Luka di tubuh tidak lebih sakit dibanding duka di pikiran.
Pada saat pikiran ini merasa sedih, semuanya terlihat tidak sama.
Semuanya terlihat buruk, dan masa depan terasa suram. Anda benci sinar matahari, nyanyian burung terdengar tidak merdu, dan hembusan angin sejuk membuat pikiran ini semakin sepi dan menderita.
Read the rest of this entry »
Saya merasa sedikit tertohok pada saat salah satu teman saya mengatakan bahwa pada dasarnya manusia selalu haus akan perhatian.
Saya merasa,.. mungkin saya juga seperti itu.
Bagi orang yang jarang mendapatkannya, mereka akan berusaha mendapatkannya dengan banyak cara. Ada yang berusaha mendapatkan perhatian dengan menyebabkan chaos/kekacauan, ada yang berusaha menjadi ‘lucu’, menjadi ‘cool’ atau sebaliknya ‘hot’, dan tidak sedikit juga yang berusaha mendapatkannya dengan cara mencoba menjadi orang ‘bijak’, pahlawan bagi orang-orang yang hidup tertekan dalam kesedihan dan kemalangan.
Harus diakui memang terkadang nasihat yang diberikan boleh dikatakan memang sangat bagus sekali. Namun disadari atau tidak, selalu ada kemungkinan bahwa sang pemberi nasehat sendiri juga sedang memiliki masalah dengan dirinya sendiri.
Mungkin mereka sendiri tidak merasakannya, ataupun tidak bersedia mengakuinya. Namun dalam lubuk hati yang terdalam tidak tertutup kemungkinan tumbuh keinginan seperti itu, sebuah bentuk ego yang selalu haus akan pengakuan dari orang lain.
Rumus dasarnya kurang lebih seperti ini : “Menjadi ‘hebat’ adalah perlu agar hidup ini berarti” :)
Sebenarnya cukup disayangkan karena orang-orang yang berakting menjadi bijak berusaha mencari kebahagiaan dengan menjadi orang hebat, sedangkan orang bijak menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sebagai orang biasa.
Oleh karena itulah salah satu teman pernah berkata “kebahagiaan sejati timbul bukan karena kamu berusaha mendapatkannya, tapi karena kamu memang pantas mendapatkannya”
Yah… Tidak mengherankan memang.
Bagi orang ‘awam’ kata-kata orang yang mereka anggap bijak adalah kata-kata mutiara yang indah, sedangkan bagi orang-orang bijak kata kata tersebut hanyalah hal biasa yang sudah dilupakan kebanyakan orang.
Mengapa bisa begitu?
Menurut pandangan saya sebagai pengamat, itu karena pemikiran orang bijak tidak tercemar oleh kepentingan-kepentingan tertentu, tidak terjebak dalam dualisme dan konvensi umum, dan tidak berdasarkan suasana hati ataupun emosi sesaat. Sepenuhnya murni dan tidak ternoda.
Siladitya adalah seorang pemuda daerah yang menjadi aktivis di sebuah vihara kecil dan sederhana. Dalam hubungannya dengan teman-teman sesama aktivis, ia sangat disenangi dan dikagumi. Bukan karena penampilannya yang tampan, tetapi lebih dikarenakan adanya keindahan dalam dirinya.
Keindahan apakah yang dimilikinya hingga membuat teman-teman menyenanginya?
Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa. Sederhana saja, ia hanyalah seorang yang periang, rendah hati, suka menolong dan tidak merendahkan yang lain.
Kehadirannya dalam setiap pertemuan menambah semangat dan kegembiraan tersendiri bagi teman-teman lainnya. Ia telah menjadi figur ideal bagi teman-temannya.
Seperti yang Buddha sabdakan di hutan Jeta dekat kota Savatthi kepada seorang perumah tangga mengenai ciri orang bijak. Pada waktu itu Buddha bersabda, “O, perumah tangga, seseorang dikatakan bijak bila ia memiliki empat ciri. Apakah keempat ciri tersebut? Dalam hal ini, ketika ia dipuji orang lain, ia tidak menjadi sombong; begitu juga ketika ia mendapat celaan dari yang lain, ia tidak menjadi marah; ia memuji dengan tulus perbuatan baik orang lain. Dan yang terakhir, ketika ia mengetahui kesalahan orang lain, ia ragu akan hal itu. Inilah empat ciri orang bijak.”
Dikutip dari buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda