<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hardy Chen Power Blog &#187; ego</title>
	<atom:link href="http://www.hardychen.com/tag/ego/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hardychen.com</link>
	<description>Powered by STRONG WILL !!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Jul 2010 09:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Egoistic Nature of Human</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 04:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[egoistic]]></category>
		<category><![CDATA[meditation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/</guid>
		<description><![CDATA[An old woman, Marsha, had a relationship with a man who was also old for about 20 years, and although they are not married, the man loved her very much. Nevertheless, Marsha was always afraid that his friend would leave her someday when she grew older and looked for other younger women. Secretly, she believed [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">An old woman, Marsha, had a relationship with a man who was also old for about 20 years, and although they are not married, the man loved her very much. Nevertheless, Marsha was always afraid that his friend would leave her someday when she grew older and looked for other younger women. Secretly, she believed that men had a child. As the time went by, this belief became an obsession for her, so that wherever they went and whatever they did, Marsha became increasingly convinced that this was the situation. This attitude was damaging no matter what they did, and disrupt their togetherness that should be fun.</p>
<p align="justify">On a spring, they were on vacation to the beach and got a room with a terrace overlooked to the sea. Meanwhile, terraced room next to them rented by an elderly man with a younger woman, and a little baby. This was the thing feared by Marsha most.</p>
<p align="justify">It was not unusual if we got what we fear most, and what was worried by Marsha had present, right next to her room. Seeing the family, friends, Marsha said, &quot;Wow, look at that. Lover of the person is still very young. &quot;</p>
<p align="justify">At this point, the holiday was already over for Marsha. She was devastated, she could not sleep, did not want to eat, and felt as if her world was collapsed.</p>
<p align="justify">&quot;I&#8217;m nothing at that time,&quot; she said. &quot;The energy of my youth, beauty, all of my grades as a human have been taken from me.&quot;</p>
<p align="justify">The next day, as they sat on the beach, the couple arrived with their small children and Marsha began to be afraid. A huge hatred arose, and it made her more afraid. She was on vacation in a beautiful place, with the sun shining, but at the same time filled with fear and hate.</p>
<p align="justify">However, when she began talking with them, she knew that they were not lovers, but the father and daughter. &quot;Ah,&quot; she said, and since that time, she began to like the little charming boy. Moment later, she realized that besides her daughter, the old man has no partner. How wonderful, she thought, now her friend got to know that older man was often left alone. Then, she saw that the man looked at her with admiration. Now, she feels pretty, like being on top of the world. The previous night, she suffered greatly; now, she sat on the beach with great joy.</p>
<p align="justify">This was the machination of ego and false pride. A time filled with hatred for a child for no clear reason, the next moment feel on top of the world, because the circumstances seemed different and because the ego felt loved.&#160; </p>
<p align="justify">Zazen (note: meditation) destroying this great suffer by constantly helping us to realize the difference between fantasy and reality, between seeing who we really were and what we dreamed.&#160;&#160; <br />Truly Free human is an individual who does not need to project anything. He is a clear mirror, just look at what the present is, offer compassion, and enlighten anything.</p>
