Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Keep The Balance

Today is the birthday of Tony, but none of his friends remember it. So, he try to give a hint for them.

Tony : Hi,… how are you doing?
Jessica : I’m doing fine. No thanks for asking. (*wow.. that’s rude)
Tony : Errr… do you know what day is today?
Jessica : Yeah.. Monday, August 23, 2001 . Look at the calendar you moron !!
Tony : I i i see… (*want to cry but feel too ashamed)

That’s Tony. No one likes him. His life is so much miserable.

Now, let’s look at another case.

Jessica is the most popular girl in the school. Everyone knows her and everyone admire her a lot. December 20 is her birthday, and everyone greet her at that day.

But, can you imagine how much person greet her at that day?

John : Jessica, happy birthday. Wish All the best for you.
Jessica : Oh, thanks.
Steven : Jessica, happy birthday. Wish you all the besttt !
Jessica : Thanks. ;)

And it keeps going on. People keeps coming and coming to greet her..

After 100 greetings

Jessica : Ugh… it’s enough. Thanks.. :(

1000 greetings.

Jessica : Oh, guys… can’t you stop already??

2000 greetings.

Jessica : hoexx… (*puke)

and at last at 2500 greeting, she fainted because of the noise. LoL

That’s two extreme example of two different people with different condition. None of them ultimately happy with what happened to them.

That’s why in life we always need to seek balance. Without it, you won’t feel good. You need to know your own limit, and you must know when to stop.

It’s only that simple afterall. ;)

Share

How come My oWn Happiness is not in my own Hand ?

What’s happiness. Why am I too much depended on it?

Everyone are trying too seek happiness for their own. Some get it by hurting others, some by ‘selling’ some act so they can get more attention from other people.

My teacher always said that we’re social ‘creature’, meant that we can’t live by our own. We always need other people assistance in order to live ‘properly’.

That’s true. But I am always questioned myself, even if we meant to be social creature like what my teacher said, does it mean that we’re also need to let our happiness determined by other people.
Can’t we just possess our own happiness without too much depends on others? It seems impossible, isn’t it?

But it made me thinked about one thought. We’re too much depended on others because we’re expecting too much from others. By other words, we can say that we’re a lot more receiving than giving. We tend to give only for an expectation to get payback for our merit. That’s exactly why I often heard people said : “There’s no free lunch in this world”.. ?!

Of course there’s some exception in here or there, but that’s how we generally speak about what ordinary people thought about happiness.

Simply said, you can think about it this way : It’s imposibble for a person to treat you with kindly manner if you’re always rude to them.

However, living in this world you can’t expect too much from others. Sometimes your friend might expect you to care for them, sometimes they scolded you for being too much meddling into their business. You can’t have one way to treat everyone the same so they won’t disappointed at you.

And that’s how we feel depressed all the time. At one side, we must accomodate their expectation for us, and at the other side we’re also expecting too much from them.

It’s tiring, isn’t it?
So, why don’t we try to focus more on ourself. How we should feel contented with what we have right now, instead of beefing about everything else which is out of reach.

Woohh… I didn’t mean that we must seperate ourself form social intercourse, but what I meant is we should try to develop happiness inside ourself.

I think it’s enough.. ;)

Share

Worldly Passion – Love and Hate

Why do They Dislike You?

Maybe they dislike you because you didn’t meet their expectation
Maybe they dislike you because you’re unwilling to help them
Maybe they dislike you because you’re not agree with what they said
Maybe they dislike you because you’re such a boring person
Maybe they dislike you because of your social intercourse
Maybe they dislike you because you’re too much care about saving than to have fun with them
Maybe they dislike you only because you’re too ugly to become their friend
Maybe they dislike you only because they can’t stand with noises you made when you sleep Read the rest of this entry »

Share

Desire For Power – An Endless Thirst

Recently, I read a lot of japanese manga. In here, Indonesia we often called it ‘komik’ (comic).

From what I see, the general story is about the hunger of power, and the journey to attain more power so they can protect their friend, family and everyone they loved.

