<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; Inside My Mind</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/category/inside-my-mind/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 09:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Hidup Tidak Adil ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 10:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[adil]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kebencian]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[melepas]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Life is Not Fair? Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu. Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat? Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Life is Not Fair?<br />
Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu.<br />
Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat?<br />
Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah lagi keseimbangan jiwanya terganggu. Masih untung jika dia benar-benar jadi gila (setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan kemalangan tersebut), tapi kenyataannya dia masih waras dengan luka berat di hatinya.<br />
Inilah penderitaan.<br />
Lantas dia berkata : &#8220;Hidup TIDAK ADIL !!!&#8221;<br />
Life is unfair,&#8230; huh ?<span id="more-438"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja&#8230; jika hidup memang serba enak, tentunya dia tidak akan seberuntung ini bisa dilahirkan di dunia yang serba enak ini (dengan kata lain pejabat akhirat sudah keliru menaikkannya di pesawat menuju dunia yang salah) !</p>
<p style="text-align: justify;">Life is unfair?&#8230; yes !! Life is fair? &#8230; yes juga !!<br />
Jika semua hal di dunia ini berjalan dengan baik, maka sangatlah tidak adil buat orang-orang yang sedang mempersiapkan tiketnya ke neraka. Karena mereka jadi tidak punya tempat transit untuk mengisi bahan bakar pesawat mereka !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya adalah jika tidak hati-hati-hanya karena ketidaktahuan, ketidakpedulian dan kecerobohan, bisa-bisa Anda juga ikut terbuai naik pesawat kelas VIP &#8211; berlibur ke dunia paling hangat yang pernah ada, dan GRATIS tentunya! Sangat menggiurkan bukan????</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah seorang teman yang lain lagi bertanya &#8211; mengapa orang yang tidak bersalah menjadi korban &#8211; mengapa orang yang bersalah malah dipuji &#8211; puji?<br />
Ya&#8230; mana kutehek?<br />
Mungkin aja itu strategi dari &#8220;dunia bawah&#8221; supaya banyak orang bersedia menghabiskan &#8220;devisa&#8221; mereka &#8211; berlibur ke pulau hangat nun jauh disana. Siapa yang tahu??</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin beberapa orang lantas berpikir,&#8230; strategi black campaign &#8220;pulau hangat&#8221; tersebut sangat keji !<br />
Sejujurnya, kalo mau dikata itu keji, itu sih masih belum seberapa. Ada yang lebih keji lagi, yaitu diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba pikirkan bagaimana caranya kita meracuni diri sendiri dengan dendam, kebencian, iri, cemburu, dlsbg? Bukankah itu termasuk keji?<br />
Ada yang bilang bahwa itu pengaruh dari luar.<br />
Memang benar bahwa granat bisa meledak apabila dipicu, namun pertanyaannya mengapa granat bisa memiliki mekanisme yang membuat dirinya memiliki pemicu untuk menghancurkan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai sekarang pertanyaan itu masih belum terjawab dengan memuaskan, karena kepuasan itu sangat relatif terhadap orang yang mendengar jawaban itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika tidak ingin menderita &#8211; maka lepaskanlah !</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Statement ini pernah ditanggapi secara ngawur oleh seseorang. Dia mengatakan &#8220;jika tidak ingin menderita &#8211; maka pergilah mati !&#8221;<br />
Tentu itu adalah statement sembrono dari mulut asbun (asal bunyi).<br />
Kecuali dia pernah pergi bertamasya ke alam setelah kematian dan pulang dengan membawa bukti-bukti dan asal usul yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa kehidupan setelah kematian tidak ada penderitaan, maka kata-katanya yang tadi masih belum dapat dipertanggung jawabkan !</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari pernyataan &#8220;jika tidak dapat menderita maka lepaskanlah&#8221; adalah jika memang tidak dapat banyak berbuat, maka tidak perlu banyak berbuat.<br />
Teman saya itu, dulunya adalah orang yang miskin sehingga sepiring nasi putih dengan tempe pun terasa sangat berharga, terasa sangat enak.<br />
Sekarang setelah dia mengalami masalah keluarga, meskipun keadaan ekonominya sudah jauh lebih baik, dia bagaimanapun juga sudah tidak mampu lagi merasakan nikmatnya sepiring nasi tempe!</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntung dia masih punya sedikit cahaya dalam hatinya, sehingga usaha yang telah dirintisnya dengan susah payah selama beberapa tahun ini tidak dibiarkan terlantar begitu saja.<br />
Perlahan-lahan dia bisa bangkit dan menjadi orang yang lebih baik, mengingat kembali masa lalunya &#8211; belajar dari masa lalunya bahwa dia pernah mengalami hari-hari yang lebih berat dibanding problemnya yang sekarang &#8211; ia telah kembali ke semangat awalnya. Masa mudanya telah kembali !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Dia belajar bahwa sebanyak apapun ia kehilangan, ia tidak boleh dan tidak bisa kehilangan dirinya sendiri, sebab segala apa yang dimilikinya sekarang adalah hasil usaha dirinya sendiri, tidak perduli kehilangan berapa banyak selagi dia masih mempunyai modal &#8211; yakni dirinya sendiri, dia tidak perlu merasa takut.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkaca dari kasus itu, seorang temannya kemudian tidak menahan diri untuk mengutarakan pendapatnya &#8220;<em>memang benar terkadang proses itu lebih berharga dibanding hasil. orang yang terbuai akan hasil yang bagus akan semakin terperosok dan selamanya susah melepaskan diri darinya. mirip seperti kecanduan narkoba. hidup serba enak oi&#8230; naik kereta mewah oi&#8230; sampe lupa diri akhirnya masuk jurang oi&#8230; mati juga tidak membawa kereta mewahnya !!</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jika lengket, bagaimana lepaskan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini satu pertanyaan yang bikin kacau pikiran saya. Kok bisa lengket???<br />
Mendengar kata lengket, hal pertama yang saya pikirkan adalah permen karet !!!<br />
Tapi ternyata yang dia maksudkan adalah rasa sakit&#8230; dia tidak tahu bagaimana cara melepaskannya!<br />
Yah&#8230; terkadang semakin berusaha melepaskan malah semakin gak bisa dilepaskan.<br />
Lo, kok bisa???<br />
Mana kutehek !!!<br />
