Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Renungan – Memberi dan Menerima

Dimana mana kita sering mendengar kata cinta. Apa sebenarnya cinta?
Bagaimana mencintai? Semua orang punya persepsi mereka sendiri sendiri..
Cinta harusnya bukan sebuah hal yang sifatnya egois, namun seseorang pernah berkata kepada saya bahwa cinta sudah seharusnya egois. Jika begitu adalah pandangannya, saya juga tidak bisa menyalahkan dia. Karena beginilah yang ia lihat dari dunia, beginilah ia merasakan manis dan pahitnya dunia.
Read the rest of this entry »

Share

Cerita Daun, Angin dan Pohon

Beberapa saat yang lalu saya membaca satu cerita. Saya merasa cerita itu sangat mirip dengan kondisi saya yang sekarang.

Sebelum saya banyak menceritakan cerita saya, mari kita simak cerita daun, angin, dan pohon. “Daun terbang karena angin bertiup atau pohon tidak memintanya untuk tinggal?”
Read the rest of this entry »

Share

Rahasia Kebahagiaan

Setiap orang yang merasa dirinya bahagia mempunyai rahasianya sendiri-sendiri. Beberapa bahkan tidak menganggapnya sebagai sebuah rahasia karena meskipun kita tahu resepnya belum tentu kita bisa melakukannya.

Dalam beberapa hari ini, saya banyak belajar. Saya juga banyak membaca. Saya sangat penasaran, apa sih rahasia kebahagiaan.
Read the rest of this entry »

Share

Belajar dari Banjir Kota Medan

6 January 2011.
Kota Medan BANJIR !

Terburuk sejak tahun 2002, tidak pernah terbayang bahwa proyek kanal anti banjir masih belum menyelesaikan persoalan banjir kota Medan. Ini sama seperti masa depan yang tidak pasti. Meskipun kita sudah banyak persiapan, bukan berarti kita pasti akan lepas dari bencana.
Mungkin yang kita perlukan adalah mental untuk menghadapi bencana !
Read the rest of this entry »

Share

Kutipan Kata-Kata Bijak

Sudah lama tidak menulis di blog ini.
Beberapa saat yang lalu saya menemukan sebuah artikel yang cukup bagus mengenai kutipan kata-kata bijak dari tokoh masa lalu.
Artikel tersebut dalam bahasa Inggris.
Disini saya mengutip kata-kata tersebut dan menjelaskannya dengan kata-kata saya sendiri.
Read the rest of this entry »

Share

Ketulusan

Apa nilai dari sebuah ketulusan. Apakah ketulusan itu benar-benar ada atau hanya sebuah topeng dari perasaan lainnya yang menuntut penghargaan atau balas jasa dari orang lain.

Seringkali saya temui ketika saya membantu orang lain dengan ‘setulus’ hati untuk kemudian ‘dibayar’ dengan perlakuan atau penolakan yang tidak diharapkan.

Lalu saya berpikir, “Ah… kurang ajarnya orang itu. Ah dasar orang tak tau berterima kasih, dan lain sebagainya.”

Detik berikutnya saya kembali membayangkan waktu-waktu sebelumnya ketika saya sangat ingin membantu orang itu. Saya tidak memikirkan apapun selain bagaimana cara terbaik untuk membantunya.

Pada saat itu saya membayangkan dirinya sebagai ‘orang baik’ yang pantas ditolong. Namun setelah itu, setelah semua perlakuan dan pertolongan yang sudah saya berikan, ‘image’-nya dalam pikiran saya berubah menjadi orang congkak, orang tak tau berterima kasih dan lain sebagainya.

Begitu cepatnya penilaian saya berubah dan itu normal adanya. Namun yang cukup disayangkan adalah betapa perasaan saya ikut terbawa-bawa.

Kenapa saya merasa kesal hanya karena seseorang?
Kenapa saya harus menghabiskan energi untuk marah kepada seseorang?
Apakah hanya dengan marah, keinginan saya bisa dipenuhi?
Apakah hanya dengan marah, seseorang bisa berubah?

Jika memang bisa, kenapa tidak???

Tapi kenyataannya seringkali hal itu tidak bekerja.
Kita marah dan yang kita dapatkan cuma penyakit darah tinggi. Lalu beban semakin berat ketika kita mendapati diri kita begitu rapuh, begitu mudahnya dirusakkan oleh sikap orang lain.