It seems natural that way, but I always wonder – in reality not every wish of us will be fulfilled. Although we may strive hard to fulfill our mission, there’s no guarantee that we’ll always get what we want.

Even though I’m agree that we can’t give up on what we’re striving hard for. So, I guess this is good for motivating us.

Human tend to compete each other.
They’re competing at school, their work place, even in a match in virtually Playstation game.
When someone win, then the other must lose. The winner got all the pride, and the loser tend to hate themselves and also the one who beat them up.
If I say, both side are loser. The winner can’t win against arrogance inside themselves and the loser also can’t withstand with negative emotion that arise because of the defeat. That’s absolutely very absurd, though.

The true winner is the one who can control himself from being swallowed by arrogance. People who’re unable to win against themselves will never get the true meaning of victory.

Share

Hidup Tidak Adil ?

Life is Not Fair?
Seorang teman pernah mengatakan bahwa hidup itu tidak adil. Tersiksa karena perbuatan saudaranya sendiri, ia tidak kuasa mengubah kemalangan yang dirasakannya saat itu.
Dia menendang, meninju, melempar benda-benda disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi apa yang dia dapat?
Tangan dan kakinya penuh dengan luka. Kamarnya berubah seperti kamar korban gempa bumi. Tambah lagi keseimbangan jiwanya terganggu. Masih untung jika dia benar-benar jadi gila (setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan kemalangan tersebut), tapi kenyataannya dia masih waras dengan luka berat di hatinya.
Inilah penderitaan.
Lantas dia berkata : “Hidup TIDAK ADIL !!!”
Life is unfair,… huh ? Read the rest of this entry »

Share

Menghadapi Kekalahan

Menurut Anda siapakah lawan terberat Anda selama ini? Apakah orang tersebut adalah orang yang sudah mengalahkan Anda dalam sebuah pertandingan atau kompetisi yang Anda lakoni?

Perlu Anda ketahui, lawan terberat Anda adalah lawan yang sama sekali tidak membenci Anda ketika ia mengalami kekalahan, sebaliknya ia malah akan merasa sangat senang dan sangat berterimakasih atas perlawanan ketat yang telah Anda berikan kepadanya. Read the rest of this entry »

Share

Nyata atau Tidak Nyata ?

Seseorang pernah bertanya kepada saya, apa yang nyata dan apa yang tidak nyata?
Saya tidak bisa memberikan jawabannya, karena saya merasa saya memang tidak perlu menemukan jawabannya.

Jika saya tetap berkutat dengan pertanyaan itu, maka apa yang saya pikirkan waktu itu adalah tidak nyata. Namun jika saya berhenti bertanya dan menerima segala sesuatu apa adanya maka itulah kenyataan. Read the rest of this entry »

Share

Jalan Menuju Pencerahan

Menggunakan judul seperti ini, sebenarnya saya sedikit ragu. Bagaimana mungkin seseorang yang belum mencapai pencerahan bisa menunjukkan jalan menuju pencerahan?

Tapi maksud hati saya memang bukan untuk menunjukkan jalan menuju pencerahan tapi sebaliknya – bagaimana mencari jalan menuju pencerahan?

Tempat seperti itu… Apakah benar bisa dicapai dengan pesawat jet? :)

Sebelum menjawab pertanyaan seperti itu, perlu kita tanyakan diri kita sendiri… kenapa kita mencari tempat seperti itu?

Alasannya sederhana, karena kita mencari kebahagiaan yang sejati. Namun apakah kebahagiaan yang sejati bisa ditemukan di “suatu tempat”?

Apa yang kita cari bukanlah tempat, melainkan kondisi. Hanyalah bahasa yang terkadang memiliki ambiguitas sehingga sering kali kita terjebak dalam kata-kata.

Orang yang hidupnya senang, tentu akan sangat sulit untuk berpikir untuk mencari kebahagiaan sejati, karena apa yang dipikirnya sebagai kebahagiaan sejati adalah apa yang dirasakannya sekarang, yang tidak lain adalah kebahagiaan duniawi.

