Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Renungan – Memberi dan Menerima

Dimana mana kita sering mendengar kata cinta. Apa sebenarnya cinta?
Bagaimana mencintai? Semua orang punya persepsi mereka sendiri sendiri..
Cinta harusnya bukan sebuah hal yang sifatnya egois, namun seseorang pernah berkata kepada saya bahwa cinta sudah seharusnya egois. Jika begitu adalah pandangannya, saya juga tidak bisa menyalahkan dia. Karena beginilah yang ia lihat dari dunia, beginilah ia merasakan manis dan pahitnya dunia.
Read the rest of this entry »

Share

Cerita Daun, Angin dan Pohon

Beberapa saat yang lalu saya membaca satu cerita. Saya merasa cerita itu sangat mirip dengan kondisi saya yang sekarang.

Sebelum saya banyak menceritakan cerita saya, mari kita simak cerita daun, angin, dan pohon. “Daun terbang karena angin bertiup atau pohon tidak memintanya untuk tinggal?”
Read the rest of this entry »

Share

Cinta dan Kebahagiaan

Matahari bersinar terik, burung-burung malas terbang.
Beginilah keadaan hari ini. :)

Beberapa saat lalu saya melihat postingan dari salah satu teman saya. Dia mengatakan bahwa cinta adalah menyakitkan.

Berbicara mengenai masalah cinta memang tidak habis-habisnya.
Memang pada dasarnya cinta akan terasa sangat menyakitkan jika cinta yang diberikan tidak mendapat balasan dari pihak yang satunya lagi. Cinta bertepuk sebelah tangan, tidak ada suaranya, yang ada hanyalah kesedihan.

Tapi ada seorang teman yang lain mengatakan bahwa cinta tidak harus memiliki.  Benarkah?

Bisa iya bisa tidak.
Mungkin saja dia mengatakan hal itu hanya untuk menghibur dirinya sendiri yang telah kehilangan atau bisa juga karena dia memang tidak diikat oleh perasaan semacam itu.
Alangkah baiknya jika kemungkinan kedua adalah kenyataannya namun kenyataannya juga lebih banyak yang mengucapkan kata-kata itu demi menghibur diri sendiri ataupun orang lain yang dikasihani.

Cinta dengan tujuan untuk memiliki tidaklah selalu menyenangkan.
Ada saat-saat dimana kita khawatir akan kehilangan orang yang kita cintai; ada saat-saat dimana kita takut orang yang kita cintai berubah menjadi orang lain; ada saatnya kita takut diri kita yang berubah sehingga tidak bisa lagi merasakan indahnya cinta; dan ada saatnya kita cemas & ragu-ragu akan pilihan yang telah kita buat untuk masa depan kita atas nama cinta, dan lain sebagainya. Demikianlah banyaknya syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kehidupan cinta yang bahagia.

Banyaknya syarat-syarat yang harus dipenuhi tersebut apakah seimbang dengan banyaknya kesempatan untuk memenuhi semua syarat-syarat itu? Apakah juga seimbang dengan kemungkinan atas pengurangan syarat-syarat itu dalam kehidupan nyata?

Jika iya, ya bagus. Jika tidak, ya tidak bagus.

Belakangan saya menyadari bahwa hidup manusia sangat rapuh. Saya menyadarinya mungkin karena saya terlalu lemah atau kondisi yang terjadi pada diri saya yang terlalu ekstrim. Saya tidak dapat menilai dan siapapun tidak dapat menilai karena masing-masing memiliki standar mereka sendiri.
Namun apapun itu, dari ‘kesadaran’ itu saya belajar bahwa tidak baik untuk menggantungkan kebahagiaan terlalu banyak pada orang lain.
Hendaknya sebelum mencoba membahagiakan orang lain,  kita terlebih dahulu belajar untuk membahagiakan diri sendiri.

Kebahagiaan disini artinya bukan kebahagiaan semu, melainkan kebahagiaan dalam kedamaian yang tidak akan lekang oleh tempat dan waktu. Kebahagiaan yang tidak diciptakan oleh pengaruh dari luar melainkan dari dalam diri sendiri yang terpancar keluar. Dengan arti lain bahwa Anda sudah memiliki lilin sendiri dibanding terus-menerus mengharapkan penerangan dari luar.

Kita adalah pengembara.

Disatu saat kita bertemu dengan orang-orang yang menderita yang perlu kita kasihi, disaat lain kita bertemu dengan orang-orang yang mengasihi kita. Terkadang kita juga bertemu dengan orang-orang yang membenci kita, dan ada pula masa dimana kita bertemu dengan orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kita.

Inti persoalannya adalah kita punya perasaan memiliki. Kita berpikir bahwa kebaikan yang kita berikan kepada orang lain adalah milik kita, kebaikan yang kita terima juga adalah milik orang lain. Semuanya adalah masalah tentang kepemilikan, yang terus-menerus membuat kita terombang-ambing antara perasaan bahagia dan tidak bahagia. Padahal tidak ada satu hal pun yang kita miliki didunia ini.