Dalam satu hal kita selalu tulus untuk membantu orang lain. Itu satu hal yang kita syukuri, dan bukannya justru disesali karena ketulusan kita tidak dihargai.

Kita boleh merasa bahwa apa yang ditunjukkan kepada kita sangat tidak patut, kita menyayangkan kejadian itu namun kita tidak boleh membiarkan kejadian seperti itu mempengaruhi ketenangan pikiran kita.

Saya selalu mengatakan kepada diri saya sendiri. Sebisa mungkin saya tidak boleh bergantung pada orang lain. Saya tidak akan memberi lebih dari yang saya ikhlaskan, saya juga tidak segan menolak dengan satu kata ‘Tidak !’ untuk sesuatu yang diminta kepada saya namun tidak bisa saya sanggupi.
Dan sebisa mungkin, saya tidak akan marah.

Ada kalanya saya bertemu orang menyebalkan. Yang selalu memancing emosi saya.
Pada awalnya sangatlah sulit mengabaikan orang seperti itu. Namun pada saat pikiran jernih dan kosong, saya melihat orang itu seperti cacing kepanasan. Terakhir saya merasa geli sendiri, dan sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan. :D

Hal terakhir yang terjadi adalah orang tersebut marah karena ocehannya tidak berhasil membuat saya marah. Orang yang bermain api akhirnya terbakar oleh apinya sendiri.

Teman-teman saya bilang bahwa sikap seperti itulah yang dinamakan ‘cool’.
Namun saya tidak memperdulikan apakah itu ‘cool’ atau ‘hot’. Saya hanya peduli tentang bagaimana supaya saya tidak tenggelam dalam emosi berlebihan. Selalu waspada untuk melihat kedalam diri sendiri supaya tidak terlalu dingin atau terlalu panas, karena hanya di tempat seperti itulah saya bisa hidup dengan nyaman.

Pada akhirnya, bantuan yang saya tawarkan tetap tulus, dan perlakuan yang saya terima tetap tidak patut. Meskipun begitu, saya sudah tidak memperdulikannya lagi.

:D

Share

Haus Pengakuan

Saya merasa sedikit tertohok pada saat salah satu teman saya mengatakan bahwa pada dasarnya manusia selalu haus akan perhatian.
Saya merasa,.. mungkin saya juga seperti itu.

Bagi orang yang jarang mendapatkannya,  mereka akan berusaha mendapatkannya dengan banyak cara. Ada yang berusaha mendapatkan perhatian dengan menyebabkan chaos/kekacauan, ada yang berusaha menjadi ‘lucu’, menjadi ‘cool’ atau sebaliknya ‘hot’, dan tidak sedikit juga yang berusaha mendapatkannya dengan cara mencoba menjadi orang ‘bijak’, pahlawan bagi orang-orang yang hidup tertekan dalam kesedihan dan kemalangan.

Harus diakui memang terkadang nasihat yang diberikan boleh dikatakan memang sangat bagus sekali. Namun disadari atau tidak, selalu ada kemungkinan bahwa sang pemberi nasehat sendiri juga sedang memiliki masalah dengan dirinya sendiri.
Mungkin mereka sendiri tidak merasakannya, ataupun tidak bersedia mengakuinya. Namun dalam lubuk hati yang terdalam tidak tertutup kemungkinan tumbuh keinginan seperti itu, sebuah bentuk ego yang selalu haus akan pengakuan dari orang lain.
Rumus dasarnya kurang lebih seperti ini : “Menjadi ‘hebat’ adalah perlu agar hidup ini berarti”  :)

Sebenarnya cukup disayangkan karena orang-orang yang berakting menjadi bijak berusaha mencari kebahagiaan dengan menjadi orang hebat, sedangkan orang bijak menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sebagai orang biasa.
Oleh karena itulah salah satu teman pernah berkata “kebahagiaan sejati timbul bukan karena kamu berusaha mendapatkannya, tapi karena kamu memang pantas mendapatkannya”
Yah… Tidak mengherankan memang. :)

Bagi orang ‘awam’ kata-kata orang yang mereka anggap bijak adalah kata-kata mutiara yang indah, sedangkan bagi orang-orang bijak kata kata tersebut hanyalah hal biasa yang sudah dilupakan kebanyakan orang. :)

Mengapa bisa begitu?
Menurut pandangan saya sebagai pengamat, itu karena pemikiran orang bijak tidak tercemar oleh kepentingan-kepentingan tertentu, tidak terjebak dalam dualisme dan konvensi umum, dan tidak berdasarkan suasana hati ataupun emosi sesaat. Sepenuhnya murni dan tidak ternoda.