Jika itu adalah kebahagiaan duniawi, lantas bagaimana yang disebut dengan kebahagiaan yang sejati. Menjawab pertanyaan itu adalah sangat tidak mungkin untuk saya, karena saya sendiri belum mencapai pencerahan sempurna. :)

Namun meski begitu saya tahu bahwa kebahagiaan duniawi bukanlah kebahagiaan sejati. Mengapa?
Karena kebahagiaan seperti itu ada kondisi, ada syaratnya. Katakanlah Anda hidup bisa makan enak, bisa punya ini punya itu, semua itu harus ada syaratnya, yaitu harus punya uang. Tanpa uang, mungkin Anda punya cara lain untuk mendapatkannya. Cara tersebut juga adalah sebuah syarat, sebuah kondisi yang harus dipenuhi. Sedangkan kondisi selalu berubah, sehingga dengan demikian kebahagiaan tersebut tidak abadi. Kebahagiaan itu mengandung cacat, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yg sifatnya ‘sejati’.

Dulu, saya bukanlah seseorang yang peduli dengan segala tetek bengek filosofi seperti ini. Namun setelah mengalami penderitaan dan kesedihan yang mendalam, barulah saya sedikit demi sedikit menyadari ketidakkekalan – kebahgiaan yan berkondisi, tidak memuaskan, namun sangat sulit untuk dilepaskan.

Oleh karena itu saya berpikir, terkadang karena satu pengalaman yang sangat pahit barulah kita bisa sedikit membuka mata kita terhadap kebenaran dengan pengeculian terhadap beberapa orang yang malah semakin gelap mata – tidak mau melepaskan perasaan yang sudah seharusnya dilepaskan, dan terus menerus meracuni diri sendiri dengan kebencian, dendam, keputusasaan dan penderitaan yang ikut bersama-sama dengan perasaan tersebut.

Pertama kalinya saya mengalami kesedihan yang sangat hebat, saya tidak menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Namun sebelum saya sempat berpikiran bodoh, satu pikiran berkelebat di otak saya – bahwa kematian menyakitkan – bahwa saya tidak yakin bahwa di masa yang akan datang saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang baik lagi. Saya merasa takut kehilangan kesempatan akan sesuatu yang baik yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang seandainya saya tetap bertahan.

Begitulah saya terus melewati hari demi hari dengan penuh kesedihan. Satu tahun lewat, dua tahun juga lewat namun rasa sakit itu masih belum hilang.
Ternyata luka dihati lebih susah sembuh dibanding luka di badan. Semakin lama saya semakin merasa menderita karena semakin banyak kenangan indah yang saya ingat rasanya semakin sakit hati.

Dari sanalah saya mulai berpikir, semakin besar kebahagiaan yang saya rasakan semakin besar juga penderitaan yang saya terima saat kebahagiaan itu pergi. Kebahagiaan tidak lain adalah satu bagian dari koin bersisi dua, satunya adalah surga dan satunya adalah neraka. Kebahagiaan dan penderitaan yang saya alami juga bukanlah berasal dari luar, melainkan berasal dari dalam. Faktor faktor luar hanyalah sebuah pemicu atau mungkin lebih tepat disebut sebagai umpan dan saya nyata-nyata telah memakan umpan itu karena ketidaktahuan saya.

Lalu saya mulai belajar untuk menenangkan pikiran saya.
Disanalah tanpa saya sadari, saya perlahan-lahan sudah mempraktekkan meditasi. Dan setelah saya benar benar mengenal istilah meditasi, saya membeli banyak buku-buku tentang meditasi dan mempraktekkannya.

Pada saat awal mempraktekkannya dengan serius, saya merasa meditasi itu sangat susah. Pikiran ini seperti monyet, tidak bisa dikendalikan. Sekali diam setelah beberapa saat kembali akan muncul banyak pikiran yang menghalangi proses meditasi saya.
Perlu diketahui bahwa dalam meditasi, kita tidak belajar untuk mengosongkan pikiran, namun secara santai memfokuskan pikiran pada satu objek. Pada saat itu objek meditasi saya adalah pernafasan.

