<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; Cerita Inspirasi</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/cerita-inspirasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 09:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Cerita Tentang Aku</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 01:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221; Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan. Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan. Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain. Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221;</p>
<p>Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.<br />
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.<br />
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.<br />
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.<br />
Karena ego, maka ada yang disebut &#8216;pengorbanan&#8217;, berguna ataupun tidak berguna.</p>
<p>Lalu apakah harus melepaskan ego?<br />
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?<br />
<span id="more-152"></span></p>
<p>Hidup penuh pertimbangan.<br />
Mungkin hanya untuk sebuah jawaban &#8220;Ya !!!&#8221;, butuh lebih dari seribu kali pertimbangan.<br />
Itu karena adanya rasa takut yang terus menerus menghantui.</p>
<p>Terkadang rasa takut itu muncul hanya sesaat dan kemudian pergi.<br />
Rasa takut itu datang dan pergi semaunya.<br />
Meskipun hati ini sangat tenang, namun sesekali tetesan air jatuh dan membuat riak riak kecil di atas air.</p>
<p>Ini adalah sebuah bentuk peringatan.</p>
<p>Terkadang setelah berjalan sangat jauh, ada hal-hal kecil yang terlupakan.<br />
Bahkan karena hal-hal kecil itu, perjalanan jauh bisa jadi sia-sia.</p>
<p>Hal itulah yang mengundang rasa takut itu muncul dalam diriku, sesekali datang dengan frekwensi yang tidak teratur.</p>
<p>Rasa takut itu datang bukan dari tempat yang jauh, namun datang dari sebuah tempat di dalam diri sendiri yang selama ini adalah merupakan daerah abu abu.. daerah sudah lama tak dijamah dan yang telah ditelantarkan sekian lama. Daerah yang penuh dengan pengalaman buruk dan penderitaan yang menyakitkan hati.</p>
<p>Mungkin kebahagiaan saat ini datang karena aku sudah mengabaikan &#8216;daerah&#8217; tersebut. Mungkin apa yang selama ini kurasakan sebagai &#8216;melepaskan&#8217; hanyalah topeng atau bentuk lain yang lebih canggih dari &#8216;mengingkari&#8217;. Mungkin inilah yang disebut ketidaktulusan yang tidak terlihat.</p>
<p>Jika saja tidak ada event yang memicu datangnya rasa takut ini, mungkin aku tidak akan menyadari ini semua.</p>
<p>Yah&#8230; saat ini aku merasa baik baik saja.<br />
Namun setelah rasa takut itu datang untuk pertama kalinya, dan terus menerus datang dengan intensitas yang semakin kuat, aku merasa aku harus menemukan jawabannya. Aku harus menemukan jalan keluarnya.</p>
<p>Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai bergulir.<br />
Aku terpaksa menghentikan perjalananku untuk sementara waktu, menghabiskan waktu untuk berpikir dan lebih banyak mendengarkan dan menyimak pendapat dan pengalaman orang lain. Meskipun tidak bertanya, namun aku terus mengamati keadaan dan pengalaman orang lain. Aku terus berusaha mencari sebuah jalan keluar.<br />
Apa yang kupelajari dari luar nantinya akan menjadi variabel input bagiku untuk menemukan jalan/jawaban di dalam diriku sendiri.</p>
<p>Namun suatu hari, sesuatu yang tidak kukenal yang datang entah dari mana, datang untuk memperingatkan aku. Ia mengatakan padaku bahwa aku harus melanjutkan perjalananku, terlepas dari berhasil tidaknya aku menemukan jawaban dari dalam diri sendiri. Waktunya sudah dekat, aku tidak boleh hanya berdiam diri disini dan terus menerus mengasihani diri sendiri.</p>
<p>Mengasihani diri sendiri??? Benarkah???<br />
Apakah aku memang sedang mengasihani diri sendiri???</p>
<p>Karena pendapat itu datang dari tempat lain, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, karena terkadang pihak lain bisa melihat diri kita secara lebih jelas, apa adanya.</p>
<p>Aku terus berpikir dan berpikir, namun tetap belum berjalan sedikit pun.<br />
Kemudian sesuatu itu berkata lagi, &#8220;Jika kamu tidak cepat berjalan dan pergi dari tempat ini, ketakutan yang selama ini menghantuimu akan datang lagi dan mewujudkan diri menjadi kenyataan. Menghancurkanmu berlipat lipat dari sebelumnya dan yang paling buruk: meskipun kamu menang, namun dengan cara yang salah maka kamu akan mendapatkan berkah kekuatan negatif yang akan merubahmu menjadi setan, yang pada akhirnya akan membuat orang orang disekitarmu menderita !!! Ini sama saja dengan kalah !!! Dan seandainya kamu tidak &#8216;menang&#8217; dan tidak &#8216;kalah&#8217;, kamu akan memulai perjalanan dari awal lagi.&#8221;</p>
<p>Aku hanya terdiam&#8230; aku tidak berkata apapun padanya.<br />
Namun dalam hati aku tahu apa yang dikatakannya mempunyai potensi untuk menjadi kenyataan.<br />
Jika memang aku tidak siap pada waktunya, maka biarkanlah aku hancur berkeping keping.<br />
Bahkan jika aku harus menjadi setan sekalipun, yang menghancurkan hidup orang banyak, biarkanlah aku menjadi terkutuk dan dikirim ke neraka selamanya.<br />
Aku lelah terus berlari. Aku hanya ingin menang atau sebaliknya dikalahkan. Ini adalah pilihan hidupku.</p>
<p>Kemudian sesuatu itupun pergi, dengan penuh rasa jengkel.<br />
Mungkin karena aku telah mengecewakan dia.<br />
