Hardy Chen Power Blog

Icon

Powered by STRONG WILL !!!

Perlukah Mengasihani Diri Sendiri?


Jika suatu saat Anda berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan tidak ada satu orang pun yang datang memberi uluran tangan atau setidaknya mendengar keluh-kesah Anda, apakah Anda akan merasa sangat kasihan terhadap diri sendiri?

Pada dasarnya mengasihani diri sendiri sangat mendekati perasaan putus asa dimana Anda tidak lagi punya semangat untuk melanjutkan atau bisa dibilang Anda pasrah mengenai nasib Anda.

Tapi ada satu hal dimana ketika perasaan kasihan terhadap diri sendiri itu bertolak menjadi sesuatu yang positif.
Read the rest of this entry »

Share

The happiness of being a loser

Wierd topic to talk about, eh.?
Before you make any objection please read this article until the end and give me some of your opinion.
The title seems so pathetic, right?
But the cover isn’t always represent what’s inside. You can’t take impression on what someone wear to decide he/she is a good or bad person (although actually you tend to do so. LoL)
You also can’t decide whether the food is delicious only by looking at its appereance. And you can’t judge me as pathetic only because I wrote a title that ‘seems’ pathetic.
Read the rest of this entry »

Share

Kelemahan Saya Adalah Sesuatu Yang Paling Saya Benci

Karena adanya sesuatu yang saya benci, maka hidup saya menjadi tidak tenang. Karena hal itu juga, saya tidak bahagia.

Saya menyadari ini ketika beberapa saat yang lalu, saya dicuekin oleh salah satu teman saya.
Read the rest of this entry »

Share

Satu Hal Yang Tidak Bisa Dilakukan Seorang Pemenang adalah [Mengalah]

Suatu hari seorang pendekar terkenal mengunjungi seorang pendekar tua yang digosipkan orang-orang dunia persilatan sebagai ahli bela diri terhebat yang pernah ada.
Tujuan dari pendekar itu tidak lain adalah untuk menantang si tua untuk membuktikan siapa pendekar terkuat pada masa itu.

Namun pendekar tua itu menolak tantangan pendekar muda tersebut dengan alasan bahwa dia sudah tua dan dengan kondisinya sekarang tidak mungkin bisa mengalahkan pendekar muda tersebut.
Singkatnya, dia mengaku kalah.

Pendekar muda tersebut tentu tidak senang dengan penolakan itu karena dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dialah pendekar tak terkalahkan di kolong langit ini.
Dia terus mencaci maki pendekar tua tersebut dengan harapan supaya pendekar tua itu menjadi marah dan menerima tantangannya. Namun apapun yang dia katakan sama sekali tidak membuahkan hasil. Kakek tua itu tidak bergeming.

Lalu dia pun mengancam pak tua itu. “hei.. jika kamu tidak mau bertarung maka sekarang juga aku akan membunuhmu. Satu-satunya pilihan bagimu adalah melawan untuk mempertahankan nyawamu”

Lalu kakek itu berkata “sebagai seorang pendekar muda berkemampuan tinggi, kemampuanmu tentu tidak perlu diragukan lagi. kamu bisa menaklukkan banyak orang kecuali satu.”

“Satu??? Siapa dia??” kata si pemuda keheranan.

“Dia adalah dirimu sendiri.” Jawab si kakek.
“Dulu aku juga seperti kamu, melanglang buana mencari orang berkemampuan tinggi. Satu persatu mereka kukalahkan. Dan disaat aku tidak lagi bisa menemukan lawan yang sepadan, aku merasa kesepian, aku tidak bisa menahan gejolak dalam diri yang terus menerus menginginkan pertempuran tanpa akhir. Dari sanalah aku menyadari bahwa satu-satunya musuh yang tidak bisa kukalahkan adalah diriku sendiri.
Percayalah anak muda, meskipun hari ini kamu mengalahkan aku, kamu tetap tidak akan merasakan kebahagiaan yang berkelanjutan. Seorang ‘pemenang’ bisa melakukan banyak hal, kecuali mengalah. Namun pemenang yang sesungguhnya bisa melakukan banyak hal, termasuk mengalah, karena dengan demikian dia bisa yakin bahwa dia tidak dikalahkan oleh egonya sendiri.
Kata-kataku sudah selesai. Sekarang kamu boleh membunuh saya.”

