Matahari bersinar terik, burung-burung malas terbang.
Beginilah keadaan hari ini.
Beberapa saat lalu saya melihat postingan dari salah satu teman saya. Dia mengatakan bahwa cinta adalah menyakitkan.
Berbicara mengenai masalah cinta memang tidak habis-habisnya.
Memang pada dasarnya cinta akan terasa sangat menyakitkan jika cinta yang diberikan tidak mendapat balasan dari pihak yang satunya lagi. Cinta bertepuk sebelah tangan, tidak ada suaranya, yang ada hanyalah kesedihan.
Tapi ada seorang teman yang lain mengatakan bahwa cinta tidak harus memiliki. Â Benarkah?
Bisa iya bisa tidak.
Mungkin saja dia mengatakan hal itu hanya untuk menghibur dirinya sendiri yang telah kehilangan atau bisa juga karena dia memang tidak diikat oleh perasaan semacam itu.
Alangkah baiknya jika kemungkinan kedua adalah kenyataannya namun kenyataannya juga lebih banyak yang mengucapkan kata-kata itu demi menghibur diri sendiri ataupun orang lain yang dikasihani.
Cinta dengan tujuan untuk memiliki tidaklah selalu menyenangkan.
Ada saat-saat dimana kita khawatir akan kehilangan orang yang kita cintai; ada saat-saat dimana kita takut orang yang kita cintai berubah menjadi orang lain; ada saatnya kita takut diri kita yang berubah sehingga tidak bisa lagi merasakan indahnya cinta; dan ada saatnya kita cemas & ragu-ragu akan pilihan yang telah kita buat untuk masa depan kita atas nama cinta, dan lain sebagainya. Demikianlah banyaknya syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kehidupan cinta yang bahagia.
Banyaknya syarat-syarat yang harus dipenuhi tersebut apakah seimbang dengan banyaknya kesempatan untuk memenuhi semua syarat-syarat itu? Apakah juga seimbang dengan kemungkinan atas pengurangan syarat-syarat itu dalam kehidupan nyata?
Jika iya, ya bagus. Jika tidak, ya tidak bagus.
Belakangan saya menyadari bahwa hidup manusia sangat rapuh. Saya menyadarinya mungkin karena saya terlalu lemah atau kondisi yang terjadi pada diri saya yang terlalu ekstrim. Saya tidak dapat menilai dan siapapun tidak dapat menilai karena masing-masing memiliki standar mereka sendiri.
Namun apapun itu, dari ‘kesadaran’ itu saya belajar bahwa tidak baik untuk menggantungkan kebahagiaan terlalu banyak pada orang lain.
Hendaknya sebelum mencoba membahagiakan orang lain, Â kita terlebih dahulu belajar untuk membahagiakan diri sendiri.
Kebahagiaan disini artinya bukan kebahagiaan semu, melainkan kebahagiaan dalam kedamaian yang tidak akan lekang oleh tempat dan waktu. Kebahagiaan yang tidak diciptakan oleh pengaruh dari luar melainkan dari dalam diri sendiri yang terpancar keluar. Dengan arti lain bahwa Anda sudah memiliki lilin sendiri dibanding terus-menerus mengharapkan penerangan dari luar.
Kita adalah pengembara.
Disatu saat kita bertemu dengan orang-orang yang menderita yang perlu kita kasihi, disaat lain kita bertemu dengan orang-orang yang mengasihi kita. Terkadang kita juga bertemu dengan orang-orang yang membenci kita, dan ada pula masa dimana kita bertemu dengan orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kita.
Inti persoalannya adalah kita punya perasaan memiliki. Kita berpikir bahwa kebaikan yang kita berikan kepada orang lain adalah milik kita, kebaikan yang kita terima juga adalah milik orang lain. Semuanya adalah masalah tentang kepemilikan, yang terus-menerus membuat kita terombang-ambing antara perasaan bahagia dan tidak bahagia. Padahal tidak ada satu hal pun yang kita miliki didunia ini.
Kita hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki apa-apa.
Yang ada bersama kita saat ini: tubuh, harta dan lain sebagainya hanyalah titipan dan pada saatnya akan pergi dari kita. Kembalilah ke jati diri Anda yang sebenarnya, bahwa Anda adalah pengembara dan Anda tidak memiliki apa-apa. Pergi kemanapun dengan tanpa membawa beban di pundak Anda. Dengan demikian, maka Anda akan selalu bahagia.
Semoga semua makhluk berbahagia.