Memangnya benda apa yang bisa dilepaskan sesuka hatinya? Jika tulang Anda sakit, bagaimana caranya Anda melepaskan tulang tersebut dari daging Anda? Bah&#8230; konyol banget !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kita ambil contoh permen karet tadi. Dikunyah enak&#8230; trus sakit gigi, waktu ke dokter disuruh lepaskan giginya malah gak mau. Takut katanya! Ya udah kalo begitu lepaskan aja dokternya trus simpan giginya !!!</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda mengerti maksud moral dari cerita itu, ya bagus. Namun di dunia ini masih ada orang yang meskipun ngerti masih tetap nggak mau ngerti &#8211; mereka malah nanya &#8211; &#8220;Loh, kalo dokter bilang gak perlu cabut, cuma kasih obat tapi untuk sementara bakal tetap sakit gimana?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah&#8230; ikutin lo saran dokternya &#8230; ditahan dong! Kalo gak mau sakit, ya pergi mati aja !&#8221;<br />
Pertanyaan menyebalkan ini akhirnya dijawab dengan jawaban yang juga sama menyebalkan dan juga sekaligus sembrono !</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tahapan melepaskan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelepasan ada tahapnya. Semakin tinggi tahapnya semakin banyak penderitaan yang bisa dikurangi, namun semakin banyak juga yang harus &#8220;dikorbankan&#8221;. (Dikorbankan disini diberi tanda petik karena bagi orang-orang yang masih terikat kata pelepasan sama artinya dengan pengorbanan)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu sesi meditasi, melalui satu tahapan saya pernah mengalami bagaimana rasanya berjuang melawan sakit gigi. Konyol memang,&#8230; sakit gigi kok malah meditasi. Emangnya bisa fokus?<br />
Tentu saja nggak bisa !!<br />
Setiap kali saya memikirkan nafas, rasa sakit itu kembali datang dan datang lagi. Jengkel, akhirnya saya mengubah obyek meditasi dari nafas menjadi rasa sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya sakitnya semakin menjadi-jadi. Saya mengerang, menangis tapi sayangnya rasa sakit itu tidak berperasaan ! terus menerus menyiksa !<br />
Pada akhirnya karena cape, saya membiarkan rasa sakit itu menyerang otak saya, &#8220;memperhatikan&#8221; rasa sakit tersebut secara seksama dan tidak berusaha melawannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan-lahan &#8230; rasa sakit itu TETAP ADA ! Tapi tidak lagi membuat menderita, seolah olah rasa sakit itu tetap terasa namun terpisah dari tubuh. Seperti halnya sentuhan di kulit yang kita sadari namun tidak sampai membuat kita menderita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sayangnya pengalaman itu cuma sekejap. Beberapa hari kemudian saya kembali &#8220;lengket&#8221; dengan segala rasa manis dan pahitnya hal duniawi. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Memang pengalaman masing-masing orang bisa berbeda, namun setiap orang punya kemampuan untuk mencari jalan bagi dirinya sendiri &#8211; asal mau melihat dengan lebih jelas, maka setiap kesakitan &#8211; setiap penderitaan bisa dipegang dan dilepaskan, hanya singgah namun tidak sampai meninggalkan kotoran. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Percaya ? Atau tidak percaya?<br />
Itu hak Anda. Peduli amat !!! LoLs</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai jumpa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/hidup-tidak-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadapi Kekalahan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/menghadapi-kekalahan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/menghadapi-kekalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 06:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[kekalahan]]></category>
		<category><![CDATA[lawan]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/menghadapi-kekalahan/</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Anda siapakah lawan terberat Anda selama ini? Apakah orang tersebut adalah orang yang sudah mengalahkan Anda dalam sebuah pertandingan atau kompetisi yang Anda lakoni? Perlu Anda ketahui, lawan terberat Anda adalah lawan yang sama sekali tidak membenci Anda ketika ia mengalami kekalahan, sebaliknya ia malah akan merasa sangat senang dan sangat berterimakasih atas perlawanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut Anda siapakah lawan terberat Anda selama ini? Apakah orang tersebut adalah orang yang sudah mengalahkan Anda dalam sebuah pertandingan atau kompetisi yang Anda lakoni?</p>
<p>Perlu Anda ketahui, lawan terberat Anda adalah lawan yang sama sekali tidak membenci Anda ketika ia mengalami kekalahan, sebaliknya ia malah akan merasa sangat senang dan sangat berterimakasih atas perlawanan ketat yang telah Anda berikan kepadanya.<span id="more-436"></span></p>
<p>Menghadapi lawan seperti ini sangatlah sulit, sebab didalam pikirannya tidak ada istilah menang dan kalah, yang ada hanyalah excitement; kegembiraan tanpa batas yang malah membuat dirinya semakin lama semakin tangguh dan semakin sulit dikalahkan.</p>
<p>Menemui lawan seperti ini, tidak ada yang bisa Anda lakukan selain berpacu dalam frekwensi yang sama dengan dirinya.</p>
<p>Pada kenyataannya kualitas yang sebenarnya dari seseorang tidak bisa dilihat seluruhnya pada saat dia memenangkan sebuah pertandingan atau mencapai kesuksesannya, melainkan di saat ia mengalami kegagalan/kekalahan.</p>
<p>Orang yang kuat tidak akan putus asa pada saat ia mengalami kekalahan/kegagalan; ia juga tidak akan merasa marah ataupun kecewa, sebaliknya ia malah merasa bahwa hidup ini sangatlah menarik dan masih banyak kesempatan bagi dirinya untuk berbuat sesuatu.</p>
<blockquote><p>Orang yang mengejar cita-citanya dengan sepenuh hati dan penuh dengan sukacita tidak akan dikecewakan oleh tekadnya sendiri di masa yang akan datang.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/menghadapi-kekalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyata atau Tidak Nyata ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/nyata-atau-tidak-nyata/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/nyata-atau-tidak-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 03:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[ilusi]]></category>
		<category><![CDATA[kenyataan]]></category>
		<category><![CDATA[melepas]]></category>
		<category><![CDATA[menerima]]></category>
		<category><![CDATA[nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/nyata-atau-tidak-nyata/</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang pernah bertanya kepada saya, apa yang nyata dan apa yang tidak nyata? Saya tidak bisa memberikan jawabannya, karena saya merasa saya memang tidak perlu menemukan jawabannya. Jika saya tetap berkutat dengan pertanyaan itu, maka apa yang saya pikirkan waktu itu adalah tidak nyata. Namun jika saya berhenti bertanya dan menerima segala sesuatu apa adanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang pernah bertanya kepada saya, apa yang nyata dan apa yang tidak nyata?<br />
Saya tidak bisa memberikan jawabannya, karena saya merasa saya memang tidak perlu menemukan jawabannya.</p>
<p>Jika saya tetap berkutat dengan pertanyaan itu, maka apa yang saya pikirkan waktu itu adalah tidak nyata. Namun jika saya berhenti bertanya dan menerima segala sesuatu apa adanya maka itulah kenyataan.<span id="more-433"></span></p>
<p>Jawaban atas sebuah pertanyaan sangatlah tergantung dari kondisi sang penanya. Saya tahu bahwa teman saya sedang bimbang. Dia merasa bahwa sekarang ini dia sudah memiliki segalanya, tapi mengapa dia tetap tidak merasa bahagia ?<br />
