<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; cara pandang</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/cara-pandang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 09:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ilusi Kehidupan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 10:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[ilusi]]></category>
		<category><![CDATA[worry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Sometimes you got a feeling that you can&#8217;t explain. Somehow you feel upset for nothing. It feels like you want something you don&#8217;t really want. Strange&#8230; eh? Yuppieee&#8230; ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mood seseorang bisa berubah ubah dari waktu. Meskipun mungkin kita tidak kekurangan apapun, kita tetap bisa merasakannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sometimes you got a feeling that you can&#8217;t explain. Somehow you feel upset for nothing. It feels like you want something you don&#8217;t really want. Strange&#8230; eh?</p>
<p>Yuppieee&#8230; ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mood seseorang bisa berubah ubah dari waktu.</p>
<p>Meskipun mungkin kita tidak kekurangan apapun, kita tetap bisa merasakannya. Itulah salah satu sifat keras yang dimiliki manusia, termasuk saya sendiri.<br />
Saya percaya bahwa semua ini terjadi karena ego yang tidak bisa dikendalikan, selalu ingin lebih dan mengejar kesenangan tanpa akhir, padahal diri sendiri juga tidak banyak berbuat banyak demi mencapai tujuan itu.</p>
<p>Itu adalah satu hal. Hal lain adalah berhubungan dengan gengsi.<br />
Terkadang saya sulit mengakui kepada orang lain kalau saya memiliki masalah, just because I don&#8217;t want they think that I&#8217;m weak.<br />
That&#8217;s the negative, the positive is I never want to tell negative things about my current condition because it may somehow tempt other people to think negatively too. And also to keep the heart of people who always regards me as a &#8220;strong&#8221; person, altough in reality I&#8217;m not. For the sake of others and also my pride I won&#8217;t tell anybody. So, why I write it in here?</p>
<p>The answer is because : ini semua hanyalah pelampiasan.<br />
Saya tahu bahwa blog ini tidak memiliki banyak pembaca, oleh karena itu saya tidak perlu khawatir jika seseorang yang saya kenal membaca tulisan ini. Dan bagi yang tidak mengenal siapa saya, mari saya beberkan sisi gelap yang mungkin tidak hanya saya yang memilikinya, tapi mungkin juga orang-orang lain termasuk Anda sendiri.</p>
<p><strong>Manusia adalah makhluk yang egois.</strong></p>
<p>Mungkin sudah dari sananya kita mempunyai bibit untuk menjadi orang egois. Mungkin saja mekanisme pertahanan diri yang membuat kita menjadi orang yang egois. Sangat jarang dimana bibit egois tidak tumbuh subur dalam diri manusia, kecuali manusia tersebut punya kemampuan kontrol diri yang kuat.</p>
<p>Sebagai manusia kita punya banyak kebutuhan, mulai dari materi, ataupun yang sifatnya abstrak seperti kasih sayang dari orang lain, pengakuan dan penerimaan dari orang lain, dan lain sebagainya. Tentu saja hal itu adalah lumrah mengingat kita adalah makhluk biasa, namun ada hal hal lain yang ikut menentukan hasil akhir.</p>
<p>Seberapa banyak yang kita harapkan dan seberapa banyak harapan yang menjadi kenyataan akan menjadi sebuah cobaan bagi kita, apakah kita menerimanya atau sebaliknya tidak menerimanya dan terus menggerutu.<br />
Jika kita tidak bisa menerima apa yang terjadi pada kita dengan lapang dada (meskipun mungkin itu adalah akibat kesalahan sendiri), maka pada akhirnya kita hanya akan jatuh ke dalam penderitaan.</p>
<p>Saya sudah menemui dan berbincang bincang dengan beberapa orang yang menurut saya memiliki pemikiran dan filosofi yang luar biasa. Jika pemikiran dan filosofi itu benar benar diterapkan, seharusnya hidup tidak lagi menjadi terlalu bermasalah. Namun pada kenyataannya, hampir semua orang hebat yang saya temui pada akhirnya juga harus jatuh ke dalam jurang penderitaan, kekecewaan, kesepian, dan lain sebagainya.<br />
Kata kata yang indah tidaklah lagi indah, dan mutiara yang berkilauan sekarang menjadi kusam &#8211; setidaknya begitulah cara mereka melihat pemikiran dan filosofi hidup mereka sendiri &#8211; saya berspekulasi.</p>
<p>Tentu saja mutiara tetaplah mutiara. Namun masalahnya bukan terdapat dalam filosofi, namun dalam bagaimana mereka mempraktekkan apa yang mereka percayai sebagai benar. Orang bilang lebih mudah bicara daripada berbuat &#8211; ini mungkin ada benarnya, karena saya juga mengalaminya.</p>