Mendengar kata-kata kakek tua itu, pendekar muda itu hanya bisa terdiam. Ia kemudian menyarungkan pedangnya dan pergi tanpa berkata apa-apa.

Share

Siapa yang paling benar?

Seringkali kita meributkan benar dan salah. Siapa yang benar dan siapa yang salah?

Sebuah kisah. Di sebuah sekolah ada 2 orang murid yang sedang bertengkar. Yang satu karena ujiannya mendapat nilai 100 tidak segan segan memamerkan nilai ujiannya kepada orang lain. Yang satu lagi ngomel-ngomel karena merasa orang itu terlalu sombong, padahal orang itu bukan yang paling pintar di kelas.

Melihat pemandangan seperti itu, John berkata kepada Michael : “Lihat tuh 2 orang itu yang satu suka pamer, yang satu iri. Dua duanya gak ada bagusnya tuh. Gimana menurut lu?”

“Menurut gua sih, si A haus popularitas, si B ngiler liatin orang sukses, si C merasa dirinya paling benar, dan si D kurang lebih sama seperti si C. haha…”

Mendengar jawaban Michael, John menunjukkan mimik bingung. “Apa maksudmu? Siapa C dan D?” tanyanya.

“Si C itu kamu, dan si D itu saya. hahahahaha”

##

Seringkali kita merasa paling benar diantara semuanya, namun terkadang kita sering kali juga melakukan banyak kesalahan.
Dalam cerita tersebut Michael jelas-jelas melihat dari raut muka John bahwa ia sedang ‘merendahkan’ teman-temannya yang sedang bertengkar.
Walaupun kedua teman itu jelas-jelas salah – menggunakan ego diri sendiri untuk merendahkan mereka jelas juga bukan hal yang baik.

Lalu pertanyaan terakhir, mengapa Michael mengumpamakan dirinya sebagai D yang sama jeleknya seperti C (John).

Jawabannya simple, karena Michael tidak ingin John merasa marah atau tersinggung, jadi dia menempatkan dirinya sendiri di posisi yang sama seperti John.

Lalu apa yang kita pelajari hari ini?

Masing-masing orang memetik pelajaran mereka sendiri-sendiri. ;)

Share

Egoistic Nature of Human

An old woman, Marsha, had a relationship with a man who was also old for about 20 years, and although they are not married, the man loved her very much. Nevertheless, Marsha was always afraid that his friend would leave her someday when she grew older and looked for other younger women. Secretly, she believed that men had a child. As the time went by, this belief became an obsession for her, so that wherever they went and whatever they did, Marsha became increasingly convinced that this was the situation. This attitude was damaging no matter what they did, and disrupt their togetherness that should be fun.

On a spring, they were on vacation to the beach and got a room with a terrace overlooked to the sea. Meanwhile, terraced room next to them rented by an elderly man with a younger woman, and a little baby. This was the thing feared by Marsha most.

It was not unusual if we got what we fear most, and what was worried by Marsha had present, right next to her room. Seeing the family, friends, Marsha said, "Wow, look at that. Lover of the person is still very young. "

At this point, the holiday was already over for Marsha. She was devastated, she could not sleep, did not want to eat, and felt as if her world was collapsed.

"I’m nothing at that time," she said. "The energy of my youth, beauty, all of my grades as a human have been taken from me."

The next day, as they sat on the beach, the couple arrived with their small children and Marsha began to be afraid. A huge hatred arose, and it made her more afraid. She was on vacation in a beautiful place, with the sun shining, but at the same time filled with fear and hate.

