<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; cinta</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 09:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Sad Ending&#8230; Bisakah Anda Menerima Kenyataan ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 09:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/</guid>
		<description><![CDATA[Oh… Damn… God Damn Shit !! – Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut. Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film &#8211; bukan kenyataan, sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oh… Damn… God Damn Shit !! – Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut.</p>
<p align="justify">Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film &#8211; bukan kenyataan, sudah bisa menghancurkan hati saya sampai berkeping keping?</p>
<p align="justify">Kebanyakan orang tentu tidak suka dengan ending yang tragis. Namun ada beberapa orang justru senang. Sepertinya memainkan perasaan sendiri adalah pekerjaan yang begitu menyenangkan, huh?</p>
<p align="justify">Hidup itu tidak selalu seindah yang kita kira, dan juga tidak selalu sejelek yang kita kira. Kenyataannya adalah hidup ini ada senang, ada sedih, juga ada bosan. Namun tidak semua orang dapat menerima kenyataan itu, sehingga pada akhirnya malah menyiksa diri sendiri.</p>
<p>Alkisah, ada seorang pria yang memiliki seorang kekasih yang amat dicintainya. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain, namun pemikiran mereka sama sekali berbeda.   <br />Sang pria menyadari bahwa cinta sangatlah indah namun sewaktu waktu dapat berubah menjadi racun, karena tidak ada hal yang abadi di dunia ini, termasuk cinta itu sendiri. Sedangkan sang wanita sama sekali tidak memiliki pemikiran itu. Sang wanita selalu berpikir optimis bahwa semuanya akan selalu indah seperti hari ini, selamanya…</p>
<p align="justify">Suatu hari, sang pria mengalami sakit parah dan nyawanya sudah diujung tanduk. Peluangnya untuk bertahan hidup sangatlah tipis. Disisa waktu hidupnya yang semakin menipis, ia berpesan kepada kekasihnya agar tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik, jangan bersedih terlalu lama dan berharap agar ia dapat menjaga dirinya sendiri dengan baik. Namun kekasihnya yang selalu berpikir optimis kali ini tidak lagi optimis dengan peluang kesembuhan kekasihnya. Ia merasa sangat sedih dan hatinya hancur berkeping keping. Setiap hari ia hanya bisa menangis dan meratapi nasib kekasihnya.</p>
<p align="justify">Sang pria yang melihat keadaan seperti ini merasa sangat kasihan kepada kekasihnya dan karena rasa cintanya yang besar terhadap kekasihnya ia bertekad untuk sembuh, separah apapun keadaannya saat ini.</p>
<p>Karena tekadnya yang kuat itu telah menguasai seluruh tubuhnya, berangsur angsur tubuhnya mulai pulih dan akhirnya ia sembuh total.   <br />Semenjak itu ia bertekad tidak akan mati mendahului kekasihnya karena rasa belas kasihnya yang besar terhadap kekasihnya.     <br />Ditinggalkan lebih menyakitkan dibanding meninggalkan, bukan?</p>
<p>Dari cerita ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya pikiran kita tidaklah benar benar bebas.    <br />Kita dikuasai oleh kebahagiaan kita dan penderitaan kita. Kitalah yang tidak melepaskan diri dari jeratan yang kita buat sendiri. Kehancuran ataupun kelanjutan/keberlangsungan kebahagiaan kita ditentukan oleh faktor-faktor yang sifatnya tidak pasti. Dengan demikianlah kita jatuh ke kolam lumpur dan/atau terbang ke langit ke 7.</p>
<p align="justify">Oleh karena itulah, jika kita tidak ingin menderita, tidak ingin dilempar kesana kemari, kita harus mampu menerima kenyataan. Apapun yang akan pergi biarkanlah pergi, apapun yang akan datang biarlah datang… namun begitu, jangan selalu menyerahkan semuanya kepada nasib. Apa yang masih bisa diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Apa yang sudah tidak mungkin diperjuangkan, maka lepaskanlah.</p>
<p align="justify">Semoga semua makhluk mampu menemukan kebahagiaannya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dimanakah letak kebahagiaan, dimanakah penderitaan?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 10:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya. Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi&#8230; tetap saja akan menderita. Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan? Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="moon" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/2286939_blog.jpg" alt="" width="267" height="280" align="center" /><br />
Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya.<br />
Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi&#8230; tetap saja akan menderita.<br />
Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan?<br />
<span id="more-333"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak akan bertahan selamanya.<br />
Orang bilang mengapa harus berpikir pesimistis. Kebahagiaan saat ini adalah kebahagiaan saat ini, tidak perlu memikirkan masa depan yang tidak pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini betul, namun hal ini juga sekaligus menegaskan bahwa penderitaan akibat ketidakpastian masa depan juga tidak dapat dihindarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Benarkah seperti itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu penyebab penderitaan manusia adalah adanya pemikiran tentang kepemilikan. Harta ini adalah milikku, cinta ini adalah milikku, kebahagiaan ini adalah milikku.<br />
Karena adanya pemikiran seperti ini, maka ketika ketidakpastian merenggut semuanya itu&#8230;akibatnya timbullah penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita seakan tidak sadar bahwa bahkan tubuh kita juga bukanlah milik kita. Setiap detiknya ada sel sel yang mati dan lahir dalam tubuh kita. Apa yang dulunya dianggap sebagai kepunyaan, sekarang mati dan digantikan yang lain. Jika begitu, masih relevankah konsep kepemilikan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hidup ini setiap bentuk kehidupan akan terus berusaha mempertahankan eksistensinya. Tanpa adanya sifat seperti itu, tidak akan pernah ada makhluk yang bisa hidup, tidak ada regenerasi, tidak ada kehidupan.<br />
Demikian juga dengan kita. Adalah sudah kodratnya kita makan, dan minum untuk mempertahankan hidup kita. Juga sudah kodratnya kita mencintai sesama kita; namun terkadang, tanpa kita sadari kita telah melakukannya secara berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang pernah bertanya, apakah mungkin kita bisa mencintai orang lain tanpa terikat dengan orang tersebut?<br />
Orang tersebut menjawab tidak mungkin.<br />
Dia bertanya lantas menjawab sendiri. Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat.<br />
Dalam cerita zen, orang tersebut seperti cangkir yang telah penuh. Apapun yang diisikan kedalamnya akan tumpah keluar. Apapun hal yang kita sampaikan tidak akan didengar, kecuali jika hal tersebut sesuai dengan pemikirannya sendiri. Orang tersebut tidak pernah belajar apapun kecuali pandangan-pandangannya sendiri terhadap kehidupan.</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Dimanakah penderitaan?</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya salah satu alasan mengapa kita menderita adalah kita sendiri yang telah mengikatkan diri ke dalam penderitaan itu. Sebagai contoh, pada saat kita mencintai seseorang, kemudian orang tersebut meninggalkan kita &#8211; kita lantas berpikir bahwa mereka benar benar telah meninggalkan kita. Ini adalah sebuah pandangan yang mungkin tidak tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, apa definisi yang paling tepat untuk kata &#8216;ditinggalkan&#8217;?<br />
Apakah karena orang tersebut tidak ada lagi?<br />
Jika orang tersebut masih ada (masih hidup), namun tidak terlihat oleh kita entah karena sudah pergi ke tempat yang jauh atau karena alasan lain &#8211; apakah itu masih dapat disebut ditinggalkan?<br />
Jika demikian istilah ditinggalkan lebih mengacu kepada apakah orang tersebut masih bisa dilihat dengan mata kepala kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika begitu halnya&#8230;seumpamanya kita masih bisa melihatnya (tubuhnya), tapi orang tersebut sudah mati, apakah masih bisa disebut ditinggalkan?<br />
Anngaplah orang tersebut masih hidup namun tiba tiba dia berubah mempunyai perangai (tabiat/sifat) yang lain dari yang kita kenal&#8230; apakah itu juga bisa didefinisikan bahwa orang tersebut telah pergi?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya &#8216;orang&#8217; tersebut tidaklah benar-benar pergi.<br />
Semua yang telah dilakukan orang tersebut telah membuat banyak kesan di pikiran kita. Pada saat orang tersebut meninggalkan kita (meninggal atau telah pergi jauh) &#8211; kesan-kesan tentang dirinya di pikiran kita tetap ada, namun ia telah berhenti berkembang, atau dengan kata lain sudah berhenti bergerak.<br />
