<br />
Lantas dia berkata : &#8220;Hidup TIDAK ADIL !!!&#8221;<br />
Life is unfair,&#8230; huh ?<span id="more-438"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja&#8230; jika hidup memang serba enak, tentunya dia tidak akan seberuntung ini bisa dilahirkan di dunia yang serba enak ini (dengan kata lain pejabat akhirat sudah keliru menaikkannya di pesawat menuju dunia yang salah) !</p>
<p style="text-align: justify;">Life is unfair?&#8230; yes !! Life is fair? &#8230; yes juga !!<br />
Jika semua hal di dunia ini berjalan dengan baik, maka sangatlah tidak adil buat orang-orang yang sedang mempersiapkan tiketnya ke neraka. Karena mereka jadi tidak punya tempat transit untuk mengisi bahan bakar pesawat mereka !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya adalah jika tidak hati-hati-hanya karena ketidaktahuan, ketidakpedulian dan kecerobohan, bisa-bisa Anda juga ikut terbuai naik pesawat kelas VIP &#8211; berlibur ke dunia paling hangat yang pernah ada, dan GRATIS tentunya! Sangat menggiurkan bukan????</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah seorang teman yang lain lagi bertanya &#8211; mengapa orang yang tidak bersalah menjadi korban &#8211; mengapa orang yang bersalah malah dipuji &#8211; puji?<br />
Ya&#8230; mana kutehek?<br />
Mungkin aja itu strategi dari &#8220;dunia bawah&#8221; supaya banyak orang bersedia menghabiskan &#8220;devisa&#8221; mereka &#8211; berlibur ke pulau hangat nun jauh disana. Siapa yang tahu??</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin beberapa orang lantas berpikir,&#8230; strategi black campaign &#8220;pulau hangat&#8221; tersebut sangat keji !<br />
Sejujurnya, kalo mau dikata itu keji, itu sih masih belum seberapa. Ada yang lebih keji lagi, yaitu diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba pikirkan bagaimana caranya kita meracuni diri sendiri dengan dendam, kebencian, iri, cemburu, dlsbg? Bukankah itu termasuk keji?<br />
Ada yang bilang bahwa itu pengaruh dari luar.<br />
Memang benar bahwa granat bisa meledak apabila dipicu, namun pertanyaannya mengapa granat bisa memiliki mekanisme yang membuat dirinya memiliki pemicu untuk menghancurkan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai sekarang pertanyaan itu masih belum terjawab dengan memuaskan, karena kepuasan itu sangat relatif terhadap orang yang mendengar jawaban itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika tidak ingin menderita &#8211; maka lepaskanlah !</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Statement ini pernah ditanggapi secara ngawur oleh seseorang. Dia mengatakan &#8220;jika tidak ingin menderita &#8211; maka pergilah mati !&#8221;<br />
Tentu itu adalah statement sembrono dari mulut asbun (asal bunyi).<br />
Kecuali dia pernah pergi bertamasya ke alam setelah kematian dan pulang dengan membawa bukti-bukti dan asal usul yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa kehidupan setelah kematian tidak ada penderitaan, maka kata-katanya yang tadi masih belum dapat dipertanggung jawabkan !</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari pernyataan &#8220;jika tidak dapat menderita maka lepaskanlah&#8221; adalah jika memang tidak dapat banyak berbuat, maka tidak perlu banyak berbuat.<br />
Teman saya itu, dulunya adalah orang yang miskin sehingga sepiring nasi putih dengan tempe pun terasa sangat berharga, terasa sangat enak.<br />
Sekarang setelah dia mengalami masalah keluarga, meskipun keadaan ekonominya sudah jauh lebih baik, dia bagaimanapun juga sudah tidak mampu lagi merasakan nikmatnya sepiring nasi tempe!</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntung dia masih punya sedikit cahaya dalam hatinya, sehingga usaha yang telah dirintisnya dengan susah payah selama beberapa tahun ini tidak dibiarkan terlantar begitu saja.<br />
