Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Way of Life

No matter how bad your condition today, no matter how much mistake been made, no matter about the circumstances, you can’t just give up.

Believe yourself, forgive yourself, and do the best for yourself and the everyone you care about.

Don’t afraid to be victim, don’t afraid of suffering, do belive in your own strength and keep going on.

Even when you have no one to rely on, be a master of yourself. Be a brave elephant that walked down the jungle all by itself, with no fear, only a calm mind and immovable resolution.

Do not afraid of losing for all of these are impermanent.

Promise me, don’t give up and keep going on. Your trueself is always be with you. Believe in him.

Share

Meditasi Seumur Hidup

Seperti yang dikatakan para guru meditasi terkemuka, meditasi bukan tentang ingin menjadi sesuatu, tapi tentang menyadari segala sesuatu.

Berapa lamakah saya telah berlatih meditasi?

Tidak bisa dibilang rajin namun bisa dikatakan sudah cukup lama.

Apa yang dirasakan selama itu?

Tidak banyak. Kebanyakan hanya kesemutan di kaki sebelah kanan. Ya… Hanya sebelah kanan.

Meski hasilnya tidak terlalu kelihatan… (Hmmm.. Sebenarnya memang tidak bisa dilihat) namun hasilnya sedikit banyak ada.

Meskipun kegagalan itu ada dan selalu ada, namun ada sedikit buah yang bisa dipetik.

Hanya sedikit… Namun sepertinya sudah lebih dari cukup. :)

Apa yang saya ingat adalah saat-saat ketika latihan itu dirasa ada sedikit kemajuan adalah saat dimana saya mengalami depresi dan kegagalan besar dalam hidup.

Saat dimana saya merasa telah kehilangan segala-galanya… saat dimana saya merasa hidup sudah tidak berarti namun tetap enggan mati. :D

Meditasi adalah mengenai melepaskan. Koreksi saya jika salah :)

Itulah sebabnya ketika saya telah kehilangan banyak hal, saya mulai belajar untuk mengerti banyak hal.

Kehilangan adalah wajar. Dan pada waktu melakukan meditasi disaat yang amat malang itu… saya merasa tidak memiliki apapun lagi, oleh karena itu saya juga tidak perlu khawatir akan apapun lagi.

Saat itu… yang terbersit cuma sebuah pikiran untuk duduk selamanya disana.

Namun sayang, ketika saya menyadari kaki saya yang kesemutan, saya kembali teringat bahwa saya masih punya kaki yang perlu saya perhatikan.

Demikianlah meditasi saya tidak pernah mencapai tahap yang lebih tinggi.

Namun saya puas.

Dan saya tidak akan berhenti untuk terus berlatih. :)

Terkadang dalam meditasi saya merenungkan mengenai banyak hal. Saya tidak tahu dengan adanya renungan itu masih pantaskah saya disebut bermeditasi?

Saya benar tidak tahu.

Saya merenung… bagaimana semua hal di dunia ini, materi, kekuasaan, kekayaan, kecantikan, nafsu, dan segala pesona duniawi telah menjadi penyebab penderitaan manusia dan saya adalah salah satunya aktor di dalamnya.

Saya adalah korban sekaligus pelaku.

Ketika saya bermeditasi terkadang secara tidak sadar saya berusaha mencari jawaban. Dan jawaban itu, tidak serta merta membuat saya menjadi lebih bijak.

Dengan memahami bahwa hal- hal duniawi patut dibenci, saya secara sadar atau tidak sadar mulai mengembangkan kebencian. Saya memandang banyak hal secara sinis, dan itu… saya rasa tidaklah terlalu baik.

Dari satu kesalahan, saya terjebak ke dalam kesalahan yang lain.

Lalu saya mulai belajar untuk tidak mempedulikan apapun…

Namun saya tidak mampu, dan nampaknya saya kembali terjebak dalam kesalahan yang lain lagi. Saya merasa ragu…

Lalu saya berpikir, bagaimana mungkin saya bisa lepas dari hal-hal duniawi jika saya hidup ditengah-tengah masyarakat yg dipenuhi pemikiran seperti itu?

Saya berpikir untuk menggunduli kepala.

Ide gila yang saya sendiri merasa takut mewujudkannya.

Bahkan sampai sekarang saya masih menyebutnya gila.. artinya saya masih dikuasai keinginan duniawi.