However, when she began talking with them, she knew that they were not lovers, but the father and daughter. "Ah," she said, and since that time, she began to like the little charming boy. Moment later, she realized that besides her daughter, the old man has no partner. How wonderful, she thought, now her friend got to know that older man was often left alone. Then, she saw that the man looked at her with admiration. Now, she feels pretty, like being on top of the world. The previous night, she suffered greatly; now, she sat on the beach with great joy.

This was the machination of ego and false pride. A time filled with hatred for a child for no clear reason, the next moment feel on top of the world, because the circumstances seemed different and because the ego felt loved. 

Zazen (note: meditation) destroying this great suffer by constantly helping us to realize the difference between fantasy and reality, between seeing who we really were and what we dreamed.  
Truly Free human is an individual who does not need to project anything. He is a clear mirror, just look at what the present is, offer compassion, and enlighten anything.

Source : Unknown

Share

Nuansa Hidup – Orang Yang Tidak Pernah Mengeluh (13)

Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi.
Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan cuaca panas di siang hari dan tebalnya jubah yang saya gunakan. Yang membuat suasana semakin gerah adalah penumpang penumpang lain yang merokok sehingga udara di dalam gerbong tersebut semakin penat. Pada situasi seperti ini, saya sempat mengeluh dan mulai menyalahi orang lain atas ketidaknyamanan yang saya alami. Ada rasa kesal, gelisah dan ingin lari dari kenyataan ini. Saya terus berusaha mengakhiri ketidaknyamanan ini dengan berpikir positif. Saya mencoba menghibur diri dengan mengatakan, “Bukankah ini saat terbaik untuk berlatih menerima kenyataan?”
Read the rest of this entry »

Share

Ego. Apakah Teman atau Musuh?

Jika engkau marah kepada sesuatu, maka binasakanlah dia.
Apakah pandangan seperti ini benar?

Musuh dari luar dibasmi sampai berapa kalipun tidak akan pernah habis selama masih ada kebencian dalam hati, sedangkan musuh dari dalam-sekali dihabisi dengan tuntas dan ditambah dengan fondasi yang kuat, maka selamanya ia tidak akan pernah muncul lagi.

Pada dasarnya, siapa yang telah melukai diri ini?
Bukan orang lain, bukan siapa siapa selain dari diri sendiri. Ego yang berlebihan adalah penyebab penderitaan manusia.  Jika tidak ada yang namanya ego, maka apa yang bisa dilukai?

Sebagian orang berpendapat, jika tidak ada ego, apalah artinya hidup ini? Apa gunanya kekayaan dan kehormatan yang diperoleh dengan susah payah?
Benar ! Apa arti hidup ini? Apa arti kekayaan dan kehormatan? Apakah hidup ini hanya demi ego? Apakah kekayaan dan kehormatan dapat dimiliki selamanya?

Kekayaan, kehormatan ataupun hal hal lainnya adalah barang titipan. Semuanya bisa datang dan pergi dalam sekejap. Lalu apa gunanya memperlakukan barang titipan seolah olah barang tersebut adalah milik diri sendiri?

Tentu saja, orang yang dikuasai nafsu keinginan akan berpikir bahwa meskipun itu adalah titipan, setidaknya bisa dipakai untuk kebahagiaan saat ini.
Sifat acuh tak acuh seperti ini timbul karena ketidaktahuan. Tentu saja kebahagiaan adalah kebahagiaan, namun kemelekatan yang dalam terhadap kebahagiaan itu pada saatnya nanti akan berubah menjadi racun. Lihat bagaimana orang menjadi sangat menderita hanya karena berusaha mempertahankan kebahagiaan. Orang yang belum mengerti tidak akan paham bahaya dibalik kemelekatan itu. Bahkan jika dihitung hitung, terkadang nilai penderitaan yang sudah dialami seseorang karena berusaha mempertahankan kebahagiaan atau meratapi perginya kebahagiaan itu sudah tidak sebanding dengan nilai kebahagiaan itu sendiri.