Pada saat-saat awal, saya tidak pernah bisa meditasi lewat dari 15 menit, sungguh sangat menyebalkan pikir saya waktu itu.

Saya merasa ada yang salah. Meditasi tentu bukan begini caranya. Saya kembali berpikir di masa yang lalu ketika saya belum begitu mengenal istilah meditasi, secara tidak sadar saya sudah melakukannya dengan sangat mudah. Mengapa setelah saya mengetahui lebih banyak teori tentang meditasi, semuanya malah semakin rumit?

Kemudian saya memutuskan untuk tidak memperdulikan semua teori-teori itu lagi. Saya duduk, kemudian memfokuskan pikiran pada pernafasan. Setiap kali muncul satu pikiran, saya menanggapinya dengan santai, saya menerima pikiran itu apa adanya, tidak berusaha untuk menolaknya. Terkadang saya malah bisa menemukan sesuatu yang lucu dari pikiran pikiran yang datang itu, tidak peduli apa jenis pikiran yang datang itu.

Setiap kali ada pikiran yang datang saya menerima pikiran itu dan kemudian perlahan-lahan memfokuskan pikiran kembali ke pernafasan. Hal tersebut terjadi berulang-ulang, namun saya biarkan saja. Padahal jika ditilik dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya seharusnya sudah merasa sangat jengkel. Tapi kali ini sama sekali tidak. Karena pada saat itu boleh dibilang saya sudah berada pada keadaan yang setengah serius dan setengah bermain-main. :)

Dari sanalah saya mulai sadar, mengapa latihan-latihan saya yang sebelumnya saya lakukan semakin lama semakin pendek jangka waktunya. Itu karena semakin lama semakin besar kejengkelan yang saya rasakan. Saya telah gagal mendeteksi perasaan itu dan inilah yang menjadi penghalang utama dalam proses meditasi saya. Semua teori-teori yang saya pelajari saya anggap sebagai sebuah beban, sebuah misi yang harus saya selesaikan – padahal meditasi adalah belajar untuk melepaskan beban, bukan sebaliknya mengangkat beban tersebut dipikiran saya. Saya telah melakukan sebuah kesalahan dan sekarang saya memperbaiki kesalahan tersebut.

Setelah saya berhasil mengatasi rasa jengkel tersebut dan menerima dengan lapang dada semua pemikiran yang muncul dalam pikiran saya, kemudian perlahan-lahan mengarahkannya untuk pergi – saya merasa seperti mendapatkan pengalaman baru.

Semakin lama frekwensi datangnya pikiran-pikiran itu semakin sedikit, dan pikiran saya makin lama makin halus. Tidak ada bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan seperti ini. Pada waktu itu saya merasa bahwa hati ini sangat damai, pikiran sangat bersih, tanpa hambatan dan segala sesuatunya terasa berjalan begitu lancar. Aliran darah dan nafas sangat teratur, dan pikiran menjadi jauh lebih terang dibanding sebelumnya. Setiap kejadian, setiap hal sekecil apapun dilihat dengan pandangan terbuka, persis seperti anak kecil yang baru lahir yang sedang mempelajari dunia luar. Bedanya sekarang saya lebih mempunyai pertimbangan dibanding anak kecil. :)
Dalam keadaan seperti itu, bahkan kejadian jatuhnya sehelai daun bisa memberikan banyak pelajaran kepada saya.

Pengalaman seperti itu sama sekali bukan pencerahan. Bahkan boleh dibilang saya bahkan belum menempuh 1/8 jalan yang harus saya tempuh. Jadi saya terus berlatih, sampai pada tahap dimana kekuatan jahat itu muncul dari dalam, menggoyahkan batin dan menguasai pikiran saya sewaktu saya sedang tidur. Pada saat sebelumnya, ketika meditasi saya sudah mencapai tahap yang mencukupi, saya bisa mengontrol mimpi dalam tidur saya. Tapi kali ini saya gagal. Semua usaha saya hancur seketika, dan pikiran saya kembali ke keadaan semula.