Pada awalnya saya merasa ngeri mengenai masa depan, saya takut… Bagaimana jika suatu hari saya benar benar mewujudkan kegilaan itu?

Tapi pada akhirnya saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Jika dihari ini saya merasa nyaman sebagai manusia awam, maka biarkanlah seperti itu.

Saya tidak akan mengkhawatirkan keinginan saya baik saya yang sekarang ataupun saya yang ada di masa yang akan datang.

Saya percaya pada diri saya sendiri bahwa apapun yg dipilih oleh saya baik di masa sekarang maupun di masa akan datang adalah pilihan yang terbaik bagi diri saya sendiri.

Akhirnya ada sedikit kelegaan…

Saya tidak tahu saya akan menjadi apa di masa yang akan datang.

Nampaknya bukan kekhawatiran saya lagi.

Saya juga mengatakan kepada kerabat yang menasehati, tidak perlu khawatir pada saya.. karena bahkan saya sendiri sudah tidak perduli mengenai hal itu.

Saya juga ingin mengatakan kepada seseorang yang saya kasihi, bahwa saya dengan diskriminasi total telah menerima dirinya lebih dari orang lain didalam hati saya, dan saya menyesal tidak dapat mengatakannya secara langsung, dan mungkin membuatnya merasa sedih.

Semuanya hanya karena sesuatu yang saya sebut sebagai kegilaan itu.

Saya merasa kesempatan saya kembali hilang, namun saya tidak khawatir ttg masa depan.

Saya hanya bisa berharap dalam hati, semoga dia berbahagia selalu…

Saya mungkin adalah pengecut, namun saya jarang berbohong kepada diri sendiri. Dalam setiap meditasi yang saya lakukan, saya selalu berusaha melepaskan semua ketergantungan itu. Saya berhasil namun hanya untuk sementara.

Tidak terlalu berguna, namun saya percaya akan memberi andil bagi usaha di masa yang akan datang. :)

Hidup di dunia saya hanya tahu sedikit hal, bahwa saya hanyalah orang kecil… namun tidak mesti terjebak dalam pemikiran sendiri…

bahwa saya tidak memiliki apa-apa… namun tidak berarti saya bisa selalu tidak peduli pada apapun…

bahwa saya tidak akan selalu berhasil… namun tidak perlu selalu mengandalkan hal itu.

Bahwa saya. hanya orang biasa, yang punya pilihan, punya nasib, punya keberuntungan, punya kesempatan, punya kesulitan, dan sekaligus… tidak punya apa-apa.

Ya… Memang sepertinya begitu. Semoga. :D

Share

36 Strategi Perang – Strategi 1 : Menipu Surga Untuk Menyebrangi Lautan, 瞒天过海

Asli: 备周则意怠,常见则不疑.阴 在 阳 之 内, 不在 阳 之 对.太阳, 太阴.
Modern: 自认为防备周到,就容易产生麻痹松懈的情绪;平常看惯的就不在怀疑.秘密 蕴藏 在 暴露 的 事物 中, 而 不是 与 暴露 的 事物 相 排斥.所以 那些 公开 的 事物, 也 可以 蕴藏 非常 机密 的 东西.
Terjemahan: Ketika seseorang berpikir ia telah melakukan persiapan dengan baik, ia akan cenderung menurunkan penjagaan. Hal-hal yang biasa kita lihat, kita tidak akan merasa curiga. Rahasia harus disimpan di tempat yang terlihat jelas, dan bukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sudah terlihat jelas. Dengan cara ini, sesuatu yang terlihat jelas dapat digunakan untuk menyembunyikan rahasia di dalamnya.