Perlahan-lahan dia bisa bangkit dan menjadi orang yang lebih baik, mengingat kembali masa lalunya &#8211; belajar dari masa lalunya bahwa dia pernah mengalami hari-hari yang lebih berat dibanding problemnya yang sekarang &#8211; ia telah kembali ke semangat awalnya. Masa mudanya telah kembali !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Dia belajar bahwa sebanyak apapun ia kehilangan, ia tidak boleh dan tidak bisa kehilangan dirinya sendiri, sebab segala apa yang dimilikinya sekarang adalah hasil usaha dirinya sendiri, tidak perduli kehilangan berapa banyak selagi dia masih mempunyai modal &#8211; yakni dirinya sendiri, dia tidak perlu merasa takut.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkaca dari kasus itu, seorang temannya kemudian tidak menahan diri untuk mengutarakan pendapatnya &#8220;<em>memang benar terkadang proses itu lebih berharga dibanding hasil. orang yang terbuai akan hasil yang bagus akan semakin terperosok dan selamanya susah melepaskan diri darinya. mirip seperti kecanduan narkoba. hidup serba enak oi&#8230; naik kereta mewah oi&#8230; sampe lupa diri akhirnya masuk jurang oi&#8230; mati juga tidak membawa kereta mewahnya !!</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika lengket, bagaimana lepaskan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini satu pertanyaan yang bikin kacau pikiran saya. Kok bisa lengket???<br />
Mendengar kata lengket, hal pertama yang saya pikirkan adalah permen karet !!!<br />
Tapi ternyata yang dia maksudkan adalah rasa sakit&#8230; dia tidak tahu bagaimana cara melepaskannya!<br />
Yah&#8230; terkadang semakin berusaha melepaskan malah semakin gak bisa dilepaskan.<br />
Lo, kok bisa???<br />
Mana kutehek !!!<br />
Memangnya benda apa yang bisa dilepaskan sesuka hatinya? Jika tulang Anda sakit, bagaimana caranya Anda melepaskan tulang tersebut dari daging Anda? Bah&#8230; konyol banget !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kita ambil contoh permen karet tadi. Dikunyah enak&#8230; trus sakit gigi, waktu ke dokter disuruh lepaskan giginya malah gak mau. Takut katanya! Ya udah kalo begitu lepaskan aja dokternya trus simpan giginya !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengerti maksud moral dari cerita itu, ya bagus. Namun di dunia ini masih ada orang yang meskipun ngerti masih tetap nggak mau ngerti &#8211; mereka malah nanya &#8211; &#8220;Loh, kalo dokter bilang gak perlu cabut, cuma kasih obat tapi untuk sementara bakal tetap sakit gimana?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah&#8230; ikutin lo saran dokternya &#8230; ditahan dong! Kalo gak mau sakit, ya pergi mati aja !&#8221;<br />
Pertanyaan menyebalkan ini akhirnya dijawab dengan jawaban yang juga sama menyebalkan dan juga sekaligus sembrono !</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tahapan melepaskan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelepasan ada tahapnya. Semakin tinggi tahapnya semakin banyak penderitaan yang bisa dikurangi, namun semakin banyak juga yang harus &#8220;dikorbankan&#8221;. (Dikorbankan disini diberi tanda petik karena bagi orang-orang yang masih terikat kata pelepasan sama artinya dengan pengorbanan)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu sesi meditasi, melalui satu tahapan saya pernah mengalami bagaimana rasanya berjuang melawan sakit gigi. Konyol memang,&#8230; sakit gigi kok malah meditasi. Emangnya bisa fokus?<br />
Tentu saja nggak bisa !!<br />
Setiap kali saya memikirkan nafas, rasa sakit itu kembali datang dan datang lagi. Jengkel, akhirnya saya mengubah obyek meditasi dari nafas menjadi rasa sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya sakitnya semakin menjadi-jadi. Saya mengerang, menangis tapi sayangnya rasa sakit itu tidak berperasaan ! terus menerus menyiksa !<br />
Pada akhirnya karena cape, saya membiarkan rasa sakit itu menyerang otak saya, &#8220;memperhatikan&#8221; rasa sakit tersebut secara seksama dan tidak berusaha melawannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan &#8230; rasa sakit itu TETAP ADA ! Tapi tidak lagi membuat menderita, seolah olah rasa sakit itu tetap terasa namun terpisah dari tubuh. Seperti halnya sentuhan di kulit yang kita sadari namun tidak sampai membuat kita menderita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sayangnya pengalaman itu cuma sekejap. Beberapa hari kemudian saya kembali &#8220;lengket&#8221; dengan segala rasa manis dan pahitnya hal duniawi. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Memang pengalaman masing-masing orang bisa berbeda, namun setiap orang punya kemampuan untuk mencari jalan bagi dirinya sendiri &#8211; asal mau melihat dengan lebih jelas, maka setiap kesakitan &#8211; setiap penderitaan bisa dipegang dan dilepaskan, hanya singgah namun tidak sampai meninggalkan kotoran. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Percaya ? Atau tidak percaya?<br />
Itu hak Anda. Peduli amat !!! LoLs</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai jumpa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadapi Kekalahan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/menghadapi-kekalahan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/menghadapi-kekalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 06:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[kekalahan]]></category>
		<category><![CDATA[lawan]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/menghadapi-kekalahan/</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Anda siapakah lawan terberat Anda selama ini? Apakah orang tersebut adalah orang yang sudah mengalahkan Anda dalam sebuah pertandingan atau kompetisi yang Anda lakoni? Perlu Anda ketahui, lawan terberat Anda adalah lawan yang sama sekali tidak membenci Anda ketika ia mengalami kekalahan, sebaliknya ia malah akan merasa sangat senang dan sangat berterimakasih atas perlawanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut Anda siapakah lawan terberat Anda selama ini? Apakah orang tersebut adalah orang yang sudah mengalahkan Anda dalam sebuah pertandingan atau kompetisi yang Anda lakoni?</p>
<p>Perlu Anda ketahui, lawan terberat Anda adalah lawan yang sama sekali tidak membenci Anda ketika ia mengalami kekalahan, sebaliknya ia malah akan merasa sangat senang dan sangat berterimakasih atas perlawanan ketat yang telah Anda berikan kepadanya.<span id="more-436"></span></p>
<p>Menghadapi lawan seperti ini sangatlah sulit, sebab didalam pikirannya tidak ada istilah menang dan kalah, yang ada hanyalah excitement; kegembiraan tanpa batas yang malah membuat dirinya semakin lama semakin tangguh dan semakin sulit dikalahkan.</p>
<p>Menemui lawan seperti ini, tidak ada yang bisa Anda lakukan selain berpacu dalam frekwensi yang sama dengan dirinya.</p>
<p>Pada kenyataannya kualitas yang sebenarnya dari seseorang tidak bisa dilihat seluruhnya pada saat dia memenangkan sebuah pertandingan atau mencapai kesuksesannya, melainkan di saat ia mengalami kegagalan/kekalahan.</p>
<p>Orang yang kuat tidak akan putus asa pada saat ia mengalami kekalahan/kegagalan; ia juga tidak akan merasa marah ataupun kecewa, sebaliknya ia malah merasa bahwa hidup ini sangatlah menarik dan masih banyak kesempatan bagi dirinya untuk berbuat sesuatu.</p>
<blockquote><p>Orang yang mengejar cita-citanya dengan sepenuh hati dan penuh dengan sukacita tidak akan dikecewakan oleh tekadnya sendiri di masa yang akan datang.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/menghadapi-kekalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyata atau Tidak Nyata ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nyata-atau-tidak-nyata/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nyata-atau-tidak-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 03:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[ilusi]]></category>