Saya sedikit merasa kecewa. Namun saya tidak berhenti untuk berusaha. Saya akan mengulang dari awal. Saya masih ingat bagaimana perasaan luar biasa yang saya rasakan pada saat meditasi saya berhasil dan itu sudah menjadi satu pengalaman yang berharga buat saya. Saya juga sudah melihat sendiri bagaimana bentuk kekuatan jahat yang bersemayam di dalam diri setiap manusia dan itu akan menjadi pelajaran buat saya untuk kembali menghadapinya suatu saat nanti.

Semoga…
Dan setelah saat itu tiba, saya akan kembali menulis. Mungkin untuk dibaca diri saya sendiri di kehidupan yang akan datang. :)

Share

Siapakah Yang Menghambat Anda?

Sebagian orang tentu punya keinginan untuk menjadi sukses, namun mengapa tidak semua orang dapat mencapai kesuksesan yang diinginkannya? Siapakah yang patut disalahkan?

Setiap manusia memiliki potensinya sendiri. Tidak ada satu orang pun yang pantas kita remehkan, betapapun rendahnya derajat orang itu. Karena tidak meremehkan satu orang pun, setidaknya kita telah mengurangi satu peluang untuk kehilangan kesempatan ataupun mengalami kekalahan telak dan menerima rasa malu.

Jika kita perhatikan dalam perlombaan balap mobil, kenapa ada orang yang tetap tidak bisa juara meskipun mobil yang dinaikinya adalah mobil yang terbaik?
Tidak lain karena si pengemudi memiliki banyak hambatan, sehingga membuatnya tidak mampu memanfaatkan potensi mobil yang dikendarainya secara maksimal.

Demikian juga sama dengan manusia yang juga memiliki faktor penghambatnya sendiri. Yang paling utama dan yang paling perlu diperhatikan adalah penghambat yang datangnya dari dalam diri sendiri.

Alkisah, ada seorang pedagang yang kerjanya sangat hati-hati. Ia tidak mempercayai siapapun. Segala hal dilakukan dengan sangat teliti dan penuh perencanaan. Setiap transaksi dan persetujuan kerjasama bisnis dilakukan dengan prosedur yang ketat dan berbelit-belit. Sistem pengeluaran keuangan juga dikontrol sangat ketat, sehingga aktivitas bisnis di perusahaannya sangatlah lambat dan bertele-tele. Akibatnya perusahaannya menjadi sulit berkembang dan dia juga tidak terlalu disukai orang.

Di sisi lain, ada seorang pengusaha yang sangat royal dan tidak hati-hati dalam melakukan banyak hal. Semua hal dilakukan dengan praktis, meneken perjanjian tanpa melihat terlebih dahulu butir-butir kesepakatan, aliran keuangan juga sangat lancar, baik ke tangan yang benar maupun ke tangan para koruptor. Pada akhirnya perusahaannya cepat bangkrut dan merosot. Meskipun dia sangat baik hati, namun kebaikannya telah dimanfaatkan oleh orang lain dengan sangat baik pula.

2 contoh tadi adalah 2 ekstrim yang sangat tidak baik. Kita juga sebaiknya tidak jatuh kedalam ekstrim-ekstrim seperti itu. Kita harus belajar untuk memelihara keseimbangan. Hal ini juga telah ditekankan oleh para pemikir terkenal sejak dulu.

Manusia juga mempunyai hambatan-hambatan dalam dirinya. Rasa takut, rasa khawatir, cemas adalah bentuk bentuk dari hambatan tersebut.
Hal tersebut adalah sangat wajar, karena kita memiliki sistem self-defense untuk mempertahankan diri sendiri. Fungsinya kurang lebih seperti rem mobil. Ketika kita sadar bahwa kita sedang berlari dengan kecepatan yang di luar batas, kita lantas menginjak rem agar tidak mencelakai pengemudi dan penumpang yang ada di dalam mobil.

