Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Satu Hal Yang Tidak Bisa Dilakukan Seorang Pemenang adalah [Mengalah]

Suatu hari seorang pendekar terkenal mengunjungi seorang pendekar tua yang digosipkan orang-orang dunia persilatan sebagai ahli bela diri terhebat yang pernah ada.
Tujuan dari pendekar itu tidak lain adalah untuk menantang si tua untuk membuktikan siapa pendekar terkuat pada masa itu.

Namun pendekar tua itu menolak tantangan pendekar muda tersebut dengan alasan bahwa dia sudah tua dan dengan kondisinya sekarang tidak mungkin bisa mengalahkan pendekar muda tersebut.
Singkatnya, dia mengaku kalah.

Pendekar muda tersebut tentu tidak senang dengan penolakan itu karena dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dialah pendekar tak terkalahkan di kolong langit ini.
Dia terus mencaci maki pendekar tua tersebut dengan harapan supaya pendekar tua itu menjadi marah dan menerima tantangannya. Namun apapun yang dia katakan sama sekali tidak membuahkan hasil. Kakek tua itu tidak bergeming.

Lalu dia pun mengancam pak tua itu. “hei.. jika kamu tidak mau bertarung maka sekarang juga aku akan membunuhmu. Satu-satunya pilihan bagimu adalah melawan untuk mempertahankan nyawamu”

Lalu kakek itu berkata “sebagai seorang pendekar muda berkemampuan tinggi, kemampuanmu tentu tidak perlu diragukan lagi. kamu bisa menaklukkan banyak orang kecuali satu.”

“Satu??? Siapa dia??” kata si pemuda keheranan.

“Dia adalah dirimu sendiri.” Jawab si kakek.
“Dulu aku juga seperti kamu, melanglang buana mencari orang berkemampuan tinggi. Satu persatu mereka kukalahkan. Dan disaat aku tidak lagi bisa menemukan lawan yang sepadan, aku merasa kesepian, aku tidak bisa menahan gejolak dalam diri yang terus menerus menginginkan pertempuran tanpa akhir. Dari sanalah aku menyadari bahwa satu-satunya musuh yang tidak bisa kukalahkan adalah diriku sendiri.
Percayalah anak muda, meskipun hari ini kamu mengalahkan aku, kamu tetap tidak akan merasakan kebahagiaan yang berkelanjutan. Seorang ‘pemenang’ bisa melakukan banyak hal, kecuali mengalah. Namun pemenang yang sesungguhnya bisa melakukan banyak hal, termasuk mengalah, karena dengan demikian dia bisa yakin bahwa dia tidak dikalahkan oleh egonya sendiri.
Kata-kataku sudah selesai. Sekarang kamu boleh membunuh saya.”

Mendengar kata-kata kakek tua itu, pendekar muda itu hanya bisa terdiam. Ia kemudian menyarungkan pedangnya dan pergi tanpa berkata apa-apa.

Share

Cinta dan Kebahagiaan

Matahari bersinar terik, burung-burung malas terbang.
Beginilah keadaan hari ini. :)

Beberapa saat lalu saya melihat postingan dari salah satu teman saya. Dia mengatakan bahwa cinta adalah menyakitkan.

Berbicara mengenai masalah cinta memang tidak habis-habisnya.
Memang pada dasarnya cinta akan terasa sangat menyakitkan jika cinta yang diberikan tidak mendapat balasan dari pihak yang satunya lagi. Cinta bertepuk sebelah tangan, tidak ada suaranya, yang ada hanyalah kesedihan.

Tapi ada seorang teman yang lain mengatakan bahwa cinta tidak harus memiliki.  Benarkah?

Bisa iya bisa tidak.
Mungkin saja dia mengatakan hal itu hanya untuk menghibur dirinya sendiri yang telah kehilangan atau bisa juga karena dia memang tidak diikat oleh perasaan semacam itu.
Alangkah baiknya jika kemungkinan kedua adalah kenyataannya namun kenyataannya juga lebih banyak yang mengucapkan kata-kata itu demi menghibur diri sendiri ataupun orang lain yang dikasihani.

Cinta dengan tujuan untuk memiliki tidaklah selalu menyenangkan.
Ada saat-saat dimana kita khawatir akan kehilangan orang yang kita cintai; ada saat-saat dimana kita takut orang yang kita cintai berubah menjadi orang lain; ada saatnya kita takut diri kita yang berubah sehingga tidak bisa lagi merasakan indahnya cinta; dan ada saatnya kita cemas & ragu-ragu akan pilihan yang telah kita buat untuk masa depan kita atas nama cinta, dan lain sebagainya. Demikianlah banyaknya syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kehidupan cinta yang bahagia.