<p align="justify"><strong>Source : Unknown</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2010/05/egoistic-nature-of-human/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Hidup &#8211; Orang Yang Tidak Pernah Mengeluh (13)</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-orang-yang-tidak-pernah-mengeluh-13/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-orang-yang-tidak-pernah-mengeluh-13/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 23:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Lesson]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[nuansa hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi. Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika saya melakukan perjalanan ke daerah dengan kereta api, waktu yang ditempuh dalam perjalanan untuk tiba pada tujuan adalah sembilan jam. Saya berada pada gerbong kelas ekonomi tanpa AC. Waktu keberangkatan adalah pukul sembilan pagi.<br />
Awalnya semua berjalan lancar, saya tidak merasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman. Tapi karena perjalanan telah berlangsung empat jam, saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Hal ini dikarenakan cuaca panas di siang hari dan tebalnya jubah yang saya gunakan. Yang membuat suasana semakin gerah adalah penumpang penumpang lain yang merokok sehingga udara di dalam gerbong tersebut semakin penat. Pada situasi seperti ini, saya sempat mengeluh dan mulai menyalahi orang lain atas ketidaknyamanan yang saya alami. Ada rasa kesal, gelisah dan ingin lari dari kenyataan ini. Saya terus berusaha mengakhiri ketidaknyamanan ini dengan berpikir positif. Saya mencoba menghibur diri dengan mengatakan, &#8220;Bukankah ini saat terbaik untuk berlatih menerima kenyataan?&#8221;<br />
<span id="more-294"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian saya membuka tas saya dan mengambil sebuah buku yang memang telah saya siapkan untuk dibaca dalam perjalanan. Buku itu berjudul &#8220;Bermasalah Namun Tetap Bahagia&#8221; karya Lama Zopa Rinpoche.<br />
Pada saat saya membuka dan membaca halaman demi halaman buku tersebut, saya semakin damai dan semakin dicerahkan bahwa bukan karena kondisi luar yang membuat saya menderita, tetapi pikiran yang menolak kenyataanlah yang lebih membuat saya menderita. Saya pun akhirnya dapat menggunakan cuaca panas dan bau asap rokok untuk membakar ego saya. Saya menyadari akar permasalahannya terletak pada ego yang tidak ingin diganggu, yang mau menang sendiri dan mementingkan diri sendiri. Inilah sumber penderitaan yang sebenarnya. Pada saat itu saya teringat apa yang telah dikatakan oleh Ajahn Chah &#8220;Kita bagaikan orang yang berada di jalan raya dan merasa terganggu dengan suara bising mobil, lalu kita berteriak &#8216;Oooooii jangan jalan disini&#8217;. Tidaklah mungkin mengharapkan mobil untuk tidak berjalan di jalan raya. Jalan itu adalah jalan untuk mobil. Kitalah yang salah. Jangan menyalahkan orang lain&#8221;<br />
Lebih lanjut saya pun teringat sebuah pribahasa yang berbunyi:buruk muka cermin dibelah.</p>
<p style="text-align: justify;">Disaat kita menjalankan tugas dengan tanpa mengeluh, kita akan menyadari bahwa apa yang kadang-kadang menjadi penghalang, tidak lebih adalah sebuah batu karang yang bisa kita injak. Dengan merenungi Dharma yang telah saya pelajari, akhirnya saya dapat meneruskan perjalanan ini dengan senyuman manis dan penuh dengan bau keringat bercampur bau rokok. Saya sadar bahwa kesabaran akan hadir ketika pikiran terkendali dan dapat menerima kenyataan sebagaimana apa adanya atau mengada sepenuhnya pada saat ini.<br />
Lebih daripada itu, merasa diri lebih penting dari yang lain dan mengasihani diri sendiri adalah penyebab kemarahan dan penderitaan.<br />
Jika seseorang telah dapat mengatasi gangguan luar dengan mengubah cara berpikirnya, maka ia dapatlah dikatakan memiliki kesabaran dari orang yang tidak pernah mengeluh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari Buku Nuansa Hidup karangan Bhikkhu Nyanakumuda</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/10/nuansa-hidup-orang-yang-tidak-pernah-mengeluh-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ego. Apakah Teman atau Musuh?</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/10/ego-apakah-teman-atau-musuh/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/10/ego-apakah-teman-atau-musuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 07:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[kemarahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Jika engkau marah kepada sesuatu, maka binasakanlah dia. Apakah pandangan seperti ini benar? Musuh dari luar dibasmi sampai berapa kalipun tidak akan pernah habis selama masih ada kebencian dalam hati, sedangkan musuh dari dalam-sekali dihabisi dengan tuntas dan ditambah dengan fondasi yang kuat, maka selamanya ia tidak akan pernah muncul lagi. Pada dasarnya, siapa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="leaf" src="http://i531.photobucket.com/albums/dd356/budhis/stock_Photos/4851968_blog.jpg" alt="" width="280" height="186" align="left"/>Jika engkau marah kepada sesuatu, maka binasakanlah dia.<br />
