<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; cinta</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 18:12:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Renungan &#8211; Memberi dan Menerima</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/01/renungan-memberi-dan-menerima/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/01/renungan-memberi-dan-menerima/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jan 2011 10:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[akibat]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[sebab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Dimana mana kita sering mendengar kata cinta. Apa sebenarnya cinta? Bagaimana mencintai? Semua orang punya persepsi mereka sendiri sendiri.. Cinta harusnya bukan sebuah hal yang sifatnya egois, namun seseorang pernah berkata kepada saya bahwa cinta sudah seharusnya egois. Jika begitu adalah pandangannya, saya juga tidak bisa menyalahkan dia. Karena beginilah yang ia lihat dari dunia, beginilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dimana mana kita sering mendengar kata cinta. Apa sebenarnya cinta?<br />
Bagaimana mencintai? Semua orang punya persepsi mereka sendiri sendiri..<br />
Cinta harusnya bukan sebuah hal yang sifatnya egois, namun seseorang pernah berkata kepada saya bahwa cinta sudah seharusnya egois. Jika begitu adalah pandangannya, saya juga tidak bisa menyalahkan dia. Karena beginilah yang ia lihat dari dunia, beginilah ia merasakan manis dan pahitnya dunia.<br />
<span id="more-579"></span><br />
Namun saya percaya cinta bisa lebih besar dari hal itu. Meskipun mungkin tidak semua orang mempunyai hati yang cukup luas untuk menampung cinta yang semacam itu.<br />
Saya selalu berpikir, demi cinta kita bisa mengorbankan banyak hal. Namun setelah berpikir lebih mendalam, saya menyadari bahwa demi cinta sama sekali tidak ada yang namanya pengorbanan.<br />
Jika kita memberikan banyak hal demi cinta, bagaimana mungkin kita bilang bahwa hal itu namanya berkorban. Berkorban adalah istilah yang diberikan jika kita merasa menderita setelah memberikan sesuatu. Jika kita senang melakukannya, jika kita merasa bahagia melakukannya, apakah hal tersebut masih bisa disebut sebagai pengorbanan?<br />
Saya lebih suka menyebutnya sebagai ketulusan.<br />
Kita bisa menjadi letih, lelah, atau sakit setelah kita melakukan sesuatu hal demi orang yang kita cintai. Namun itu bukanlah penderitaan yang sesungguhnya.<br />
Penderitaan yang sesungguhnya adalah jika kita merasa menyesal atas semua perbuatan baik yang kita lakukan, karena kita melakukan sesuatu hanya dengan mengharapkan balasan yang pada akhirnya tidak satupun yang kita terima.<br />
Itulah yang dinamakan penderitaan yang sesungguhnya. Penderitaan timbul karena tidak adanya ketulusan.<br />
Jika kita bisa melihat gambar yang lebih besar dari sebuah persoalan,<br />
kita akan mengerti bahwa diri kita dan orang lain saling terkait satu sama lain. Setiap individu adalah tetesan air yang membentuk sebuah samudra. Meskipun ada tetes air dan ada samudera, namun secara prinsip kita semua adalah sama yaitu air. Jadi kenapa kita selalu membedakan diri kita dengan orang lain? Dia bahagia, saya menderita, dia kaya, saya miskin. Jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, semua konsep tersebut hanyalah dualisme dan predikat sementara. Pada akhirnya semuanya akan berubah, melebur, mati dan kemudian terbentuk kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita perhatikan, nasib orang tua mempengaruhi nasib kita sebagai seorang anak, dan nasib kita sebagai anak juga berpengaruh pada orang tua kita. Bukan hanya itu, pertemuan kita dengan banyak orang, dengan banyak teman-teman juga telah mempengaruhi hidup mereka dan mereka juga sudah mempengaruhi hidup kita.<br />
Jika kita dilukai, itu adalah akibat yang kita terima. Kita mungkin merasa sakit pada saat kita dilukai orang lain, namun tahukah bahwa orang yang terluka bukan hanya kita, melainkan juga orang yang melukai kita? Cepat atau lambat setiap orang akan menerima buah dari apa yang telah mereka lakukan. Jadi pada saat kita dirugikan orang lain hendaknya kita bersimpati, karena hutang kita telah berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.<br />
Hal yang sama terjadi pada saat kita berbuat baik pada orang lain, kita tidak seharusnya punya pandangan bahwa hanya orang lain yang diuntungkan atas perbuatan kita, sedangkan kita rugi. Pada saat kita berbuat baik pada orang lain, kita juga berbuat baik pada diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia ini tidak ada satupun orang yang tidak pantas menerima sebuah kebaikan, karena ini semua adalah hukum sebab akibat.<br />
Hukum yang tidak semua bagiannya dapat dilihat jelas oleh kebanyakan orang sehingga membuat mereka berpikir bahwa di dunia ini ada orang yang pantas dan tidak pantas mendapat kebaikan dari orang lain.<br />
Terkadang kita bertemu dengan orang licik yang memanipulasi kita sehingga kita menanggap baik dirinya dan berbuat banyak kebaikan kepadanya. Janganlah kita berpikir bahwa kebaikan yang dia terima hari ini adalah hasil dari perbuatan baik di masa lalu. Sebaliknya ia sedang membuat sebuah sebab bagi sebuah akibat dimasa yang akan datang, sedangkan bagi diri kita sendiri inilah akibat/buah yang pantas kita terima akibat perbuatan kita di masa lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa orang mengatakan bahwa hal ini tidak adil. Bagaimana mungkin hutang bisa berpindah? Namun tidakkah kita pernah berpikir bahwa piutang juga mengikuti prinsip yang sama?<br />
Maka dari itulah, ada orang yang pernah bilang bahwa saya mencintaimu karena saya berhutang padamu di masa lalu. Jadi di kehidupan ini kamu tidak perlu merasa berhutang apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun kita tidak perlu memikirkan hal itu. Jika saya adalah sama dengan semua orang, maka berbuat baik bagi orang lain sama dengan berbuat baik pada diri sendiri. Mencintai seseorang secara tulus sama dengan mencintai diri sendiri. Apa yang perlu dikeluhkan?<br />