<p>Contohnya, ada orang orang tertentu yang sangat tidak tahu malu, sedangkan saya sebaliknya sangat tahu malu. Terus terang saja ini tidak dapat dibanggakan karena sifat sangat tahu malu ini tidak lain adalah sifat pemalu. Bah !!<br />
Bukan hanya itu saja, bahkan saking pemalunya jadi mudah tersinggung. Sedikit sedikit malu, dan jika respon orang lain tidak sesuai harapan lantas jadi malu dan tersinggung, kemudian pengen bunuh diri !!!<br />
Untungnya saya nggak (atau belum) sampe kesitu. haha</p>
<p>Kebutuhan kebutuhan (dan juga keinginan keinginan) manusia pada akhirnya menjadi titik lemah manusia. Lihat saja bagaimana orang-orang bisa saling membunuh gara-gara makanan, uang ataupun kekuasaan. Juga lihat bagaimana orang-orang pada berlomba lomba bunuh diri gara gara nggak naik kelas ataupun cinta ditolak. Jah&#8230; terlalu banyak kekacauan disini&#8230; bahkan menjabarkannya saja sudah membuat saya sakit kepala !</p>
<p>Lalu, jika kita sudah mengetahui hal ini mengapa kita masih saja terperangkap dalam hal ini?<br />
Itu karena kita sudah terbiasa hidup dalam ilusi tak berkesudahan. Uang membuat kita gelap mata, pujian membuat kita menjadi angkuh, cinta membuat kita mudah cemburu, perhatian dan kasih sayang membuat kita candu, dan lain lain dan lain lain.</p>
<p>Hidup dalam ilusi, kita tidak sadar bahwa ini semua hanyalah ilusi. Jika kita tidak menyadarinya, bagaimana kita bisa keluar darinya? Film the matrix menggambarkan dengan cara yang mirip, meskipun mungkin tidak sempurna.</p>
<p>Cobalah untuk berpikir secara rasional, meskipun sebenarnya rasional itu sendiri mungkin tidak absolut.<br />
Jika kita hidup di dunia ini, lahir menjadi remaja, kemudian dewasa, kemudian tua, dan lantas mati. Membangun rumah yang bagus kemudian lapuk, reot terakhir jadi makanan rayap, apa yang Anda pikirkan?<br />
Jika Anda berpikir logis tentu saja Anda akan berpikir bahwa semuanya itu tidak berguna. Kalau begitu untuk apa hidup? Untuk apa bekerja, makan, minum, tidur, eek? Kalau makanan yang masuk ke perut lantas jadi eek untuk apa coba??</p>
<p>Jadi apakah itu artinya kita harus menyerah pada hidup? Kita ini siapa? Kenapa kita ada disini?<br />
Jika Anda tanyakan ke saya, saya juga bakal bungkam, karena jujur saya juga tidak tahu jawabannya !!</p>
<p>Tapi ada beberapa orang yang memberi satu petunjuk buat saya. Jika hidup tidak ada artinya bukan berarti benar benar tidak ada artinya. Ada satu kondisi yang tidak bisa dijangkau logika biasa, dan mereka sering menyebutnya &#8220;pulau seberang&#8221;. Rasa makanan tidak bisa diberitahukan kepada orang lain melalui kata-kata, oleh karena itulah bagi yang ingin tahu harus memakan sendiri makanan tersebut.</p>
<p>Saat ini saya sedang berusaha menggapai &#8220;makanan&#8221; itu, dan ketika saya tahu rasanya ya nggak apa apa&#8230;haha&#8230;<br />
Emangnya apa yang Anda harapkan? Saya juga masih dalam tahap belajar dan saya tidak bisa meramal masa depan. Namun yang bisa saya katakan untuk hari ini adalah saya akan berusaha meyakinkan diri saya sendiri agar tidak termakan ilusi. Saya akan berusaha, dan Anda juga harus berusaha&#8230; siapapun Anda.</p>
<p>TETAP SEMANGAT !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Pandang</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/08/cara-pandang/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/08/cara-pandang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 10:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pak tua ditanya oleh seseorang yang lebih muda. &#8220;Menurut Anda bagaimana yang bisa disebut sebagai makmur?&#8221; Pak tua itu menjawab : &#8220;Kakek mati, Bapak dan Ibu mati, Anak mati, Cucu Mati !&#8221; Kontan anak muda itu marah dan berkata &#8220;Apa yang kamu katakan !!! Tidak seharusnya Anda mengatakan hal seperti itu !!&#8221; Lalu pak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang pak tua ditanya oleh seseorang yang lebih muda. &#8220;Menurut Anda bagaimana yang bisa disebut sebagai makmur?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pak tua itu menjawab : &#8220;Kakek mati, Bapak dan Ibu mati, Anak mati, Cucu Mati !&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kontan anak muda itu marah dan berkata &#8220;Apa yang kamu katakan !!! Tidak seharusnya Anda mengatakan hal seperti itu !!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pak Tua itu menjawab, &#8220;Semua orang pasti mati. Hal itu tidak bisa dihindarkan. Oleh karena itu mati dalam urutan yang benar seperti itu adalah kemakmuran yang sesungguhnya. Bayangkan jika cucu yang mati duluan, kemudian disusul anak, Bapak dan terakhir kakek yang stress gara-gara melihat semua keturunannya mati. Apakah itu dapat disebut sebagai beruntung?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita itu saya dapat disebuah buku yang pernah saya baca. Sayang saya lupa judul bukunya.<br />