– sebuah perumpamaan –
Ada seorang anak yang diberi oleh oleh sepotong kue oleh temannya. Temannya mengatakan bahwa kue tersebut rasanya enak sekali. Namun karena bentuknya yang menarik, ia tidak ingin memakannya. Ia tidak ingin kehilangan kue tersebut, sehingga akhirnya ia menyimpannya.
Selang beberapa hari, kue itu rusak dan bentuknya sudah tidak bagus lagi. Kue itu tidak lagi indah.
Pada akhirnya ia kehilangan kesempatan untuk mencicipi rasa kue tersebut, ia tidak pernah tahu bagaimana rasa kue tersebut.

Ada sebagian orang yang juga seperti itu. Mereka bekerja keras untuk mencari uang. Mereka mengumpulkan harta kekayaan yang jumlahnya sudah diluar kebutuhannya, tapi mereka terlalu kikir untuk menggunakannya. Sampai akhirnya ketika ajal mereka tiba, uang itu tidak terpakai sama sekali, dan satu satunya hal yang diwarisi oleh kekayaannya adalah penderitaan akibat kerja keras selama puluhan tahun.

Disisi lainnya, ada juga orang yang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang banyak dan bisa menikmatinya, namun ia tidak bersedia membagi kemakmurannya kepada orang lain. Setelah semua hal yang bisa dibeli dengan uang ia miliki, ia tidak tahu lagi hal apa yang bisa dia beli. Ia tenggelam dalam kebosanan, ia mulai merasa bahwa uang bukanlah segala galanya, dan pada saat ia telah sadar, sudah tidak banyak waktu baginya untuk mulai menggunakan kekayaannya secara bijak.

Kemudian ada juga orang yang berusaha membeli semua hal dengan uang. Dengan uang ia membeli kehormatan, membeli cinta, membeli teman temannya. Namun karena hatinya tidak tulus, maka orang orang yang menjual cinta, kehormatan dan persahabatan kepadanya juga adalah orang yang tidak tulus. Dengan demikian ia mulai melihat kepalsuan dalam segala hal. Ia akhirnya menderita karena menjadi orang yang penuh curiga, skeptis dan pesimistik terhadap semua hal.

Selanjutnya adalah orang yang licik. Dengan kebodohannya ia mempermainkan ketulusan manusia, mempermainkan perasaan manusia, dan secara konstan tetap menjaga dirinya di posisi sebagai ‘orang baik’. Orang seperti ini sepertinya tidak tersentuh oleh penderitaan, namun sebenarnya ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang mempersiapkan balasan yang setimpal atas semua perbuatannya. Tentu saja ia tidak akan menyadarinya karena dalam pikirannya sesuatu yang belum bisa dibuktikan pastilah tidak ada. Dengan cara seperti inilah maka karma buruk akan selalu tersenyum kepadanya dan mengikuti dirinya kemanapun ia pergi.

Sebagai seorang tukang taman sudah seharusnya jika memiliki tangan yang baik dan terampil. Tangan yang suka merusak sudah pasti tidak akan bisa dipakai untuk menciptakan taman yang indah. Demikianlah orang yang suka berbuat jahat perlahan lahan merusak tamannya sendiri. Ia akan terkejut setelah ia berdiri dan menyaksikan keseluruhan pemandangan tamannya, karena selama ini ia hanya melihat bagian per bagian dari taman itu.

Ingatlah bahwa Anda tidak bisa selalu mempercayai mata Anda. Anda juga tidak bisa selalu mempercayai telinga, hidung, kulit, dan lidah Anda. Anda bahkan tidak bisa selalu mempercayai pikiran Anda. Namun meskipun demikian, pengalaman kelima indra itu ditambah dengan pikiran Anda adalah input yang berharga bagi Anda untuk mengembangkan kebijaksanaan Anda.

Semoga semua makhluk memperoleh kesempatan untuk terlepas dari penderitaannya. Semoga semua makhluk berbahagia.

Share

Ilusi Kehidupan

Sometimes you got a feeling that you can’t explain. Somehow you feel upset for nothing. It feels like you want something you don’t really want. Strange… eh?

Yuppieee… ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mood seseorang bisa berubah ubah dari waktu.

Meskipun mungkin kita tidak kekurangan apapun, kita tetap bisa merasakannya. Itulah salah satu sifat keras yang dimiliki manusia, termasuk saya sendiri.
Saya percaya bahwa semua ini terjadi karena ego yang tidak bisa dikendalikan, selalu ingin lebih dan mengejar kesenangan tanpa akhir, padahal diri sendiri juga tidak banyak berbuat banyak demi mencapai tujuan itu.

Itu adalah satu hal. Hal lain adalah berhubungan dengan gengsi.
Terkadang saya sulit mengakui kepada orang lain kalau saya memiliki masalah, just because I don’t want they think that I’m weak.
That’s the negative, the positive is I never want to tell negative things about my current condition because it may somehow tempt other people to think negatively too. And also to keep the heart of people who always regards me as a “strong” person, altough in reality I’m not. For the sake of others and also my pride I won’t tell anybody. So, why I write it in here?

The answer is because : ini semua hanyalah pelampiasan.
Saya tahu bahwa blog ini tidak memiliki banyak pembaca, oleh karena itu saya tidak perlu khawatir jika seseorang yang saya kenal membaca tulisan ini. Dan bagi yang tidak mengenal siapa saya, mari saya beberkan sisi gelap yang mungkin tidak hanya saya yang memilikinya, tapi mungkin juga orang-orang lain termasuk Anda sendiri.

Manusia adalah makhluk yang egois.

Mungkin sudah dari sananya kita mempunyai bibit untuk menjadi orang egois. Mungkin saja mekanisme pertahanan diri yang membuat kita menjadi orang yang egois. Sangat jarang dimana bibit egois tidak tumbuh subur dalam diri manusia, kecuali manusia tersebut punya kemampuan kontrol diri yang kuat.

Sebagai manusia kita punya banyak kebutuhan, mulai dari materi, ataupun yang sifatnya abstrak seperti kasih sayang dari orang lain, pengakuan dan penerimaan dari orang lain, dan lain sebagainya. Tentu saja hal itu adalah lumrah mengingat kita adalah makhluk biasa, namun ada hal hal lain yang ikut menentukan hasil akhir.

Seberapa banyak yang kita harapkan dan seberapa banyak harapan yang menjadi kenyataan akan menjadi sebuah cobaan bagi kita, apakah kita menerimanya atau sebaliknya tidak menerimanya dan terus menggerutu.
Jika kita tidak bisa menerima apa yang terjadi pada kita dengan lapang dada (meskipun mungkin itu adalah akibat kesalahan sendiri), maka pada akhirnya kita hanya akan jatuh ke dalam penderitaan.

Saya sudah menemui dan berbincang bincang dengan beberapa orang yang menurut saya memiliki pemikiran dan filosofi yang luar biasa. Jika pemikiran dan filosofi itu benar benar diterapkan, seharusnya hidup tidak lagi menjadi terlalu bermasalah. Namun pada kenyataannya, hampir semua orang hebat yang saya temui pada akhirnya juga harus jatuh ke dalam jurang penderitaan, kekecewaan, kesepian, dan lain sebagainya.
Kata kata yang indah tidaklah lagi indah, dan mutiara yang berkilauan sekarang menjadi kusam – setidaknya begitulah cara mereka melihat pemikiran dan filosofi hidup mereka sendiri – saya berspekulasi.

Tentu saja mutiara tetaplah mutiara. Namun masalahnya bukan terdapat dalam filosofi, namun dalam bagaimana mereka mempraktekkan apa yang mereka percayai sebagai benar. Orang bilang lebih mudah bicara daripada berbuat – ini mungkin ada benarnya, karena saya juga mengalaminya.