Oleh karena itulah sebabnya mengapa dia mulai meragukan pemikirannya sendiri dan mulai bertanya tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata.</p>
<p>Hal ini sangatlah wajar.<br />
Jika saya berusaha untuk menjawab pertanyaannya dengan menggunakan logika saya, maka ia akan dapat dengan segera menemukan kelemahan atas jawabannya saya dan lama-kelamaan saya akan ikut terjebak ke dalam kebingungan yang dirasakannya saat ini. Maka dari itulah sebabnya mengapa saya tidak secara langsung menjawab pertanyaan dia.</p>
<p>Nyata atau tidak nyata hanyalah sebuah kata-kata rekaan manusia untuk menjelaskan sebuah kondisi sebagaimana yang mereka tangkap dengan indera mereka ataupun yang mereka rasakan dan pikirkan dalam pikiran mereka. Sedangkan cara kita mempersepsikan keadaan luar antara satu orang dengan orang lainnya tidaklah persis sama. Oleh karena itu cara paling baik untuk mengerti adalah dengan mengamati sendiri kenyataan yang ada dihadapan kita.<br />
Menerima dan melihat kenyataan apa adanya, maka sedikit demi sedikit kita akan bisa mengerti bahwa tidak ada yang “nyata” ataupun “tidak nyata” di dunia ini. Perlahan-lahan kita akan meninggalkan dualisme buta dan tidak terjebak dalam kata-kata yang kita ciptakan sendiri.</p>
<blockquote><p><em>Kita harus belajar untuk menerima dan melepas. Menerima segala sesuatu apa adanya dan melepas belenggu pikiran kita. Dengan demikianlah kita dapat mencari jalan pembebasan.</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/nyata-atau-tidak-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Menuju Pencerahan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 10:01:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan? Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan? Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet? Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan?</p>
<p align="justify">Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan?</p>
<div align="justify">
<div class="wlWriterEditableSmartContent" id="scid:8747F07C-CDE8-481f-B0DF-C6CFD074BF67:5162fc85-7c12-4174-9bfd-cb615c7bffcd" style="padding-right: 0px; display: inline; padding-left: 0px; float: none; padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-top: 0px"><a href="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2010/06/6778542_s8x6.jpg" title="" rel="thumbnail"><img border="0" src="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2010/06/6778542_s.png" width="150" height="150" /></a></div>
</p></div>
<p align="justify">Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet? <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu kita tanyakan diri kita sendiri… kenapa kita mencari tempat seperti itu?</p>
<p align="justify">Alasannya sederhana, karena kita mencari kebahagiaan yang sejati. Namun apakah kebahagiaan yang sejati bisa ditemukan di “suatu tempat”?</p>
<p align="justify">Apa yang kita cari bukanlah tempat, melainkan kondisi. Hanyalah bahasa yang terkadang memiliki ambiguitas sehingga sering kali kita terjebak dalam kata-kata.</p>
<p align="justify">Orang yang hidupnya senang, tentu akan sangat sulit untuk berpikir untuk mencari kebahagiaan sejati, karena apa yang dipikirnya sebagai kebahagiaan sejati adalah apa yang dirasakannya sekarang, yang tidak lain adalah kebahagiaan duniawi.</p>
<p align="justify">Jika itu adalah kebahagiaan duniawi, lantas bagaimana yang disebut dengan kebahagiaan yang sejati. Menjawab pertanyaan itu adalah sangat tidak mungkin untuk saya, karena saya sendiri belum mencapai pencerahan sempurna. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Namun meski begitu saya tahu bahwa kebahagiaan duniawi bukanlah kebahagiaan sejati. Mengapa?    <br />Karena kebahagiaan seperti itu ada kondisi, ada syaratnya. Katakanlah Anda hidup bisa makan enak, bisa punya ini punya itu, semua itu harus ada syaratnya, yaitu harus punya uang. Tanpa uang, mungkin Anda punya cara lain untuk mendapatkannya. Cara tersebut juga adalah sebuah syarat, sebuah kondisi yang harus dipenuhi. Sedangkan kondisi selalu berubah, sehingga dengan demikian kebahagiaan tersebut tidak abadi. Kebahagiaan itu mengandung cacat, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yg sifatnya ‘sejati’.</p>
<p align="justify">Dulu, saya bukanlah seseorang yang peduli dengan segala tetek bengek filosofi seperti ini. Namun setelah mengalami penderitaan dan kesedihan yang mendalam, barulah saya sedikit demi sedikit menyadari ketidakkekalan – kebahgiaan yan berkondisi, tidak memuaskan, namun sangat sulit untuk dilepaskan.</p>
<p align="justify">Oleh karena itu saya berpikir, terkadang karena satu pengalaman yang sangat pahit barulah kita bisa sedikit membuka mata kita terhadap kebenaran dengan pengeculian terhadap beberapa orang yang malah semakin gelap mata – tidak mau melepaskan perasaan yang sudah seharusnya dilepaskan, dan terus menerus meracuni diri sendiri dengan kebencian, dendam, keputusasaan dan penderitaan yang ikut bersama-sama dengan perasaan tersebut.</p>
<p align="justify">Pertama kalinya saya mengalami kesedihan yang sangat hebat, saya tidak menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Namun sebelum saya sempat berpikiran bodoh, satu pikiran berkelebat di otak saya – bahwa kematian menyakitkan – bahwa saya tidak yakin bahwa di masa yang akan datang saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang baik lagi. Saya merasa takut kehilangan kesempatan akan sesuatu yang baik yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang seandainya saya tetap bertahan.</p>
<p align="justify">Begitulah saya terus melewati hari demi hari dengan penuh kesedihan. Satu tahun lewat, dua tahun juga lewat namun rasa sakit itu masih belum hilang.    <br />Ternyata luka dihati lebih susah sembuh dibanding luka di badan. Semakin lama saya semakin merasa menderita karena semakin banyak kenangan indah yang saya ingat rasanya semakin sakit hati.</p>
<p align="justify">Dari sanalah saya mulai berpikir, semakin besar kebahagiaan yang saya rasakan semakin besar juga penderitaan yang saya terima saat kebahagiaan itu pergi. Kebahagiaan tidak lain adalah satu bagian dari koin bersisi dua, satunya adalah surga dan satunya adalah neraka. Kebahagiaan dan penderitaan yang saya alami juga bukanlah berasal dari luar, melainkan berasal dari dalam. Faktor faktor luar hanyalah sebuah pemicu atau mungkin lebih tepat disebut sebagai umpan dan saya nyata-nyata telah memakan umpan itu karena ketidaktahuan saya.</p>
<p align="justify">Lalu saya mulai belajar untuk menenangkan pikiran saya.    <br />Disanalah tanpa saya sadari, saya perlahan-lahan sudah mempraktekkan meditasi. Dan setelah saya benar benar mengenal istilah meditasi, saya membeli banyak buku-buku tentang meditasi dan mempraktekkannya.</p>
<p align="justify">Pada saat awal mempraktekkannya dengan serius, saya merasa meditasi itu sangat susah. Pikiran ini seperti monyet, tidak bisa dikendalikan. Sekali diam setelah beberapa saat kembali akan muncul banyak pikiran yang menghalangi proses meditasi saya.    <br />Perlu diketahui bahwa dalam meditasi, kita tidak belajar untuk mengosongkan pikiran, namun secara santai memfokuskan pikiran pada satu objek. Pada saat itu objek meditasi saya adalah pernafasan.</p>
