<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; ego</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/ego/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 18:12:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Perlukah Mengasihani Diri Sendiri?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/08/perlukah-mengasihani-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/08/perlukah-mengasihani-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 04:59:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[kasihan]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[putus asa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[Jika suatu saat Anda berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan tidak ada satu orang pun yang datang memberi uluran tangan atau setidaknya mendengar keluh-kesah Anda, apakah Anda akan merasa sangat kasihan terhadap diri sendiri? Pada dasarnya mengasihani diri sendiri sangat mendekati perasaan putus asa dimana Anda tidak lagi punya semangat untuk melanjutkan atau bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2011/08/vihara0250Zsmall.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-709" title="vihara0250Zsmall" src="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2011/08/vihara0250Zsmall-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /><br />
</a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika suatu saat Anda berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan tidak ada satu orang pun yang datang memberi uluran tangan atau setidaknya mendengar keluh-kesah Anda, apakah Anda akan merasa sangat kasihan terhadap diri sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya mengasihani diri sendiri sangat mendekati perasaan putus asa dimana Anda tidak lagi punya semangat untuk melanjutkan atau bisa dibilang Anda pasrah mengenai nasib Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ada satu hal dimana ketika perasaan kasihan terhadap diri sendiri itu bertolak menjadi sesuatu yang positif.<br />
<span id="more-708"></span><br />
Ketika Anda berada dalam kondisi seperti itu, kesombongan perlahan-lahan sirna dan ego melemah. Seiring dengan melemahnya ego tersebut, energi yang dipakai oleh emosi Anda juga semakin berkurang sehingga diri Anda merasa lebih rileks dibanding sebelumnya. Seolah-olah Anda baru saja menyelesaikan sebuah perjalanan yang panjang. Meskipun pada saat itu Anda merasa kelelahan, akan tetapi ada kelegaan yang muncul yang membuat Anda bisa beristirahat dengan tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketenangan adalah kualitas manusia yang sangat langka, maka dari itu sangat jarang ada orang yang setelah melepaskan masalahnya (apapun hasil akhirnya) dapat menjadi lebih tenang. Kebanyakan akan kebablasan, terhanyut dalam keputusasaan dan hancur dalam jurang kekecewaan dan kesedihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini tentunya tidak baik. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan. Sifat tenang adalah simbol dari keseimbangan itu. Maka dari itu sebagai seorang manusia, Anda patut belajar bagaimana menempatkan perasaan Anda dengan benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ambil contoh, ada seorang pria yang jatuh hati pada seorang gadis. Itu adalah hal yang wajar. Kemudian pria itu berusaha melakukan banyak hal untuk gadis yang disukainya. Itu juga wajar. Pada saat yang tepat, pria itu akhirnya mengutarakan perasaannya namun sayangnya gadis itu lebih menganggapnya sebagai abang ketimbang sosok seorang kekasih. Itu semua masih dalam batas kewajaran. Bagaimanapun perasaan bukanlah sesuatu yang selalu bisa diciptakan dengan kesengajaan, karena perasaan tidak selalu bisa mengikuti alur logika yang diciptakan oleh pikiran.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja pria itu sedih dengan kenyataan seperti itu. Dia sempat merasa dirinya kurang cukup baik, meskipun si gadis terus berusaha meyakinkan bahwa pria tersebut adalah orang yang sangat baik yang pernah dikenalnya.<br />
Singkat kata, pria itu kecewa terhadap dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu apa yang terjadi berikutnya?<br />
Setelah penolakan itu, seiring dengan berjalannya waktu ia mulai perlahan-lahan hidup dengan semangat baru.<br />
Kekecewaan yang dirasakannya mulai terasa tidak relevan, ia berpikir apa salahnya jika ia menjadi figur seorang kakak bagi gadis itu?<br />
Kekecewaan telah mengantarnya pada satu titik dimana egonya melemah dan setelah itu perasaan kecewa itu perlahan-lahan pudar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia merasa lebih bebas dengan keadaannya sekarang.<br />
Memikirkan ke masa lalu dimana dia menghabiskan banyak tenaga, waktu dan energi melakukan banyak hal, mengkhawatirkan banyak kemungkinan hasil akhir, terasa sangat melelahkan. Dan sekarang ketika dia terbebas dari semua beban itu, ia mencurahkan perhatiannya kepada si gadis dengan perasaan tanpa pamrih dan kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal apa yang lebih baik dibanding melakukan sesuatu yang baik tanpa harus mengkhawatirkan hasil akhir yang mengecewakan? Apa yang perlu dikecewakan?</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menyadari bahwa di masa lalu ia melakukan semua perbuatan &#8216;baik&#8217; itu hanya untuk mendapatkan perhatian dari si gadis. Dan ketika respon yang didapatkannya tidak sesuai dengan harapan, ia merasa sedih luar biasa.<br />
Sekarang keadaannya jauh berbeda. Ia melakukan sesuatu demi kebaikan orang yang dikasihinya, bukan demi dirinya sendiri, karena ia sudah melepaskan keinginan untuk memuaskan diri sendiri sehingga dia tidak lagi diganggu dengan segala bentuk kekecewaan atau kesedihan yang pernah dia rasakan sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kasus ini kita bisa belajar bahwa kekecewaan, perasaan kasihan pada diri sendiri bisa membawa Anda &#8216;turun ke bumi&#8217;, dan dengan turunnya diri Anda ke bumi, Anda tidak perlu lagi khawatir akan jatuh dari tempat yang tinggi. Perasaan apakah yang lebih baik dari itu?<br />
Melepaskan hasrat dan hidup dalam kegembiraan saat ini adalah berkah terbesar yang dapat Anda terima.<br />
Pertanyaannya, siapkah Anda untuk menerima berkah itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Hadiah tidak diterima seseorang bukan selalu karena tidak ada yang mengirimkan hadiah itu, namun karena sang penerima enggan menerima hadiah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">4 Agustus 2011<br />
&#8212; Catatanku</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F08%2Fperlukah-mengasihani-diri-sendiri%2F&amp;title=Perlukah%20Mengasihani%20Diri%20Sendiri%3F" id="wpa2a_2"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/08/perlukah-mengasihani-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The happiness of being a loser</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/05/the-happiness-of-being-a-loser/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/05/the-happiness-of-being-a-loser/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 04:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[happiness]]></category>
		<category><![CDATA[losing]]></category>
		<category><![CDATA[winning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Wierd topic to talk about, eh.? Before you make any objection please read this article until the end and give me some of your opinion. The title seems so pathetic, right? But the cover isn&#8217;t always represent what&#8217;s inside. You can&#8217;t take impression on what someone wear to decide he/she is a good or bad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Wierd topic to talk about, eh.?<br />
Before you make any objection please read this article until the end and give me some of your opinion.<br />
The title seems so pathetic, right?<br />
But the cover isn&#8217;t always represent what&#8217;s inside. You can&#8217;t take impression on what someone wear to decide he/she is a good or bad person (although actually you tend to do so. LoL)<br />
You also can&#8217;t decide whether the food is delicious only by looking at its appereance. And you can&#8217;t judge me as pathetic only because I wrote a title that &#8216;seems&#8217; pathetic.<br />
<span id="more-668"></span><br />
There&#8217;s a joy of being a winner. I do not have to write it in full description to explain how does it feel. Well, although you were never be a winner in everything you did, at least you know how bitter losing is and only by reflecting on it you sure understand how good the feeling of winning. Right?<br />
This article isn&#8217;t trying to encourage any loser out there, instead the writer (who is me <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ) is trying to reveal the truth about happiness of being a loser.<br />
If you feel great after reading this article, it&#8217;s not my fault. It&#8217;s your own fault for believing all I said. haha<br />
But hey, is that wrong to believe something which is true (by your own ehipassiko) LoL.<br />
So, you must have been thinking&#8230; what&#8217;s so good about being a loser. If that so, why don&#8217;t all this people in this world would want to become a loser?<br />
Well, first I need to tell you that you&#8217;re mistaken for assuming that I intend to tell you that being a loser is good.<br />
And your question rose because you couldn&#8217;t see the happiness of being a loser. Even if you can see it, I don&#8217;t want everyone of us to have desire to become a loser forever.<br />
The truth is it&#8217;s not about being a loser or being a winner. The title is just a trick to lure you to read this article. Haha..<br />
But hey, we&#8217;re.not.entirely out of topic, right? So, keep reading. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
Like I said, it&#8217;s not about being a winner or loser, It&#8217;s about being happy, which is hard for anyone who think of himself as &#8216;loser&#8217;. for me too.. (maybe?) LoL<br />
So, being a loser, who gave that predicate?<br />
It&#8217;s the gift from other people who set their own standard of being a loser or being a winner. Only if you angry, or at least bothered, you have already accepted the gift.<br />
But you, yourself must set your objective right.<br />
Even if you fail to fulfill your objective, it doesn&#8217;t mean you have to give up on it. Anyone could call you a &#8216;loser&#8217;, but you must think of yourself as a fighter, a die-hard individual. You still have time to strive for your goals without having to place any burden on your shoulder. It&#8217;s like struggling for something with joy, not with fear of losing something.<br />
It&#8217;s important not to have a pity on yourself, and learn to appreciate things. Mind about how you look upon this life, not what the others look upon you. It&#8217;s about perspective, the way of life.<br />
Look at yourself. Who you are? Why are you keeps on clinging on unnecessary things?<br />
The truth is the real battle is not in the game you&#8217;ve lost. The real battle is right inside your own mind. If you have a wrong conception about winning and losing, then I can say that you are always losing no matter what.<br />
If you feel disappointed because you lost an important match, you may try to console yourself by saying&#8230; &#8220;Ah, what&#8217;s so great about winning?&#8221;<br />
Actually at some cases, this statement give a strong impression to the others that you&#8217;re desperated, you&#8217;re terribly sad and others will have pity on you.<br />
Losing is not a big deal, because you only lose when you stop trying, and surrender but not fully willing to, and also taking resentment into account.<br />
The wound of &#8216;losing&#8217; depends on how much you take the issue into the business. The more resentment you have, the more pain you gain.<br />
Some people say, it&#8217;s good if you feel anger about losing. You&#8217;ll become stronger because of it.<br />
I say, yes you might be better. You could become tougher, You&#8217;re become like &#8216;hulk&#8217; look-a-like monster, angry everytime. The only time you feel happiness is when you win, the rest of it you&#8217;re just a mad, unhappy person.<br />
Do you know how much energy we spend when we feel anger?<br />
It&#8217;s a lot. A lot more than you can&#8217;t imagine, and not much people have that much unlimited stamina. You&#8217;ll exhausted and you&#8217;ll grow old &#8211; fast. One tiny happiness if you compare it to the energy spend to reach that goal.<br />
One buddy ever say this to me : &#8220;The strongest opponent that I ever had isn&#8217;t the one who have the record of always winning, but the one who is always losing but never give up and keep improving. He is so much persistent that I started to think that he will defeat me someday. I live in worry everyday and on the contrary he always live with enthusiasm and have more confidence as the time goes by.&#8221;<br />
And when I questioned that &#8216;man&#8217; (the one who is always losing), he said : &#8220;Well, it&#8217;s not important to be the champion. It&#8217;s just the bonus. The happiness is the competition itself. I enjoyed it. + Haha..&#8221;<br />
Yes, he enjoyed the game but not his opponent. He&#8217;s feared by his opponent because of his stamina. A relentless person that always cause trouble to anyone.<br />
His opponents fights him with burden of not losing to a loser, and on the contrary he fights all this &#8220;champions-want-to-be&#8221; with enthusiasm, with his desire of a very good match.<br />
Although he ultimately lose the game, he has become better and better, and also happier. I&#8217;m sure he will become the champion someday, and he won&#8217;t carry the burden of being a champion when the day comes.<br />
This also apply to our lives. Losing is not a big deal. No one care, even if they care it&#8217;s on their own concern, not yours. And you should not meddle into it.<br />
Just enjoy your life.<br />
You&#8217;ll absolutely feel the pain, but suffering is always optional. It&#8217;s good to feel good. It&#8217;s bad to feel bad. Only if you learn how to let go, bad feeling won&#8217;t stay for long in your heart.<br />
Sometimes life is so hard for you, but you must always try to smile.<br />
Someone scold me because of this. He say, &#8220;How can you smile if you live in misery. You are not in my position, you don&#8217;t know how i feel.&#8221;<br />
The truth is he&#8217;s right. I never know how he feels, and I don&#8217;t want to speculate on things. I don&#8217;t want to pretend to know how he feels. I&#8217;m just giving my opinion, my perspective about his current condition.<br />
I&#8217;m always telling myself, I don&#8217;t know when I will die. But I&#8217;m sure that I will die someday. I&#8217;ll gonna lose everything because all of this is just temporary, so why should I feel sad because of this small misfortune? I have nothing to lose, because I&#8217;ll lose it anyway sometimes somewhere.<br />
It&#8217;s like sitting alone in the beach watching beautiful scenery as the sun rise and realize that this momento won&#8217;t last for long, so I can appreciate its beauty.<br />
That way I started to take things easy. I will never ever to cry over something for too long, instead I learn to let go and to appreciate everything which is still on the present. I try to appreciate everything as well as I appreciate my breath.<br />
How many people show their gratitude when they still have their breath. Isn&#8217;t breathing freely really a perfect blessing. It&#8217;s a gift that a lot of people trying to save by spending a lot of money in the hospital.<br />
So, just enjoy your life.<br />
When someone tell you that you&#8217;re pathetic loser, leave them alone. You know yourself, you know that everything will come to an end and you, yourself enjoy the life without having to be burdened by the life.<br />
Take your time helping yourself, then you can start to help other people too. If some people talking bad about you, trying to slander you, making false accusation, then just leave them alone especially if you know that you have no chance of proving yourself &#8216;not guilty&#8217;.<br />
It doesn&#8217;t mean you need not to clear your reputation when you have the chance to do it. It&#8217;s about keeping your head cool. Never angry about it because it will not solve the problem.<br />
Life can be so hard if you&#8217;re mistreated by the others, but you must realize that this is life. Don&#8217;t take any resentment, don&#8217;t hold grudge, feel sympathy for the one who hurts you. Maintain love, affection and you&#8217;ll feel better. It won&#8217;t be easy, but if you never give up, you&#8217;ll get used to it.<br />
Remember that you&#8217;re not a loser only because you&#8217;re unable to protect yourself. You&#8217;re doing your best, and everyone sure have their own vulnerability.<br />
In taichi, we learn to keep the balance of our body, we sync our body with the universe. When you add meditation practice into it, you may experience a feeling that couldn&#8217;t be described my mere words.<br />
I say it &#8216;may&#8217;, because it&#8217;s a probability. It won&#8217;t always the same for everyone.<br />
But the feeling is good. You will learn about yourself mentally and physically. Mentally, you will understand yourself better than ever, you&#8217;ll find out what&#8217;s the source of your uneasy feeling, why are you sad, why are angry. You may say that you know your business well, you know what&#8217;s your problem, but sometimes the truth isn&#8217;t as simple as that.<br />
Sometimes, what you know is only things you want to know. The only hindrance of you getting the truth is your ego, which is hard to let go.<br />
When you learn to meditate, ego will weaken and the truth will come out just like the bubble of air rising to the surface of water. And the answer for the problem will come out without even thinking about it.<br />
You will know yourself better than ever, that way you&#8217;ll slowly learn about others as well. Contented, your mind will be like empty glass, things come and then disappear, leaving no trash inside your mind.<br />
You are fully aware of your own mind as well as your own body. Maybe you can hear the sound of your heart beating?<br />
The rest is quite hard to tell, because only by experience you can learn lessons in which may take billion of words to be said.<br />
Grandpa said, you should start slow. Taking tiny step, one by one. As you&#8217;re become more accustomed, you can run like a dalmatian cat (maybe what I mean is a cheetah. Heheheh )<br />
Don&#8217;t look at how much meters you have left behind by your opponent, instead look at how much you&#8217;ve progressed and what can you do to improve. Set your own standard, unbiased and not trying to compare it to the standard set by the others.<br />
In some cases, code of honour is like an unwritten rule that need to be obeyed by everyone in the society.<br />
This is not always good, because when people come into wrong conviction, we could somehow carried by the tide. It&#8217;s like getting bite by a vampire, and we can&#8217;t resist our body turning into vampire like them.<br />
The only way is to leave the society, or at least do not involved too much with them.<br />
It&#8217;s really hard to change a person, but you can always start with yourself. Contemplate, forgive yourself for every mistake committed by you in the past. start with small step, take your ego down and you&#8217;ll learn a new kind of happiness (version 9.9) <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F05%2Fthe-happiness-of-being-a-loser%2F&amp;title=The%20happiness%20of%20being%20a%20loser" id="wpa2a_4"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/05/the-happiness-of-being-a-loser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelemahan Saya Adalah Sesuatu Yang Paling Saya Benci</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2011/04/kelemahan-saya-adalah-sesuatu-yang-paling-saya-benci/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2011/04/kelemahan-saya-adalah-sesuatu-yang-paling-saya-benci/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 10:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[kebencian]]></category>
		<category><![CDATA[kelemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[Karena adanya sesuatu yang saya benci, maka hidup saya menjadi tidak tenang. Karena hal itu juga, saya tidak bahagia. Saya menyadari ini ketika beberapa saat yang lalu, saya dicuekin oleh salah satu teman saya. Pertanyaan saya kepadanya adalah bentuk kepedulian saya kepadanya, namun nampaknya perhatian saya sia-sia karena dia sama sekali tidak merespon, tidak mengatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="bunga" src="http://i303.photobucket.com/albums/nn124/hardymika/hardychencom/flow.jpg" alt="" width="200" height="150" align="right" />Karena adanya sesuatu yang saya benci, maka hidup saya menjadi tidak tenang. Karena hal itu juga, saya tidak bahagia.</p>
<p>Saya menyadari ini ketika beberapa saat yang lalu, saya dicuekin oleh salah satu teman saya.<br />
<span id="more-650"></span><br />
Pertanyaan saya kepadanya adalah bentuk kepedulian saya kepadanya, namun nampaknya perhatian saya sia-sia karena dia sama sekali tidak merespon, tidak mengatakan apapun.</p>
<p>Jika dia merasa tidak membutuhkan bantuan saya, setidaknya dia bisa menolak bantuan saya dengan mengatakan sesuatu yang bisa dimengerti. Namun kenyataannya yang saya dapatkan adalah pengabaian, seolah-olah saya adalah hantu kasat mata.</p>
<p>Sebelum peristiwa ini terjadi, saya selalu merasa baik-baik saja.<br />
Saya tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya, sehingga saya tidak pernah tahu bahwa saya ternyata adalah tipe orang yang tidak suka dicuekin.<br />
Dan sekarang saya tahu. Saya marah, kecewa, &amp; sedih.</p>
<p>Respon normal seseorang ketika dia dikecewakan oleh orang lain adalah dengan melakukan hal yang sama terhadap orang tersebut.<br />
Ada rasa kesal, dan ada keinginan untuk memutuskan persahabatan dengan orang itu.</p>
<p>Saya juga tidak berbeda. Saya juga memiliki perasaan seperti itu.<br />
Saya ingin dia mengerti bahwa saya marah.<br />
Saya ingin dia mengerti bagaimana rasanya dicuekin.</p>
<p>Such a pathetic thought, isn&#8217;t it?<br />
Benar-benar pemikiran yang menyedihkan dan bodoh.</p>
<p>Jika dia memang menganggap saya sebagai kuman, atau sebagai hama pengganggu, bagaimana mungkin saya berharap dia tahu rasanya dicuekin oleh hama tersebut. Sebaliknya dia bahkan akan merasa senang dicuekin.</p>
<p>Mengharapkan dia supaya dicuekin orang lain juga adalah pemikiran yang bodoh.<br />
Meskipun dia mengalami apa yang saya alami saat ini, apa manfaatnya bagi saya?<br />
Apakah hanya dengan mengetahui kenyataan bahwa dia sudah menerima pembalasan tersebut akan mengubah keadaan saya menjadi lebih baik?</p>
<p>Saya mungkin bisa merasa sedikit puas ketika orang yang saya benci mendapatkan balasan setimpal atas perlakuannya terhadap saya, namun itu tidak memperbaiki apapun di pihak saya.<br />
Saya masih akan marah ketika orang lain memperlakukan saya dengan cara yang sama. Saya membiarkan diri saya sepenuhnya dikontrol oleh sikap atau tindakan orang lain. Suatu saat nanti, saya kembali akan jatuh dalam perangkap yang sama di tangan orang yang berbeda.</p>
<p>Memang dalam hidup, tindakan orang lain bisa mempengaruhi hidup saya. Beberapa hal yang dilakukan pihak lain bahkan bisa secara langsung mengubah arah hidup saya.</p>
<p>Contohnya, saya bisa saja celaka di jalan karena kesalahan sendiri, atau bahkan dicelakai orang lain.<br />
Namun ada beberapa hal dimana saya punya kekuasaan penuh, yaitu cara saya bersikap terhadap perlakuan yang ditujukan kepada saya.</p>
<p>Untuk itu saya perlu lebih menggunakan akal sehat. Apa yang saya dapatkan dengan membenci orang lain?<br />
Seringkali yang saya dapatkan adalah kebencian yang lebih mendalam. Dan apakah menyenangkan hidup dalam kebencian seperti itu?</p>
<p>Setiap orang pasti punya jawabannya sendiri.<br />
Namun saya sendiri sudah merasa cukup hidup seperti itu.</p>
<p>Walaupun ada tembok setebal apapun , saya tetap ingin menjebolnya. Walaupun ada kesulitan seperti apapun untuk memecahkan kebencian dalam hati saya, saya tetap ingin memecahkannya.<br />
Karena tempat ini bukanlah tempat yang nyaman bagi saya untuk ditinggali.</p>
<p>Saya harus menghayati bahwa yang sakit sebenarnya bukanlah saya, melainkan ego yang didefinisikan sebagai &#8216;saya&#8217;.</p>
<p>Ego sendiri adalah sesuatu yang tidak nyata. Itulah sebabnya mengapa ketika saya meninggal, bahkan ketika orang-orang memaki-maki di depan kuburan saya sekalipun, saya tidak akan peduli.</p>
<p>Oleh karena itu, saya tidak akan pernah peduli lagi pada celaan, hinaan, ataupun ketidakpedulian orang lain, karena jika saya memperdulikannya, maka hal-hal itu hanya akan menjadi kelemahan yang menyeret saya dalam kehidupan yang tidak bahagia.<br />
Saya hanya akan memilih untuk peduli tentang bagaimana membuat hidup ini lebih baik.<br />
Dan dari sinilah perlahan-lahan saya memulai.</p>
<p>Ganbatte ! <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2011%2F04%2Fkelemahan-saya-adalah-sesuatu-yang-paling-saya-benci%2F&amp;title=Kelemahan%20Saya%20Adalah%20Sesuatu%20Yang%20Paling%20Saya%20Benci" id="wpa2a_6"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2011/04/kelemahan-saya-adalah-sesuatu-yang-paling-saya-benci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Hal Yang Tidak Bisa Dilakukan Seorang Pemenang adalah [Mengalah]</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/11/satu-hal-yang-tidak-bisa-dilakukan-seorang-pemenang-adalah-mengalah/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/11/satu-hal-yang-tidak-bisa-dilakukan-seorang-pemenang-adalah-mengalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 07:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[mengalah]]></category>
		<category><![CDATA[pemenang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari seorang pendekar terkenal mengunjungi seorang pendekar tua yang digosipkan orang-orang dunia persilatan sebagai ahli bela diri terhebat yang pernah ada. Tujuan dari pendekar itu tidak lain adalah untuk menantang si tua untuk membuktikan siapa pendekar terkuat pada masa itu. Namun pendekar tua itu menolak tantangan pendekar muda tersebut dengan alasan bahwa dia sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu hari seorang pendekar terkenal mengunjungi seorang pendekar tua yang digosipkan orang-orang dunia persilatan sebagai ahli bela diri terhebat yang pernah ada.<br />
Tujuan dari pendekar itu tidak lain adalah untuk menantang si tua untuk membuktikan siapa pendekar terkuat pada masa itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun pendekar tua itu menolak tantangan pendekar muda tersebut dengan alasan bahwa dia sudah tua dan dengan kondisinya sekarang tidak mungkin bisa mengalahkan pendekar muda tersebut.<br />
Singkatnya, dia mengaku kalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendekar muda tersebut tentu tidak senang dengan penolakan itu karena dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dialah pendekar tak terkalahkan di kolong langit ini.<br />
Dia terus mencaci maki pendekar tua tersebut dengan harapan supaya pendekar tua itu menjadi marah dan menerima tantangannya. Namun apapun yang dia katakan sama sekali tidak membuahkan hasil. Kakek tua itu tidak bergeming.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu dia pun mengancam pak tua itu. &#8220;hei.. jika kamu tidak mau bertarung maka sekarang juga aku akan membunuhmu. Satu-satunya pilihan bagimu adalah melawan untuk mempertahankan nyawamu&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kakek itu berkata &#8220;sebagai seorang pendekar muda berkemampuan tinggi, kemampuanmu tentu tidak perlu diragukan lagi. kamu bisa menaklukkan banyak orang kecuali satu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Satu??? Siapa dia??&#8221; kata si pemuda keheranan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dia adalah dirimu sendiri.&#8221; Jawab si kakek.<br />
&#8220;Dulu aku juga seperti kamu, melanglang buana mencari orang berkemampuan tinggi. Satu persatu mereka kukalahkan. Dan disaat aku tidak lagi bisa menemukan lawan yang sepadan, aku merasa kesepian, aku tidak bisa menahan gejolak dalam diri yang terus menerus menginginkan pertempuran tanpa akhir. Dari sanalah aku menyadari bahwa satu-satunya musuh yang tidak bisa kukalahkan adalah diriku sendiri.<br />
Percayalah anak muda, meskipun hari ini kamu mengalahkan aku, kamu tetap tidak akan merasakan kebahagiaan yang berkelanjutan. Seorang &#8216;pemenang&#8217; bisa melakukan banyak hal, kecuali mengalah. Namun pemenang yang sesungguhnya bisa melakukan banyak hal, termasuk mengalah, karena dengan demikian dia bisa yakin bahwa dia tidak dikalahkan oleh egonya sendiri.<br />
Kata-kataku sudah selesai. Sekarang kamu boleh membunuh saya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar kata-kata kakek tua itu, pendekar muda itu hanya bisa terdiam. Ia kemudian menyarungkan pedangnya dan pergi tanpa berkata apa-apa.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F11%2Fsatu-hal-yang-tidak-bisa-dilakukan-seorang-pemenang-adalah-mengalah%2F&amp;title=Satu%20Hal%20Yang%20Tidak%20Bisa%20Dilakukan%20Seorang%20Pemenang%20adalah%20%5BMengalah%5D" id="wpa2a_8"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/11/satu-hal-yang-tidak-bisa-dilakukan-seorang-pemenang-adalah-mengalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa yang paling benar?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/08/siapa-yang-paling-benar/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/08/siapa-yang-paling-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 09:42:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali kita meributkan benar dan salah. Siapa yang benar dan siapa yang salah? Sebuah kisah. Di sebuah sekolah ada 2 orang murid yang sedang bertengkar. Yang satu karena ujiannya mendapat nilai 100 tidak segan segan memamerkan nilai ujiannya kepada orang lain. Yang satu lagi ngomel-ngomel karena merasa orang itu terlalu sombong, padahal orang itu bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seringkali kita meributkan benar dan salah. Siapa yang benar dan siapa yang salah?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah kisah. Di sebuah sekolah ada 2 orang murid yang sedang bertengkar. Yang satu karena ujiannya mendapat nilai 100 tidak segan segan memamerkan nilai ujiannya kepada orang lain. Yang satu lagi ngomel-ngomel karena merasa orang itu terlalu sombong, padahal orang itu bukan yang paling pintar di kelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat pemandangan seperti itu, John berkata kepada Michael : &#8220;Lihat tuh 2 orang itu yang satu suka pamer, yang satu iri. Dua duanya gak ada bagusnya tuh. Gimana menurut lu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Menurut gua sih, si A haus popularitas, si B ngiler liatin orang sukses, si C merasa dirinya paling benar, dan si D kurang lebih sama seperti si C. haha&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar jawaban Michael, John menunjukkan mimik bingung. &#8220;Apa maksudmu? Siapa C dan D?&#8221; tanyanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Si C itu kamu, dan si D itu saya. hahahahaha&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">##</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali kita merasa paling benar diantara semuanya, namun terkadang kita sering kali juga melakukan banyak kesalahan.<br />
Dalam cerita tersebut Michael jelas-jelas melihat dari raut muka John bahwa ia sedang &#8216;merendahkan&#8217; teman-temannya yang sedang bertengkar.<br />
Walaupun kedua teman itu jelas-jelas salah &#8211; menggunakan ego diri sendiri untuk merendahkan mereka jelas juga bukan hal yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu pertanyaan terakhir, mengapa Michael mengumpamakan dirinya sebagai D yang sama jeleknya seperti C (John).</p>
<p style="text-align: justify;">Jawabannya simple, karena Michael tidak ingin John merasa marah atau tersinggung, jadi dia menempatkan dirinya sendiri di posisi yang sama seperti John.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu apa yang kita pelajari hari ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Masing-masing orang memetik pelajaran mereka sendiri-sendiri. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F08%2Fsiapa-yang-paling-benar%2F&amp;title=Siapa%20yang%20paling%20benar%3F" id="wpa2a_10"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/08/siapa-yang-paling-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Egoistic Nature of Human</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 04:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[egoistic]]></category>
		<category><![CDATA[meditation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/</guid>
		<description><![CDATA[An old woman, Marsha, had a relationship with a man who was also old for about 20 years, and although they are not married, the man loved her very much. Nevertheless, Marsha was always afraid that his friend would leave her someday when she grew older and looked for other younger women. Secretly, she believed [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">An old woman, Marsha, had a relationship with a man who was also old for about 20 years, and although they are not married, the man loved her very much. Nevertheless, Marsha was always afraid that his friend would leave her someday when she grew older and looked for other younger women. Secretly, she believed that men had a child. As the time went by, this belief became an obsession for her, so that wherever they went and whatever they did, Marsha became increasingly convinced that this was the situation. This attitude was damaging no matter what they did, and disrupt their togetherness that should be fun.</p>
<p align="justify">On a spring, they were on vacation to the beach and got a room with a terrace overlooked to the sea. Meanwhile, terraced room next to them rented by an elderly man with a younger woman, and a little baby. This was the thing feared by Marsha most.</p>
<p align="justify">It was not unusual if we got what we fear most, and what was worried by Marsha had present, right next to her room. Seeing the family, friends, Marsha said, &quot;Wow, look at that. Lover of the person is still very young. &quot;</p>
<p align="justify">At this point, the holiday was already over for Marsha. She was devastated, she could not sleep, did not want to eat, and felt as if her world was collapsed.</p>
<p align="justify">&quot;I&#8217;m nothing at that time,&quot; she said. &quot;The energy of my youth, beauty, all of my grades as a human have been taken from me.&quot;</p>
<p align="justify">The next day, as they sat on the beach, the couple arrived with their small children and Marsha began to be afraid. A huge hatred arose, and it made her more afraid. She was on vacation in a beautiful place, with the sun shining, but at the same time filled with fear and hate.</p>
<p align="justify">However, when she began talking with them, she knew that they were not lovers, but the father and daughter. &quot;Ah,&quot; she said, and since that time, she began to like the little charming boy. Moment later, she realized that besides her daughter, the old man has no partner. How wonderful, she thought, now her friend got to know that older man was often left alone. Then, she saw that the man looked at her with admiration. Now, she feels pretty, like being on top of the world. The previous night, she suffered greatly; now, she sat on the beach with great joy.</p>
<p align="justify">This was the machination of ego and false pride. A time filled with hatred for a child for no clear reason, the next moment feel on top of the world, because the circumstances seemed different and because the ego felt loved.&#160; </p>
<p align="justify">Zazen (note: meditation) destroying this great suffer by constantly helping us to realize the difference between fantasy and reality, between seeing who we really were and what we dreamed.&#160;&#160; <br />Truly Free human is an individual who does not need to project anything. He is a clear mirror, just look at what the present is, offer compassion, and enlighten anything.</p>
<p align="justify"><strong>Source : Unknown</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2010%2F05%2Fegoistic-nature-of-human%2F&amp;title=Egoistic%20Nature%20of%20Human" id="wpa2a_12"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Orang Yang Tidak Pernah Mengeluh (13)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-orang-yang-tidak-pernah-mengeluh-13/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-orang-yang-tidak-pernah-mengeluh-13/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 23:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi. Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi.<br />
Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan cuaca panas di siang hari dan tebalnya jubah yang saya gunakan. Yang membuat suasana semakin gerah adalah penumpang penumpang lain yang merokok sehingga udara di dalam gerbong tersebut semakin penat. Pada situasi seperti ini, saya sempat mengeluh dan mulai menyalahi orang lain atas ketidaknyamanan yang saya alami. Ada rasa kesal, gelisah dan ingin lari dari kenyataan ini. Saya terus berusaha mengakhiri ketidaknyamanan ini dengan berpikir positif. Saya mencoba menghibur diri dengan mengatakan, &#8220;Bukankah ini saat terbaik untuk berlatih menerima kenyataan?&#8221;<br />
<span id="more-294"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian saya membuka tas saya dan mengambil sebuah buku yang memang telah saya siapkan untuk dibaca dalam perjalanan. Buku itu berjudul &#8220;Bermasalah Namun Tetap Bahagia&#8221; karya Lama Zopa Rinpoche.<br />
Pada saat saya membuka dan membaca halaman demi halaman buku tersebut, saya semakin damai dan semakin dicerahkan bahwa bukan karena kondisi luar yang membuat saya menderita, tetapi pikiran yang menolak kenyataanlah yang lebih membuat saya menderita. Saya pun akhirnya dapat menggunakan cuaca panas dan bau asap rokok untuk membakar ego saya. Saya menyadari akar permasalahannya terletak pada ego yang tidak ingin diganggu, yang mau menang sendiri dan mementingkan diri sendiri. Inilah sumber penderitaan yang sebenarnya. Pada saat itu saya teringat apa yang telah dikatakan oleh Ajahn Chah &#8220;Kita bagaikan orang yang berada di jalan raya dan merasa terganggu dengan suara bising mobil, lalu kita berteriak &#8216;Oooooii jangan jalan disini&#8217;. Tidaklah mungkin mengharapkan mobil untuk tidak berjalan di jalan raya. Jalan itu adalah jalan untuk mobil. Kitalah yang salah. Jangan menyalahkan orang lain&#8221;<br />
Lebih lanjut saya pun teringat sebuah pribahasa yang berbunyi:buruk muka cermin dibelah.</p>
<p style="text-align: justify;">Disaat kita menjalankan tugas dengan tanpa mengeluh, kita akan menyadari bahwa apa yang kadang-kadang menjadi penghalang, tidak lebih adalah sebuah batu karang yang bisa kita injak. Dengan merenungi Dharma yang telah saya pelajari, akhirnya saya dapat meneruskan perjalanan ini dengan senyuman manis dan penuh dengan bau keringat bercampur bau rokok. Saya sadar bahwa kesabaran akan hadir ketika pikiran terkendali dan dapat menerima kenyataan sebagaimana apa adanya atau mengada sepenuhnya pada saat ini.<br />
Lebih daripada itu, merasa diri lebih penting dari yang lain dan mengasihani diri sendiri adalah penyebab kemarahan dan penderitaan.<br />
Jika seseorang telah dapat mengatasi gangguan luar dengan mengubah cara berpikirnya, maka ia dapatlah dikatakan memiliki kesabaran dari orang yang tidak pernah mengeluh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F10%2Fnuansa-hidup-orang-yang-tidak-pernah-mengeluh-13%2F&amp;title=Nuansa%20Hidup%20%26%238211%3B%20Orang%20Yang%20Tidak%20Pernah%20Mengeluh%20%2813%29" id="wpa2a_14"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-orang-yang-tidak-pernah-mengeluh-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ego. Apakah Teman atau Musuh?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/10/ego-apakah-teman-atau-musuh/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/10/ego-apakah-teman-atau-musuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 07:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[kemarahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Jika engkau marah kepada sesuatu, maka binasakanlah dia. Apakah pandangan seperti ini benar? Musuh dari luar dibasmi sampai berapa kalipun tidak akan pernah habis selama masih ada kebencian dalam hati, sedangkan musuh dari dalam-sekali dihabisi dengan tuntas dan ditambah dengan fondasi yang kuat, maka selamanya ia tidak akan pernah muncul lagi. Pada dasarnya, siapa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="leaf" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/4851968_blog.jpg" alt="" width="280" height="186" align="left"/>Jika engkau marah kepada sesuatu, maka binasakanlah dia.<br />
Apakah pandangan seperti ini benar?</p>
<p style="text-align: justify;">Musuh dari luar dibasmi sampai berapa kalipun tidak akan pernah habis selama masih ada kebencian dalam hati, sedangkan musuh dari dalam-sekali dihabisi dengan tuntas dan ditambah dengan fondasi yang kuat, maka selamanya ia tidak akan pernah muncul lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya, siapa yang telah melukai diri ini?<br />
Bukan orang lain, bukan siapa siapa selain dari diri sendiri. Ego yang berlebihan adalah penyebab penderitaan manusia.  Jika tidak ada yang namanya ego, maka apa yang bisa dilukai?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian orang berpendapat, jika tidak ada ego, apalah artinya hidup ini? Apa gunanya kekayaan dan kehormatan yang diperoleh dengan susah payah?<br />
Benar ! Apa arti hidup ini? Apa arti kekayaan dan kehormatan? Apakah hidup ini hanya demi ego? Apakah kekayaan dan kehormatan dapat dimiliki selamanya?</p>
<p style="text-align: justify;">Kekayaan, kehormatan ataupun hal hal lainnya adalah barang titipan. Semuanya bisa datang dan pergi dalam sekejap. Lalu apa gunanya memperlakukan barang titipan seolah olah barang tersebut adalah milik diri sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja, orang yang dikuasai nafsu keinginan akan berpikir bahwa meskipun itu adalah titipan, setidaknya bisa dipakai untuk kebahagiaan saat ini.<br />
Sifat acuh tak acuh seperti ini timbul karena ketidaktahuan. Tentu saja kebahagiaan adalah kebahagiaan, namun kemelekatan yang dalam terhadap kebahagiaan itu pada saatnya nanti akan berubah menjadi racun. Lihat bagaimana orang menjadi sangat menderita hanya karena berusaha mempertahankan kebahagiaan. Orang yang belum mengerti tidak akan paham bahaya dibalik kemelekatan itu. Bahkan jika dihitung hitung, terkadang nilai penderitaan yang sudah dialami seseorang karena berusaha mempertahankan kebahagiaan atau meratapi perginya kebahagiaan itu sudah tidak sebanding dengan nilai kebahagiaan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8211; sebuah perumpamaan &#8211;<br />
Ada seorang anak yang diberi oleh oleh sepotong kue oleh temannya. Temannya mengatakan bahwa kue tersebut rasanya enak sekali. Namun karena bentuknya yang menarik, ia tidak ingin memakannya. Ia tidak ingin kehilangan kue tersebut, sehingga akhirnya ia menyimpannya.<br />
Selang beberapa hari, kue itu rusak dan bentuknya sudah tidak bagus lagi. Kue itu tidak lagi indah.<br />
Pada akhirnya ia kehilangan kesempatan untuk mencicipi rasa kue tersebut, ia tidak pernah tahu bagaimana rasa kue tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebagian orang yang juga seperti itu. Mereka bekerja keras untuk mencari uang. Mereka mengumpulkan harta kekayaan yang jumlahnya sudah diluar kebutuhannya, tapi mereka terlalu kikir untuk menggunakannya. Sampai akhirnya ketika ajal mereka tiba, uang itu tidak terpakai sama sekali, dan satu satunya hal yang diwarisi oleh kekayaannya adalah penderitaan akibat kerja keras selama puluhan tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Disisi lainnya, ada juga orang yang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang banyak dan bisa menikmatinya, namun ia tidak bersedia membagi kemakmurannya kepada orang lain. Setelah semua hal yang bisa dibeli dengan uang ia miliki, ia tidak tahu lagi hal apa yang bisa dia beli. Ia tenggelam dalam kebosanan, ia mulai merasa bahwa uang bukanlah segala galanya, dan pada saat ia telah sadar, sudah tidak banyak waktu baginya untuk mulai menggunakan kekayaannya secara bijak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian ada juga orang yang berusaha membeli semua hal dengan uang. Dengan uang ia membeli kehormatan, membeli cinta, membeli teman temannya. Namun karena hatinya tidak tulus, maka orang orang yang menjual cinta, kehormatan dan persahabatan kepadanya juga adalah orang yang tidak tulus. Dengan demikian ia mulai melihat kepalsuan dalam segala hal. Ia akhirnya menderita karena menjadi orang yang penuh curiga, skeptis dan pesimistik terhadap semua hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya adalah orang yang licik. Dengan kebodohannya ia mempermainkan ketulusan manusia, mempermainkan perasaan manusia, dan secara konstan tetap menjaga dirinya di posisi sebagai &#8216;orang baik&#8217;. Orang seperti ini sepertinya tidak tersentuh oleh penderitaan, namun sebenarnya ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang mempersiapkan balasan yang setimpal atas semua perbuatannya. Tentu saja ia tidak akan menyadarinya karena dalam pikirannya sesuatu yang belum bisa dibuktikan pastilah tidak ada. Dengan cara seperti inilah maka karma buruk akan selalu tersenyum kepadanya dan mengikuti dirinya kemanapun ia pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang tukang taman sudah seharusnya jika memiliki tangan yang baik dan terampil. Tangan yang suka merusak sudah pasti tidak akan bisa dipakai untuk menciptakan taman yang indah. Demikianlah orang yang suka berbuat jahat perlahan lahan merusak tamannya sendiri. Ia akan terkejut setelah ia berdiri dan menyaksikan keseluruhan pemandangan tamannya, karena selama ini ia hanya melihat bagian per bagian dari taman itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingatlah bahwa Anda tidak bisa selalu mempercayai mata Anda. Anda juga tidak bisa selalu mempercayai telinga, hidung, kulit, dan lidah Anda. Anda bahkan tidak bisa selalu mempercayai pikiran Anda. Namun meskipun demikian, pengalaman kelima indra itu ditambah dengan pikiran Anda adalah input yang berharga bagi Anda untuk mengembangkan kebijaksanaan Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga semua makhluk memperoleh kesempatan untuk terlepas dari penderitaannya. Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F10%2Fego-apakah-teman-atau-musuh%2F&amp;title=Ego.%20Apakah%20Teman%20atau%20Musuh%3F" id="wpa2a_16"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/10/ego-apakah-teman-atau-musuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilusi Kehidupan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 10:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[ilusi]]></category>
		<category><![CDATA[worry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Sometimes you got a feeling that you can&#8217;t explain. Somehow you feel upset for nothing. It feels like you want something you don&#8217;t really want. Strange&#8230; eh? Yuppieee&#8230; ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mood seseorang bisa berubah ubah dari waktu. Meskipun mungkin kita tidak kekurangan apapun, kita tetap bisa merasakannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sometimes you got a feeling that you can&#8217;t explain. Somehow you feel upset for nothing. It feels like you want something you don&#8217;t really want. Strange&#8230; eh?</p>