Ilustrasi

Pada tahun 643 SM, 17 tahun dalam masa pemerintahannya, Kaisar Dinasti Tang, Kaisar Tang Tai Zong diminta untuk mengirim pasukan untuk membantu sebuah negara kecil. Kaisar Tang Tai Zong memutuskan untuk secara pribadi memimpin tentaranya sebanyak 300.000 orang. Pembantu setianya mencoba menghalangi dia dari perjalanan itu karena perjalanan tersebut mengharuskan mereka untuk menyeberangi laut, tapi usaha tersebut tidak berhasil. Namun, Kaisar pada akhirnya membatalkan untuk menyeberangi laut setelah melihat besarnya ombak lautan itu. Ia memanggil rakyatnya untuk memikirkan ide baginya agar dapat menyeberangi laut itu tetapi tidak ada yang dapat menawarkan ide yang baik.
Ketika Kaisar bertanya lagi, seorang pengikut melaporkan bahwa seorang petani tua tapi kaya yang hidup dekat dengan laut itu meminta untuk bertemu dengannya. Orang tua itu menyatakan bahwa ia mampu menyediakan makanan untuk seluruh pasukan, dalam perjalanan mereka melintasi laut. Kaisar mendengar ini merasa senang. Orang tua itu mengundang Kaisar ke rumahnya untuk minum. Kaisar Tang menyetujuinya dengan gembira dan pergi bersama anak buahnya.
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa mil, Kaisar dan anak buahnya kemudian dibawa ke tenda besar. Di dalam, tenda itu dihias dengan indah dan ada beberapa pelayan di dalamnya. Disana pesta dimulai dengan anggur, makanan dan musik. Tidak lama setelah itu, Kaisar dan rakyatnya mendengar tiupan angin kencang dan gemuruh gelombang ombak laut. Kaisar mencurigai sesuatu dan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk merobek tenda. Dia kemudian menyadari bahwa mereka tidak berada di rumah orang tua itu tetapi sebenarnya di laut. Dan orang tua itu sebenarnya adalah Xue Ren Gui dalam penyamaran dan dia adalah pencipta strategi ini :’Menipu Surga Untuk Menyebrangi Lautan.’

Pembahasan

Dalam cerita ini Kaisar terlalu takut dengan ganasnya ombak lautan. Dalam hal ini, bawahannya – Xue Ren Gui menyadari hal itu dan menipu kaisar supaya naik ke kapal tanpa disadari oleh sang kaisar sendiri.
Xue Ren Gui memanfaatkan musik untuk menutupi suara laut, da anggur untuk membuat mabuk kaisar sehingga tidak menyadari goyangan kapal hingga akhirnya ombak besar datang dan membuat kaisar tersadar.

Inti dari strategi ini adalah “mencuri” kewaspadaan kaisar. Yaitu dengan melakukan hal yang terlihat biasa/wajar, tentu tidak akan muncul kecurigaan, dan jika tidak ada kecurigaan maka kewaspadaan bisa dicuri sedikit demi sedikit.

Pada dasarnya kita sebagai manusia memiliki banyak kelemahan. Ada banyak hal yang bisa membuat kita mengurangi kewaspadaan kita. Kekayaan, kehormatan, nafsu duniawi, semuanya bisa membutakan pandangan jernih kita. Maka dari itu dengan mengetahui hal ini kita bisa menggunakannya untuk menyerang ataupun bertahan. Dengan memahami hal ini kita bisa mengarahkan orang untuk mengatasi rasa takutnya, juga untuk melindungi diri kita sendiri dari hal-hal yang berpotensi membutakan indra dan kewaspadaan kita.

Share

Daily Life Note

25 hari lagi. Rasanya pengen agar waktu cepat berlalu.
25 hari lagi dan tibalah saatnya saya berangkat ke Kuala Lumpur, perjalanan pertama saya ke luar Indonesia.

Untuk segala sesuatu yang sifatnya baru pertama kali, tentu ada sedikit perasaan gelisah, excited, senang, campur khawatir. Hmmm.. biasalah human nature. LoL

Yah. 25 hari lagi masih lama. Dan yang namanya menunggu itu benar benar suntuk, membosankan, apalagi kalo nggak ada gawean. Kembali lagi human nature. :P  
Rasanya pengen tidur panjannnng biar nggak merasa bosen dan ngantuk kayak sekarang ini (emangnya waktu tidur masih bisa ngantuk? LoL)

Ngomong-ngomong soal tidur, belakangan ini setiap tidur pasti selalu mimpi. Hmm.. mungkin saya ini udah terlalu banyak pikiran, terlalu banyak imajinasi, makanya saban tidur pasti mimpi terus.

Yang bikin keki ya pas tidur itu kok mimpinya gak bisa dikendalikan ya. Kenapa ya bisa bisanya mimpi nginjek tai anjing atau jadi stalker. Bleh mungkin itu memang bakat terpendam saya ya. haha

Dulu sewaktu saya masih rajin mempraktikkan meditasi, mimpi itu bisa dikendalikan, alur ceritanya bisa dirubah, bahkan meski dalam keadaan tidur dan sedang bermimpi, suara orang yang sedang berbicara di dunia nyata pun masih jelas terdengar. Nampaknya memang benar adanya bahwa meditasi itu meningkatkan kesadaran kita dan juga kewaspadaan kita terhadap lingkungan sekitar. Makanya jarang ditemui ada meditator yang suka ling lung, suka lupa naruh benda dan lain sebagainya.

Yah agak nyesal juga sih kenapa dulu sempat berhenti bermeditasi. Sekarang kalo mau mulai lagi rasanya susah banget. Pikiran gak bisa diem, lari sana lari sini persis kek monyet. :(

Dulu saya sempat bingung apa maksudnya meditasi bisa meningkatkan kesadaran. Emangnya kita sekarang sedang tidak sadar, pingsan, atau hidup di dunia ilusi?
Hmmm sekarang saya mungkin sudah tahu jawabannya.

Mungkin pada dasarnya kita ini memang adalah makhluk tak sadar. Hidup di dunia yang penuh dengan standar standar yang disepakati bersama. Kita sepakat bahwa mencuri itu tidak baik, menolong ibu tua itu baik, dan mengganggu anjing pipis itu adalah perbuatan buruk.

Semua itu hanyalah penilaian kita saja. Sampai disini mungkin bakal ada banyak orang yang bakal salah paham dengan saya. Never mind teruskan saja baca sampai akhir.

So kembali ke topik semua hal itu hanyalah konvensi. baik dan buruk, cantik dan ganteng, kaya dan miskin, terhormat dan tidak terhormat. semuanya ada, tapi semuanya juga tidak benar-benar ada. Bingung? Sama dong kita. :)

Hidup di dunia kita tidak dapat melepaskan diri dari konvensi-konvensi seperti itu. Alam dan segala bentuk kehidupan didalamnya adalah sebuah sistem terpadu. Sistem ini tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada konvensi-konvensi seperti itu. Dapatkah Anda bayangkan lalu lintas tanpa traffic light?

Tapi masalahnya dengan traffic light sekalipun selalu ada orang yang melanggar. Maka dari itu muncullah yang namanya polisi. Polisi adalah sistem lainnya yang mendukung sistem lain. Dari sinilah muncul polisi, dan dari sini jugalah muncul penjahat. Hal yang sama berlaku untuk orang kaya dan orang miskin, orang cantik dan orang jelek. Semuanya adalah buatan kita sendiri. Sedangkan kita sendiri adalah sebuah sistem yang semi independen. Istilahnya seperti perahu di sungai, kita bisa mengarahkan perahu, namun kita juga harus rela dibawa oleh arus. Sama seperti nasib kita, bisa kita tentukan sendiri, namun juga mendapat pengaruh dari lingkungan kita.

Lalu mungkin Anda bertanya darimana asalnya pengaruh itu. Mengapa kita terlahir disini, di tempat yang tidak menyenangkan, padahal aspirasi kita adalah mencapai tempat yang menyenangkan yang kita sepakati bersama sebagai surga?

Itu semua bisa terjadi karena kekuatan pengaruh dari masa lalu, aspirasi tidak baik yang pernah Anda lakukan dulu yang berbuah di kehidupan ini dan mengganggu perjalanan Anda.

Jika diandaikan seperti perahu tadi, maka Anda adalah nelayan yang telah membawa kapal Anda ke tengah badai, karena ketidaktahuan Anda tentang arah dan karakeristik badai.

Sun Wu pernah berkata mengenali musuh dan diri sendiri, maka Anda akan menang dalam 1000 pertempuran. Hal ini benar adanya. Kenalilah diri Anda dan lingkungan Anda, kenalilah bagaimana kejahatan berkembang dan kebaikan mengalami degradasi. Ketahuilah akar penyebab segala penderitaan Anda, dengan demikian Anda bisa mencabut akar itu dan melepaskannya dari diri Anda.

Hoahhhmmmm zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz..

Share

Sad Ending… Bisakah Anda Menerima Kenyataan ?

Oh Damn God Damn Shit !! Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut.

Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film – bukan kenyataan, sudah bisa menghancurkan hati saya sampai berkeping keping?

Kebanyakan orang tentu tidak suka dengan ending yang tragis. Namun ada beberapa orang justru senang. Sepertinya memainkan perasaan sendiri adalah pekerjaan yang begitu menyenangkan, huh?