<p align="justify">Pada saat-saat awal, saya tidak pernah bisa meditasi lewat dari 15 menit, sungguh sangat menyebalkan pikir saya waktu itu.</p>
<p align="justify">Saya merasa ada yang salah. Meditasi tentu bukan begini caranya. Saya kembali berpikir di masa yang lalu ketika saya belum begitu mengenal istilah meditasi, secara tidak sadar saya sudah melakukannya dengan sangat mudah. Mengapa setelah saya mengetahui lebih banyak teori tentang meditasi, semuanya malah semakin rumit?</p>
<p align="justify">Kemudian saya memutuskan untuk tidak memperdulikan semua teori-teori itu lagi. Saya duduk, kemudian memfokuskan pikiran pada pernafasan. Setiap kali muncul satu pikiran, saya menanggapinya dengan santai, saya menerima pikiran itu apa adanya, tidak berusaha untuk menolaknya. Terkadang saya malah bisa menemukan sesuatu yang lucu dari pikiran pikiran yang datang itu, tidak peduli apa jenis pikiran yang datang itu.</p>
<p align="justify">Setiap kali ada pikiran yang datang saya menerima pikiran itu dan kemudian perlahan-lahan memfokuskan pikiran kembali ke pernafasan. Hal tersebut terjadi berulang-ulang, namun saya biarkan saja. Padahal jika ditilik dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya seharusnya sudah merasa sangat jengkel. Tapi kali ini sama sekali tidak. Karena pada saat itu boleh dibilang saya sudah berada pada keadaan yang setengah serius dan setengah bermain-main. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Dari sanalah saya mulai sadar, mengapa latihan-latihan saya yang sebelumnya saya lakukan semakin lama semakin pendek jangka waktunya. Itu karena semakin lama semakin besar kejengkelan yang saya rasakan. Saya telah gagal mendeteksi perasaan itu dan inilah yang menjadi penghalang utama dalam proses meditasi saya. Semua teori-teori yang saya pelajari saya anggap sebagai sebuah beban, sebuah misi yang harus saya selesaikan – padahal meditasi adalah belajar untuk melepaskan beban, bukan sebaliknya mengangkat beban tersebut dipikiran saya. Saya telah melakukan sebuah kesalahan dan sekarang saya memperbaiki kesalahan tersebut.</p>
<p align="justify">Setelah saya berhasil mengatasi rasa jengkel tersebut dan menerima dengan lapang dada semua pemikiran yang muncul dalam pikiran saya, kemudian perlahan-lahan mengarahkannya untuk pergi – saya merasa seperti mendapatkan pengalaman baru.</p>
<p align="justify">Semakin lama frekwensi datangnya pikiran-pikiran itu semakin sedikit, dan pikiran saya makin lama makin halus. Tidak ada bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan seperti ini. Pada waktu itu saya merasa bahwa hati ini sangat damai, pikiran sangat bersih, tanpa hambatan dan segala sesuatunya terasa berjalan begitu lancar. Aliran darah dan nafas sangat teratur, dan pikiran menjadi jauh lebih terang dibanding sebelumnya. Setiap kejadian, setiap hal sekecil apapun dilihat dengan pandangan terbuka, persis seperti anak kecil yang baru lahir yang sedang mempelajari dunia luar. Bedanya sekarang saya lebih mempunyai pertimbangan dibanding anak kecil. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />    <br />Dalam keadaan seperti itu, bahkan kejadian jatuhnya sehelai daun bisa memberikan banyak pelajaran kepada saya.</p>
<p align="justify">Pengalaman seperti itu sama sekali bukan pencerahan. Bahkan boleh dibilang saya bahkan belum menempuh 1/8 jalan yang harus saya tempuh. Jadi saya terus berlatih, sampai pada tahap dimana kekuatan jahat itu muncul dari dalam, menggoyahkan batin dan menguasai pikiran saya sewaktu saya sedang tidur. Pada saat sebelumnya, ketika meditasi saya sudah mencapai tahap yang mencukupi, saya bisa mengontrol mimpi dalam tidur saya. Tapi kali ini saya gagal. Semua usaha saya hancur seketika, dan pikiran saya kembali ke keadaan semula.</p>
<p align="justify">Saya sedikit merasa kecewa. Namun saya tidak berhenti untuk berusaha. Saya akan mengulang dari awal. Saya masih ingat bagaimana perasaan luar biasa yang saya rasakan pada saat meditasi saya berhasil dan itu sudah menjadi satu pengalaman yang berharga buat saya. Saya juga sudah melihat sendiri bagaimana bentuk kekuatan jahat yang bersemayam di dalam diri setiap manusia dan itu akan menjadi pelajaran buat saya untuk kembali menghadapinya suatu saat nanti.</p>
<p align="justify">Semoga…   <br />Dan setelah saat itu tiba, saya akan kembali menulis. Mungkin untuk dibaca diri saya sendiri di kehidupan yang akan datang. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/06/jalan-menuju-pencerahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapakah Yang Menghambat Anda?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/04/siapakah-yang-menghambat-anda/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/04/siapakah-yang-menghambat-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 04:14:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang tentu punya keinginan untuk menjadi sukses, namun mengapa tidak semua orang dapat mencapai kesuksesan yang diinginkannya? Siapakah yang patut disalahkan? Setiap manusia memiliki potensinya sendiri. Tidak ada satu orang pun yang pantas kita remehkan, betapapun rendahnya derajat orang itu. Karena tidak meremehkan satu orang pun, setidaknya kita telah mengurangi satu peluang untuk kehilangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebagian orang tentu punya keinginan untuk menjadi sukses, namun mengapa tidak semua orang dapat mencapai kesuksesan yang diinginkannya? Siapakah yang patut disalahkan?</p>
<p>Setiap manusia memiliki potensinya sendiri. Tidak ada satu orang pun yang pantas kita remehkan, betapapun rendahnya derajat orang itu. Karena tidak meremehkan satu orang pun, setidaknya kita telah mengurangi satu peluang untuk kehilangan kesempatan ataupun mengalami kekalahan telak dan menerima rasa malu.</p>
<p>Jika kita perhatikan dalam perlombaan balap mobil, kenapa ada orang yang tetap tidak bisa juara meskipun mobil yang dinaikinya adalah mobil yang terbaik?<br />
Tidak lain karena si pengemudi memiliki banyak hambatan, sehingga membuatnya tidak mampu memanfaatkan potensi mobil yang dikendarainya secara maksimal.</p>
<p>Demikian juga sama dengan manusia yang juga memiliki faktor penghambatnya sendiri. Yang paling utama dan yang paling perlu diperhatikan adalah penghambat yang datangnya dari dalam diri sendiri.</p>
<p>Alkisah, ada seorang pedagang yang kerjanya sangat hati-hati. Ia tidak mempercayai siapapun. Segala hal dilakukan dengan sangat teliti dan penuh perencanaan. Setiap transaksi dan persetujuan kerjasama bisnis dilakukan dengan prosedur yang ketat dan berbelit-belit. Sistem pengeluaran keuangan juga dikontrol sangat ketat, sehingga aktivitas bisnis di perusahaannya sangatlah lambat dan bertele-tele. Akibatnya perusahaannya menjadi sulit berkembang dan dia juga tidak terlalu disukai orang.</p>
<p>Di sisi lain, ada seorang pengusaha yang sangat royal dan tidak hati-hati dalam melakukan banyak hal. Semua hal dilakukan dengan praktis, meneken perjanjian tanpa melihat terlebih dahulu butir-butir kesepakatan, aliran keuangan juga sangat lancar, baik ke tangan yang benar maupun ke tangan para koruptor. Pada akhirnya perusahaannya cepat bangkrut dan merosot. Meskipun dia sangat baik hati, namun kebaikannya telah dimanfaatkan oleh orang lain dengan sangat baik pula.</p>
<p>2 contoh tadi adalah 2 ekstrim yang sangat tidak baik. Kita juga sebaiknya tidak jatuh kedalam ekstrim-ekstrim seperti itu. Kita harus belajar untuk memelihara keseimbangan. Hal ini juga telah ditekankan oleh para pemikir terkenal sejak dulu.</p>
<p>Manusia juga mempunyai hambatan-hambatan dalam dirinya. Rasa takut, rasa khawatir, cemas adalah bentuk bentuk dari hambatan tersebut.<br />
Hal tersebut adalah sangat wajar, karena kita memiliki sistem self-defense untuk mempertahankan diri sendiri. Fungsinya kurang lebih seperti rem mobil. Ketika kita sadar bahwa kita sedang berlari dengan kecepatan yang di luar batas, kita lantas menginjak rem agar tidak mencelakai pengemudi dan penumpang yang ada di dalam mobil.</p>
<p>Seperti halnya seorang driver yang handal, kita juga perlu mempunyai keahlian yang baik dalam mengendarai mobil. Kita harus tahu kapan kita harus mengerem dan kapan kita harus tancap gas, kapan harus berbelok dan kapan harus mengganti persneling.<br />
Singkat kata &#8211; harus pandai dalam mengambil keputusan; kapan kita harus mengambil kesempatan dan kapan kita harus melepaskan kesempatan, kapan harus berhati-hati dan kapan harus mengambil resiko.</p>
<p>Ada pandangan yang mengatakan bahwa orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang pandai mengambil keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi hidupnya.<br />
Tidak salah, orang-orang tersebut tentunya adalah orang-orang yang sangat berbakat. Namun bakat itu tidak serta merta adalah bawaan dari lahir.</p>
<p>Bakat juga bisa diasah, asalkan berani untuk menerima kekalahan, berani untuk mengakui kesalahan, dan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kesalahan kesalahan tersebut.</p>
<p>Seperti halnya sebuah pesawat terbang yang terbang zig-zag untuk mencapai tujuannya, demikianlah manusia tidak mungkin bisa selalu luput dari kesalahan. Kesalahan adalah sangat manusiawi. Selebihnya tergantung pada diri sendiri apakah mau belajar dari kesalahan tersebut atau sebaliknya malah memperburuk keadaan akibat dari kesalahan tersebut.</p>
<p>Ada beberapa nasehat yang mungkin bisa berguna bagi kita semua.</p>
<p>Pertama, jangan meremehkan satu orang pun, karena sekalipun dari seorang yang menurut anggapan umum jauh lebih rendah dari posisi kita sekarang, kita tetap dapat menarik pelajaran yang sangat berharga. Tidak perduli apakah orang tersebut dari golongan apa, kita harus bisa memetik pelajaran yang baik; bahkan tanpa kita harus berguru terhadap orang tersebut.<br />
Meskipun orang tersebut adalah seorang kriminal misalnya, kita bisa belajar dari kasus mereka &#8211; apa yang menyebabkan mereka melakukan tindakan tersebut, dimana letak kesalahan dalam cara berpikir mereka, apa yang menjadi motivasi mereka, dan bagaimana sifat mereka menentukan seberapa besar kemungkinan mereka bisa bertobat atau semakin jatuh ke jurang yang dalam.<br />
Ada juga kasus seorang Ayah yang terang-terangan mengakui bahwa ia belajar banyak dari anak-anaknya yang masih kecil kecil, bagaimana kepolosan mereka dan bagaimana spontanitas yang mereka tunjukkan dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang sulit dijawab oleh seorang dewasa sekalipun.</p>
<p>Kedua, jangan cepat emosi. Jika kita tidak ingin melakukan sesuatu yang diperintahkan kepada kita, cukup bilang tidak. Jangan beri bumbu omelan ataupun ejekan dalam penolakan tersebut.<br />
Memang terkadang kita bisa dibuat dongkol, marah, tak berdaya karena tidak mempunyai pilihan selain melakukan hal yang tidak kita kehendaki. Namun meski demikian, cobalah untuk menjaga emosi, karena kemarahan mungkin tidak bisa selalu menyelesaikan persoalan, kecuali sebaliknya.<br />
Disinilah seharusnya kita mempelajari seni melepaskan.<br />
Pastinya tidak akan mudah dan mungkin akan banyak menyiksa Anda. Namun jika Anda benar benar teguh dan benar benar membuka wawasan dan sudut pandang Anda, Anda akan tahu jelas apa manfaatnya.</p>
<p>Ketiga adalah belajar untuk tidak terlalu dimakan oleh bayangan kesalahan di masa lalu ataupun dihantui kecemasan di masa yang akan datang.<br />
Dulu ada seorang pemuda yang hampir bunuh diri karena patah hati. Namun saat itu temannya datang pada saat yang tepat menolongnya dan memberinya banyak nasehat mengenai melepaskan. Dia juga diajari meditasi untuk menghilangkan kegalauan dalam hatinya. Pada akhirnya ia merasa sangat cocok, ia mulai bisa melepaskan diri dari siksaan akibat pengalaman pahit tersebut. Namun sampai di tengah jalan ia berhenti berlatih. Mengapa?<br />
Setelah ditelusuri, ternyata meskipun ia sudah mampu melepaskan pengalaman pahit di masa lalu, ia masih belum mampu melepaskan kecemasan atas kondisi di masa yang akan datang.<br />
Ia adalah orang yang memiliki ambisi untuk menjadi orang sukses, dan oleh karena itu ia khawatir latihan meditasi ini akan membuatnya melepaskan segala-galanya termasuk cita-citanya itu.<br />
Bagaimana jika di masa yang akan datang nanti ia tiba-tiba melepaskan cita-citanya dan beralih menjadi seorang pertapa? <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Sebenarnya jika ditilik dengan lebih seksama, rasa takut yang muncul itu sangat tidak beralasan. Pertama, siapa yang bisa menjamin bahwa masa depannya akan seperti apa yang dia pikirkan?<br />
Kedua, seandainya hal tersebut memang benar-benar terjadi, itu adalah atas keinginannya sendiri, bukan atas paksaan siapapun&#8230; jadi untuk apa dia perlu merasa khawatir? Apakah dirinya sendiri di masa sekarang ini ingin menentang dirinya sendiri yang ada di masa yang akan datang? <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Keempat adalah pantang menyerah. Jangan biarkan pujian dari orang lain terus berbunyi di pikiran kita lebih dari 1 menit, juga jangan goyah karena kekalahan memalukan ataupun ejekan dan hinaan dari orang lain. Kita tentunya menginginkan satu alasan mengapa harus begitu.<br />
Itu karena pujian adalah candu dan ejekan, hinaan adalah racun. Jangan mau diperbudak oleh kedua macam penilaian seperti itu. Penilaian adalah berasal dari orang lain namun yang paling penting adalah penilaian kita terhadap diri kita sendiri. Jujur pada diri sendiri dan juga jangan terlalu memuji diri sendiri setinggi langit. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kelima adalah demi kebahagiaan diri Anda sendiri. Hilangkan sifat egois, dan sebarkan cinta kasih terhadap sesama. Jangan diracuni oleh kebencian dan sifat iri, karena perasaan tersebut tentunya sangat tidak menyenangkan, maka dari itu untuk apa dipelihara?<br />
Belajarlah untuk menumbuhkan kebahagiaan itu dari dalam diri sendiri, bukan hanya semata-mata mengandalkan kesenangan dari luar. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">o00oo~ Sekian ~oo00o</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Apa yang harus pergi biarlah pergi.<br />
Apa yang harus datang biarlah datang.<br />
Apa yang harus dikhawatirkan biarkanlah menjadi semacam pikiran belaka.<br />
