Apa nilai dari sebuah ketulusan. Apakah ketulusan itu benar-benar ada atau hanya sebuah topeng dari perasaan lainnya yang menuntut penghargaan atau balas jasa dari orang lain.
Seringkali saya temui ketika saya membantu orang lain dengan ‘setulus’ hati untuk kemudian ‘dibayar’ dengan perlakuan atau penolakan yang tidak diharapkan.
Lalu saya berpikir, “Ah… kurang ajarnya orang itu. Ah dasar orang tak tau berterima kasih, dan lain sebagainya.”
Detik berikutnya saya kembali membayangkan waktu-waktu sebelumnya ketika saya sangat ingin membantu orang itu. Saya tidak memikirkan apapun selain bagaimana cara terbaik untuk membantunya.
Pada saat itu saya membayangkan dirinya sebagai ‘orang baik’ yang pantas ditolong. Namun setelah itu, setelah semua perlakuan dan pertolongan yang sudah saya berikan, ‘image’-nya dalam pikiran saya berubah menjadi orang congkak, orang tak tau berterima kasih dan lain sebagainya.
Begitu cepatnya penilaian saya berubah dan itu normal adanya. Namun yang cukup disayangkan adalah betapa perasaan saya ikut terbawa-bawa.
Kenapa saya merasa kesal hanya karena seseorang?
Kenapa saya harus menghabiskan energi untuk marah kepada seseorang?
Apakah hanya dengan marah, keinginan saya bisa dipenuhi?
Apakah hanya dengan marah, seseorang bisa berubah?
Jika memang bisa, kenapa tidak???
Tapi kenyataannya seringkali hal itu tidak bekerja.
Kita marah dan yang kita dapatkan cuma penyakit darah tinggi. Lalu beban semakin berat ketika kita mendapati diri kita begitu rapuh, begitu mudahnya dirusakkan oleh sikap orang lain.
Dalam satu hal kita selalu tulus untuk membantu orang lain. Itu satu hal yang kita syukuri, dan bukannya justru disesali karena ketulusan kita tidak dihargai.
Kita boleh merasa bahwa apa yang ditunjukkan kepada kita sangat tidak patut, kita menyayangkan kejadian itu namun kita tidak boleh membiarkan kejadian seperti itu mempengaruhi ketenangan pikiran kita.
Saya selalu mengatakan kepada diri saya sendiri. Sebisa mungkin saya tidak boleh bergantung pada orang lain. Saya tidak akan memberi lebih dari yang saya ikhlaskan, saya juga tidak segan menolak dengan satu kata ‘Tidak !’ untuk sesuatu yang diminta kepada saya namun tidak bisa saya sanggupi.
Dan sebisa mungkin, saya tidak akan marah.
Ada kalanya saya bertemu orang menyebalkan. Yang selalu memancing emosi saya.
Pada awalnya sangatlah sulit mengabaikan orang seperti itu. Namun pada saat pikiran jernih dan kosong, saya melihat orang itu seperti cacing kepanasan. Terakhir saya merasa geli sendiri, dan sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan.
Hal terakhir yang terjadi adalah orang tersebut marah karena ocehannya tidak berhasil membuat saya marah. Orang yang bermain api akhirnya terbakar oleh apinya sendiri.
Teman-teman saya bilang bahwa sikap seperti itulah yang dinamakan ‘cool’.
Namun saya tidak memperdulikan apakah itu ‘cool’ atau ‘hot’. Saya hanya peduli tentang bagaimana supaya saya tidak tenggelam dalam emosi berlebihan. Selalu waspada untuk melihat kedalam diri sendiri supaya tidak terlalu dingin atau terlalu panas, karena hanya di tempat seperti itulah saya bisa hidup dengan nyaman.
Pada akhirnya, bantuan yang saya tawarkan tetap tulus, dan perlakuan yang saya terima tetap tidak patut. Meskipun begitu, saya sudah tidak memperdulikannya lagi.