Dan karena sudah berhenti bergerak inilah, kita cenderung menganggapnya sebagai mati. Padahal sebenarnya, meskipun orang tersebut telah hilang secara fisik, namun ia tetap hidup dalam pikiran kita. Bahkan ketika orang tersebut masih hidup, yang kita kenali/akui sebenarnya bukanlah fisik dari orang yang kita cintai itu, melainkan kesan kesan yang muncul dalam pikiran kita. Fisik hanyalah salah satu input untuk menciptakan kesan dalam pikiran kita. Creatornya tetap adalah pikiran kita.<br />
Lagipula, jika memang kita mengakui orang tersebut hanya secara fisik, tentunya kita tidak akan merasa tidak nyaman jika orang yang kita cintai bersikap/bertindak tidak sesuai dengan harapan kita, karena yang kita cintai hanya fisiknya. Juga kita tidak akan keberatan jika fisiknya jelek karena yang kita cintai adalah fisiknya, bukan hasil penilaian (kesan) terhadap fisik tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya,&#8230; yang kita cintai bukanlah fisik orang tersebut, melainkan kesan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri mengenai orang tersebut. Penciptaan kesan tersebut bervariasi tergantung penilaian pikiran kita terhadap orang yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika semua hal itu tinggal dalam pikiran kita, mengapa kita harus khawatir bahwa ini telah pergi dan itu telah datang? Apa yang harus pergi biarkanlah pergi&#8230; apa yang harus datang biarkanlah datang, tidak perlu terikat kepada banyak hal, karena hal-hal itu tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, juga tidak pernah benar-benar mendatangi kita. Semuanya berasal dari pikiran dan dapat diselesaikan dalam pikiran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tentang Aku</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 01:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221; Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan. Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan. Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain. Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221;</p>
<p>Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.<br />
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.<br />
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.<br />
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.<br />
Karena ego, maka ada yang disebut &#8216;pengorbanan&#8217;, berguna ataupun tidak berguna.</p>
<p>Lalu apakah harus melepaskan ego?<br />
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?<br />
<span id="more-152"></span></p>
<p>Hidup penuh pertimbangan.<br />
Mungkin hanya untuk sebuah jawaban &#8220;Ya !!!&#8221;, butuh lebih dari seribu kali pertimbangan.<br />
Itu karena adanya rasa takut yang terus menerus menghantui.</p>
<p>Terkadang rasa takut itu muncul hanya sesaat dan kemudian pergi.<br />
Rasa takut itu datang dan pergi semaunya.<br />
Meskipun hati ini sangat tenang, namun sesekali tetesan air jatuh dan membuat riak riak kecil di atas air.</p>
<p>Ini adalah sebuah bentuk peringatan.</p>
<p>Terkadang setelah berjalan sangat jauh, ada hal-hal kecil yang terlupakan.<br />
Bahkan karena hal-hal kecil itu, perjalanan jauh bisa jadi sia-sia.</p>
<p>Hal itulah yang mengundang rasa takut itu muncul dalam diriku, sesekali datang dengan frekwensi yang tidak teratur.</p>
<p>Rasa takut itu datang bukan dari tempat yang jauh, namun datang dari sebuah tempat di dalam diri sendiri yang selama ini adalah merupakan daerah abu abu.. daerah sudah lama tak dijamah dan yang telah ditelantarkan sekian lama. Daerah yang penuh dengan pengalaman buruk dan penderitaan yang menyakitkan hati.</p>
<p>Mungkin kebahagiaan saat ini datang karena aku sudah mengabaikan &#8216;daerah&#8217; tersebut. Mungkin apa yang selama ini kurasakan sebagai &#8216;melepaskan&#8217; hanyalah topeng atau bentuk lain yang lebih canggih dari &#8216;mengingkari&#8217;. Mungkin inilah yang disebut ketidaktulusan yang tidak terlihat.</p>
<p>Jika saja tidak ada event yang memicu datangnya rasa takut ini, mungkin aku tidak akan menyadari ini semua.</p>
<p>Yah&#8230; saat ini aku merasa baik baik saja.<br />
Namun setelah rasa takut itu datang untuk pertama kalinya, dan terus menerus datang dengan intensitas yang semakin kuat, aku merasa aku harus menemukan jawabannya. Aku harus menemukan jalan keluarnya.</p>