Apa yang harus disedihkan biarkanlah larut dalam samudera yang luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan datang dan pergi.<br />
Saat kebahagiaan pergi yang ditinggalkannya hanyalah kesedihan.<br />
Yah&#8230; kebahagiaan memang tidak punya pilihan lain karena sewaktu ia akan pergi, aku memaksa&#8230; dan sebagai ganti dititipkanlah adiknya yang bernama kesedihan &#8211; untuk menemaniku.<br />
Benar benar teman yang tidak diharapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun memangnya apa yang benar-benar bisa diharapkan?<br />
Jika kebahagiaan datangnya tidak pasti, begitupun juga dengan kesedihan.<br />
Lalu untuk apa aku ditemani terlalu lama oleh teman yang tidak diinginkan ini.<br />
Maka setelah lewat 1 bulan kuizinkan dia untuk pergi, sesekali dia boleh berkunjung lagi dengan kakaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan dan kesedihan datang dan pergi.<br />
Meskipun tidak berbicara banyak tapi telah memberikan satu pelajaran penting kepadaku.<br />
Bisa memegang juga bisa melepas.<br />
Tidak ada tempat tinggal permanen dalam hidup ini.<br />
Hanya berpindah pindah dari satu penginapan ke penginapan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tempat dimana aku hidup adalah sebuah labirin besar.<br />
Setiap kali aku menemukan satu jalan keluar, sebenarnya aku hanya tersesat dalam labirin yang jauh lebih besar.<br />
Mungkin karena aku memaksakan untuk hidup pada satu tempat, selama itu juga aku akan tetap berada disana, kemanapun kaki ini melangkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari nanti akan kutemukan satu orang pembawa lentera, yang mampu menerangi sekat-sekat dalam labirin, yang akan membawaku menuju tempat perhentian terakhir.<br />
Aku menunggu datangnya hari itu, detik demi detik, menit demi menit&#8230; terus menunggu.</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/04/siapakah-yang-menghambat-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepercayaan Diri</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/04/kepercayaan-diri/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/04/kepercayaan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 02:26:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu teman saya kemarin menelepon saya. Kami memang sudah lama tidak berbincang. Tanpa harus ditanya, ia menceritakan kabarnya sekarang. LoLs Ternyata dia mendapatkan kesempatan untuk interview pekerjaan disebuah perusahaan EO yang cukup ternama. Kesempatan tersebut dia manfaatkan untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih tinggi dibanding pekerjaannya yang sebelumnya. Dia bercerita bahwa sebelum interview, dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Salah satu teman saya kemarin menelepon saya. Kami memang sudah lama tidak berbincang. Tanpa harus ditanya, ia menceritakan kabarnya sekarang. LoLs</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata dia mendapatkan kesempatan untuk interview pekerjaan disebuah perusahaan EO yang cukup ternama. Kesempatan tersebut dia manfaatkan untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih tinggi dibanding pekerjaannya yang sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia bercerita bahwa sebelum interview, dia merasa sangat PD (Percaya Diri), namun setelah interview dia punya banyak kekhawatiran. Tampaknya secara tidak sadar dia menjadi ragu akan kemampuan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang orang mengatakan bahwa ini disebabkan karena kita menilai terlalu rendah kemampuan diri kita sehingga kita menjadi tidak percaya diri. Namun menurut pendapat saya, yang terjadi bukan tepat seperti itu.<br />
Disatu sisi kita menilai bahwa kemampuan kita masih kurang, kita takut bahwa kita tidak akan berhasil. Mengapa rasa takut itu bisa muncul?<br />
Tidak lain karena kita telah mengangkt diri kita terlalu tinggi, sehingga kita takut untuk jatuh. Semakin tinggi tempat kita berada, semakin sakit saat kita jatuh. Bukankah begitu?</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian seperti ini adalah sangat wajar terjadi. Tidak semua orang mempunyai karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Terkadang kita butuh alasan yang kuat untuk maju, mereka menyebutnya sebagai motivasi. Lalu untuk kasus seperti ini, motivasi seperti apa yang dapat saya berikan?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menyarankan agar kita tidak terlalu menanggap bahwa diri kita berada di tempat yang tinggi, sehingga kita takut terjatuh. Bayangkanlah bahwa kita berada di tempat yang rendah. Dengan penuh kerendahan hati, kita berusaha untuk mengatasi segala tantangan itu. Dengan keberanian, kita tidak takut untuk gagal. Karena rasa takut akan kegagalan adalah kendala pertama yang harus kita hadapi saat kita akan maju.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita terlanjur dibentuk untuk merasa malu saat kita gagal. Kita malu terhadap orang-orang yang akan mengejek kegagalan kita. Kita takut akan pandangan sinis dari orang-orang yang suka meremehkan orang lain. Kita bahkan cepat merasa malu terhadap keluarga kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa artinya sebuah keluarga? Keluarga adalah tempat beristirahat dan tempat untuk me-refresh diri sendiri pada saat kita menemui banyak kesulitan dan kegagalan.<br />
Sedangkan mengenai pandangan orang lain, itu sama sekali tidak penting.<br />
Ini adalah hidup Anda, bukan hidup mereka. Apapun boleh mereka katakan mengenai diri Anda, mereka boleh meremehkan Anda, namun Anda tidak boleh meragukan keberanian diri Anda sendiri untuk mencoba. Anda melakukan semua ini adalah demi diri Anda sendiri, bukan demi orang-orang yang mencela dan mengejek Anda, oleh karena itu pandangan mereka terhadap Anda tidak seharusnya Anda simpan dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Satria sejati mempunyai 3 ciri utama :<br />
1. melangkah tanpa ada keraguan,<br />
2. mau mendengarkan kritikan dan mau memperbaiki diri lewat instropeksi,<br />
3. bermuka tebal, tidak terpengaruh dan tidak peduli dengan ejekan dan hinaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/04/kepercayaan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Moving Forward, Moving Backward, or Just Stand Still?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/12/moving-forward-moving-backward-or-just-stand-still/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/12/moving-forward-moving-backward-or-just-stand-still/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 08:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[happiness]]></category>
		<category><![CDATA[money]]></category>
		<category><![CDATA[wish]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2009/12/moving-forward-moving-backward-or-just-stand-still/</guid>
		<description><![CDATA[Its near end of year right now. Usually, every end of year we will try to review what we have achieved in this year. Did we make any progress this year, or just suffering a set back or no progress at all? For me this year somehow better than previous one. But strangely, I feel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Its near end of year right now.    <br />Usually, every end of year we will try to review what we have achieved in this year. Did we make any progress this year, or just suffering a set back or no progress at all?</p>