Share

Nafsu Duniawi, Kemelekatan, dan Kebodohan

Bagaimana cara mengalahkan ‘musuh’ jika ‘musuh’ tersebut tidak terlihat?
Bagaimana cara melepaskan diri dari cengkraman ‘musuh’ jika ‘musuh’ itu tidak kita kenal?
Bagaimana cara memperbaiki diri jika kesalahan dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Bagaimana cara menyembuhkan diri jika obat yang pahit disangka sebagai racun?

Jika kita perhatikan bagaimana bodohnya seekor monyet yang tidak dapat melepaskan tangannya dari botol hanya karena mahkluk itu tidak bersedia melepaskan kacang yang digenggamnya di dalam botol.
Mungkin seperti itulah kita manusia tidak menyadari bahwa untuk melepaskan diri dari penderitaan kita perlu melepas kemelekatan.

Seperti berada dalam perahu yang bocor, kita terus menerus menuang air dalam perahu ke lautan.
Pekerjaan seperti itu tidak akan ada akhirnya, karena kita tidak pernah berpikir bagaimana caranya menyumbat lubang di perahu tersebut.
Demikianlah kita tanpa henti-hentinya menderita karena membiarkan nafsu duniawi terus-terusan masuk dan membanjiri pikiran kita.
Sampai kapan kita bisa terus bertahan? Karena setelah tenggelam, akan sangat sulit bagi kita untuk kembali muncul ke permukaan.

Share

Satu Hal Yang Tidak Bisa Dilakukan Seorang Pemenang adalah [Mengalah]

Suatu hari seorang pendekar terkenal mengunjungi seorang pendekar tua yang digosipkan orang-orang dunia persilatan sebagai ahli bela diri terhebat yang pernah ada.
Tujuan dari pendekar itu tidak lain adalah untuk menantang si tua untuk membuktikan siapa pendekar terkuat pada masa itu.

Namun pendekar tua itu menolak tantangan pendekar muda tersebut dengan alasan bahwa dia sudah tua dan dengan kondisinya sekarang tidak mungkin bisa mengalahkan pendekar muda tersebut.
Singkatnya, dia mengaku kalah.

Pendekar muda tersebut tentu tidak senang dengan penolakan itu karena dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dialah pendekar tak terkalahkan di kolong langit ini.
Dia terus mencaci maki pendekar tua tersebut dengan harapan supaya pendekar tua itu menjadi marah dan menerima tantangannya. Namun apapun yang dia katakan sama sekali tidak membuahkan hasil. Kakek tua itu tidak bergeming.

Lalu dia pun mengancam pak tua itu. “hei.. jika kamu tidak mau bertarung maka sekarang juga aku akan membunuhmu. Satu-satunya pilihan bagimu adalah melawan untuk mempertahankan nyawamu”

Lalu kakek itu berkata “sebagai seorang pendekar muda berkemampuan tinggi, kemampuanmu tentu tidak perlu diragukan lagi. kamu bisa menaklukkan banyak orang kecuali satu.”

“Satu??? Siapa dia??” kata si pemuda keheranan.

“Dia adalah dirimu sendiri.” Jawab si kakek.
“Dulu aku juga seperti kamu, melanglang buana mencari orang berkemampuan tinggi. Satu persatu mereka kukalahkan. Dan disaat aku tidak lagi bisa menemukan lawan yang sepadan, aku merasa kesepian, aku tidak bisa menahan gejolak dalam diri yang terus menerus menginginkan pertempuran tanpa akhir. Dari sanalah aku menyadari bahwa satu-satunya musuh yang tidak bisa kukalahkan adalah diriku sendiri.
Percayalah anak muda, meskipun hari ini kamu mengalahkan aku, kamu tetap tidak akan merasakan kebahagiaan yang berkelanjutan. Seorang ‘pemenang’ bisa melakukan banyak hal, kecuali mengalah. Namun pemenang yang sesungguhnya bisa melakukan banyak hal, termasuk mengalah, karena dengan demikian dia bisa yakin bahwa dia tidak dikalahkan oleh egonya sendiri.
Kata-kataku sudah selesai. Sekarang kamu boleh membunuh saya.”

Mendengar kata-kata kakek tua itu, pendekar muda itu hanya bisa terdiam. Ia kemudian menyarungkan pedangnya dan pergi tanpa berkata apa-apa.