Tapi apa pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini? Bukan tentang mati berurutan itu bagus&#8230; tp lebih ke bagaimana kita menyikapi respon dari seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali kita terlalu cepat mengambil kesimpulan atas jawaban tidak mengenakkan dari orang lain. Jika kita mengenal orang tersebut cukup lama dan memang orang tersebut mempunyai sifat yang kurang menyenangkan.. yah apa mau dikata.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun terkadang ada juga orang orang tertentu yang mungkin hanya terlihat kasar, namun sebenarnya punya hati yang lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih penting lagi adalah apa yang yang mereka sampaikan, terlepas dari apakah itu kasar atau tidak.. apa yang bisa kita pelajari darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">SEMANGAT !!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/08/cara-pandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Pandang Orang Tua dan Anak Muda</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/cara-pandang-orang-tua-dan-anak-muda/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/cara-pandang-orang-tua-dan-anak-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 14:25:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Suatu kali saya didatangi seorang tua yang mengeluh bahwa anaknya tidak mau mendengar nasehatnya. Hal ini membuat dirinya sedih dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara dirinya dan sang anak. Apa yang salah pada ini semua? Orangtua karena rasa sayang dan khawatir akan masa depan sang anak, membuat peraturan-peraturan yang lebih dikenal dengan, &#8220;Ini boleh dan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu kali saya didatangi seorang tua yang mengeluh bahwa anaknya tidak mau mendengar nasehatnya. Hal ini membuat dirinya sedih dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara dirinya dan sang anak. Apa yang salah pada ini semua? Orangtua karena rasa sayang dan khawatir akan masa depan sang anak, membuat peraturan-peraturan yang lebih dikenal dengan, &#8220;<em>Ini boleh dan itu tidak boleh.</em>&#8221; Disisi lain, sang anak juga mengeluh kebijakan orang tua yang dianggap <em>over protecting</em> hingga terkesan tidak bisa mandiri dan yang lebih ekstrim lagi, ia katakan sebagai &#8220;mematikan kreativitas atau membunuh karakter&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita membayangkan diri kita sebagai orang tua tersebut dan mencoba untuk merasakan bagaimana perasaan orang tua terhadap anaknya, maka kita dapat memahami bahwa tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya menderita. Orang tua tentunya menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Pada saat yang sama, kita menukar diri kita sebagai seorang anak yang merasa dikekang oleh peraturan peraturan orang tua, kita dapat merasakan bagaimana tekanan yang ada bila harus mengikuti kemauan orang tua yang tidak sesuai dengan bakat dan minat kita. Tentu hal ini dapat membuat sang anak frustasi dan putus asa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya akar persoalan bukan terletak pada mana yang mesti dipilih, tetapi lebih dikarenakan kurangnya saling pengertian antara orang tua dan anak. Komunikasi merupakan hal penting untuk menyamakan persepsi dan menumbuhkan saling pengertian pada orang tua dan anak. Seringkali orang tua dalam berkomunikasi, selalu satu arah. Orang tua ingin sang anak mengerti dan melakukan apa yang mereka harapkan. Sementara itu mereka tidak mencoba untuk mengerti cara berpikir dan keluhan sang anak. Ketika sang anak merasa tidak mungkin bisa <em>curhat </em>dengan orang tua, maka disaat mereka memiliki masalah, orang tua sudah tidak lagi menjadi orang terdekat yang bisa memberikan kesejukan dan kedamaian. Hal yang sering dilupakan orang tua seperti yang Buddha katakan adalah pentingnya melakukan pendekatan dengan kasih sayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun orang tua mengharapkan yang terbaik bagi anaknya, bukan berarti jalan yang mereka pilih untuk anaknya tepat. Hal penting yang harus dipahami adalah perubahan dan perkembangan ilmu dan teknologi tentunya menuntut anak-anak sekarang lebih kreatif dan inivatif. Anak-anak bagaikan cermin. Kalau mereka berada dalam suasana kasih, kasih itulah yang mereka pantulkan. Kalau kasih tidak ada, mereka tidak mempunyai apapun untuk dibagikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Khalil Gibran suatu kali berkata : <em>Anak-anakmu adalah bukan anak-anakmu. Meskipun mereka bersamamu, tapi mereka bukan milikmu. Engkau boleh memberikan cintamu tapi bukan pemikiranmu. Janganlah membuat mereka sama denganmu. Biarkanlah mereka tumbuh dengan bebas.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pada batasan tertentu, orang tua memang mesti mengambil peranan penting bagi perkembangan anak-anak mereka (seperti moral etika) sebagai wujud tanggung jawab dan kasih sayang mereka. Namun pada hal-hal tertentu orang tua dapat memberikan kepercayaan kepada anaknya untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari buku Nuansa Hidup &#8211; Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/cara-pandang-orang-tua-dan-anak-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Memandang dari Berbagai Sisi</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/nuansa-hidup-memandang-dari-berbagai-sisi/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/nuansa-hidup-memandang-dari-berbagai-sisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 10:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Banyak permasalahan yang timbul sering kali hanya dikarenakan keterbatasan pemahaman kita terhadap realita yang sebenarnya. Pikiran sempit, sifat ingin menang sendiri dan prasangka buruk adalah akar dari permasalahan. Seseorang yang berpikiran sempit, selalu saja menutup diri dari kemungkinan kemungkinan lain. Ia tidak dapat menerima pandangan orang lain dan menanggap dirinyalah yang paling benar, terlebih lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Banyak permasalahan yang timbul sering kali hanya dikarenakan keterbatasan pemahaman kita terhadap realita yang sebenarnya. Pikiran sempit, sifat ingin menang sendiri dan prasangka buruk adalah akar dari permasalahan. Seseorang yang berpikiran sempit, selalu saja menutup diri dari kemungkinan kemungkinan lain. Ia tidak dapat menerima pandangan orang lain dan menanggap dirinyalah yang paling benar, terlebih lagi ia akan menanggap orang yang berbeda pandangan dengan dirinya sebagai musuh sekaligus orang yang menyesatkan. Orang dengan cara pandang seperti ini bagaikan cangkir yang telah penuh dengan air kotor dan tidak ada gunanya bila diisi dengan air yang bersih.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah syair zen berbunyi: &#8220;Mengerti banyak hal menjadi pandai, mengerti banyak orang menjadi bijaksana, mengerti diri sendiri menjadi cerah.&#8221; Ketika seseorang mengerti banyak hal, berarti dia memiliki wawasan luas sehingga dapat menghindari pikiran sempit menanggap apa yang diketahui adalah merupakan satu-satunya kebenaran. Proses belajar tidak berhenti pada saat seseorang menyelesaikan study dan mendapat gelar profesor atau PhD. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan baru juga terus berlangsung. Karenanya seseorang hendaknya terus belajar dan mengikuti perkembangan yang ada agar terhindar dari berpikiran sempit.</p>
<p style="text-align: justify;">Thich Nhat Hanh dalam bukunya berjudul interbeing mengatakan : &#8220;Kebenaran ditemukan dalam kehidupan dan tidak hanya dalam konsep pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar melalui semua kehidupan Anda dan amati kenyataan yang ada di dalam dirimu dan dunia setiap saat.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Syair berikutnya adalah mengerti banyak orang menjadi bijaksana. Ada pepatah yang mengatakan : seribu orang, seribu karakter. Ketika kita berkumpul dengan banyak orang atau katakanlah dalam keluarga kita sendiri, kita akan menemukan perbedaan karakter dari setiap anggota keluarga kita. Terkadang masalah muncul lebih disebabkan oleh kurangnya saling pengertian antar mereka. Satu sama lain saling menyalahkan dan menanggap merekalah yang paling benar. Kita selalu dapat memaklumi dan mengecilkan kesalahan yang kita lakukan. Pada saat yang sama, kita membesar-besarkan kesalahan orang lain kepada kita(hiperbola). Inilah salah satu sisi lemah yang ada pada diri kita. Seseorang tidak semestinya mengasihani dirinya sendiri dengan memaklumi kesalahannya dan membesar-besarkan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Seperti yang YM. Jinadhammo Mahathera katakan, &#8220;Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dilupakan.