Banyaknya syarat-syarat yang harus dipenuhi tersebut apakah seimbang dengan banyaknya kesempatan untuk memenuhi semua syarat-syarat itu? Apakah juga seimbang dengan kemungkinan atas pengurangan syarat-syarat itu dalam kehidupan nyata?

Jika iya, ya bagus. Jika tidak, ya tidak bagus.

Belakangan saya menyadari bahwa hidup manusia sangat rapuh. Saya menyadarinya mungkin karena saya terlalu lemah atau kondisi yang terjadi pada diri saya yang terlalu ekstrim. Saya tidak dapat menilai dan siapapun tidak dapat menilai karena masing-masing memiliki standar mereka sendiri.
Namun apapun itu, dari ‘kesadaran’ itu saya belajar bahwa tidak baik untuk menggantungkan kebahagiaan terlalu banyak pada orang lain.
Hendaknya sebelum mencoba membahagiakan orang lain,  kita terlebih dahulu belajar untuk membahagiakan diri sendiri.

Kebahagiaan disini artinya bukan kebahagiaan semu, melainkan kebahagiaan dalam kedamaian yang tidak akan lekang oleh tempat dan waktu. Kebahagiaan yang tidak diciptakan oleh pengaruh dari luar melainkan dari dalam diri sendiri yang terpancar keluar. Dengan arti lain bahwa Anda sudah memiliki lilin sendiri dibanding terus-menerus mengharapkan penerangan dari luar.

Kita adalah pengembara.

Disatu saat kita bertemu dengan orang-orang yang menderita yang perlu kita kasihi, disaat lain kita bertemu dengan orang-orang yang mengasihi kita. Terkadang kita juga bertemu dengan orang-orang yang membenci kita, dan ada pula masa dimana kita bertemu dengan orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kita.

Inti persoalannya adalah kita punya perasaan memiliki. Kita berpikir bahwa kebaikan yang kita berikan kepada orang lain adalah milik kita, kebaikan yang kita terima juga adalah milik orang lain. Semuanya adalah masalah tentang kepemilikan, yang terus-menerus membuat kita terombang-ambing antara perasaan bahagia dan tidak bahagia. Padahal tidak ada satu hal pun yang kita miliki didunia ini.

Kita hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki apa-apa.
Yang ada bersama kita saat ini: tubuh, harta dan lain sebagainya hanyalah titipan dan pada saatnya akan pergi dari kita. Kembalilah ke jati diri Anda yang sebenarnya, bahwa Anda adalah pengembara dan Anda tidak memiliki apa-apa. Pergi kemanapun dengan tanpa membawa beban di pundak Anda. Dengan demikian, maka Anda akan selalu bahagia.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Share

Beginilah Manusia – Sifat Dasar Manusia

Mereka sibuk mendandani dirinya untuk kenyamanan mata orang lain, mereka memakai perhiasan mahal untuk menyilaukan mata orang lain, memakai baju seksi untuk menggoda orang lain sekaligus membuat iri pesaing-pesaingnya.
Pada umumnya manusia sangat lapar akan pengakuan dari orang lain. Mereka mengatakan bahwa itu tidak dapat dihindari karena mereka adalah makhluk sosial.

Sebagian besar manusia memburu harta dan kekayaan, memburu kenyamanan, memburu kehormatan, dan melupakan esensi dirinya yang sejati.
Sebagian manusia yang sudah berubah menjadi kaya kehilangan jati dirinya, dibutakan oleh nafsu keinginan dari dalam dirinya sendiri, membuat kesalahan tanpa menyadari bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan.

Meskipun semua hal di dunia fana ini adalah tidak permanen, namun manusia berkeras untuk mementingkan kekayaan, dan materi diatas segalanya. Meskipun mereka terkadang dihancurkan oleh kekayaannya sendiri, mereka tidak merasa keberatan. Meskipun mereka ditelan oleh nafsu tak berujung mereka juga tidak mengeluh. Mereka mengeluh hanya pada saat mereka sadar bahwa setelah mereka meninggal tidak ada yang bisa mereka bawa. Mereka mengeluh pada saat mereka sekarat bahkan harta yang jumlahnya hampir tak terbatas tidak dapat menyelamatkan mereka. Dan yang paling kasihan adalah mereka yang mengeluh menyadari kesalahan mereka disaat muda saat mereka sudah mendekati ajal. Kehancuran dan penyesalan datang pada saat terakhir adalah salah satu penderitaan paling hebat yang bisa mereka rasakan.

