Seperti yang dikatakan para guru meditasi terkemuka, meditasi bukan tentang ingin menjadi sesuatu, tapi tentang menyadari segala sesuatu.
Berapa lamakah saya telah berlatih meditasi?
Tidak bisa dibilang rajin namun bisa dikatakan sudah cukup lama.
Apa yang dirasakan selama itu?
Tidak banyak. Kebanyakan hanya kesemutan di kaki sebelah kanan. Ya… Hanya sebelah kanan.
Meski hasilnya tidak terlalu kelihatan… (Hmmm.. Sebenarnya memang tidak bisa dilihat) namun hasilnya sedikit banyak ada.
Meskipun kegagalan itu ada dan selalu ada, namun ada sedikit buah yang bisa dipetik.
Hanya sedikit… Namun sepertinya sudah lebih dari cukup.
Apa yang saya ingat adalah saat-saat ketika latihan itu dirasa ada sedikit kemajuan adalah saat dimana saya mengalami depresi dan kegagalan besar dalam hidup.
Saat dimana saya merasa telah kehilangan segala-galanya… saat dimana saya merasa hidup sudah tidak berarti namun tetap enggan mati.
Meditasi adalah mengenai melepaskan. Koreksi saya jika salah
Itulah sebabnya ketika saya telah kehilangan banyak hal, saya mulai belajar untuk mengerti banyak hal.
Kehilangan adalah wajar. Dan pada waktu melakukan meditasi disaat yang amat malang itu… saya merasa tidak memiliki apapun lagi, oleh karena itu saya juga tidak perlu khawatir akan apapun lagi.
Saat itu… yang terbersit cuma sebuah pikiran untuk duduk selamanya disana.
Namun sayang, ketika saya menyadari kaki saya yang kesemutan, saya kembali teringat bahwa saya masih punya kaki yang perlu saya perhatikan.
Demikianlah meditasi saya tidak pernah mencapai tahap yang lebih tinggi.
Namun saya puas.
Dan saya tidak akan berhenti untuk terus berlatih.
Terkadang dalam meditasi saya merenungkan mengenai banyak hal. Saya tidak tahu dengan adanya renungan itu masih pantaskah saya disebut bermeditasi?
Saya benar tidak tahu.
Saya merenung… bagaimana semua hal di dunia ini, materi, kekuasaan, kekayaan, kecantikan, nafsu, dan segala pesona duniawi telah menjadi penyebab penderitaan manusia dan saya adalah salah satunya aktor di dalamnya.
Saya adalah korban sekaligus pelaku.
Ketika saya bermeditasi terkadang secara tidak sadar saya berusaha mencari jawaban. Dan jawaban itu, tidak serta merta membuat saya menjadi lebih bijak.
Dengan memahami bahwa hal- hal duniawi patut dibenci, saya secara sadar atau tidak sadar mulai mengembangkan kebencian. Saya memandang banyak hal secara sinis, dan itu… saya rasa tidaklah terlalu baik.
Dari satu kesalahan, saya terjebak ke dalam kesalahan yang lain.
Lalu saya mulai belajar untuk tidak mempedulikan apapun…
Namun saya tidak mampu, dan nampaknya saya kembali terjebak dalam kesalahan yang lain lagi. Saya merasa ragu…
Lalu saya berpikir, bagaimana mungkin saya bisa lepas dari hal-hal duniawi jika saya hidup ditengah-tengah masyarakat yg dipenuhi pemikiran seperti itu?
Saya berpikir untuk menggunduli kepala.
Ide gila yang saya sendiri merasa takut mewujudkannya.
Bahkan sampai sekarang saya masih menyebutnya gila.. artinya saya masih dikuasai keinginan duniawi.
Pada awalnya saya merasa ngeri mengenai masa depan, saya takut… Bagaimana jika suatu hari saya benar benar mewujudkan kegilaan itu?
Tapi pada akhirnya saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Jika dihari ini saya merasa nyaman sebagai manusia awam, maka biarkanlah seperti itu.
Saya tidak akan mengkhawatirkan keinginan saya baik saya yang sekarang ataupun saya yang ada di masa yang akan datang.
Saya percaya pada diri saya sendiri bahwa apapun yg dipilih oleh saya baik di masa sekarang maupun di masa akan datang adalah pilihan yang terbaik bagi diri saya sendiri.
Akhirnya ada sedikit kelegaan…
Saya tidak tahu saya akan menjadi apa di masa yang akan datang.
Nampaknya bukan kekhawatiran saya lagi.
Saya juga mengatakan kepada kerabat yang menasehati, tidak perlu khawatir pada saya.. karena bahkan saya sendiri sudah tidak perduli mengenai hal itu.
Saya juga ingin mengatakan kepada seseorang yang saya kasihi, bahwa saya dengan diskriminasi total telah menerima dirinya lebih dari orang lain didalam hati saya, dan saya menyesal tidak dapat mengatakannya secara langsung, dan mungkin membuatnya merasa sedih.
Semuanya hanya karena sesuatu yang saya sebut sebagai kegilaan itu.
Saya merasa kesempatan saya kembali hilang, namun saya tidak khawatir ttg masa depan.
Saya hanya bisa berharap dalam hati, semoga dia berbahagia selalu…
Saya mungkin adalah pengecut, namun saya jarang berbohong kepada diri sendiri. Dalam setiap meditasi yang saya lakukan, saya selalu berusaha melepaskan semua ketergantungan itu. Saya berhasil namun hanya untuk sementara.
Tidak terlalu berguna, namun saya percaya akan memberi andil bagi usaha di masa yang akan datang.
Hidup di dunia saya hanya tahu sedikit hal, bahwa saya hanyalah orang kecil… namun tidak mesti terjebak dalam pemikiran sendiri…
bahwa saya tidak memiliki apa-apa… namun tidak berarti saya bisa selalu tidak peduli pada apapun…
bahwa saya tidak akan selalu berhasil… namun tidak perlu selalu mengandalkan hal itu.
Bahwa saya. hanya orang biasa, yang punya pilihan, punya nasib, punya keberuntungan, punya kesempatan, punya kesulitan, dan sekaligus… tidak punya apa-apa.
Ya… Memang sepertinya begitu. Semoga.