Kita hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki apa-apa.
Yang ada bersama kita saat ini: tubuh, harta dan lain sebagainya hanyalah titipan dan pada saatnya akan pergi dari kita. Kembalilah ke jati diri Anda yang sebenarnya, bahwa Anda adalah pengembara dan Anda tidak memiliki apa-apa. Pergi kemanapun dengan tanpa membawa beban di pundak Anda. Dengan demikian, maka Anda akan selalu bahagia.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Share

Sad Ending… Bisakah Anda Menerima Kenyataan ?

Oh… Damn… God Damn Shit !! – Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut.

Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film – bukan kenyataan, sudah bisa menghancurkan hati saya sampai berkeping keping?

Kebanyakan orang tentu tidak suka dengan ending yang tragis. Namun ada beberapa orang justru senang. Sepertinya memainkan perasaan sendiri adalah pekerjaan yang begitu menyenangkan, huh?

Hidup itu tidak selalu seindah yang kita kira, dan juga tidak selalu sejelek yang kita kira. Kenyataannya adalah hidup ini ada senang, ada sedih, juga ada bosan. Namun tidak semua orang dapat menerima kenyataan itu, sehingga pada akhirnya malah menyiksa diri sendiri.

Alkisah, ada seorang pria yang memiliki seorang kekasih yang amat dicintainya. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain, namun pemikiran mereka sama sekali berbeda.
Sang pria menyadari bahwa cinta sangatlah indah namun sewaktu waktu dapat berubah menjadi racun, karena tidak ada hal yang abadi di dunia ini, termasuk cinta itu sendiri. Sedangkan sang wanita sama sekali tidak memiliki pemikiran itu. Sang wanita selalu berpikir optimis bahwa semuanya akan selalu indah seperti hari ini, selamanya…

Suatu hari, sang pria mengalami sakit parah dan nyawanya sudah diujung tanduk. Peluangnya untuk bertahan hidup sangatlah tipis. Disisa waktu hidupnya yang semakin menipis, ia berpesan kepada kekasihnya agar tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik, jangan bersedih terlalu lama dan berharap agar ia dapat menjaga dirinya sendiri dengan baik. Namun kekasihnya yang selalu berpikir optimis kali ini tidak lagi optimis dengan peluang kesembuhan kekasihnya. Ia merasa sangat sedih dan hatinya hancur berkeping keping. Setiap hari ia hanya bisa menangis dan meratapi nasib kekasihnya.

Sang pria yang melihat keadaan seperti ini merasa sangat kasihan kepada kekasihnya dan karena rasa cintanya yang besar terhadap kekasihnya ia bertekad untuk sembuh, separah apapun keadaannya saat ini.

Karena tekadnya yang kuat itu telah menguasai seluruh tubuhnya, berangsur angsur tubuhnya mulai pulih dan akhirnya ia sembuh total.
Semenjak itu ia bertekad tidak akan mati mendahului kekasihnya karena rasa belas kasihnya yang besar terhadap kekasihnya.
Ditinggalkan lebih menyakitkan dibanding meninggalkan, bukan?

Dari cerita ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya pikiran kita tidaklah benar benar bebas.
Kita dikuasai oleh kebahagiaan kita dan penderitaan kita. Kitalah yang tidak melepaskan diri dari jeratan yang kita buat sendiri. Kehancuran ataupun kelanjutan/keberlangsungan kebahagiaan kita ditentukan oleh faktor-faktor yang sifatnya tidak pasti. Dengan demikianlah kita jatuh ke kolam lumpur dan/atau terbang ke langit ke 7.

Oleh karena itulah, jika kita tidak ingin menderita, tidak ingin dilempar kesana kemari, kita harus mampu menerima kenyataan. Apapun yang akan pergi biarkanlah pergi, apapun yang akan datang biarlah datang… namun begitu, jangan selalu menyerahkan semuanya kepada nasib. Apa yang masih bisa diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Apa yang sudah tidak mungkin diperjuangkan, maka lepaskanlah.

Semoga semua makhluk mampu menemukan kebahagiaannya sendiri.

Share

Dimanakah letak kebahagiaan, dimanakah penderitaan?


Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya.
Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi… tetap saja akan menderita.
Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan?
Read the rest of this entry »

Share

Cerita Tentang Aku

“Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti”

Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Karena ego, maka ada yang disebut ‘pengorbanan’, berguna ataupun tidak berguna.

Lalu apakah harus melepaskan ego?
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?
Read the rest of this entry »

Share

Apakah Anda Dicintai atau Mencintai ?

  • Orang yang benar benar mencintai kamu tidak berusaha menunjukkan rasa cintanya kepada kamu.
  • Orang yang benar benar mencintai kamu selalu membantumu tanpa kamu sadari.
  • Read the rest of this entry »
Share