Dalam pergaulan, tidak sedikit manusia yang berusaha memaksakan pendapatnya kepada orang lain, tidak peduli apakah pendapat mereka salah atau benar. Mereka menginginkan orang lain hidup dengan cara mereka, padahal mereka tinggal di dunia yang bukan sepenuhnya milik mereka.
Mereka sering mengambil keputusan terburu-buru. Menilai situasi dengan cara pandang mereka sendiri, berkeras akan hal itu, dan memandang pendapat orang lain layaknya sampah.
Ada orang-orang tertentu yang bukan mencari kebenaran tapi mencari pembenaran adalah ciri dari orang masa sekarang.

Apapun yang terjadi hidup di dunia selalu dikacaukan oleh dunia. Jalan terbaik adalah ikut dalam kekacauan tanpa harus termakan oleh kekacauan itu.
Dari kekacauan itu diharapkan muncul inspirasi untuk membentuk keteraturan dan keharmonisan dalam diri sendiri.

Untuk hidup dengan damai, bebas dari kekacauan, satu-satunya teman yang harus dijinakkan adalah diri sendiri.

Share

Siapa yang paling benar?

Seringkali kita meributkan benar dan salah. Siapa yang benar dan siapa yang salah?

Sebuah kisah. Di sebuah sekolah ada 2 orang murid yang sedang bertengkar. Yang satu karena ujiannya mendapat nilai 100 tidak segan segan memamerkan nilai ujiannya kepada orang lain. Yang satu lagi ngomel-ngomel karena merasa orang itu terlalu sombong, padahal orang itu bukan yang paling pintar di kelas.

Melihat pemandangan seperti itu, John berkata kepada Michael : “Lihat tuh 2 orang itu yang satu suka pamer, yang satu iri. Dua duanya gak ada bagusnya tuh. Gimana menurut lu?”

“Menurut gua sih, si A haus popularitas, si B ngiler liatin orang sukses, si C merasa dirinya paling benar, dan si D kurang lebih sama seperti si C. haha…”

Mendengar jawaban Michael, John menunjukkan mimik bingung. “Apa maksudmu? Siapa C dan D?” tanyanya.

“Si C itu kamu, dan si D itu saya. hahahahaha”

##

Seringkali kita merasa paling benar diantara semuanya, namun terkadang kita sering kali juga melakukan banyak kesalahan.
Dalam cerita tersebut Michael jelas-jelas melihat dari raut muka John bahwa ia sedang ‘merendahkan’ teman-temannya yang sedang bertengkar.
Walaupun kedua teman itu jelas-jelas salah – menggunakan ego diri sendiri untuk merendahkan mereka jelas juga bukan hal yang baik.

Lalu pertanyaan terakhir, mengapa Michael mengumpamakan dirinya sebagai D yang sama jeleknya seperti C (John).

Jawabannya simple, karena Michael tidak ingin John merasa marah atau tersinggung, jadi dia menempatkan dirinya sendiri di posisi yang sama seperti John.

Lalu apa yang kita pelajari hari ini?

Masing-masing orang memetik pelajaran mereka sendiri-sendiri. ;)

Share

Renungan : Hargailah WAKTU

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN,
tanyakan pada murid yang gagal naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN,
tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU,
tanyakan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM,
tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT,
tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK,
tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK,
tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.

RENUNGANNYA …
“Hargailah setiap waktu yang anda miliki. Dan ingatlah waktu tidaklah menunggu siapa-siapa”
Diambil dari suatu tempat di dunia maya.

Share

Nuansa Hidup – Ketidakkekalan (26)

Untuk benar-benar mempraktekkan Dharma, yang terpenting adalah merenungi ketidakkekalan. Merenungi kepastian datangnya kematian akan mendorongmu untuk melakukan perbuatan baik.

Ketika berusia 14 tahun, saya kehilangan seorang teman bermain yang meninggal karena sakit. Pada saat itu, saya hampir tak percaya dan sulit menerima kenyataan ini. Perasaan kehilangan dan takut menyelimuti saya. Saya sempat berpikir kenapa setiap orang harus mati? Kalaupun harus mati, kenapa mati di usia muda? Kenapa harus dilahirkan untuk mati? Kenapa kelahiran disambut dengan tawa dan bahagia sementara kematian disambut dengan tangisan? Hahhh… Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri saya berkenaan dengan kematian teman saya. Inilah kilas balik yang akhirnya membuat saya berpikir tentang tujuan hidup. Dunia ini dalam satu menit telah terjadi begitu banyak kelahiran dan kematian. Kehidupan sungguh tidak pasti, namun kematian adalah pasti. Hidup bagaikan salju, panas matahari akan mencairkannya.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Saat tepat untuk peduli (25)

Buddha bersabda, “Ada lima macam dana yang tepat pada waktunya. Berdana kepada orang yang baru saja tiba, kepada orang yang akan bepergian, kepada orang sakit, pada saat sukar dapat makanan, dan hasil panen atau gaji pertama yang didanakan kepada orang bijakRead the rest of this entry »

Share

Nuansa Hidup – Bahagia dalam Pelayanan (24)

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tapi ukuran sejati adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.