&#8221; Demikianlah yang seharusnya kita lakukan agar keharmonian dan kebersamaan menjadi mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat seseorang terbentuk dari kebiasaan yang ia lakukan dan dipengaruhi lingkungan sekitarnya yang ia cerap. Dalam bahasa Sansekerta disebut vasana atau sifat dasar yang mempengaruhi kecenderungan seseorang melakukan sesuatu. Karenanya marilah kita mencoba untuk mengerti keberagaman yang ada dengan pengertian benar. Ini sama halnya dengan makanan. Ada yang makan nasi, ada yang makan roti dan yang lain makan jagung. Walaupun jenisnya berbeda, tapi itu semua toh merupakan makanan dan dapat mengenyangkan. Seorang bijak semestinya mengerti orang lain daripada berharap orang lain mengerti dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran Buddha dibabarkan agar kita dapat hidup harmoni dengan sesama dan mengerti diri kita sendiri. Untuk dapat mengerti segala sesuatunya sebagaimana adanya, kita harus memahami diri kita yang sebenarnya. Penderitaan seringkali muncul dikarenakan ego yang kita miliki. Sepanjang pandangan tentang &#8220;Aku dan Milikku&#8221; masih melekat pada diri seseorang, penderitaan akibat dari pandangan salah ini akan terus berlangsung. Jika seseorang telah mengerti eksistensi &#8216;diri&#8217; yang sebenarnya, maka pencerahan sebagai hasilnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/nuansa-hidup-memandang-dari-berbagai-sisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Cara Pandang</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/nuansa-hidup-cara-pandang/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/nuansa-hidup-cara-pandang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 15:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini diambil dari sebuah buku karangan Bhikkhu Nyanakumuda. Diketik ulang untuk memuaskan rasa ingin tahu seorang teman tentang buku ini. Namun berhubung waktu yang sangat terbatas, isi dari buku ini akan diketik dan dibagi dalam banyak bagian dan akan diposting sesegera mungkin setelah selesai diketik. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman teman yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Tulisan ini diambil dari sebuah buku karangan Bhikkhu Nyanakumuda.<br />
Diketik ulang untuk memuaskan rasa ingin tahu seorang teman tentang buku ini.<br />
Namun berhubung waktu yang sangat terbatas, isi dari buku ini akan diketik dan dibagi dalam banyak bagian dan akan diposting sesegera mungkin setelah selesai diketik. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman teman yang lainnya juga.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam memandang suatu hal, orang lebih sering menyimpulkannya berdasarkan pengertian mereka yang lebih cenderung mengacu pada &#8220;rasa suka dan tidak suka&#8221;. Sementara yang lain memandang dari sisi &#8220;untung dan rugi&#8221;. Jika cara pandang seperti ini yang kita anut, maka kita berada sangat jauh dari kebijaksanaan. Cara pandang dapatlah diumpamakan dengan memakai kacamata. Jika Anda menggunakan kacamata hitam, maka pemandangan yang Anda lihat menjadi gelap. Jika Anda menggunakan kacamata kuning, maka kuninglah semua yang Anda lihat. Jika kacamata transparan yang Anda gunakan, maka transparan pula apa yang Anda lihat. Ini sama halnya dalam memandang suatu masalah. Jika Anda tidak senang terhadap seseorang, walaupun ia telah melakukan banyak kebaikan, tetap saja di mata Anda, ia tidak benar. Ini dikarenakan rasa tidak suka atau kebencian yang ada pada diri Anda sehingga Anda tidak dapat melihat persoalan secara jernih. Sebaliknya, jika Anda senang dengan seseorang, walau keburukan apapun yang ia lakukan, Anda seolah olah buta akan hal itu. Terlebih bila ia dapat membawa manfaat bagi kepentingan Anda. Anda seolah-olah menjadi orang bijak dengan dalih berpikir positif untuk memaklumi kecerobohannya. Inilah segelintir debu yang menutupi mata kita untuk memandang segala hal dengan jelas, jernih, dan benar.</p>
<p>~~<br />
<strong>credit to Bhikkhu Nyanakumuda.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/nuansa-hidup-cara-pandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