		<category><![CDATA[kenyataan]]></category>
		<category><![CDATA[melepas]]></category>
		<category><![CDATA[menerima]]></category>
		<category><![CDATA[nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/nyata-atau-tidak-nyata/</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang pernah bertanya kepada saya, apa yang nyata dan apa yang tidak nyata? Saya tidak bisa memberikan jawabannya, karena saya merasa saya memang tidak perlu menemukan jawabannya. Jika saya tetap berkutat dengan pertanyaan itu, maka apa yang saya pikirkan waktu itu adalah tidak nyata. Namun jika saya berhenti bertanya dan menerima segala sesuatu apa adanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang pernah bertanya kepada saya, apa yang nyata dan apa yang tidak nyata?<br />
Saya tidak bisa memberikan jawabannya, karena saya merasa saya memang tidak perlu menemukan jawabannya.</p>
<p>Jika saya tetap berkutat dengan pertanyaan itu, maka apa yang saya pikirkan waktu itu adalah tidak nyata. Namun jika saya berhenti bertanya dan menerima segala sesuatu apa adanya maka itulah kenyataan.<span id="more-433"></span></p>
<p>Jawaban atas sebuah pertanyaan sangatlah tergantung dari kondisi sang penanya. Saya tahu bahwa teman saya sedang bimbang. Dia merasa bahwa sekarang ini dia sudah memiliki segalanya, tapi mengapa dia tetap tidak merasa bahagia ?<br />
Oleh karena itulah sebabnya mengapa dia mulai meragukan pemikirannya sendiri dan mulai bertanya tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata.</p>
<p>Hal ini sangatlah wajar.<br />
Jika saya berusaha untuk menjawab pertanyaannya dengan menggunakan logika saya, maka ia akan dapat dengan segera menemukan kelemahan atas jawabannya saya dan lama-kelamaan saya akan ikut terjebak ke dalam kebingungan yang dirasakannya saat ini. Maka dari itulah sebabnya mengapa saya tidak secara langsung menjawab pertanyaan dia.</p>
<p>Nyata atau tidak nyata hanyalah sebuah kata-kata rekaan manusia untuk menjelaskan sebuah kondisi sebagaimana yang mereka tangkap dengan indera mereka ataupun yang mereka rasakan dan pikirkan dalam pikiran mereka. Sedangkan cara kita mempersepsikan keadaan luar antara satu orang dengan orang lainnya tidaklah persis sama. Oleh karena itu cara paling baik untuk mengerti adalah dengan mengamati sendiri kenyataan yang ada dihadapan kita.<br />
Menerima dan melihat kenyataan apa adanya, maka sedikit demi sedikit kita akan bisa mengerti bahwa tidak ada yang “nyata” ataupun “tidak nyata” di dunia ini. Perlahan-lahan kita akan meninggalkan dualisme buta dan tidak terjebak dalam kata-kata yang kita ciptakan sendiri.</p>
<blockquote><p><em>Kita harus belajar untuk menerima dan melepas. Menerima segala sesuatu apa adanya dan melepas belenggu pikiran kita. Dengan demikianlah kita dapat mencari jalan pembebasan.</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nyata-atau-tidak-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Menuju Pencerahan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 10:01:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan? Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan? Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet? Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan?</p>
<p align="justify">Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan?</p>
<div align="justify">
<div class="wlWriterEditableSmartContent" id="scid:8747F07C-CDE8-481f-B0DF-C6CFD074BF67:5162fc85-7c12-4174-9bfd-cb615c7bffcd" style="padding-right: 0px; display: inline; padding-left: 0px; float: none; padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-top: 0px"><a href="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2010/06/6778542_s8x6.jpg" title="" rel="thumbnail"><img border="0" src="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2010/06/6778542_s.png" width="150" height="150" /></a></div>
</p></div>
<p align="justify">Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet? <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu kita tanyakan diri kita sendiri… kenapa kita mencari tempat seperti itu?</p>
<p align="justify">Alasannya sederhana, karena kita mencari kebahagiaan yang sejati. Namun apakah kebahagiaan yang sejati bisa ditemukan di “suatu tempat”?</p>
<p align="justify">Apa yang kita cari bukanlah tempat, melainkan kondisi. Hanyalah bahasa yang terkadang memiliki ambiguitas sehingga sering kali kita terjebak dalam kata-kata.</p>
<p align="justify">Orang yang hidupnya senang, tentu akan sangat sulit untuk berpikir untuk mencari kebahagiaan sejati, karena apa yang dipikirnya sebagai kebahagiaan sejati adalah apa yang dirasakannya sekarang, yang tidak lain adalah kebahagiaan duniawi.</p>
<p align="justify">Jika itu adalah kebahagiaan duniawi, lantas bagaimana yang disebut dengan kebahagiaan yang sejati. Menjawab pertanyaan itu adalah sangat tidak mungkin untuk saya, karena saya sendiri belum mencapai pencerahan sempurna. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Namun meski begitu saya tahu bahwa kebahagiaan duniawi bukanlah kebahagiaan sejati. Mengapa?    <br />Karena kebahagiaan seperti itu ada kondisi, ada syaratnya. Katakanlah Anda hidup bisa makan enak, bisa punya ini punya itu, semua itu harus ada syaratnya, yaitu harus punya uang. Tanpa uang, mungkin Anda punya cara lain untuk mendapatkannya. Cara tersebut juga adalah sebuah syarat, sebuah kondisi yang harus dipenuhi. Sedangkan kondisi selalu berubah, sehingga dengan demikian kebahagiaan tersebut tidak abadi. Kebahagiaan itu mengandung cacat, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yg sifatnya ‘sejati’.</p>
<p align="justify">Dulu, saya bukanlah seseorang yang peduli dengan segala tetek bengek filosofi seperti ini. Namun setelah mengalami penderitaan dan kesedihan yang mendalam, barulah saya sedikit demi sedikit menyadari ketidakkekalan – kebahgiaan yan berkondisi, tidak memuaskan, namun sangat sulit untuk dilepaskan.</p>
<p align="justify">Oleh karena itu saya berpikir, terkadang karena satu pengalaman yang sangat pahit barulah kita bisa sedikit membuka mata kita terhadap kebenaran dengan pengeculian terhadap beberapa orang yang malah semakin gelap mata – tidak mau melepaskan perasaan yang sudah seharusnya dilepaskan, dan terus menerus meracuni diri sendiri dengan kebencian, dendam, keputusasaan dan penderitaan yang ikut bersama-sama dengan perasaan tersebut.</p>
<p align="justify">Pertama kalinya saya mengalami kesedihan yang sangat hebat, saya tidak menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Namun sebelum saya sempat berpikiran bodoh, satu pikiran berkelebat di otak saya – bahwa kematian menyakitkan – bahwa saya tidak yakin bahwa di masa yang akan datang saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang baik lagi. Saya merasa takut kehilangan kesempatan akan sesuatu yang baik yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang seandainya saya tetap bertahan.</p>
<p align="justify">Begitulah saya terus melewati hari demi hari dengan penuh kesedihan. Satu tahun lewat, dua tahun juga lewat namun rasa sakit itu masih belum hilang.    <br />Ternyata luka dihati lebih susah sembuh dibanding luka di badan. Semakin lama saya semakin merasa menderita karena semakin banyak kenangan indah yang saya ingat rasanya semakin sakit hati.</p>
<p align="justify">Dari sanalah saya mulai berpikir, semakin besar kebahagiaan yang saya rasakan semakin besar juga penderitaan yang saya terima saat kebahagiaan itu pergi. Kebahagiaan tidak lain adalah satu bagian dari koin bersisi dua, satunya adalah surga dan satunya adalah neraka. Kebahagiaan dan penderitaan yang saya alami juga bukanlah berasal dari luar, melainkan berasal dari dalam. Faktor faktor luar hanyalah sebuah pemicu atau mungkin lebih tepat disebut sebagai umpan dan saya nyata-nyata telah memakan umpan itu karena ketidaktahuan saya.</p>