<p>Yuppieee&#8230; ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mood seseorang bisa berubah ubah dari waktu.</p>
<p>Meskipun mungkin kita tidak kekurangan apapun, kita tetap bisa merasakannya. Itulah salah satu sifat keras yang dimiliki manusia, termasuk saya sendiri.<br />
Saya percaya bahwa semua ini terjadi karena ego yang tidak bisa dikendalikan, selalu ingin lebih dan mengejar kesenangan tanpa akhir, padahal diri sendiri juga tidak banyak berbuat banyak demi mencapai tujuan itu.</p>
<p>Itu adalah satu hal. Hal lain adalah berhubungan dengan gengsi.<br />
Terkadang saya sulit mengakui kepada orang lain kalau saya memiliki masalah, just because I don&#8217;t want they think that I&#8217;m weak.<br />
That&#8217;s the negative, the positive is I never want to tell negative things about my current condition because it may somehow tempt other people to think negatively too. And also to keep the heart of people who always regards me as a &#8220;strong&#8221; person, altough in reality I&#8217;m not. For the sake of others and also my pride I won&#8217;t tell anybody. So, why I write it in here?</p>
<p>The answer is because : ini semua hanyalah pelampiasan.<br />
Saya tahu bahwa blog ini tidak memiliki banyak pembaca, oleh karena itu saya tidak perlu khawatir jika seseorang yang saya kenal membaca tulisan ini. Dan bagi yang tidak mengenal siapa saya, mari saya beberkan sisi gelap yang mungkin tidak hanya saya yang memilikinya, tapi mungkin juga orang-orang lain termasuk Anda sendiri.</p>
<p><strong>Manusia adalah makhluk yang egois.</strong></p>
<p>Mungkin sudah dari sananya kita mempunyai bibit untuk menjadi orang egois. Mungkin saja mekanisme pertahanan diri yang membuat kita menjadi orang yang egois. Sangat jarang dimana bibit egois tidak tumbuh subur dalam diri manusia, kecuali manusia tersebut punya kemampuan kontrol diri yang kuat.</p>
<p>Sebagai manusia kita punya banyak kebutuhan, mulai dari materi, ataupun yang sifatnya abstrak seperti kasih sayang dari orang lain, pengakuan dan penerimaan dari orang lain, dan lain sebagainya. Tentu saja hal itu adalah lumrah mengingat kita adalah makhluk biasa, namun ada hal hal lain yang ikut menentukan hasil akhir.</p>
<p>Seberapa banyak yang kita harapkan dan seberapa banyak harapan yang menjadi kenyataan akan menjadi sebuah cobaan bagi kita, apakah kita menerimanya atau sebaliknya tidak menerimanya dan terus menggerutu.<br />
Jika kita tidak bisa menerima apa yang terjadi pada kita dengan lapang dada (meskipun mungkin itu adalah akibat kesalahan sendiri), maka pada akhirnya kita hanya akan jatuh ke dalam penderitaan.</p>
<p>Saya sudah menemui dan berbincang bincang dengan beberapa orang yang menurut saya memiliki pemikiran dan filosofi yang luar biasa. Jika pemikiran dan filosofi itu benar benar diterapkan, seharusnya hidup tidak lagi menjadi terlalu bermasalah. Namun pada kenyataannya, hampir semua orang hebat yang saya temui pada akhirnya juga harus jatuh ke dalam jurang penderitaan, kekecewaan, kesepian, dan lain sebagainya.<br />
Kata kata yang indah tidaklah lagi indah, dan mutiara yang berkilauan sekarang menjadi kusam &#8211; setidaknya begitulah cara mereka melihat pemikiran dan filosofi hidup mereka sendiri &#8211; saya berspekulasi.</p>
<p>Tentu saja mutiara tetaplah mutiara. Namun masalahnya bukan terdapat dalam filosofi, namun dalam bagaimana mereka mempraktekkan apa yang mereka percayai sebagai benar. Orang bilang lebih mudah bicara daripada berbuat &#8211; ini mungkin ada benarnya, karena saya juga mengalaminya.</p>
<p>Contohnya, ada orang orang tertentu yang sangat tidak tahu malu, sedangkan saya sebaliknya sangat tahu malu. Terus terang saja ini tidak dapat dibanggakan karena sifat sangat tahu malu ini tidak lain adalah sifat pemalu. Bah !!<br />
Bukan hanya itu saja, bahkan saking pemalunya jadi mudah tersinggung. Sedikit sedikit malu, dan jika respon orang lain tidak sesuai harapan lantas jadi malu dan tersinggung, kemudian pengen bunuh diri !!!<br />
Untungnya saya nggak (atau belum) sampe kesitu. haha</p>
<p>Kebutuhan kebutuhan (dan juga keinginan keinginan) manusia pada akhirnya menjadi titik lemah manusia. Lihat saja bagaimana orang-orang bisa saling membunuh gara-gara makanan, uang ataupun kekuasaan. Juga lihat bagaimana orang-orang pada berlomba lomba bunuh diri gara gara nggak naik kelas ataupun cinta ditolak. Jah&#8230; terlalu banyak kekacauan disini&#8230; bahkan menjabarkannya saja sudah membuat saya sakit kepala !</p>
<p>Lalu, jika kita sudah mengetahui hal ini mengapa kita masih saja terperangkap dalam hal ini?<br />
Itu karena kita sudah terbiasa hidup dalam ilusi tak berkesudahan. Uang membuat kita gelap mata, pujian membuat kita menjadi angkuh, cinta membuat kita mudah cemburu, perhatian dan kasih sayang membuat kita candu, dan lain lain dan lain lain.</p>
<p>Hidup dalam ilusi, kita tidak sadar bahwa ini semua hanyalah ilusi. Jika kita tidak menyadarinya, bagaimana kita bisa keluar darinya? Film the matrix menggambarkan dengan cara yang mirip, meskipun mungkin tidak sempurna.</p>
<p>Cobalah untuk berpikir secara rasional, meskipun sebenarnya rasional itu sendiri mungkin tidak absolut.<br />
Jika kita hidup di dunia ini, lahir menjadi remaja, kemudian dewasa, kemudian tua, dan lantas mati. Membangun rumah yang bagus kemudian lapuk, reot terakhir jadi makanan rayap, apa yang Anda pikirkan?<br />
Jika Anda berpikir logis tentu saja Anda akan berpikir bahwa semuanya itu tidak berguna. Kalau begitu untuk apa hidup? Untuk apa bekerja, makan, minum, tidur, eek? Kalau makanan yang masuk ke perut lantas jadi eek untuk apa coba??</p>
<p>Jadi apakah itu artinya kita harus menyerah pada hidup? Kita ini siapa? Kenapa kita ada disini?<br />
Jika Anda tanyakan ke saya, saya juga bakal bungkam, karena jujur saya juga tidak tahu jawabannya !!</p>
<p>Tapi ada beberapa orang yang memberi satu petunjuk buat saya. Jika hidup tidak ada artinya bukan berarti benar benar tidak ada artinya. Ada satu kondisi yang tidak bisa dijangkau logika biasa, dan mereka sering menyebutnya &#8220;pulau seberang&#8221;. Rasa makanan tidak bisa diberitahukan kepada orang lain melalui kata-kata, oleh karena itulah bagi yang ingin tahu harus memakan sendiri makanan tersebut.</p>
<p>Saat ini saya sedang berusaha menggapai &#8220;makanan&#8221; itu, dan ketika saya tahu rasanya ya nggak apa apa&#8230;haha&#8230;<br />
Emangnya apa yang Anda harapkan? Saya juga masih dalam tahap belajar dan saya tidak bisa meramal masa depan. Namun yang bisa saya katakan untuk hari ini adalah saya akan berusaha meyakinkan diri saya sendiri agar tidak termakan ilusi. Saya akan berusaha, dan Anda juga harus berusaha&#8230; siapapun Anda.</p>
<p>TETAP SEMANGAT !</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F08%2Filusi-kehidupan%2F&amp;title=Ilusi%20Kehidupan" id="wpa2a_18"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tentang Aku</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 01:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221; Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan. Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan. Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain. Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221;</p>
<p>Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.<br />
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.<br />
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.<br />
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.<br />
Karena ego, maka ada yang disebut &#8216;pengorbanan&#8217;, berguna ataupun tidak berguna.</p>
<p>Lalu apakah harus melepaskan ego?<br />
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?<br />
<span id="more-152"></span></p>
<p>Hidup penuh pertimbangan.<br />
Mungkin hanya untuk sebuah jawaban &#8220;Ya !!!&#8221;, butuh lebih dari seribu kali pertimbangan.<br />
Itu karena adanya rasa takut yang terus menerus menghantui.</p>
<p>Terkadang rasa takut itu muncul hanya sesaat dan kemudian pergi.<br />