Seperti halnya seorang driver yang handal, kita juga perlu mempunyai keahlian yang baik dalam mengendarai mobil. Kita harus tahu kapan kita harus mengerem dan kapan kita harus tancap gas, kapan harus berbelok dan kapan harus mengganti persneling.
Singkat kata – harus pandai dalam mengambil keputusan; kapan kita harus mengambil kesempatan dan kapan kita harus melepaskan kesempatan, kapan harus berhati-hati dan kapan harus mengambil resiko.

Ada pandangan yang mengatakan bahwa orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang pandai mengambil keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi hidupnya.
Tidak salah, orang-orang tersebut tentunya adalah orang-orang yang sangat berbakat. Namun bakat itu tidak serta merta adalah bawaan dari lahir.

Bakat juga bisa diasah, asalkan berani untuk menerima kekalahan, berani untuk mengakui kesalahan, dan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kesalahan kesalahan tersebut.

Seperti halnya sebuah pesawat terbang yang terbang zig-zag untuk mencapai tujuannya, demikianlah manusia tidak mungkin bisa selalu luput dari kesalahan. Kesalahan adalah sangat manusiawi. Selebihnya tergantung pada diri sendiri apakah mau belajar dari kesalahan tersebut atau sebaliknya malah memperburuk keadaan akibat dari kesalahan tersebut.

Ada beberapa nasehat yang mungkin bisa berguna bagi kita semua.

Pertama, jangan meremehkan satu orang pun, karena sekalipun dari seorang yang menurut anggapan umum jauh lebih rendah dari posisi kita sekarang, kita tetap dapat menarik pelajaran yang sangat berharga. Tidak perduli apakah orang tersebut dari golongan apa, kita harus bisa memetik pelajaran yang baik; bahkan tanpa kita harus berguru terhadap orang tersebut.
Meskipun orang tersebut adalah seorang kriminal misalnya, kita bisa belajar dari kasus mereka – apa yang menyebabkan mereka melakukan tindakan tersebut, dimana letak kesalahan dalam cara berpikir mereka, apa yang menjadi motivasi mereka, dan bagaimana sifat mereka menentukan seberapa besar kemungkinan mereka bisa bertobat atau semakin jatuh ke jurang yang dalam.
Ada juga kasus seorang Ayah yang terang-terangan mengakui bahwa ia belajar banyak dari anak-anaknya yang masih kecil kecil, bagaimana kepolosan mereka dan bagaimana spontanitas yang mereka tunjukkan dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang sulit dijawab oleh seorang dewasa sekalipun.

Kedua, jangan cepat emosi. Jika kita tidak ingin melakukan sesuatu yang diperintahkan kepada kita, cukup bilang tidak. Jangan beri bumbu omelan ataupun ejekan dalam penolakan tersebut.
Memang terkadang kita bisa dibuat dongkol, marah, tak berdaya karena tidak mempunyai pilihan selain melakukan hal yang tidak kita kehendaki. Namun meski demikian, cobalah untuk menjaga emosi, karena kemarahan mungkin tidak bisa selalu menyelesaikan persoalan, kecuali sebaliknya.
Disinilah seharusnya kita mempelajari seni melepaskan.
Pastinya tidak akan mudah dan mungkin akan banyak menyiksa Anda. Namun jika Anda benar benar teguh dan benar benar membuka wawasan dan sudut pandang Anda, Anda akan tahu jelas apa manfaatnya.