Mengapa harus menderita? Yang diperlukan cuma keuletan untuk menerima segala sesuatu apapun itu apa adanya. Rasa sakit sebagai rasa sakit, letih sebagai letih dan tidak memberi kesempatan bagi pikiran ini dikuasai semua bentuk penderitaan itu. Biarkanlah penderitaan itu<br />
tinggal di fisik dan pikiran namun jangan biarkan mereka berkuasa di dalam istana milik sendiri. Perlakukanlah tamu sebagai tamu dan tidak ada satu hal pun yang akan membuat kita menderita. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F01%2Frenungan-memberi-dan-menerima%2F&amp;title=Renungan%20%26%238211%3B%20Memberi%20dan%20Menerima" id="wpa2a_2"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/01/renungan-memberi-dan-menerima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Daun, Angin dan Pohon</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/01/cerita-daun-angin-dan-pohon/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/01/cerita-daun-angin-dan-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 08:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daun]]></category>
		<category><![CDATA[pohon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu saya membaca satu cerita. Saya merasa cerita itu sangat mirip dengan kondisi saya yang sekarang. Sebelum saya banyak menceritakan cerita saya, mari kita simak cerita daun, angin, dan pohon. &#8220;Daun terbang karena angin bertiup atau pohon tidak memintanya untuk tinggal?&#8221; POHON Alasan mengapa orang2 memanggilku “Pohon” karena aku sangat baik dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa saat yang lalu saya membaca satu cerita. Saya merasa cerita itu sangat mirip dengan kondisi saya yang sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum saya banyak menceritakan cerita saya, mari kita simak cerita daun, angin, dan pohon. &#8220;Daun terbang karena angin bertiup atau pohon tidak memintanya untuk tinggal?&#8221;<br />
<span id="more-572"></span></p>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">
<blockquote>
<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste">POHON</div>
<div id="_mcePaste">Alasan mengapa orang2 memanggilku “Pohon”</div>
<div id="_mcePaste">karena aku sangat baik dalam menggambar pohon.</div>
<div id="_mcePaste">Setelah itu, aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku.</div>
<div id="_mcePaste">Aku telah berpacaran sebanyak 5 orang wanita ketika aku masih di SMA.</div>
<div id="_mcePaste">Ada satu wanita yang aku sangat aku cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang</div>
<div id="_mcePaste">sexy, dsb, dia hanya wanita biasa saja.</div>
<div id="_mcePaste">Aku menyukainya, sangat menyukainya,,, menyukai gayanya yang innocent, imutnya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya.</div>
<div id="_mcePaste">Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa dan tidak serasi untukku.</div>
<div id="_mcePaste">Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang</div>
<div id="_mcePaste">Aku juga takut kalau gosip2 yang ada akan menyakitinya.</div>
<div id="_mcePaste">Aku merasa dia adalah “sahabatku”, dan aku akan memilikinya tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.</div>
<div id="_mcePaste">Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku selama 3 tahun ini,,,</div>
<div id="_mcePaste">Dia tau aku mengejar gadis2 lain, dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah dan berkata “lanjutkan saja” dan setelah itu pergi meninggalkan kami.</div>
<div id="_mcePaste">Esoknya, matanya bengkak .. dan merah …</div>
<div id="_mcePaste">Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis,dan aku tertawa dengannya seharian.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian di kelas untuk menangis.</div>
<div id="_mcePaste">Dia tidak tau bahwa aku kembali dari latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis selama sejam-an.</div>
<div id="_mcePaste">Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya.</div>
<div id="_mcePaste">Pernah sekali mereka berdua perang dingin, aku tau bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku masih tetap bersama pacarku.</div>
<div id="_mcePaste">Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget.</div>
<div id="_mcePaste">Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tau bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika aku putus dengan pacarku yang ke 5, aku mengajaknya pergi.</div>
<div id="_mcePaste">Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya.</div>
<div id="_mcePaste">Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu yang ingin dia katakan pada ku.</div>
<div id="_mcePaste">Aku cerita padanya tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. Aku tau pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini.</div>
<div id="_mcePaste">Pria yang baik, penuh energi dan menarik.</div>
<div id="_mcePaste">Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatinya aku tapi hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai dirumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya.</div>
<div id="_mcePaste">Seperti ada batu yang sangat berat didadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun tidak bisa.</div>
<div id="_mcePaste">Air mata mengalir dan aku jatuh menangis.</div>
<div id="_mcePaste">Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya. Ketika upacara kelulusan, aku membaca SMS di Handphoneku</div>
<div id="_mcePaste">SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis SMS itu berbunyi, “Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal”.</div>
<div id="_mcePaste">DAUN</div>
<div id="_mcePaste">Selama SMA, aku suka mengoleksi daun2.</div>
<div id="_mcePaste">kenapa?</div>
<div id="_mcePaste">Karena aku merasa bahwa daun untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.</div>
<div id="_mcePaste">Selama 3 thn di SMA, aku dekat dengan seorang pria bukan sebagai pacar tapi “sahabat”.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya Aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya</div>
<div id="_mcePaste">CEMBURU…</div>
<div id="_mcePaste">Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon.</div>
<div id="_mcePaste">Hal itu seperti 100 butir lemon busuk.</div>
<div id="_mcePaste">Mereka hanya bersama selama 2 bulan.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi.</div>
<div id="_mcePaste">Aku menyukainya dan aku tau bahwa dia juga menyukaiku, tetapi mengapa dia tidak mau mengatakannya?</div>
<div id="_mcePaste">Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak yang memulainya dulu untuk melangkah?</div>
<div id="_mcePaste">Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku selalu sakit.</div>
<div id="_mcePaste">Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sakit.</div>
<div id="_mcePaste">Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik ?</div>
<div id="_mcePaste">diluar perlakuannya hanya untuk seorang teman.</div>
<div id="_mcePaste">Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tau kesukaannya, kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui.</div>
<div id="_mcePaste">Kau tidak mengharapkan aku seorang wanita untuk mengatakannya bukan ?</div>
<div id="_mcePaste">Diluar itu, aku mau tetap disampingnya, memberinya perhatian, menemaninya, dan mencintainya.</div>
<div id="_mcePaste">Berharap, bahwa suatu hari, dia akan datang dan mencintaiku.</div>
<div id="_mcePaste">Hal itu seperti menunggu telphonenya setiap malam, mengharapkannya untuk mengirimku SMS.</div>
<div id="_mcePaste">Aku tau sesibuk apapun dia, dia pasti meluangkan waktunya untuk ku.</div>
<div id="_mcePaste">Karena itu, aku menunggunya.</div>
<div id="_mcePaste">3 tahun cukup berat untuk kulalui dan aku mau menyerah. Kadang aku berpikir untuk tetap menunggu.</div>
<div id="_mcePaste">Luka dan Sakit hati, dan dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika diakhir tahun ke3, seorang pria mengejarku, dia adalah adik kelasku,</div>
<div id="_mcePaste">setiap hari dia mengejarku tanpa lelah.</div>
<div id="_mcePaste">Dari penolakan2 yang telah ditunjukkan, aku merasa bahwa aku ingin memberikan dia ruang kecil dihatiku.</div>
<div id="_mcePaste">Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon.</div>
<div id="_mcePaste">Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil dihatiku.</div>
<div id="_mcePaste">Aku tau Angin ini akan membawa pergi Daun yang lusuh, jauh dan ketempat yang lebih baik.</div>
<div id="_mcePaste">Akhirnya Aku meninggalkan Pohon tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal.</div>
<div id="_mcePaste">“Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal”</div>
<div id="_mcePaste">ANGIN</div>
<div id="_mcePaste">Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, karena dia sangat bergantung pada Pohon, jadi aku harus menjadi Angin yang kuat.</div>
<div id="_mcePaste">Angin akan meniup Daun terbang jauh.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika aku pertama kalinya, ketika 1 bulan setelah aku pindah sekolah.</div>
<div id="_mcePaste">Aku melihat seorang memperhatikan kami bermain sepakbola.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman2nya memperhatikan Pohon.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika Pohon berbicara dengan gadis2, ada cemburu dimatanya.</div>
<div id="_mcePaste">Ketika Pohon melihat kearah Daun, ada senyum dimatanya.</div>
<div id="_mcePaste">Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti daun yang suka melihat Pohon.</div>
<div id="_mcePaste">Satu hari, dia tdk tampak, aku merasakan kehilangan.</div>
<div id="_mcePaste">Seniorku juga tidak ada saat itu,</div>
<div id="_mcePaste">Aku pergi ke kelas mereka, melihat seniorku sedang memperhatikan daun.</div>
<div id="_mcePaste">Air mata mengalir dimata daun ketika Pohon pergi, besoknya, aku melihat Daun ditempatnya yang biasa, memperhatikan Pohon.</div>
<div id="_mcePaste">Aku melangkah dan tersenyum padanya.</div>
<div id="_mcePaste">Menulis catatan dan memberikan kepadanya.</div>
<div id="_mcePaste">Dia sangat kaget…</div>
<div id="_mcePaste">Dia melihat kearahku, tersenyum dan menerima catatanku.</div>
<div id="_mcePaste">Besoknya, dia datang, menghampiriku dan memberiku catatan.</div>
<div id="_mcePaste">Hati daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi,</div>
<div id="_mcePaste">hal itu karena daun tidak mau meninggalkan Pohon. Aku melihat ke arahnya dengan kata2 tersebut dan pelan pelan dia mulai berkata padaku dan</div>
<div id="_mcePaste">menerima kehadiranku dan telp ku.</div>
<div id="_mcePaste">Aku tau orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukai aku.</div>
<div id="_mcePaste">Selama 4 bln, Aku tlah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x kepadanya.</div>
<div id="_mcePaste">Setiap kali dia mengalihkan pembicaraan .. tapi aku tidak menyerah</div>
<div id="_mcePaste">aku memutuskan untuk memiliki dia dan berharap  dia akan setuju menjadi pacarku.</div>
<div id="_mcePaste">Aku bertanya, “apa yang kau lakukan?</div>
<div id="_mcePaste">Kenapa kau tidak pernah membalas?”</div>
<div id="_mcePaste">dia berkata, “aku menengadahkan kepalaku”.</div>
<div id="_mcePaste">“Ah?” Aku tidak percaya apa yang aku dengar.</div>
<div id="_mcePaste">“Aku menengadahkan kepalaku” dia berteriak.</div>
<div id="_mcePaste">Aku meletakkan telp, berpakaian dan naik taxi ketempat dia, dan dia membuka pintu kemudian aku memeluknya kuat2.</div>
<div id="_mcePaste">“Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal”.</div>
</div>
</blockquote>
</div>