Hidup itu tidak selalu seindah yang kita kira, dan juga tidak selalu sejelek yang kita kira. Kenyataannya adalah hidup ini ada senang, ada sedih, juga ada bosan. Namun tidak semua orang dapat menerima kenyataan itu, sehingga pada akhirnya malah menyiksa diri sendiri.

Alkisah, ada seorang pria yang memiliki seorang kekasih yang amat dicintainya. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain, namun pemikiran mereka sama sekali berbeda.
Sang pria menyadari bahwa cinta sangatlah indah namun sewaktu waktu dapat berubah menjadi racun, karena tidak ada hal yang abadi di dunia ini, termasuk cinta itu sendiri. Sedangkan sang wanita sama sekali tidak memiliki pemikiran itu. Sang wanita selalu berpikir optimis bahwa semuanya akan selalu indah seperti hari ini, selamanya

Suatu hari, sang pria mengalami sakit parah dan nyawanya sudah diujung tanduk. Peluangnya untuk bertahan hidup sangatlah tipis. Disisa waktu hidupnya yang semakin menipis, ia berpesan kepada kekasihnya agar tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik, jangan bersedih terlalu lama dan berharap agar ia dapat menjaga dirinya sendiri dengan baik. Namun kekasihnya yang selalu berpikir optimis kali ini tidak lagi optimis dengan peluang kesembuhan kekasihnya. Ia merasa sangat sedih dan hatinya hancur berkeping keping. Setiap hari ia hanya bisa menangis dan meratapi nasib kekasihnya.

Sang pria yang melihat keadaan seperti ini merasa sangat kasihan kepada kekasihnya dan karena rasa cintanya yang besar terhadap kekasihnya ia bertekad untuk sembuh, separah apapun keadaannya saat ini.

Karena tekadnya yang kuat itu telah menguasai seluruh tubuhnya, berangsur angsur tubuhnya mulai pulih dan akhirnya ia sembuh total.
Semenjak itu ia bertekad tidak akan mati mendahului kekasihnya karena rasa belas kasihnya yang besar terhadap kekasihnya.
Ditinggalkan lebih menyakitkan dibanding meninggalkan, bukan?

Dari cerita ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya pikiran kita tidaklah benar benar bebas.
Kita dikuasai oleh kebahagiaan kita dan penderitaan kita. Kitalah yang tidak melepaskan diri dari jeratan yang kita buat sendiri. Kehancuran ataupun kelanjutan/keberlangsungan kebahagiaan kita ditentukan oleh faktor-faktor yang sifatnya tidak pasti. Dengan demikianlah kita jatuh ke kolam lumpur dan/atau terbang ke langit ke 7.

Oleh karena itulah, jika kita tidak ingin menderita, tidak ingin dilempar kesana kemari, kita harus mampu menerima kenyataan. Apapun yang akan pergi biarkanlah pergi, apapun yang akan datang biarlah datang namun begitu, jangan selalu menyerahkan semuanya kepada nasib. Apa yang masih bisa diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Apa yang sudah tidak mungkin diperjuangkan, maka lepaskanlah.

Semoga semua makhluk mampu menemukan kebahagiaannya sendiri.

Share

Aktivitas di Akhir Pekan

Haiiii… Hari Senin, 26 Oktober 2009 adalah saatnya kembali bekerja. Awal pekan telah tiba dan akhir pekan baru saja lewat. Masih 5 hari lagi harus dilewati sebelum bisa merasakan hari hari tenang di akhir pekan [lagi].

Btw, saya sangat penasaran dengan kisah akhir pekan Anda sekalian, apakah menyenangkan, menyedihkan, atau membosankan ?!?

Akhir pekan yang lalu bagi saya tidak terlalu membosankan; ada hal-hal yang menyenangkan juga ada hal-hal yang menyedihkan. Lalu, apa saja yang saya lakukan di rumah?
Jawabannya adalah : duduk, menyilangkan kaki, sambil nonton film seri the proud twins. :)
Saya lupa, entah berapa lama sejak terakhir kalinya saya menonton film seri karena DVD-ROM saya yang rusak.

Hmmmm….mungkin bagi sebagian orang hanya duduk bersantai nonton di rumah sendirian sepanjang hari adalah kegiatan yang membosankan. Tapi tidak bagi saya, karena bagi saya menonton film itu sama seperti mempelajari dan mengobservasi kehidupan manusia.