<p>Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai bergulir.<br />
Aku terpaksa menghentikan perjalananku untuk sementara waktu, menghabiskan waktu untuk berpikir dan lebih banyak mendengarkan dan menyimak pendapat dan pengalaman orang lain. Meskipun tidak bertanya, namun aku terus mengamati keadaan dan pengalaman orang lain. Aku terus berusaha mencari sebuah jalan keluar.<br />
Apa yang kupelajari dari luar nantinya akan menjadi variabel input bagiku untuk menemukan jalan/jawaban di dalam diriku sendiri.</p>
<p>Namun suatu hari, sesuatu yang tidak kukenal yang datang entah dari mana, datang untuk memperingatkan aku. Ia mengatakan padaku bahwa aku harus melanjutkan perjalananku, terlepas dari berhasil tidaknya aku menemukan jawaban dari dalam diri sendiri. Waktunya sudah dekat, aku tidak boleh hanya berdiam diri disini dan terus menerus mengasihani diri sendiri.</p>
<p>Mengasihani diri sendiri??? Benarkah???<br />
Apakah aku memang sedang mengasihani diri sendiri???</p>
<p>Karena pendapat itu datang dari tempat lain, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, karena terkadang pihak lain bisa melihat diri kita secara lebih jelas, apa adanya.</p>
<p>Aku terus berpikir dan berpikir, namun tetap belum berjalan sedikit pun.<br />
Kemudian sesuatu itu berkata lagi, &#8220;Jika kamu tidak cepat berjalan dan pergi dari tempat ini, ketakutan yang selama ini menghantuimu akan datang lagi dan mewujudkan diri menjadi kenyataan. Menghancurkanmu berlipat lipat dari sebelumnya dan yang paling buruk: meskipun kamu menang, namun dengan cara yang salah maka kamu akan mendapatkan berkah kekuatan negatif yang akan merubahmu menjadi setan, yang pada akhirnya akan membuat orang orang disekitarmu menderita !!! Ini sama saja dengan kalah !!! Dan seandainya kamu tidak &#8216;menang&#8217; dan tidak &#8216;kalah&#8217;, kamu akan memulai perjalanan dari awal lagi.&#8221;</p>
<p>Aku hanya terdiam&#8230; aku tidak berkata apapun padanya.<br />
Namun dalam hati aku tahu apa yang dikatakannya mempunyai potensi untuk menjadi kenyataan.<br />
Jika memang aku tidak siap pada waktunya, maka biarkanlah aku hancur berkeping keping.<br />
Bahkan jika aku harus menjadi setan sekalipun, yang menghancurkan hidup orang banyak, biarkanlah aku menjadi terkutuk dan dikirim ke neraka selamanya.<br />
Aku lelah terus berlari. Aku hanya ingin menang atau sebaliknya dikalahkan. Ini adalah pilihan hidupku.</p>
<p>Kemudian sesuatu itupun pergi, dengan penuh rasa jengkel.<br />
Mungkin karena aku telah mengecewakan dia.<br />
Namun aku tidak menyesal dengan jawabanku, aku ingin terus tersenyum seperti ini. Aku harus terus bertahan.</p>
<p>Melihat kejengkelan yang timbul dari &#8216;sesuatu&#8217; itu, aku pun mulai berspekulasi tentang siapakah &#8216;sesuatu&#8217; itu?<br />
Mengapa ia harus merasa jengkel, mengapa ia begitu peduli, dan mengapa ia datang, padahal aku tidak mengundangnya. Mungkin dia adalah rasa takut itu sendiri yang datang dalam bentuk lain, mencoba mempengaruhi diriku untuk terus menerus melarikan diri darinya.<br />
Mungkin ia melakukan itu untuk mempertahankan eksistensi dirinya sendiri, karena pada saat kondisi terakhir terjadi : aku menang ataupun aku kalah, rasa takut itu takut akan mati, dan menghilang.</p>
<p>Namun sebenarnya dalam pandanganku rasa takut tidak akan hilang, ia hanya akan kehilangan sebagian besar kekuatannya.<br />
Rasa takut telah dimakan oleh kekuatannya sendiri. Namun aku berterima kasih pada rasa takut itu, karena berkat dialah aku menemukan hal lainnya yang akan menjadi tambahan kekuatan bagiku yaitu : Kepercayaan terhadap diri sendiri.</p>
<p>Meskipun aku tidak tahu apakah modalku sudah cukup, namun aku tetap akan menghadapinya.<br />
Aku akan mulai menghidupkan kendaraanku, melanjutkan perjalananku, namun tidak untuk menghindari rasa takut itu.<br />
Jika dia memang harus datang, maka datanglah. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka lebar, tidak untuk mengalah namun untuk menerimanya dengan kasih dan kehangatan. Aku berharap suatu saat disaat aku &#8216;menang&#8217;, rasa takut itu akan mengganti bajunya dan melebur kedalam diriku. Rasa takut itu sebenarnya adalah bagian dari diriku yang telah kupisahkan dan kuasingkan di tempat yang jauh, padahal tempatnya adalah bersama diriku, disini saat ini juga. Aku baru menyadarinya, dan sekarang karena aku telah bersalah, aku bertanggung jawab untuk mengambilnya kembali, dan membersihkan semua noda yang telah membuatnya menjadi rasa takut yang mengerikan seperti sekarang.</p>