<p align="justify">For me this year somehow better than previous one. But strangely, I feel the same. Nothing improve too much this year. Im still lonely, searching for something that I dont really want etc etc I realize that something which is not easy to attain is satisfaction.</p>
<p align="justify">As human, its natural that we want more and more. Every time we get something, were tend to search more and more. Its not uncommon when we do love more than one thing. Were not only seeking for love, were also seeking for money, fame, adventure, etc. When we try to stop, we often feel empty. Our mind is keep yelling Hoi do something Its boring in here !!!.</p>
<p align="justify">People often tell me if I have a lot of money, I will happy. If I have a goddess like beautiful wife, it will be a bliss.    <br />Is that true?</p>
<p align="justify">I have seen my neighbor committing suicide. He has beautiful wife, a lot of money and good fortune. But what happened was the good fortune come to turn into bad fortune.The lucky star turned into bad luck star which is become the reason that force him to commit suicide.</p>
<p align="justify">So whats happiness exactly?</p>
<p align="justify">If you have a lot of money, you will be haunted by fear. If you have someone that you love the most, youll keep missing that person when they are not around. Thats why Im starting to think that worldly happiness is just another mask of suffering.</p>
<p align="justify">So whether I make any progress or no at all its not important. The more important thing is whether Im fully satisfied with my life. Am I making too much complaint or not?    <br />I remember a quote from a story about wishing game The only happiness that I wished for is when I dont need any wish to be happy. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/12/moving-forward-moving-backward-or-just-stand-still/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Letter from my friend</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/11/letter-from-my-frien/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/11/letter-from-my-frien/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 10:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[This is a letter from my friend. So long not to see him&#8230; I think he is very well right now. How are you doing brother I hope you are fine there. Here, I think Im fine too but&#8230;. ehCant be helped, right human is always complaint about their life. Just like me. Hehe. I [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">This is a letter from my friend. So long not to see him&#8230; I think he is very well right now. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>How are you doing brother<br />
I hope you are fine there.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>Here, I think Im fine too but&#8230;. ehCant be helped, right human is always complaint about their life. Just like me. Hehe.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>I wonder always wonder why I live in this world for so long?<br />
Why do I live? It seems like Im complicating myself huh?? Haha<br />
Ok then lets think simple way.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>In my life, I always thought that I need to have this or that, I need to pursue my dream. Why? Of course because I love it ! Why I love it? Duh Im complicating myself once again. Haha</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>I dont know but I feel the harder I try to reach my dream, the more unpleasant feeling I got. It feel like I force myself into the cliff.<br />
I realize that the pleasure need to be paid with suffering and pressure from the environment where I live right now.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>Even though I get all I want, will I be satisfied with all of it? *sigh<br />
I feel that Im very stupid.<br />
Maybe Im not fully aware about my consciousness. Maybe Im still dreaming and never wake up even though I got bad dreams.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>No satisfaction at all.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>BrotherDid you ever loved someone? I think Im falling in love with more than one person.<br />
Please dont judge me as crazy but this is the truth. Im easily attracted with girl. I dont know why. If you wise youll say that Im good at looking at someones quality, but if you not- I think youll say that Im flirtatious. Haha..</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>You know what, Usually Im not easily bribed with money, but if its about women I think Im not firm enough to stand against them haha KicK My AsS !!! <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>Maybe this is my last obstacle. If I can get through this maybe Ill feel better. But who can guess.. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>Woman is not easy to handle theyre just like small little cup so fragile. You always want to handle it with care because you dont want to make it break. Thats why its not easy to get along with them. Somehow, youll feel that youre already lost your freedom.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>But this is life, and it cant be helped that I love them so much.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>Brother how about you? Youre always silent about your feeling. So long we have become friend but I never know much about your relationship with woman.<br />
Brother maybe I can give you some advice If you can let go of everything, you will not afraid of losing anything. So, just be calm and see this life the way it is. OK?</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>Brother see you later.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/11/letter-from-my-frien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dimanakah letak kebahagiaan, dimanakah penderitaan?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 10:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya. Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi&#8230; tetap saja akan menderita. Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan? Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="moon" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/2286939_blog.jpg" alt="" width="267" height="280" align="center" /><br />
Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya.<br />
Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi&#8230; tetap saja akan menderita.<br />
Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan?<br />
<span id="more-333"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak akan bertahan selamanya.<br />
Orang bilang mengapa harus berpikir pesimistis. Kebahagiaan saat ini adalah kebahagiaan saat ini, tidak perlu memikirkan masa depan yang tidak pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini betul, namun hal ini juga sekaligus menegaskan bahwa penderitaan akibat ketidakpastian masa depan juga tidak dapat dihindarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Benarkah seperti itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu penyebab penderitaan manusia adalah adanya pemikiran tentang kepemilikan. Harta ini adalah milikku, cinta ini adalah milikku, kebahagiaan ini adalah milikku.<br />