<p align="justify">Lalu saya mulai belajar untuk menenangkan pikiran saya.    <br />Disanalah tanpa saya sadari, saya perlahan-lahan sudah mempraktekkan meditasi. Dan setelah saya benar benar mengenal istilah meditasi, saya membeli banyak buku-buku tentang meditasi dan mempraktekkannya.</p>
<p align="justify">Pada saat awal mempraktekkannya dengan serius, saya merasa meditasi itu sangat susah. Pikiran ini seperti monyet, tidak bisa dikendalikan. Sekali diam setelah beberapa saat kembali akan muncul banyak pikiran yang menghalangi proses meditasi saya.    <br />Perlu diketahui bahwa dalam meditasi, kita tidak belajar untuk mengosongkan pikiran, namun secara santai memfokuskan pikiran pada satu objek. Pada saat itu objek meditasi saya adalah pernafasan.</p>
<p align="justify">Pada saat-saat awal, saya tidak pernah bisa meditasi lewat dari 15 menit, sungguh sangat menyebalkan pikir saya waktu itu.</p>
<p align="justify">Saya merasa ada yang salah. Meditasi tentu bukan begini caranya. Saya kembali berpikir di masa yang lalu ketika saya belum begitu mengenal istilah meditasi, secara tidak sadar saya sudah melakukannya dengan sangat mudah. Mengapa setelah saya mengetahui lebih banyak teori tentang meditasi, semuanya malah semakin rumit?</p>
<p align="justify">Kemudian saya memutuskan untuk tidak memperdulikan semua teori-teori itu lagi. Saya duduk, kemudian memfokuskan pikiran pada pernafasan. Setiap kali muncul satu pikiran, saya menanggapinya dengan santai, saya menerima pikiran itu apa adanya, tidak berusaha untuk menolaknya. Terkadang saya malah bisa menemukan sesuatu yang lucu dari pikiran pikiran yang datang itu, tidak peduli apa jenis pikiran yang datang itu.</p>
<p align="justify">Setiap kali ada pikiran yang datang saya menerima pikiran itu dan kemudian perlahan-lahan memfokuskan pikiran kembali ke pernafasan. Hal tersebut terjadi berulang-ulang, namun saya biarkan saja. Padahal jika ditilik dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya seharusnya sudah merasa sangat jengkel. Tapi kali ini sama sekali tidak. Karena pada saat itu boleh dibilang saya sudah berada pada keadaan yang setengah serius dan setengah bermain-main. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Dari sanalah saya mulai sadar, mengapa latihan-latihan saya yang sebelumnya saya lakukan semakin lama semakin pendek jangka waktunya. Itu karena semakin lama semakin besar kejengkelan yang saya rasakan. Saya telah gagal mendeteksi perasaan itu dan inilah yang menjadi penghalang utama dalam proses meditasi saya. Semua teori-teori yang saya pelajari saya anggap sebagai sebuah beban, sebuah misi yang harus saya selesaikan – padahal meditasi adalah belajar untuk melepaskan beban, bukan sebaliknya mengangkat beban tersebut dipikiran saya. Saya telah melakukan sebuah kesalahan dan sekarang saya memperbaiki kesalahan tersebut.</p>
<p align="justify">Setelah saya berhasil mengatasi rasa jengkel tersebut dan menerima dengan lapang dada semua pemikiran yang muncul dalam pikiran saya, kemudian perlahan-lahan mengarahkannya untuk pergi – saya merasa seperti mendapatkan pengalaman baru.</p>
<p align="justify">Semakin lama frekwensi datangnya pikiran-pikiran itu semakin sedikit, dan pikiran saya makin lama makin halus. Tidak ada bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan seperti ini. Pada waktu itu saya merasa bahwa hati ini sangat damai, pikiran sangat bersih, tanpa hambatan dan segala sesuatunya terasa berjalan begitu lancar. Aliran darah dan nafas sangat teratur, dan pikiran menjadi jauh lebih terang dibanding sebelumnya. Setiap kejadian, setiap hal sekecil apapun dilihat dengan pandangan terbuka, persis seperti anak kecil yang baru lahir yang sedang mempelajari dunia luar. Bedanya sekarang saya lebih mempunyai pertimbangan dibanding anak kecil. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />    <br />Dalam keadaan seperti itu, bahkan kejadian jatuhnya sehelai daun bisa memberikan banyak pelajaran kepada saya.</p>