Contohnya, ada orang orang tertentu yang sangat tidak tahu malu, sedangkan saya sebaliknya sangat tahu malu. Terus terang saja ini tidak dapat dibanggakan karena sifat sangat tahu malu ini tidak lain adalah sifat pemalu. Bah !!
Bukan hanya itu saja, bahkan saking pemalunya jadi mudah tersinggung. Sedikit sedikit malu, dan jika respon orang lain tidak sesuai harapan lantas jadi malu dan tersinggung, kemudian pengen bunuh diri !!!
Untungnya saya nggak (atau belum) sampe kesitu. haha

Kebutuhan kebutuhan (dan juga keinginan keinginan) manusia pada akhirnya menjadi titik lemah manusia. Lihat saja bagaimana orang-orang bisa saling membunuh gara-gara makanan, uang ataupun kekuasaan. Juga lihat bagaimana orang-orang pada berlomba lomba bunuh diri gara gara nggak naik kelas ataupun cinta ditolak. Jah… terlalu banyak kekacauan disini… bahkan menjabarkannya saja sudah membuat saya sakit kepala !

Lalu, jika kita sudah mengetahui hal ini mengapa kita masih saja terperangkap dalam hal ini?
Itu karena kita sudah terbiasa hidup dalam ilusi tak berkesudahan. Uang membuat kita gelap mata, pujian membuat kita menjadi angkuh, cinta membuat kita mudah cemburu, perhatian dan kasih sayang membuat kita candu, dan lain lain dan lain lain.

Hidup dalam ilusi, kita tidak sadar bahwa ini semua hanyalah ilusi. Jika kita tidak menyadarinya, bagaimana kita bisa keluar darinya? Film the matrix menggambarkan dengan cara yang mirip, meskipun mungkin tidak sempurna.

Cobalah untuk berpikir secara rasional, meskipun sebenarnya rasional itu sendiri mungkin tidak absolut.
Jika kita hidup di dunia ini, lahir menjadi remaja, kemudian dewasa, kemudian tua, dan lantas mati. Membangun rumah yang bagus kemudian lapuk, reot terakhir jadi makanan rayap, apa yang Anda pikirkan?
Jika Anda berpikir logis tentu saja Anda akan berpikir bahwa semuanya itu tidak berguna. Kalau begitu untuk apa hidup? Untuk apa bekerja, makan, minum, tidur, eek? Kalau makanan yang masuk ke perut lantas jadi eek untuk apa coba??

Jadi apakah itu artinya kita harus menyerah pada hidup? Kita ini siapa? Kenapa kita ada disini?
Jika Anda tanyakan ke saya, saya juga bakal bungkam, karena jujur saya juga tidak tahu jawabannya !!

Tapi ada beberapa orang yang memberi satu petunjuk buat saya. Jika hidup tidak ada artinya bukan berarti benar benar tidak ada artinya. Ada satu kondisi yang tidak bisa dijangkau logika biasa, dan mereka sering menyebutnya “pulau seberang”. Rasa makanan tidak bisa diberitahukan kepada orang lain melalui kata-kata, oleh karena itulah bagi yang ingin tahu harus memakan sendiri makanan tersebut.

Saat ini saya sedang berusaha menggapai “makanan” itu, dan ketika saya tahu rasanya ya nggak apa apa…haha…
Emangnya apa yang Anda harapkan? Saya juga masih dalam tahap belajar dan saya tidak bisa meramal masa depan. Namun yang bisa saya katakan untuk hari ini adalah saya akan berusaha meyakinkan diri saya sendiri agar tidak termakan ilusi. Saya akan berusaha, dan Anda juga harus berusaha… siapapun Anda.

TETAP SEMANGAT !

Share

Cerita Tentang Aku

“Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti”

Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Karena ego, maka ada yang disebut ‘pengorbanan’, berguna ataupun tidak berguna.

Lalu apakah harus melepaskan ego?
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?
Read the rest of this entry »

Share