<p style="text-align: justify;">Dulu, saya adalah pohon, namun sekarang saya merasa seperti angin.<br />
Hidup  selalu tidak bisa ditebak, ada perjumpaan dan ada perpisahan. Ada menang dan ada kalah, ada keberuntungan dan ada kemalangan. Ada tragedi dan ada kegembiraan besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya, dan banyak orang lainnya terjebak diantara dualisme ini.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F01%2Fcerita-daun-angin-dan-pohon%2F&amp;title=Cerita%20Daun%2C%20Angin%20dan%20Pohon" id="wpa2a_4"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/01/cerita-daun-angin-dan-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta dan Kebahagiaan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/10/cinta-dan-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/10/cinta-dan-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 09:10:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Matahari bersinar terik, burung-burung malas terbang. Beginilah keadaan hari ini. Beberapa saat lalu saya melihat postingan dari salah satu teman saya. Dia mengatakan bahwa cinta adalah menyakitkan. Berbicara mengenai masalah cinta memang tidak habis-habisnya. Memang pada dasarnya cinta akan terasa sangat menyakitkan jika cinta yang diberikan tidak mendapat balasan dari pihak yang satunya lagi. Cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Matahari bersinar terik, burung-burung malas terbang.<br />
Beginilah keadaan hari ini. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat lalu saya melihat postingan dari salah satu teman saya. Dia mengatakan bahwa cinta adalah menyakitkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbicara mengenai masalah cinta memang tidak habis-habisnya.<br />
Memang pada dasarnya cinta akan terasa sangat menyakitkan jika cinta yang diberikan tidak mendapat balasan dari pihak yang satunya lagi. Cinta bertepuk sebelah tangan, tidak ada suaranya, yang ada hanyalah kesedihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ada seorang teman yang lain mengatakan bahwa cinta tidak harus memiliki.  Benarkah?</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa iya bisa tidak.<br />
Mungkin saja dia mengatakan hal itu hanya untuk menghibur dirinya sendiri yang telah kehilangan atau bisa juga karena dia memang tidak diikat oleh perasaan semacam itu.<br />
Alangkah baiknya jika kemungkinan kedua adalah kenyataannya namun kenyataannya juga lebih banyak yang mengucapkan kata-kata itu demi menghibur diri sendiri ataupun orang lain yang dikasihani.</p>
<p style="text-align: justify;">Cinta dengan tujuan untuk memiliki tidaklah selalu menyenangkan.<br />
Ada saat-saat dimana kita khawatir akan kehilangan orang yang kita cintai; ada saat-saat dimana kita takut orang yang kita cintai berubah menjadi orang lain; ada saatnya kita takut diri kita yang berubah sehingga tidak bisa lagi merasakan indahnya cinta; dan ada saatnya kita cemas &amp; ragu-ragu akan pilihan yang telah kita buat untuk masa depan kita atas nama cinta, dan lain sebagainya. Demikianlah banyaknya syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kehidupan cinta yang bahagia.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyaknya syarat-syarat yang harus dipenuhi tersebut apakah seimbang dengan banyaknya kesempatan untuk memenuhi semua syarat-syarat itu? Apakah juga seimbang dengan kemungkinan atas pengurangan syarat-syarat itu dalam kehidupan nyata?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika iya, ya bagus. Jika tidak, ya tidak bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">Belakangan saya menyadari bahwa hidup manusia sangat rapuh. Saya menyadarinya mungkin karena saya terlalu lemah atau kondisi yang terjadi pada diri saya yang terlalu ekstrim. Saya tidak dapat menilai dan siapapun tidak dapat menilai karena masing-masing memiliki standar mereka sendiri.<br />
Namun apapun itu, dari &#8216;kesadaran&#8217; itu saya belajar bahwa tidak baik untuk menggantungkan kebahagiaan terlalu banyak pada orang lain.<br />
Hendaknya sebelum mencoba membahagiakan orang lain,  kita terlebih dahulu belajar untuk membahagiakan diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan disini artinya bukan kebahagiaan semu, melainkan kebahagiaan dalam kedamaian yang tidak akan lekang oleh tempat dan waktu. Kebahagiaan yang tidak diciptakan oleh pengaruh dari luar melainkan dari dalam diri sendiri yang terpancar keluar. Dengan arti lain bahwa Anda sudah memiliki lilin sendiri dibanding terus-menerus mengharapkan penerangan dari luar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kita adalah pengembara.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Disatu saat kita bertemu dengan orang-orang yang menderita yang perlu kita kasihi, disaat lain kita bertemu dengan orang-orang yang mengasihi kita. Terkadang kita juga bertemu dengan orang-orang yang membenci kita, dan ada pula masa dimana kita bertemu dengan orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Inti persoalannya adalah kita punya perasaan memiliki. Kita berpikir bahwa kebaikan yang kita berikan kepada orang lain adalah milik kita, kebaikan yang kita terima juga adalah milik orang lain. Semuanya adalah masalah tentang kepemilikan, yang terus-menerus membuat kita terombang-ambing antara perasaan bahagia dan tidak bahagia. Padahal tidak ada satu hal pun yang kita miliki didunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki apa-apa.<br />
Yang ada bersama kita saat ini: tubuh, harta dan lain sebagainya hanyalah titipan dan pada saatnya akan pergi dari kita. Kembalilah ke jati diri Anda yang sebenarnya, bahwa Anda adalah pengembara dan Anda tidak memiliki apa-apa. Pergi kemanapun dengan tanpa membawa beban di pundak Anda. Dengan demikian, maka Anda akan selalu bahagia.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F10%2Fcinta-dan-kebahagiaan%2F&amp;title=Cinta%20dan%20Kebahagiaan" id="wpa2a_6"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/10/cinta-dan-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sad Ending&#8230; Bisakah Anda Menerima Kenyataan ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 09:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/</guid>