<p align="justify">Pengalaman seperti itu sama sekali bukan pencerahan. Bahkan boleh dibilang saya bahkan belum menempuh 1/8 jalan yang harus saya tempuh. Jadi saya terus berlatih, sampai pada tahap dimana kekuatan jahat itu muncul dari dalam, menggoyahkan batin dan menguasai pikiran saya sewaktu saya sedang tidur. Pada saat sebelumnya, ketika meditasi saya sudah mencapai tahap yang mencukupi, saya bisa mengontrol mimpi dalam tidur saya. Tapi kali ini saya gagal. Semua usaha saya hancur seketika, dan pikiran saya kembali ke keadaan semula.</p>
<p align="justify">Saya sedikit merasa kecewa. Namun saya tidak berhenti untuk berusaha. Saya akan mengulang dari awal. Saya masih ingat bagaimana perasaan luar biasa yang saya rasakan pada saat meditasi saya berhasil dan itu sudah menjadi satu pengalaman yang berharga buat saya. Saya juga sudah melihat sendiri bagaimana bentuk kekuatan jahat yang bersemayam di dalam diri setiap manusia dan itu akan menjadi pelajaran buat saya untuk kembali menghadapinya suatu saat nanti.</p>
<p align="justify">Semoga…   <br />Dan setelah saat itu tiba, saya akan kembali menulis. Mungkin untuk dibaca diri saya sendiri di kehidupan yang akan datang. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Kekikiran, Iri Hati dan Keserakahan Sebagai Penghalang (22)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, &#34;Maaf, tak ada seorang pun disini&#34;. &#34;Aku tak ingin siapapun&#34;, kata pengemis, &#34;Aku cuma ingin makanan&#34;. Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, &#34;Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa.&#34; Seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ada seorang pengemis datang ke sebuah rumah untuk meminta sesuatu. Tuan rumah keluar dan berkata, &quot;Maaf, tak ada seorang pun disini&quot;.    <br />&quot;Aku tak ingin siapapun&quot;, kata pengemis, &quot;Aku cuma ingin makanan&quot;. </p>
<p align="justify">Inilah salah satu contoh kisah yang menunjukkan kekikiran. Buddha suatu kali berkata, &quot;Bagi mereka yang kikir, tidak akan mungkin dilahirkan di alam dewa.&quot;    <br />Seseorang yang menikmati buah karma baik masa lalu dan sekarang tidak bermurah hati, ia seperti orang yang hidup dari tabungannya di bank. Terus menerus menarik uang tabungan tanpa menambahnya. </p>
<p align="justify">Kita mesti memahami bahwa kelimpahan adalah mencari si miskin. Bagaikan kecantikan mencari cermin. Maka para miskin adalah cermin kemurahan hati kita. Yang dermawan membuka jalan bahagia bagi dirinya. </p>
<p align="justify">Buddha mengatakan, &quot;sesungguhnya, siapapun yang menghalang-halangi orang lain berdana akan melakukan tiga kesalahan. Apakah tiga kesalahan itu?    <br />Ia menghalangi pemberi dana untuk mendapatkan kebaikan, ia menghalangi penerima dana untuk mendapatkan persembahan, dan ia telah merusak dirinya sendiri dengan kekejiannya.&quot;     <br />Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut ketulusan mereka. Karena itu barang siapa yang iri terhadap keberuntungan orang lain, tidak akan memperoleh kedamaian sepanjang hari. </p>
<p align="justify">Praktek berdana akan membantu usaha kita untuk memurnikan pikiran. Keserakahan dan kekikiran dapat dikikis. Kebahagiaan dan berkecukupan adalah hasil dari berdana. Kita mesti mengingat sebuah syair yang berbunyi: Iri hati melenyapkan perbuatan baik, seperti api membakar kayu. Kemurahan hati menghancurkan permusuhan, seperti air menyiram api. </p>