Share

Cinta dan Kebahagiaan

Matahari bersinar terik, burung-burung malas terbang.
Beginilah keadaan hari ini. :)

Beberapa saat lalu saya melihat postingan dari salah satu teman saya. Dia mengatakan bahwa cinta adalah menyakitkan.

Berbicara mengenai masalah cinta memang tidak habis-habisnya.
Memang pada dasarnya cinta akan terasa sangat menyakitkan jika cinta yang diberikan tidak mendapat balasan dari pihak yang satunya lagi. Cinta bertepuk sebelah tangan, tidak ada suaranya, yang ada hanyalah kesedihan.

Tapi ada seorang teman yang lain mengatakan bahwa cinta tidak harus memiliki.  Benarkah?

Bisa iya bisa tidak.
Mungkin saja dia mengatakan hal itu hanya untuk menghibur dirinya sendiri yang telah kehilangan atau bisa juga karena dia memang tidak diikat oleh perasaan semacam itu.
Alangkah baiknya jika kemungkinan kedua adalah kenyataannya namun kenyataannya juga lebih banyak yang mengucapkan kata-kata itu demi menghibur diri sendiri ataupun orang lain yang dikasihani.

Cinta dengan tujuan untuk memiliki tidaklah selalu menyenangkan.
Ada saat-saat dimana kita khawatir akan kehilangan orang yang kita cintai; ada saat-saat dimana kita takut orang yang kita cintai berubah menjadi orang lain; ada saatnya kita takut diri kita yang berubah sehingga tidak bisa lagi merasakan indahnya cinta; dan ada saatnya kita cemas & ragu-ragu akan pilihan yang telah kita buat untuk masa depan kita atas nama cinta, dan lain sebagainya. Demikianlah banyaknya syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kehidupan cinta yang bahagia.

Banyaknya syarat-syarat yang harus dipenuhi tersebut apakah seimbang dengan banyaknya kesempatan untuk memenuhi semua syarat-syarat itu? Apakah juga seimbang dengan kemungkinan atas pengurangan syarat-syarat itu dalam kehidupan nyata?

Jika iya, ya bagus. Jika tidak, ya tidak bagus.

Belakangan saya menyadari bahwa hidup manusia sangat rapuh. Saya menyadarinya mungkin karena saya terlalu lemah atau kondisi yang terjadi pada diri saya yang terlalu ekstrim. Saya tidak dapat menilai dan siapapun tidak dapat menilai karena masing-masing memiliki standar mereka sendiri.
Namun apapun itu, dari ‘kesadaran’ itu saya belajar bahwa tidak baik untuk menggantungkan kebahagiaan terlalu banyak pada orang lain.
Hendaknya sebelum mencoba membahagiakan orang lain,  kita terlebih dahulu belajar untuk membahagiakan diri sendiri.

Kebahagiaan disini artinya bukan kebahagiaan semu, melainkan kebahagiaan dalam kedamaian yang tidak akan lekang oleh tempat dan waktu. Kebahagiaan yang tidak diciptakan oleh pengaruh dari luar melainkan dari dalam diri sendiri yang terpancar keluar. Dengan arti lain bahwa Anda sudah memiliki lilin sendiri dibanding terus-menerus mengharapkan penerangan dari luar.

Kita adalah pengembara.

Disatu saat kita bertemu dengan orang-orang yang menderita yang perlu kita kasihi, disaat lain kita bertemu dengan orang-orang yang mengasihi kita. Terkadang kita juga bertemu dengan orang-orang yang membenci kita, dan ada pula masa dimana kita bertemu dengan orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kita.

Inti persoalannya adalah kita punya perasaan memiliki. Kita berpikir bahwa kebaikan yang kita berikan kepada orang lain adalah milik kita, kebaikan yang kita terima juga adalah milik orang lain. Semuanya adalah masalah tentang kepemilikan, yang terus-menerus membuat kita terombang-ambing antara perasaan bahagia dan tidak bahagia. Padahal tidak ada satu hal pun yang kita miliki didunia ini.

Kita hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki apa-apa.
Yang ada bersama kita saat ini: tubuh, harta dan lain sebagainya hanyalah titipan dan pada saatnya akan pergi dari kita. Kembalilah ke jati diri Anda yang sebenarnya, bahwa Anda adalah pengembara dan Anda tidak memiliki apa-apa. Pergi kemanapun dengan tanpa membawa beban di pundak Anda. Dengan demikian, maka Anda akan selalu bahagia.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Share
affiliate_link

Categories