		<description><![CDATA[Oh Damn God Damn Shit !!  Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut. Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film &#8211; bukan kenyataan, sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oh Damn God Damn Shit !!  Itulah kata-kata yang selalu berdengung di kepala saya sehabis menonton film/drama yang endingnya buruk. Benar sangat buruk karena perasaan saya menjadi sangat tidak enak sehabis menonton film tersebut.</p>
<p align="justify">Dalam hati, saya benar benar membenci film itu dan juga diri sendiri. Mengapa hanya sebuah film &#8211; bukan kenyataan, sudah bisa menghancurkan hati saya sampai berkeping keping?</p>
<p align="justify">Kebanyakan orang tentu tidak suka dengan ending yang tragis. Namun ada beberapa orang justru senang. Sepertinya memainkan perasaan sendiri adalah pekerjaan yang begitu menyenangkan, huh?</p>
<p align="justify">Hidup itu tidak selalu seindah yang kita kira, dan juga tidak selalu sejelek yang kita kira. Kenyataannya adalah hidup ini ada senang, ada sedih, juga ada bosan. Namun tidak semua orang dapat menerima kenyataan itu, sehingga pada akhirnya malah menyiksa diri sendiri.</p>
<p>Alkisah, ada seorang pria yang memiliki seorang kekasih yang amat dicintainya. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain, namun pemikiran mereka sama sekali berbeda.   <br />Sang pria menyadari bahwa cinta sangatlah indah namun sewaktu waktu dapat berubah menjadi racun, karena tidak ada hal yang abadi di dunia ini, termasuk cinta itu sendiri. Sedangkan sang wanita sama sekali tidak memiliki pemikiran itu. Sang wanita selalu berpikir optimis bahwa semuanya akan selalu indah seperti hari ini, selamanya</p>
<p align="justify">Suatu hari, sang pria mengalami sakit parah dan nyawanya sudah diujung tanduk. Peluangnya untuk bertahan hidup sangatlah tipis. Disisa waktu hidupnya yang semakin menipis, ia berpesan kepada kekasihnya agar tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik, jangan bersedih terlalu lama dan berharap agar ia dapat menjaga dirinya sendiri dengan baik. Namun kekasihnya yang selalu berpikir optimis kali ini tidak lagi optimis dengan peluang kesembuhan kekasihnya. Ia merasa sangat sedih dan hatinya hancur berkeping keping. Setiap hari ia hanya bisa menangis dan meratapi nasib kekasihnya.</p>
<p align="justify">Sang pria yang melihat keadaan seperti ini merasa sangat kasihan kepada kekasihnya dan karena rasa cintanya yang besar terhadap kekasihnya ia bertekad untuk sembuh, separah apapun keadaannya saat ini.</p>
<p>Karena tekadnya yang kuat itu telah menguasai seluruh tubuhnya, berangsur angsur tubuhnya mulai pulih dan akhirnya ia sembuh total.   <br />Semenjak itu ia bertekad tidak akan mati mendahului kekasihnya karena rasa belas kasihnya yang besar terhadap kekasihnya.     <br />Ditinggalkan lebih menyakitkan dibanding meninggalkan, bukan?</p>
<p>Dari cerita ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya pikiran kita tidaklah benar benar bebas.    <br />Kita dikuasai oleh kebahagiaan kita dan penderitaan kita. Kitalah yang tidak melepaskan diri dari jeratan yang kita buat sendiri. Kehancuran ataupun kelanjutan/keberlangsungan kebahagiaan kita ditentukan oleh faktor-faktor yang sifatnya tidak pasti. Dengan demikianlah kita jatuh ke kolam lumpur dan/atau terbang ke langit ke 7.</p>
<p align="justify">Oleh karena itulah, jika kita tidak ingin menderita, tidak ingin dilempar kesana kemari, kita harus mampu menerima kenyataan. Apapun yang akan pergi biarkanlah pergi, apapun yang akan datang biarlah datang namun begitu, jangan selalu menyerahkan semuanya kepada nasib. Apa yang masih bisa diperjuangkan, maka perjuangkanlah. Apa yang sudah tidak mungkin diperjuangkan, maka lepaskanlah.</p>
<p align="justify">Semoga semua makhluk mampu menemukan kebahagiaannya sendiri.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F02%2Fsad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan%2F&amp;title=Sad%20Ending%26hellip%3B%20Bisakah%20Anda%20Menerima%20Kenyataan%20%3F" id="wpa2a_8"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/02/sad-ending-bisakah-anda-menerima-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dimanakah letak kebahagiaan, dimanakah penderitaan?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 10:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesan]]></category>
		<category><![CDATA[penderitaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya. Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi&#8230; tetap saja akan menderita. Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan? Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="moon" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/2286939_blog.jpg" alt="" width="267" height="280" align="center" /><br />
Orang bilang punya banyak harta membahagiakan. Punya orang yang dicintai juga membahagiakan. Kenyataannya orang yang punya banyak harta terus menerus mengkhawatirkan hartanya, juga terus mengkhawatirkan kekasihnya.<br />
Walaupun tidak khawatir, namun saat uang dan cinta pergi&#8230; tetap saja akan menderita.<br />
Lalu apakah yang seperti ini yang bisa disebut sebagai kebahagiaan?<br />
<span id="more-333"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan seperti ini sifatnya sesaat, tidak akan bertahan selamanya.<br />
Orang bilang mengapa harus berpikir pesimistis. Kebahagiaan saat ini adalah kebahagiaan saat ini, tidak perlu memikirkan masa depan yang tidak pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini betul, namun hal ini juga sekaligus menegaskan bahwa penderitaan akibat ketidakpastian masa depan juga tidak dapat dihindarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Benarkah seperti itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu penyebab penderitaan manusia adalah adanya pemikiran tentang kepemilikan. Harta ini adalah milikku, cinta ini adalah milikku, kebahagiaan ini adalah milikku.<br />
Karena adanya pemikiran seperti ini, maka ketika ketidakpastian merenggut semuanya itu&#8230;akibatnya timbullah penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita seakan tidak sadar bahwa bahkan tubuh kita juga bukanlah milik kita. Setiap detiknya ada sel sel yang mati dan lahir dalam tubuh kita. Apa yang dulunya dianggap sebagai kepunyaan, sekarang mati dan digantikan yang lain. Jika begitu, masih relevankah konsep kepemilikan ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hidup ini setiap bentuk kehidupan akan terus berusaha mempertahankan eksistensinya. Tanpa adanya sifat seperti itu, tidak akan pernah ada makhluk yang bisa hidup, tidak ada regenerasi, tidak ada kehidupan.<br />
Demikian juga dengan kita. Adalah sudah kodratnya kita makan, dan minum untuk mempertahankan hidup kita. Juga sudah kodratnya kita mencintai sesama kita; namun terkadang, tanpa kita sadari kita telah melakukannya secara berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang pernah bertanya, apakah mungkin kita bisa mencintai orang lain tanpa terikat dengan orang tersebut?<br />
Orang tersebut menjawab tidak mungkin.<br />
Dia bertanya lantas menjawab sendiri. Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat.<br />
Dalam cerita zen, orang tersebut seperti cangkir yang telah penuh. Apapun yang diisikan kedalamnya akan tumpah keluar. Apapun hal yang kita sampaikan tidak akan didengar, kecuali jika hal tersebut sesuai dengan pemikirannya sendiri. Orang tersebut tidak pernah belajar apapun kecuali pandangan-pandangannya sendiri terhadap kehidupan.</p>
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Dimanakah penderitaan?</strong></h3>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya salah satu alasan mengapa kita menderita adalah kita sendiri yang telah mengikatkan diri ke dalam penderitaan itu. Sebagai contoh, pada saat kita mencintai seseorang, kemudian orang tersebut meninggalkan kita &#8211; kita lantas berpikir bahwa mereka benar benar telah meninggalkan kita. Ini adalah sebuah pandangan yang mungkin tidak tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, apa definisi yang paling tepat untuk kata &#8216;ditinggalkan&#8217;?<br />
Apakah karena orang tersebut tidak ada lagi?<br />
Jika orang tersebut masih ada (masih hidup), namun tidak terlihat oleh kita entah karena sudah pergi ke tempat yang jauh atau karena alasan lain &#8211; apakah itu masih dapat disebut ditinggalkan?<br />
Jika demikian istilah ditinggalkan lebih mengacu kepada apakah orang tersebut masih bisa dilihat dengan mata kepala kita sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika begitu halnya&#8230;seumpamanya kita masih bisa melihatnya (tubuhnya), tapi orang tersebut sudah mati, apakah masih bisa disebut ditinggalkan?<br />
Anngaplah orang tersebut masih hidup namun tiba tiba dia berubah mempunyai perangai (tabiat/sifat) yang lain dari yang kita kenal&#8230; apakah itu juga bisa didefinisikan bahwa orang tersebut telah pergi?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya &#8216;orang&#8217; tersebut tidaklah benar-benar pergi.<br />
Semua yang telah dilakukan orang tersebut telah membuat banyak kesan di pikiran kita. Pada saat orang tersebut meninggalkan kita (meninggal atau telah pergi jauh) &#8211; kesan-kesan tentang dirinya di pikiran kita tetap ada, namun ia telah berhenti berkembang, atau dengan kata lain sudah berhenti bergerak.<br />
Dan karena sudah berhenti bergerak inilah, kita cenderung menganggapnya sebagai mati. Padahal sebenarnya, meskipun orang tersebut telah hilang secara fisik, namun ia tetap hidup dalam pikiran kita. Bahkan ketika orang tersebut masih hidup, yang kita kenali/akui sebenarnya bukanlah fisik dari orang yang kita cintai itu, melainkan kesan kesan yang muncul dalam pikiran kita. Fisik hanyalah salah satu input untuk menciptakan kesan dalam pikiran kita. Creatornya tetap adalah pikiran kita.<br />
Lagipula, jika memang kita mengakui orang tersebut hanya secara fisik, tentunya kita tidak akan merasa tidak nyaman jika orang yang kita cintai bersikap/bertindak tidak sesuai dengan harapan kita, karena yang kita cintai hanya fisiknya. Juga kita tidak akan keberatan jika fisiknya jelek karena yang kita cintai adalah fisiknya, bukan hasil penilaian (kesan) terhadap fisik tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya,&#8230; yang kita cintai bukanlah fisik orang tersebut, melainkan kesan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri mengenai orang tersebut. Penciptaan kesan tersebut bervariasi tergantung penilaian pikiran kita terhadap orang yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika semua hal itu tinggal dalam pikiran kita, mengapa kita harus khawatir bahwa ini telah pergi dan itu telah datang? Apa yang harus pergi biarkanlah pergi&#8230; apa yang harus datang biarkanlah datang, tidak perlu terikat kepada banyak hal, karena hal-hal itu tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, juga tidak pernah benar-benar mendatangi kita. Semuanya berasal dari pikiran dan dapat diselesaikan dalam pikiran.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F11%2Fdimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan%2F&amp;title=Dimanakah%20letak%20kebahagiaan%2C%20dimanakah%20penderitaan%3F" id="wpa2a_10"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/11/dimanakah-letak-kebahagiaan-dimanakah-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tentang Aku</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 01:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221; Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan. Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan. Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain. Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221;</p>
<p>Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.<br />
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.<br />
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.<br />
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.<br />
Karena ego, maka ada yang disebut &#8216;pengorbanan&#8217;, berguna ataupun tidak berguna.</p>
<p>Lalu apakah harus melepaskan ego?<br />
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?<br />
<span id="more-152"></span></p>
<p>Hidup penuh pertimbangan.<br />
Mungkin hanya untuk sebuah jawaban &#8220;Ya !!!&#8221;, butuh lebih dari seribu kali pertimbangan.<br />
Itu karena adanya rasa takut yang terus menerus menghantui.</p>
<p>Terkadang rasa takut itu muncul hanya sesaat dan kemudian pergi.<br />
Rasa takut itu datang dan pergi semaunya.<br />
Meskipun hati ini sangat tenang, namun sesekali tetesan air jatuh dan membuat riak riak kecil di atas air.</p>
<p>Ini adalah sebuah bentuk peringatan.</p>
<p>Terkadang setelah berjalan sangat jauh, ada hal-hal kecil yang terlupakan.<br />
Bahkan karena hal-hal kecil itu, perjalanan jauh bisa jadi sia-sia.</p>
<p>Hal itulah yang mengundang rasa takut itu muncul dalam diriku, sesekali datang dengan frekwensi yang tidak teratur.</p>
<p>Rasa takut itu datang bukan dari tempat yang jauh, namun datang dari sebuah tempat di dalam diri sendiri yang selama ini adalah merupakan daerah abu abu.. daerah sudah lama tak dijamah dan yang telah ditelantarkan sekian lama. Daerah yang penuh dengan pengalaman buruk dan penderitaan yang menyakitkan hati.</p>
<p>Mungkin kebahagiaan saat ini datang karena aku sudah mengabaikan &#8216;daerah&#8217; tersebut. Mungkin apa yang selama ini kurasakan sebagai &#8216;melepaskan&#8217; hanyalah topeng atau bentuk lain yang lebih canggih dari &#8216;mengingkari&#8217;. Mungkin inilah yang disebut ketidaktulusan yang tidak terlihat.</p>
<p>Jika saja tidak ada event yang memicu datangnya rasa takut ini, mungkin aku tidak akan menyadari ini semua.</p>
<p>Yah&#8230; saat ini aku merasa baik baik saja.<br />
Namun setelah rasa takut itu datang untuk pertama kalinya, dan terus menerus datang dengan intensitas yang semakin kuat, aku merasa aku harus menemukan jawabannya. Aku harus menemukan jalan keluarnya.</p>
<p>Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai bergulir.<br />
Aku terpaksa menghentikan perjalananku untuk sementara waktu, menghabiskan waktu untuk berpikir dan lebih banyak mendengarkan dan menyimak pendapat dan pengalaman orang lain. Meskipun tidak bertanya, namun aku terus mengamati keadaan dan pengalaman orang lain. Aku terus berusaha mencari sebuah jalan keluar.<br />
Apa yang kupelajari dari luar nantinya akan menjadi variabel input bagiku untuk menemukan jalan/jawaban di dalam diriku sendiri.</p>
<p>Namun suatu hari, sesuatu yang tidak kukenal yang datang entah dari mana, datang untuk memperingatkan aku. Ia mengatakan padaku bahwa aku harus melanjutkan perjalananku, terlepas dari berhasil tidaknya aku menemukan jawaban dari dalam diri sendiri. Waktunya sudah dekat, aku tidak boleh hanya berdiam diri disini dan terus menerus mengasihani diri sendiri.</p>
<p>Mengasihani diri sendiri??? Benarkah???<br />
Apakah aku memang sedang mengasihani diri sendiri???</p>
<p>Karena pendapat itu datang dari tempat lain, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, karena terkadang pihak lain bisa melihat diri kita secara lebih jelas, apa adanya.</p>
<p>Aku terus berpikir dan berpikir, namun tetap belum berjalan sedikit pun.<br />
Kemudian sesuatu itu berkata lagi, &#8220;Jika kamu tidak cepat berjalan dan pergi dari tempat ini, ketakutan yang selama ini menghantuimu akan datang lagi dan mewujudkan diri menjadi kenyataan. Menghancurkanmu berlipat lipat dari sebelumnya dan yang paling buruk: meskipun kamu menang, namun dengan cara yang salah maka kamu akan mendapatkan berkah kekuatan negatif yang akan merubahmu menjadi setan, yang pada akhirnya akan membuat orang orang disekitarmu menderita !!! Ini sama saja dengan kalah !!! Dan seandainya kamu tidak &#8216;menang&#8217; dan tidak &#8216;kalah&#8217;, kamu akan memulai perjalanan dari awal lagi.&#8221;</p>
<p>Aku hanya terdiam&#8230; aku tidak berkata apapun padanya.<br />
Namun dalam hati aku tahu apa yang dikatakannya mempunyai potensi untuk menjadi kenyataan.<br />
Jika memang aku tidak siap pada waktunya, maka biarkanlah aku hancur berkeping keping.<br />
Bahkan jika aku harus menjadi setan sekalipun, yang menghancurkan hidup orang banyak, biarkanlah aku menjadi terkutuk dan dikirim ke neraka selamanya.<br />
Aku lelah terus berlari. Aku hanya ingin menang atau sebaliknya dikalahkan. Ini adalah pilihan hidupku.</p>
<p>Kemudian sesuatu itupun pergi, dengan penuh rasa jengkel.<br />
Mungkin karena aku telah mengecewakan dia.<br />
Namun aku tidak menyesal dengan jawabanku, aku ingin terus tersenyum seperti ini. Aku harus terus bertahan.</p>
<p>Melihat kejengkelan yang timbul dari &#8216;sesuatu&#8217; itu, aku pun mulai berspekulasi tentang siapakah &#8216;sesuatu&#8217; itu?<br />
Mengapa ia harus merasa jengkel, mengapa ia begitu peduli, dan mengapa ia datang, padahal aku tidak mengundangnya. Mungkin dia adalah rasa takut itu sendiri yang datang dalam bentuk lain, mencoba mempengaruhi diriku untuk terus menerus melarikan diri darinya.<br />
Mungkin ia melakukan itu untuk mempertahankan eksistensi dirinya sendiri, karena pada saat kondisi terakhir terjadi : aku menang ataupun aku kalah, rasa takut itu takut akan mati, dan menghilang.</p>
<p>Namun sebenarnya dalam pandanganku rasa takut tidak akan hilang, ia hanya akan kehilangan sebagian besar kekuatannya.<br />