<p align="justify"><strong><em>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nuansa-hidup-kekikiran-iri-hati-dan-keserakahan-sebagai-penghalang-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Dasarnya adalah Kasih (21)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 03:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan ke daerah, suatu kali saya melihat seorang tua innocent yang menjajakan pisang dagangannya di terik matahari. Usia ibu ini kira kira 65 tahun. Entah mengapa ketika saya melihat raut wajah ibu tersebut, ada rasa ingin membuatnya bahagia. Padahal ia bukanlah seorang peminta-minta, ia adalah seorang yang memikul pisang sebagai dagangannya. Saya yakin Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan ke daerah, suatu kali saya melihat seorang tua innocent yang menjajakan pisang dagangannya di terik matahari. Usia ibu ini kira kira 65 tahun. Entah mengapa ketika saya melihat raut wajah ibu tersebut, ada rasa ingin membuatnya bahagia. Padahal ia bukanlah seorang peminta-minta, ia adalah seorang yang memikul pisang sebagai dagangannya. Saya yakin Anda juga pernah mengalami perasaan demikian tatkala Anda berjumpa dengan seseorang yang belum Anda kenal dan timbul perasaan mengharapkan ia bahagia.<br />
Dapatkah kita katakan bahwa perasaan seperti ini adalah perasaan kasih?<br />
Seperti yang Buddha katakan bahwa setiap orang memiliki benih kasih di dalam dirinya, tinggal apakah seseorang itu mengembangkan kasih yang telah ada dalam dirinya atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun saat itu saya tidak berencana membeli pisang, dikarenakan perasaan demikian, akhirnya saya membeli pisang tersebut sebagai ungkapan kepedulian saya kepada ibu tersebut.<br />
Yang membuat saya kagum lagi adalah reaksi rasa syukur dan berterima kasihnya yang sangat mendalam hingga terpancar di wajahnya. Inikah tipe orang yang merasa puas dan berterima kasih atas apa yang telah diperolehnya meskipun hanya cukup untuk makan satu hari?<br />
Ibu ini bahkan telah membuat saya menyadari betapa kasih dapat memberikan kebahagiaan besar bagi orang lain. Saya hanya memberi kebahagiaan kecil padanya, tapi ia telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga bagi saya. Ia telah memberikan sesuatu yang besar pada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini bagaikan air penyejuk bagi perjalanan saya di siang hari yang panas. Senyuman dan kegembiraannya menjadi penghibur bagi saya dalam meneruskan perjalanan. Setibanya saya pada tujuan, pisang yang telah dibeli dari ibu tersebut saya berikan kepada keluarga yang menjaga vihara. Mereka menerimanya dengan gembira dan berterima kasih atas pemberian tersebut.<br />
Bayangkan berapa banyak orang yang dibahagiakan jika kita memberi perhatian pada mereka.<br />
Ibu Teresa berkata, &#8220;<em>Sebenarnya dalam memberi, bukan berapa banyak yang dapat kita berikan, tapi berapa besar kasih yang menyertai pemberian itu.</em>&#8220;.<br />
Pemberian seperti inilah yang saya percaya dapat memberikan kebahagiaan besar dan bermakna bagi yang menerima daripada pemberian tanpa disertai kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam keheningan malam, saya merenungi betapa indahnya kebersamaan bila diliputi dengan kasih. Hari ini saya mempelajari sesuatu yang bernilai dari seorang ibu yang menjajakan pisang.<br />
Sebenarnya hidup adalah untuk memberi. Mereka yang tidak dapat memberi, sebenarnya tidak hidup.<br />
Berikanlah apa saja yang kita punyai. Pengetahuan kita, materi, semangat, kasih sayang, nasehat dan sebuah senyuman. Saya teringat apa yang dikatakan Ibu Teresa, &#8220;<em>Semua yang kau berikan kepada orang lain adalah pemberian untuk dirimu sendiri. Kasih menyembuhkan semua orang, baik yang menerimanya maupun yang memberikannya</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita ingin bahagia, berikan kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan yang kita berikan akan kembali kepada kita. Karenanya, setiap hari setidaknya lakukanlah kebaikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/05/nuansa-hidup-dasarnya-adalah-kasih-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