Karena adanya pemikiran seperti ini, maka ketika ketidakpastian merenggut semuanya itu&#8230;akibatnya timbullah penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita seakan tidak sadar bahwa bahkan tubuh kita juga bukanlah milik kita. Setiap detiknya ada sel sel yang mati dan lahir dalam tubuh kita. Apa yang dulunya dianggap sebagai kepunyaan, sekarang mati dan digantikan yang lain. Jika begitu, masih relevankah konsep kepemilikan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hidup ini setiap bentuk kehidupan akan terus berusaha mempertahankan eksistensinya. Tanpa adanya sifat seperti itu, tidak akan pernah ada makhluk yang bisa hidup, tidak ada regenerasi, tidak ada kehidupan.<br />
Demikian juga dengan kita. Adalah sudah kodratnya kita makan, dan minum untuk mempertahankan hidup kita. Juga sudah kodratnya kita mencintai sesama kita; namun terkadang, tanpa kita sadari kita telah melakukannya secara berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang pernah bertanya, apakah mungkin kita bisa mencintai orang lain tanpa terikat dengan orang tersebut?<br />
Orang tersebut menjawab tidak mungkin.<br />
Dia bertanya lantas menjawab sendiri. Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat.<br />
Dalam cerita zen, orang tersebut seperti cangkir yang telah penuh. Apapun yang diisikan kedalamnya akan tumpah keluar. Apapun hal yang kita sampaikan tidak akan didengar, kecuali jika hal tersebut sesuai dengan pemikirannya sendiri. Orang tersebut tidak pernah belajar apapun kecuali pandangan-pandangannya sendiri terhadap kehidupan.</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Dimanakah penderitaan?</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya salah satu alasan mengapa kita menderita adalah kita sendiri yang telah mengikatkan diri ke dalam penderitaan itu. Sebagai contoh, pada saat kita mencintai seseorang, kemudian orang tersebut meninggalkan kita &#8211; kita lantas berpikir bahwa mereka benar benar telah meninggalkan kita. Ini adalah sebuah pandangan yang mungkin tidak tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, apa definisi yang paling tepat untuk kata &#8216;ditinggalkan&#8217;?<br />
Apakah karena orang tersebut tidak ada lagi?<br />
Jika orang tersebut masih ada (masih hidup), namun tidak terlihat oleh kita entah karena sudah pergi ke tempat yang jauh atau karena alasan lain &#8211; apakah itu masih dapat disebut ditinggalkan?<br />
Jika demikian istilah ditinggalkan lebih mengacu kepada apakah orang tersebut masih bisa dilihat dengan mata kepala kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika begitu halnya&#8230;seumpamanya kita masih bisa melihatnya (tubuhnya), tapi orang tersebut sudah mati, apakah masih bisa disebut ditinggalkan?<br />
Anngaplah orang tersebut masih hidup namun tiba tiba dia berubah mempunyai perangai (tabiat/sifat) yang lain dari yang kita kenal&#8230; apakah itu juga bisa didefinisikan bahwa orang tersebut telah pergi?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya &#8216;orang&#8217; tersebut tidaklah benar-benar pergi.<br />
Semua yang telah dilakukan orang tersebut telah membuat banyak kesan di pikiran kita. Pada saat orang tersebut meninggalkan kita (meninggal atau telah pergi jauh) &#8211; kesan-kesan tentang dirinya di pikiran kita tetap ada, namun ia telah berhenti berkembang, atau dengan kata lain sudah berhenti bergerak.<br />
Dan karena sudah berhenti bergerak inilah, kita cenderung menganggapnya sebagai mati. Padahal sebenarnya, meskipun orang tersebut telah hilang secara fisik, namun ia tetap hidup dalam pikiran kita. Bahkan ketika orang tersebut masih hidup, yang kita kenali/akui sebenarnya bukanlah fisik dari orang yang kita cintai itu, melainkan kesan kesan yang muncul dalam pikiran kita. Fisik hanyalah salah satu input untuk menciptakan kesan dalam pikiran kita. Creatornya tetap adalah pikiran kita.<br />
Lagipula, jika memang kita mengakui orang tersebut hanya secara fisik, tentunya kita tidak akan merasa tidak nyaman jika orang yang kita cintai bersikap/bertindak tidak sesuai dengan harapan kita, karena yang kita cintai hanya fisiknya. Juga kita tidak akan keberatan jika fisiknya jelek karena yang kita cintai adalah fisiknya, bukan hasil penilaian (kesan) terhadap fisik tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya,&#8230; yang kita cintai bukanlah fisik orang tersebut, melainkan kesan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri mengenai orang tersebut. Penciptaan kesan tersebut bervariasi tergantung penilaian pikiran kita terhadap orang yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika semua hal itu tinggal dalam pikiran kita, mengapa kita harus khawatir bahwa ini telah pergi dan itu telah datang? Apa yang harus pergi biarkanlah pergi&#8230; apa yang harus datang biarkanlah datang, tidak perlu terikat kepada banyak hal, karena hal-hal itu tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, juga tidak pernah benar-benar mendatangi kita. Semuanya berasal dari pikiran dan dapat diselesaikan dalam pikiran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wrong Thoughts</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/11/wrong-thoughts/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/11/wrong-thoughts/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 03:47:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[What will you do if you get in trouble. what I do I do? I looked at others to learn how they solve their problem I found someone He is really uncommunicative He is always smiling&#8230; but never explain why is he smile. I try to make him happy&#8230; and he is smiling again. I [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>What will you do if you get in trouble.<br />
what I do I do?<br />
I looked at others to learn how they solve their problem<br />
I found someone<br />
He is really uncommunicative<br />
He is always smiling&#8230; but never explain why is he smile.<br />
I try to make him happy&#8230; and he is smiling again.<br />
I try to make him sad&#8230; but he keep smiling.<br />
I try to make him angry&#8230; but he give me some a glass of water and keep smiling.<br />
Whatever I do, he is not bothered at all.</p>
<p>At first, I thought he is a man without emotion, but it&#8217;s not possible. How can someone without emotion can have a very sweet smile?</p>
<p>I think&#8230; even if I take his life, he will never complaint !<br />
What the hell !!</p>
<p>Ow&#8230; who said hell?</p>
<p>I try to make him angry, but the one who gets angry is me.</p>
<p>Now&#8230; who is the loser.</p>
<p>Then he said : &#8220;No one win.. no one lose&#8221;</p>
<p>Now I know what he means by that. </p>
<p>Thank you very much. Arigatou. Terima Kasih. Xie xie ni. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/11/wrong-thoughts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