Ketiga adalah belajar untuk tidak terlalu dimakan oleh bayangan kesalahan di masa lalu ataupun dihantui kecemasan di masa yang akan datang.
Dulu ada seorang pemuda yang hampir bunuh diri karena patah hati. Namun saat itu temannya datang pada saat yang tepat menolongnya dan memberinya banyak nasehat mengenai melepaskan. Dia juga diajari meditasi untuk menghilangkan kegalauan dalam hatinya. Pada akhirnya ia merasa sangat cocok, ia mulai bisa melepaskan diri dari siksaan akibat pengalaman pahit tersebut. Namun sampai di tengah jalan ia berhenti berlatih. Mengapa?
Setelah ditelusuri, ternyata meskipun ia sudah mampu melepaskan pengalaman pahit di masa lalu, ia masih belum mampu melepaskan kecemasan atas kondisi di masa yang akan datang.
Ia adalah orang yang memiliki ambisi untuk menjadi orang sukses, dan oleh karena itu ia khawatir latihan meditasi ini akan membuatnya melepaskan segala-galanya termasuk cita-citanya itu.
Bagaimana jika di masa yang akan datang nanti ia tiba-tiba melepaskan cita-citanya dan beralih menjadi seorang pertapa? :)
Sebenarnya jika ditilik dengan lebih seksama, rasa takut yang muncul itu sangat tidak beralasan. Pertama, siapa yang bisa menjamin bahwa masa depannya akan seperti apa yang dia pikirkan?
Kedua, seandainya hal tersebut memang benar-benar terjadi, itu adalah atas keinginannya sendiri, bukan atas paksaan siapapun… jadi untuk apa dia perlu merasa khawatir? Apakah dirinya sendiri di masa sekarang ini ingin menentang dirinya sendiri yang ada di masa yang akan datang? :)

Keempat adalah pantang menyerah. Jangan biarkan pujian dari orang lain terus berbunyi di pikiran kita lebih dari 1 menit, juga jangan goyah karena kekalahan memalukan ataupun ejekan dan hinaan dari orang lain. Kita tentunya menginginkan satu alasan mengapa harus begitu.
Itu karena pujian adalah candu dan ejekan, hinaan adalah racun. Jangan mau diperbudak oleh kedua macam penilaian seperti itu. Penilaian adalah berasal dari orang lain namun yang paling penting adalah penilaian kita terhadap diri kita sendiri. Jujur pada diri sendiri dan juga jangan terlalu memuji diri sendiri setinggi langit. :D

Kelima adalah demi kebahagiaan diri Anda sendiri. Hilangkan sifat egois, dan sebarkan cinta kasih terhadap sesama. Jangan diracuni oleh kebencian dan sifat iri, karena perasaan tersebut tentunya sangat tidak menyenangkan, maka dari itu untuk apa dipelihara?
Belajarlah untuk menumbuhkan kebahagiaan itu dari dalam diri sendiri, bukan hanya semata-mata mengandalkan kesenangan dari luar. :)

o00oo~ Sekian ~oo00o

Apa yang harus pergi biarlah pergi.
Apa yang harus datang biarlah datang.
Apa yang harus dikhawatirkan biarkanlah menjadi semacam pikiran belaka.
Apa yang harus disedihkan biarkanlah larut dalam samudera yang luas.

Kebahagiaan datang dan pergi.
Saat kebahagiaan pergi yang ditinggalkannya hanyalah kesedihan.
Yah… kebahagiaan memang tidak punya pilihan lain karena sewaktu ia akan pergi, aku memaksa… dan sebagai ganti dititipkanlah adiknya yang bernama kesedihan – untuk menemaniku.
Benar benar teman yang tidak diharapkan.

Namun memangnya apa yang benar-benar bisa diharapkan?
Jika kebahagiaan datangnya tidak pasti, begitupun juga dengan kesedihan.
Lalu untuk apa aku ditemani terlalu lama oleh teman yang tidak diinginkan ini.
Maka setelah lewat 1 bulan kuizinkan dia untuk pergi, sesekali dia boleh berkunjung lagi dengan kakaknya.

Kebahagiaan dan kesedihan datang dan pergi.
Meskipun tidak berbicara banyak tapi telah memberikan satu pelajaran penting kepadaku.
Bisa memegang juga bisa melepas.
Tidak ada tempat tinggal permanen dalam hidup ini.
Hanya berpindah pindah dari satu penginapan ke penginapan lainnya.