Seorang dokter tetap melayani pasien saat ia mengetahui anaknya baru meninggal. Ia berkata, “Saya tidak bisa berbuat apa apa soal itu. Tapi saya bisa berbuat sesuatu untuk pasien yang sedang sakit”.

Orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang telah mencari dan menemukan jalan untuk melayani. Mereka mengerti bahwa tidak mungkin berbuat yang terbaik baginya tanpa memberikan yang terbaik bagi yang lain.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Memberi berarti juga menerima (23)

Buddha bersabda, “Seandainya semua makhluk mengerti seperti Aku (Tathagata) mengetahui manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati apa yang mereka miliki tanpa membaginya pada orang lain. Ia tidak memberikan noda kekikiran berkembang pada dirinya.
Jelas sekali bahwa seorang yang suka memberi pasti akan menerima buah dari kemurahan hatinya.
Buddha telah mengerti manfaat dari memberi, sehingga Belia menganjurkan kepada kita agar jangan ragu dalam memberi. Banyak diantara kita masih berpikir bahwa memberi berarti berkurang. Cara berpikir seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman kita terhadap hukum karma. Siapa yang menabur benih, dia yang akan memetik hasilnya.
Karenanya berikanlah dana pada mereka yang membutuhkan. Kebajikanmu akan memberikan kebahagiaan, tidak peduli apakah engkau memintanya atau tidak.

Seorang Boddhisatva bernama Sumedha, suatu kali di keheningan malam menyadari kehampaan dunia yang indah ini. Ia berkata, “Aku kehilangan dengan apa yang kusimpan, namun aku memperoleh dengan apa yang kuberikan. Memberi adalah menyebar benih yang akan membuahkan hasil.
Keesokan harinya, ia mendermakan semua kekayaannya bagi para miskin, sambil mengucapkan pernyataan perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Inilah salah satu praktek kesempurnaan kemurahan hati dari seorang boddhisatva yang tidak lagi melekat pada kekikiran dan mementingkan diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa tidaklah mungkin membantu orang lain tanpa membantu diri sendiri, atau merugikan orang lain tanpa merugikan diri sendiri. Memberi berarti juga akan menerima.

Suatu hari seorang guru zen mendatangi rumah seorang saudagar kaya yang terkenal dengan kekikirannya. Setibanya di rumah saudagar tersebut, sang guru memberi sebuah teka-teki (koan). “Bagaimana menurutmu jika tangan selalu terbuka?” tanya sang guru.
haha..Itu berarti tangan yang tidak berguna“, jawab saudagar tersebut.
Kalau tangan yang selalu tertutup?“, tanya guru lagi.
Itu juga tidak berguna“, jawabnya dengan mantap.
Bagus. Tangan yang selalu terbuka atau tertutup adalah tangan yang mati. Burung yang tidak dapat membuka dan menutup sayapnya, tidak akan pernah dapat terbang. Jika engkau mengerti dan menjalani hidup sesuai dengan pengertian tersebut, maka engkau akan menjadi orang makmur yang sebenarnya. Renungkan itu.“, kata sang guru sambil berlalu.
Setelah mendengar Dharma dari guru, saudagar tersebut mengerti bahwa kekikiran dan pemborosan adalah dua hal yang tidak berguna. Esok harinya ia membagikan beras kepada orang-orang yang tidak mampu. Sang guru setelah mengetahui hal ini berkata, “Ia sedang membuat jalan ke surga.

Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Hidup Tidak Adil ?

Life is Not Fair?
Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu.
Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat?
Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah lagi keseimbangan jiwanya terganggu. Masih untung jika dia benar-benar jadi gila (setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan kemalangan tersebut), tapi kenyataannya dia masih waras dengan luka berat di hatinya.
Inilah penderitaan.
Lantas dia berkata : “Hidup TIDAK ADIL !!!”
Life is unfair,… huh ? Read the rest of this entry »

Share
affiliate_link

Categories