Rasa takut telah dimakan oleh kekuatannya sendiri. Namun aku berterima kasih pada rasa takut itu, karena berkat dialah aku menemukan hal lainnya yang akan menjadi tambahan kekuatan bagiku yaitu : Kepercayaan terhadap diri sendiri.</p>
<p>Meskipun aku tidak tahu apakah modalku sudah cukup, namun aku tetap akan menghadapinya.<br />
Aku akan mulai menghidupkan kendaraanku, melanjutkan perjalananku, namun tidak untuk menghindari rasa takut itu.<br />
Jika dia memang harus datang, maka datanglah. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka lebar, tidak untuk mengalah namun untuk menerimanya dengan kasih dan kehangatan. Aku berharap suatu saat disaat aku &#8216;menang&#8217;, rasa takut itu akan mengganti bajunya dan melebur kedalam diriku. Rasa takut itu sebenarnya adalah bagian dari diriku yang telah kupisahkan dan kuasingkan di tempat yang jauh, padahal tempatnya adalah bersama diriku, disini saat ini juga. Aku baru menyadarinya, dan sekarang karena aku telah bersalah, aku bertanggung jawab untuk mengambilnya kembali, dan membersihkan semua noda yang telah membuatnya menjadi rasa takut yang mengerikan seperti sekarang.</p>
<p>Aku tidak tahu apakah aku akan &#8216;menang&#8217;, atau &#8216;menangis&#8217;, ataupun tidak menang tidak kalah.<br />
Aku akan berusaha, sementara itu aku akan terus belajar, belajar dari orang lain, belajar dari hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk.</p>
<p>~~~</p>
<p>Semakin dekat aku dengan rasa sakit, semakin dekat aku dengan rasa kecewa, semakin dekat aku dengan kemarahan, kebencian, kegelisahan dan segala hal yang aku takuti, asalkan aku terus berusaha menjaga kesadaranku maka aku bisa semakin mengenali mereka, bagaimana cara kerja mereka, dan bagaimana mengatasi mereka. Semoga aku bisa tetap bertahan dengan kesadaranku. Aku meletakkan satu tanganku pada keteguhan diriku sendiri, dan satu tanganku yang lain pada keluarga, dan teman temanku. Dengan cara demikianlah aku berusaha tetap teguh untuk menjaga kesadaranku.</p>
<p>Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mencintai seseorang seperti apa yang aku inginkan : tanpa penguasaan, tanpa penghakiman, tanpa pamrih, tanpa kecemburuan, tanpa kecurigaan. Murni berlandaskan keinginan untuk membahagiakan satu sama lain, pengertian, kepercayaan, kejujuran dan ketulusan. Jika hal tersebut tidak dapat berjalan dalam hubungan timbal balik, maka biarkanlah ia berjalan satu arah, sampai saatnya tiba dimana hal tersebut berakhir karena termakan usia/waktu ataupun kejadian. Dengan demikian aku tidak akan menyakiti diri sendiri,karena sudah tidak ada yang bisa disakiti dan memberi usaha maksimal untuk tidak menyakiti orang yang kukasihi.</p>
<p>Sampai saatnya tiba, aku tidak boleh menyerah. Aku harus tetap berusaha. Oleh karena itu aku harus TETAP SEMANGAT !!!<br />
Semoga kita semua menemukan jalan kita. Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F02%2Fcerita-tentang-aku%2F&amp;title=Cerita%20Tentang%20Aku" id="wpa2a_12"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Anda Dicintai atau Mencintai ?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2008/07/apakah-anda-dicintai-atau-mencintai/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2008/07/apakah-anda-dicintai-atau-mencintai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 03:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Orang yang benar benar mencintai kamu tidak berusaha menunjukkan rasa cintanya kepada kamu. Orang yang benar benar mencintai kamu selalu membantumu tanpa kamu sadari. Orang yang benar benar mencintai kamu ingin kamu hidup bahagia meskipun dia tahu suatu saat nanti kamu akan pergi dan meninggalkan dia. Orang yang benar benar mencintai kamu benar benar ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu tidak berusaha menunjukkan rasa cintanya kepada kamu.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu selalu membantumu tanpa kamu sadari.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;"><span id="more-50"></span>Orang yang benar benar mencintai kamu ingin kamu hidup bahagia meskipun dia tahu suatu saat nanti kamu akan pergi dan meninggalkan dia.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu benar benar ingin mencintai, lebih besar hasratnya daripada sekedar dicintai.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu tidak terus menerus mengingat pujian yang kamu berikan, tapi sangat waspada dan berusaha menginstropeksi diri jika kamu memberikan kritikan.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu punya kesabaran yang sangat tinggi, jika ia sampai meninggalkanmu maka itu hanya untuk membiarkanmu berpikir sendiri mengenai kesalahan-kesalahanmu. Dan ketika kamu sudah sadar dan memperbaiki sifatmu dia akan dengan mudah memaafkanmu.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size: medium;">Orang yang benar benar mencintai kamu tidak berusaha memaksakan kehendaknya kepadamu. Dia kebanyakan hanya memberi saran dan jika ia sampai memaksamu, itu berarti dia melihat bahaya yang besar meliputimu.</span></li>
</ul>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: medium;"><strong>Apakah kamu mempunyai seseorang yang benar benar sangat mencintai kamu ?</strong></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: medium;">Atau <strong></strong></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: medium;"><strong>A</strong></span><span style="font-size: medium;"><strong>pakah kamu adalah orang yang benar benar sangat mencintai seseorang ?</strong></span></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2008%2F07%2Fapakah-anda-dicintai-atau-mencintai%2F&amp;title=Apakah%20Anda%20Dicintai%20atau%20Mencintai%20%3F" id="wpa2a_14"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2008/07/apakah-anda-dicintai-atau-mencintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