Tempat dimana aku hidup adalah sebuah labirin besar.
Setiap kali aku menemukan satu jalan keluar, sebenarnya aku hanya tersesat dalam labirin yang jauh lebih besar.
Mungkin karena aku memaksakan untuk hidup pada satu tempat, selama itu juga aku akan tetap berada disana, kemanapun kaki ini melangkah.

Suatu hari nanti akan kutemukan satu orang pembawa lentera, yang mampu menerangi sekat-sekat dalam labirin, yang akan membawaku menuju tempat perhentian terakhir.
Aku menunggu datangnya hari itu, detik demi detik, menit demi menit… terus menunggu.

Share

Kepercayaan Diri

Salah satu teman saya kemarin menelepon saya. Kami memang sudah lama tidak berbincang. Tanpa harus ditanya, ia menceritakan kabarnya sekarang. LoLs

Ternyata dia mendapatkan kesempatan untuk interview pekerjaan disebuah perusahaan EO yang cukup ternama. Kesempatan tersebut dia manfaatkan untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih tinggi dibanding pekerjaannya yang sebelumnya.

Dia bercerita bahwa sebelum interview, dia merasa sangat PD (Percaya Diri), namun setelah interview dia punya banyak kekhawatiran. Tampaknya secara tidak sadar dia menjadi ragu akan kemampuan dirinya sendiri.

Orang orang mengatakan bahwa ini disebabkan karena kita menilai terlalu rendah kemampuan diri kita sehingga kita menjadi tidak percaya diri. Namun menurut pendapat saya, yang terjadi bukan tepat seperti itu.
Disatu sisi kita menilai bahwa kemampuan kita masih kurang, kita takut bahwa kita tidak akan berhasil. Mengapa rasa takut itu bisa muncul?
Tidak lain karena kita telah mengangkt diri kita terlalu tinggi, sehingga kita takut untuk jatuh. Semakin tinggi tempat kita berada, semakin sakit saat kita jatuh. Bukankah begitu?

Kejadian seperti ini adalah sangat wajar terjadi. Tidak semua orang mempunyai karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Terkadang kita butuh alasan yang kuat untuk maju, mereka menyebutnya sebagai motivasi. Lalu untuk kasus seperti ini, motivasi seperti apa yang dapat saya berikan?

Saya menyarankan agar kita tidak terlalu menanggap bahwa diri kita berada di tempat yang tinggi, sehingga kita takut terjatuh. Bayangkanlah bahwa kita berada di tempat yang rendah. Dengan penuh kerendahan hati, kita berusaha untuk mengatasi segala tantangan itu. Dengan keberanian, kita tidak takut untuk gagal. Karena rasa takut akan kegagalan adalah kendala pertama yang harus kita hadapi saat kita akan maju.

Kita terlanjur dibentuk untuk merasa malu saat kita gagal. Kita malu terhadap orang-orang yang akan mengejek kegagalan kita. Kita takut akan pandangan sinis dari orang-orang yang suka meremehkan orang lain. Kita bahkan cepat merasa malu terhadap keluarga kita sendiri.

Apa artinya sebuah keluarga? Keluarga adalah tempat beristirahat dan tempat untuk me-refresh diri sendiri pada saat kita menemui banyak kesulitan dan kegagalan.
Sedangkan mengenai pandangan orang lain, itu sama sekali tidak penting.
Ini adalah hidup Anda, bukan hidup mereka. Apapun boleh mereka katakan mengenai diri Anda, mereka boleh meremehkan Anda, namun Anda tidak boleh meragukan keberanian diri Anda sendiri untuk mencoba. Anda melakukan semua ini adalah demi diri Anda sendiri, bukan demi orang-orang yang mencela dan mengejek Anda, oleh karena itu pandangan mereka terhadap Anda tidak seharusnya Anda simpan dalam hati.

Satria sejati mempunyai 3 ciri utama :
1. melangkah tanpa ada keraguan,
2. mau mendengarkan kritikan dan mau memperbaiki diri lewat instropeksi,
3. bermuka tebal, tidak terpengaruh dan tidak peduli dengan ejekan dan hinaan.

Share
affiliate_link

Categories