Rasa takut itu datang dan pergi semaunya.<br />
Meskipun hati ini sangat tenang, namun sesekali tetesan air jatuh dan membuat riak riak kecil di atas air.</p>
<p>Ini adalah sebuah bentuk peringatan.</p>
<p>Terkadang setelah berjalan sangat jauh, ada hal-hal kecil yang terlupakan.<br />
Bahkan karena hal-hal kecil itu, perjalanan jauh bisa jadi sia-sia.</p>
<p>Hal itulah yang mengundang rasa takut itu muncul dalam diriku, sesekali datang dengan frekwensi yang tidak teratur.</p>
<p>Rasa takut itu datang bukan dari tempat yang jauh, namun datang dari sebuah tempat di dalam diri sendiri yang selama ini adalah merupakan daerah abu abu.. daerah sudah lama tak dijamah dan yang telah ditelantarkan sekian lama. Daerah yang penuh dengan pengalaman buruk dan penderitaan yang menyakitkan hati.</p>
<p>Mungkin kebahagiaan saat ini datang karena aku sudah mengabaikan &#8216;daerah&#8217; tersebut. Mungkin apa yang selama ini kurasakan sebagai &#8216;melepaskan&#8217; hanyalah topeng atau bentuk lain yang lebih canggih dari &#8216;mengingkari&#8217;. Mungkin inilah yang disebut ketidaktulusan yang tidak terlihat.</p>
<p>Jika saja tidak ada event yang memicu datangnya rasa takut ini, mungkin aku tidak akan menyadari ini semua.</p>
<p>Yah&#8230; saat ini aku merasa baik baik saja.<br />
Namun setelah rasa takut itu datang untuk pertama kalinya, dan terus menerus datang dengan intensitas yang semakin kuat, aku merasa aku harus menemukan jawabannya. Aku harus menemukan jalan keluarnya.</p>
<p>Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai bergulir.<br />
Aku terpaksa menghentikan perjalananku untuk sementara waktu, menghabiskan waktu untuk berpikir dan lebih banyak mendengarkan dan menyimak pendapat dan pengalaman orang lain. Meskipun tidak bertanya, namun aku terus mengamati keadaan dan pengalaman orang lain. Aku terus berusaha mencari sebuah jalan keluar.<br />
Apa yang kupelajari dari luar nantinya akan menjadi variabel input bagiku untuk menemukan jalan/jawaban di dalam diriku sendiri.</p>
<p>Namun suatu hari, sesuatu yang tidak kukenal yang datang entah dari mana, datang untuk memperingatkan aku. Ia mengatakan padaku bahwa aku harus melanjutkan perjalananku, terlepas dari berhasil tidaknya aku menemukan jawaban dari dalam diri sendiri. Waktunya sudah dekat, aku tidak boleh hanya berdiam diri disini dan terus menerus mengasihani diri sendiri.</p>
<p>Mengasihani diri sendiri??? Benarkah???<br />
Apakah aku memang sedang mengasihani diri sendiri???</p>
<p>Karena pendapat itu datang dari tempat lain, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, karena terkadang pihak lain bisa melihat diri kita secara lebih jelas, apa adanya.</p>
<p>Aku terus berpikir dan berpikir, namun tetap belum berjalan sedikit pun.<br />
Kemudian sesuatu itu berkata lagi, &#8220;Jika kamu tidak cepat berjalan dan pergi dari tempat ini, ketakutan yang selama ini menghantuimu akan datang lagi dan mewujudkan diri menjadi kenyataan. Menghancurkanmu berlipat lipat dari sebelumnya dan yang paling buruk: meskipun kamu menang, namun dengan cara yang salah maka kamu akan mendapatkan berkah kekuatan negatif yang akan merubahmu menjadi setan, yang pada akhirnya akan membuat orang orang disekitarmu menderita !!! Ini sama saja dengan kalah !!! Dan seandainya kamu tidak &#8216;menang&#8217; dan tidak &#8216;kalah&#8217;, kamu akan memulai perjalanan dari awal lagi.&#8221;</p>
<p>Aku hanya terdiam&#8230; aku tidak berkata apapun padanya.<br />
Namun dalam hati aku tahu apa yang dikatakannya mempunyai potensi untuk menjadi kenyataan.<br />
Jika memang aku tidak siap pada waktunya, maka biarkanlah aku hancur berkeping keping.<br />
Bahkan jika aku harus menjadi setan sekalipun, yang menghancurkan hidup orang banyak, biarkanlah aku menjadi terkutuk dan dikirim ke neraka selamanya.<br />
Aku lelah terus berlari. Aku hanya ingin menang atau sebaliknya dikalahkan. Ini adalah pilihan hidupku.</p>
<p>Kemudian sesuatu itupun pergi, dengan penuh rasa jengkel.<br />
Mungkin karena aku telah mengecewakan dia.<br />
Namun aku tidak menyesal dengan jawabanku, aku ingin terus tersenyum seperti ini. Aku harus terus bertahan.</p>
<p>Melihat kejengkelan yang timbul dari &#8216;sesuatu&#8217; itu, aku pun mulai berspekulasi tentang siapakah &#8216;sesuatu&#8217; itu?<br />
Mengapa ia harus merasa jengkel, mengapa ia begitu peduli, dan mengapa ia datang, padahal aku tidak mengundangnya. Mungkin dia adalah rasa takut itu sendiri yang datang dalam bentuk lain, mencoba mempengaruhi diriku untuk terus menerus melarikan diri darinya.<br />
Mungkin ia melakukan itu untuk mempertahankan eksistensi dirinya sendiri, karena pada saat kondisi terakhir terjadi : aku menang ataupun aku kalah, rasa takut itu takut akan mati, dan menghilang.</p>
<p>Namun sebenarnya dalam pandanganku rasa takut tidak akan hilang, ia hanya akan kehilangan sebagian besar kekuatannya.<br />
Rasa takut telah dimakan oleh kekuatannya sendiri. Namun aku berterima kasih pada rasa takut itu, karena berkat dialah aku menemukan hal lainnya yang akan menjadi tambahan kekuatan bagiku yaitu : Kepercayaan terhadap diri sendiri.</p>
<p>Meskipun aku tidak tahu apakah modalku sudah cukup, namun aku tetap akan menghadapinya.<br />
Aku akan mulai menghidupkan kendaraanku, melanjutkan perjalananku, namun tidak untuk menghindari rasa takut itu.<br />
Jika dia memang harus datang, maka datanglah. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka lebar, tidak untuk mengalah namun untuk menerimanya dengan kasih dan kehangatan. Aku berharap suatu saat disaat aku &#8216;menang&#8217;, rasa takut itu akan mengganti bajunya dan melebur kedalam diriku. Rasa takut itu sebenarnya adalah bagian dari diriku yang telah kupisahkan dan kuasingkan di tempat yang jauh, padahal tempatnya adalah bersama diriku, disini saat ini juga. Aku baru menyadarinya, dan sekarang karena aku telah bersalah, aku bertanggung jawab untuk mengambilnya kembali, dan membersihkan semua noda yang telah membuatnya menjadi rasa takut yang mengerikan seperti sekarang.</p>
<p>Aku tidak tahu apakah aku akan &#8216;menang&#8217;, atau &#8216;menangis&#8217;, ataupun tidak menang tidak kalah.<br />
Aku akan berusaha, sementara itu aku akan terus belajar, belajar dari orang lain, belajar dari hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk.</p>
<p>~~~</p>
<p>Semakin dekat aku dengan rasa sakit, semakin dekat aku dengan rasa kecewa, semakin dekat aku dengan kemarahan, kebencian, kegelisahan dan segala hal yang aku takuti, asalkan aku terus berusaha menjaga kesadaranku maka aku bisa semakin mengenali mereka, bagaimana cara kerja mereka, dan bagaimana mengatasi mereka. Semoga aku bisa tetap bertahan dengan kesadaranku. Aku meletakkan satu tanganku pada keteguhan diriku sendiri, dan satu tanganku yang lain pada keluarga, dan teman temanku. Dengan cara demikianlah aku berusaha tetap teguh untuk menjaga kesadaranku.</p>
<p>Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mencintai seseorang seperti apa yang aku inginkan : tanpa penguasaan, tanpa penghakiman, tanpa pamrih, tanpa kecemburuan, tanpa kecurigaan. Murni berlandaskan keinginan untuk membahagiakan satu sama lain, pengertian, kepercayaan, kejujuran dan ketulusan. Jika hal tersebut tidak dapat berjalan dalam hubungan timbal balik, maka biarkanlah ia berjalan satu arah, sampai saatnya tiba dimana hal tersebut berakhir karena termakan usia/waktu ataupun kejadian. Dengan demikian aku tidak akan menyakiti diri sendiri,karena sudah tidak ada yang bisa disakiti dan memberi usaha maksimal untuk tidak menyakiti orang yang kukasihi.</p>
<p>Sampai saatnya tiba, aku tidak boleh menyerah. Aku harus tetap berusaha. Oleh karena itu aku harus TETAP SEMANGAT !!!<br />
Semoga kita semua menemukan jalan kita. Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.hardychen.com%2F2009%2F02%2Fcerita-tentang-aku%2F&amp;title=Cerita%20Tentang%20Aku" id="wpa2a_20"><img src="http://www.hardychen.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