Saya tidak terlalu menggemari film yang selalu membuat penontonnya merasa sedih. Tapi film the proud twins ini ternyata adalah tipe film semacam itu. Hmmmm… benar benar tidak menyangka, karena jika seandainya saya tahu bahwa ini adalah film sedih, mungkin saya akan menimbang ulang sebelum membeli film ini.

Yah…meskipun nggak begitu suka, namun rasanya juga nggak terlalu menyesal.
Meskipun film ini banyak sedihnya, tapi juga terdapat banyak kegembiraan di dalamnya. Melihat bagaimana gembira dan sedih datang dan pergi silih berganti… saya merasa film ini lebih mendekati realitas kehidupan manusia yang sebenarnya.
Coba saja pikirkan, jika kita tidak mengenal air mata, bagaimana kita bisa mengenal apa yang dimaksud dengan penderitaan dalam arti yang sesungguhnya, dan jika kita tidak mengenal senyum, bagaimana kita bisa mengenal apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dalam arti sesungguhnya?

Karena film ini, satu waktu saya dibuat tersenyum, tertawa dan di waktu lainnya saya dibuat menangis. Teman teman saya bilang tertawa sendiri, menangis sendiri persis orgil (orang gila). :)
Perubahan kondisi mental yang terjadi secara cepat membuat saya menyadari bahwa kebahagiaan memberi makan kehidupan, kehidupan memberi makan penderitaan, dan penderitaan memberi makan kebahagiaan. Siklus seperti ini rasanya tidak akan pernah berhenti.

Lalu, secara keseluruhan, apa yang dapat saya simpulkan… apakah hidup ini bisa dibilang menyedihkan, menyenangkan, atau tidak menyedihkan dan tidak menyenangkan?
Apakah ada yang bisa menjawab pertanyaan ini?
Saya untuk saat ini masih belum menemukan jawaban yang pas… oleh karena itu untuk sementara pertanyaan ini tidak perlu dijawab dulu. Saya yakin suatu saat nanti saya akan menemukan jawabannya. hehe.

Hmmmm… waktu sudah siang, sudah waktunya untuk kembali bekerja. TETAP SEMANGAT !!

Share

Nuansa Hidup – Ketika Dicela Tidak Menjadi Marah (9)

Buddha bersabda, O, Athula. Bukan hanya sekarang mereka mencela orang yang banyak bicara. Mereka juga mencela orang yang sedikit bicara. Begitu juga mereka mencela orang yang tidak bicara. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang tidak dicela.
Kita harus menahan ego dan tidak menghujani orang yang mengkritik kita dengan kebencian. Jangan menganggap musuh pada orang yang tidak sependapat dengan kita. Kritikan dapat membawa kemajuan. Kita tidak hanya belajar dari teman, namun juga dari mereka yang mengkritik kita.
Mereka mungkin benar. Jika kita tidak mendengarkan apa yang mereka katakan, kita mungkin melepaskan kesempatan untuk belajar. Jadilah seperti seekor gajah di medan perang, bertahan terhadap rasa sakit karena anak panah. Kita juga bisa menahan celaan dari orang lain dan mencapai kedamaian dengan kesabaran.

Pada suatu kesempatan, Buddha diundang oleh seorang brahmana untuk menerima persembahan makanan di rumahnya. Bersama dengan rombongan para bhikkhu, Buddha mengunjungi rumah brahmana tersebut. Setibanya di tempat tujuan, brahmana tersebut bukannya mempersembahkan makanan kepada Buddha dan para bhikkhu, ia malah mencaci maki Buddha dengan kata-kata kasar.

Dengan tenang Buddha bertanya kepada brahmana tersebut, Apakah tamu-tamu mengunjungi rumahmu O brahmana?

Ya, jawab brahmana.

Apa yang engkau lakukan ketika para tamu hadir?

Saya akan menyiapkan jamuan yang istimewa.

Jika mereka tidak makan, apa yang engkau lakukan atas hidangan yang telah disiapkan?

Wah, dengan senang hati saya akan makan sendiri hidangan tersebut.