<p>Aku tidak tahu apakah aku akan &#8216;menang&#8217;, atau &#8216;menangis&#8217;, ataupun tidak menang tidak kalah.<br />
Aku akan berusaha, sementara itu aku akan terus belajar, belajar dari orang lain, belajar dari hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk.</p>
<p>~~~</p>
<p>Semakin dekat aku dengan rasa sakit, semakin dekat aku dengan rasa kecewa, semakin dekat aku dengan kemarahan, kebencian, kegelisahan dan segala hal yang aku takuti, asalkan aku terus berusaha menjaga kesadaranku maka aku bisa semakin mengenali mereka, bagaimana cara kerja mereka, dan bagaimana mengatasi mereka. Semoga aku bisa tetap bertahan dengan kesadaranku. Aku meletakkan satu tanganku pada keteguhan diriku sendiri, dan satu tanganku yang lain pada keluarga, dan teman temanku. Dengan cara demikianlah aku berusaha tetap teguh untuk menjaga kesadaranku.</p>
<p>Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mencintai seseorang seperti apa yang aku inginkan : tanpa penguasaan, tanpa penghakiman, tanpa pamrih, tanpa kecemburuan, tanpa kecurigaan. Murni berlandaskan keinginan untuk membahagiakan satu sama lain, pengertian, kepercayaan, kejujuran dan ketulusan. Jika hal tersebut tidak dapat berjalan dalam hubungan timbal balik, maka biarkanlah ia berjalan satu arah, sampai saatnya tiba dimana hal tersebut berakhir karena termakan usia/waktu ataupun kejadian. Dengan demikian aku tidak akan menyakiti diri sendiri,karena sudah tidak ada yang bisa disakiti dan memberi usaha maksimal untuk tidak menyakiti orang yang kukasihi.</p>
<p>Sampai saatnya tiba, aku tidak boleh menyerah. Aku harus tetap berusaha. Oleh karena itu aku harus TETAP SEMANGAT !!!<br />
Semoga kita semua menemukan jalan kita. Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Anda Dicintai atau Mencintai ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2008/07/apakah-anda-dicintai-atau-mencintai/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2008/07/apakah-anda-dicintai-atau-mencintai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 03:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Orang yang benar benar mencintai kamu tidak berusaha menunjukkan rasa cintanya kepada kamu. Orang yang benar benar mencintai kamu selalu membantumu tanpa kamu sadari. Orang yang benar benar mencintai kamu ingin kamu hidup bahagia meskipun dia tahu suatu saat nanti kamu akan pergi dan meninggalkan dia. Orang yang benar benar mencintai kamu benar benar ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu tidak berusaha menunjukkan rasa cintanya kepada kamu.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu selalu membantumu tanpa kamu sadari.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;"><span id="more-50"></span>Orang yang benar benar mencintai kamu ingin kamu hidup bahagia meskipun dia tahu suatu saat nanti kamu akan pergi dan meninggalkan dia.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu benar benar ingin mencintai, lebih besar hasratnya daripada sekedar dicintai.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu tidak terus menerus mengingat pujian yang kamu berikan, tapi sangat waspada dan berusaha menginstropeksi diri jika kamu memberikan kritikan.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu punya kesabaran yang sangat tinggi, jika ia sampai meninggalkanmu maka itu hanya untuk membiarkanmu berpikir sendiri mengenai kesalahan-kesalahanmu. Dan ketika kamu sudah sadar dan memperbaiki sifatmu dia akan dengan mudah memaafkanmu.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu tidak berusaha memaksakan kehendaknya kepadamu. Dia kebanyakan hanya memberi saran dan jika ia sampai memaksamu, itu berarti dia melihat bahaya yang besar meliputimu.</span></li>
</ul>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: medium;"><strong>Apakah kamu mempunyai seseorang yang benar benar sangat mencintai kamu ?</strong></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: medium;">Atau <strong></strong></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: medium;"><strong>A</strong></span><span style="font-size: medium;"><strong>pakah kamu adalah orang yang benar benar sangat mencintai seseorang ?</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2008/07/apakah-anda-dicintai-atau-mencintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