Namun aku tidak menyesal dengan jawabanku, aku ingin terus tersenyum seperti ini. Aku harus terus bertahan.</p>
<p>Melihat kejengkelan yang timbul dari &#8216;sesuatu&#8217; itu, aku pun mulai berspekulasi tentang siapakah &#8216;sesuatu&#8217; itu?<br />
Mengapa ia harus merasa jengkel, mengapa ia begitu peduli, dan mengapa ia datang, padahal aku tidak mengundangnya. Mungkin dia adalah rasa takut itu sendiri yang datang dalam bentuk lain, mencoba mempengaruhi diriku untuk terus menerus melarikan diri darinya.<br />
Mungkin ia melakukan itu untuk mempertahankan eksistensi dirinya sendiri, karena pada saat kondisi terakhir terjadi : aku menang ataupun aku kalah, rasa takut itu takut akan mati, dan menghilang.</p>
<p>Namun sebenarnya dalam pandanganku rasa takut tidak akan hilang, ia hanya akan kehilangan sebagian besar kekuatannya.<br />
Rasa takut telah dimakan oleh kekuatannya sendiri. Namun aku berterima kasih pada rasa takut itu, karena berkat dialah aku menemukan hal lainnya yang akan menjadi tambahan kekuatan bagiku yaitu : Kepercayaan terhadap diri sendiri.</p>
<p>Meskipun aku tidak tahu apakah modalku sudah cukup, namun aku tetap akan menghadapinya.<br />
Aku akan mulai menghidupkan kendaraanku, melanjutkan perjalananku, namun tidak untuk menghindari rasa takut itu.<br />
Jika dia memang harus datang, maka datanglah. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka lebar, tidak untuk mengalah namun untuk menerimanya dengan kasih dan kehangatan. Aku berharap suatu saat disaat aku &#8216;menang&#8217;, rasa takut itu akan mengganti bajunya dan melebur kedalam diriku. Rasa takut itu sebenarnya adalah bagian dari diriku yang telah kupisahkan dan kuasingkan di tempat yang jauh, padahal tempatnya adalah bersama diriku, disini saat ini juga. Aku baru menyadarinya, dan sekarang karena aku telah bersalah, aku bertanggung jawab untuk mengambilnya kembali, dan membersihkan semua noda yang telah membuatnya menjadi rasa takut yang mengerikan seperti sekarang.</p>
<p>Aku tidak tahu apakah aku akan &#8216;menang&#8217;, atau &#8216;menangis&#8217;, ataupun tidak menang tidak kalah.<br />
Aku akan berusaha, sementara itu aku akan terus belajar, belajar dari orang lain, belajar dari hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk.</p>
<p>~~~</p>
<p>Semakin dekat aku dengan rasa sakit, semakin dekat aku dengan rasa kecewa, semakin dekat aku dengan kemarahan, kebencian, kegelisahan dan segala hal yang aku takuti, asalkan aku terus berusaha menjaga kesadaranku maka aku bisa semakin mengenali mereka, bagaimana cara kerja mereka, dan bagaimana mengatasi mereka. Semoga aku bisa tetap bertahan dengan kesadaranku. Aku meletakkan satu tanganku pada keteguhan diriku sendiri, dan satu tanganku yang lain pada keluarga, dan teman temanku. Dengan cara demikianlah aku berusaha tetap teguh untuk menjaga kesadaranku.</p>
<p>Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mencintai seseorang seperti apa yang aku inginkan : tanpa penguasaan, tanpa penghakiman, tanpa pamrih, tanpa kecemburuan, tanpa kecurigaan. Murni berlandaskan keinginan untuk membahagiakan satu sama lain, pengertian, kepercayaan, kejujuran dan ketulusan. Jika hal tersebut tidak dapat berjalan dalam hubungan timbal balik, maka biarkanlah ia berjalan satu arah, sampai saatnya tiba dimana hal tersebut berakhir karena termakan usia/waktu ataupun kejadian. Dengan demikian aku tidak akan menyakiti diri sendiri,karena sudah tidak ada yang bisa disakiti dan memberi usaha maksimal untuk tidak menyakiti orang yang kukasihi.</p>
<p>Sampai saatnya tiba, aku tidak boleh menyerah. Aku harus tetap berusaha. Oleh karena itu aku harus TETAP SEMANGAT !!!<br />
Semoga kita semua menemukan jalan kita. Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Sang Ayah</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2008/06/pesan-sang-ayah/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2008/06/pesan-sang-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 03:02:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pesan Sang Ayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardychen.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sebuah cerita yang menarik. Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Sebelum meninggal, ayah mereka berpesan dua hal : 1. Jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu 2. Jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari. Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://hardychen.com/wp-content/uploads/2008/06/two_eggs1.jpg" alt="" width="168" height="112" />Ini adalah sebuah cerita yang menarik.<br />
Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Sebelum meninggal, ayah mereka berpesan dua hal :<br />
1. Jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu<br />
2. Jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar  matahari.</p>
<p>Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.</p>
<p>Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.</p>
<p>Jawab anak yang bungsu :<br />
Inilah karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak.</p>
<p>Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang ibupun bertanya hal yang sama.</p>
<p>Jawab anak sulung  :<br />
Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama.</p>
<p>Bagaimana dengan anda ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2008/06/pesan-sang-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