Demikianlah O brahmana, engkau telah mengundang Bhagava dan engkau telah menjamu Bhagava dengan caci maki. Bhagava tidak menerimanya. Semua itu akan kembali kepadamu.
Buddha mengatakan Jika seseorang mencaci maki seorang suci dengan kata-kata yang tidak pantas, maka semua keburukan itu akan kembali kepadanya. Ini bagaikan melempar debu berlawanan dengan angin dan debu tersebut akan mengenai wajahnya sendiri. Atau bagaikan seseorang yang meludah keatas dan ludah tersebut akan jatuh mengenai wajahnya sendiri.

Ada sebuah syair yang berbunyi, Bunga yang mekar siap menerima embun yang jatuh dengan lembut dan tahan dengan hujan yang deras. Sama halnya ketika kita ditegur dengan cara yang halus atau keras, kita mesti tegar.

Orang yang mau mendengar kritikan dan memperbaiki kesalahan adalah seorang satria yang memiliki kebesaran jiwa untuk kemajuan dirinya dan yang lain.

Seperti Yang Mulia Dalai Lama katakan, Dari pengalaman saya sendiri, masa yang paling sulit dalam hidup ini merupakan masa yang paling menghasilkan pengetahuan dan pengalaman.” Jika Anda hanya menjalani segala sesuatunya dengan mudah, Anda akan merasa Semuanya baik baik saja. Hingga pada suatu hari ketika Anda menghadapi masalah, Anda merasa tertekan dan tidak berdaya. Melalui masa masa sulit Anda dapat belajar, dapat mengembangkan kekuatan di dalam diri, pengendalian diri, dan keberanian untuk menghadapi masalah. Siapa yang memberimu kesempatan seperti ini? Musuhmu.

Untuk mengembangkan benih belas kasih, kita mesti memiliki toleransi dan kesabaran. Dalam rangka melatih toleransi ini, musuh kita adalah guru terbaik. Karena musuh dapat mengajarkan kita toleransi, yang tidak dapat diajarkan oleh guru dan orangtua kita. Jadi untuk melatih toleransi, seorang musuh sungguh sangat menolong mereka adalah kawan dan guru yang terbaik.

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Nuansa Hidup – Ciri Orang Bijak (7)

Siladitya adalah seorang pemuda daerah yang menjadi aktivis di sebuah vihara kecil dan sederhana. Dalam hubungannya dengan teman-teman sesama aktivis, ia sangat disenangi dan dikagumi. Bukan karena penampilannya yang tampan, tetapi lebih dikarenakan adanya keindahan dalam dirinya.
Keindahan apakah yang dimilikinya hingga membuat teman-teman menyenanginya?
Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa. Sederhana saja, ia hanyalah seorang yang periang, rendah hati, suka menolong dan tidak merendahkan yang lain.
Kehadirannya dalam setiap pertemuan menambah semangat dan kegembiraan tersendiri bagi teman-teman lainnya. Ia telah menjadi figur ideal bagi teman-temannya.

Seperti yang Buddha sabdakan di hutan Jeta dekat kota Savatthi kepada seorang perumah tangga mengenai ciri orang bijak. Pada waktu itu Buddha bersabda, “O, perumah tangga, seseorang dikatakan bijak bila ia memiliki empat ciri. Apakah keempat ciri tersebut? Dalam hal ini, ketika ia dipuji orang lain, ia tidak menjadi sombong; begitu juga ketika ia mendapat celaan dari yang lain, ia tidak menjadi marah; ia memuji dengan tulus perbuatan baik orang lain. Dan yang terakhir, ketika ia mengetahui kesalahan orang lain, ia ragu akan hal itu. Inilah empat ciri orang bijak.”

Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda

Share

Can you just sit?

No I can’t.

Of, course it would be very relaxed when you just sit, empty your mind, and enjoy the peacefulness. But this is not the time to do that.

We’re still young.

We’re still have lot to do. Not to say that we have to be workaholic, but just fill the empty space which can be more useful for our own.

If we’re just sitting, not doing anything except waiting for the shinigami picking us, then what’s seperated us from pigs which only know eat and sleep.

It’s a lot of things we need to care. We’re living in a cubicle, not physically, but in your mind. Sometimes we need to enlarge to cubicle, or if you ready, you don’t need any cubicle.

Haizz… I don’t know how’s the best way to explain this. My mind is stuck and my language is a mess.

Share

Cerita Tentang Aku

“Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti”

Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Karena ego, maka ada yang disebut ‘pengorbanan’, berguna ataupun tidak berguna.

Lalu apakah harus melepaskan ego?
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?
Read the rest of this entry »

Share