Apakah pandangan seperti ini benar?</p>
<p style="text-align: justify;">Musuh dari luar dibasmi sampai berapa kalipun tidak akan pernah habis selama masih ada kebencian dalam hati, sedangkan musuh dari dalam-sekali dihabisi dengan tuntas dan ditambah dengan fondasi yang kuat, maka selamanya ia tidak akan pernah muncul lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya, siapa yang telah melukai diri ini?<br />
Bukan orang lain, bukan siapa siapa selain dari diri sendiri. Ego yang berlebihan adalah penyebab penderitaan manusia.  Jika tidak ada yang namanya ego, maka apa yang bisa dilukai?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian orang berpendapat, jika tidak ada ego, apalah artinya hidup ini? Apa gunanya kekayaan dan kehormatan yang diperoleh dengan susah payah?<br />
Benar ! Apa arti hidup ini? Apa arti kekayaan dan kehormatan? Apakah hidup ini hanya demi ego? Apakah kekayaan dan kehormatan dapat dimiliki selamanya?</p>
<p style="text-align: justify;">Kekayaan, kehormatan ataupun hal hal lainnya adalah barang titipan. Semuanya bisa datang dan pergi dalam sekejap. Lalu apa gunanya memperlakukan barang titipan seolah olah barang tersebut adalah milik diri sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja, orang yang dikuasai nafsu keinginan akan berpikir bahwa meskipun itu adalah titipan, setidaknya bisa dipakai untuk kebahagiaan saat ini.<br />
Sifat acuh tak acuh seperti ini timbul karena ketidaktahuan. Tentu saja kebahagiaan adalah kebahagiaan, namun kemelekatan yang dalam terhadap kebahagiaan itu pada saatnya nanti akan berubah menjadi racun. Lihat bagaimana orang menjadi sangat menderita hanya karena berusaha mempertahankan kebahagiaan. Orang yang belum mengerti tidak akan paham bahaya dibalik kemelekatan itu. Bahkan jika dihitung hitung, terkadang nilai penderitaan yang sudah dialami seseorang karena berusaha mempertahankan kebahagiaan atau meratapi perginya kebahagiaan itu sudah tidak sebanding dengan nilai kebahagiaan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8211; sebuah perumpamaan &#8211;<br />
Ada seorang anak yang diberi oleh oleh sepotong kue oleh temannya. Temannya mengatakan bahwa kue tersebut rasanya enak sekali. Namun karena bentuknya yang menarik, ia tidak ingin memakannya. Ia tidak ingin kehilangan kue tersebut, sehingga akhirnya ia menyimpannya.<br />
Selang beberapa hari, kue itu rusak dan bentuknya sudah tidak bagus lagi. Kue itu tidak lagi indah.<br />
Pada akhirnya ia kehilangan kesempatan untuk mencicipi rasa kue tersebut, ia tidak pernah tahu bagaimana rasa kue tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebagian orang yang juga seperti itu. Mereka bekerja keras untuk mencari uang. Mereka mengumpulkan harta kekayaan yang jumlahnya sudah diluar kebutuhannya, tapi mereka terlalu kikir untuk menggunakannya. Sampai akhirnya ketika ajal mereka tiba, uang itu tidak terpakai sama sekali, dan satu satunya hal yang diwarisi oleh kekayaannya adalah penderitaan akibat kerja keras selama puluhan tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Disisi lainnya, ada juga orang yang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang banyak dan bisa menikmatinya, namun ia tidak bersedia membagi kemakmurannya kepada orang lain. Setelah semua hal yang bisa dibeli dengan uang ia miliki, ia tidak tahu lagi hal apa yang bisa dia beli. Ia tenggelam dalam kebosanan, ia mulai merasa bahwa uang bukanlah segala galanya, dan pada saat ia telah sadar, sudah tidak banyak waktu baginya untuk mulai menggunakan kekayaannya secara bijak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian ada juga orang yang berusaha membeli semua hal dengan uang. Dengan uang ia membeli kehormatan, membeli cinta, membeli teman temannya. Namun karena hatinya tidak tulus, maka orang orang yang menjual cinta, kehormatan dan persahabatan kepadanya juga adalah orang yang tidak tulus. Dengan demikian ia mulai melihat kepalsuan dalam segala hal. Ia akhirnya menderita karena menjadi orang yang penuh curiga, skeptis dan pesimistik terhadap semua hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya adalah orang yang licik. Dengan kebodohannya ia mempermainkan ketulusan manusia, mempermainkan perasaan manusia, dan secara konstan tetap menjaga dirinya di posisi sebagai &#8216;orang baik&#8217;. Orang seperti ini sepertinya tidak tersentuh oleh penderitaan, namun sebenarnya ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang mempersiapkan balasan yang setimpal atas semua perbuatannya. Tentu saja ia tidak akan menyadarinya karena dalam pikirannya sesuatu yang belum bisa dibuktikan pastilah tidak ada. Dengan cara seperti inilah maka karma buruk akan selalu tersenyum kepadanya dan mengikuti dirinya kemanapun ia pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang tukang taman sudah seharusnya jika memiliki tangan yang baik dan terampil. Tangan yang suka merusak sudah pasti tidak akan bisa dipakai untuk menciptakan taman yang indah. Demikianlah orang yang suka berbuat jahat perlahan lahan merusak tamannya sendiri. Ia akan terkejut setelah ia berdiri dan menyaksikan keseluruhan pemandangan tamannya, karena selama ini ia hanya melihat bagian per bagian dari taman itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingatlah bahwa Anda tidak bisa selalu mempercayai mata Anda. Anda juga tidak bisa selalu mempercayai telinga, hidung, kulit, dan lidah Anda. Anda bahkan tidak bisa selalu mempercayai pikiran Anda. Namun meskipun demikian, pengalaman kelima indra itu ditambah dengan pikiran Anda adalah input yang berharga bagi Anda untuk mengembangkan kebijaksanaan Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga semua makhluk memperoleh kesempatan untuk terlepas dari penderitaannya. Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/10/ego-apakah-teman-atau-musuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilusi Kehidupan</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 10:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[ilusi]]></category>
		<category><![CDATA[worry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Sometimes you got a feeling that you can&#8217;t explain. Somehow you feel upset for nothing. It feels like you want something you don&#8217;t really want. Strange&#8230; eh? Yuppieee&#8230; ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mood seseorang bisa berubah ubah dari waktu. Meskipun mungkin kita tidak kekurangan apapun, kita tetap bisa merasakannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sometimes you got a feeling that you can&#8217;t explain. Somehow you feel upset for nothing. It feels like you want something you don&#8217;t really want. Strange&#8230; eh?</p>
<p>Yuppieee&#8230; ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mood seseorang bisa berubah ubah dari waktu.</p>
<p>Meskipun mungkin kita tidak kekurangan apapun, kita tetap bisa merasakannya. Itulah salah satu sifat keras yang dimiliki manusia, termasuk saya sendiri.<br />
Saya percaya bahwa semua ini terjadi karena ego yang tidak bisa dikendalikan, selalu ingin lebih dan mengejar kesenangan tanpa akhir, padahal diri sendiri juga tidak banyak berbuat banyak demi mencapai tujuan itu.</p>
<p>Itu adalah satu hal. Hal lain adalah berhubungan dengan gengsi.<br />
Terkadang saya sulit mengakui kepada orang lain kalau saya memiliki masalah, just because I don&#8217;t want they think that I&#8217;m weak.<br />
That&#8217;s the negative, the positive is I never want to tell negative things about my current condition because it may somehow tempt other people to think negatively too. And also to keep the heart of people who always regards me as a &#8220;strong&#8221; person, altough in reality I&#8217;m not. For the sake of others and also my pride I won&#8217;t tell anybody. So, why I write it in here?</p>
<p>The answer is because : ini semua hanyalah pelampiasan.<br />
Saya tahu bahwa blog ini tidak memiliki banyak pembaca, oleh karena itu saya tidak perlu khawatir jika seseorang yang saya kenal membaca tulisan ini. Dan bagi yang tidak mengenal siapa saya, mari saya beberkan sisi gelap yang mungkin tidak hanya saya yang memilikinya, tapi mungkin juga orang-orang lain termasuk Anda sendiri.</p>
<p><strong>Manusia adalah makhluk yang egois.</strong></p>
<p>Mungkin sudah dari sananya kita mempunyai bibit untuk menjadi orang egois. Mungkin saja mekanisme pertahanan diri yang membuat kita menjadi orang yang egois. Sangat jarang dimana bibit egois tidak tumbuh subur dalam diri manusia, kecuali manusia tersebut punya kemampuan kontrol diri yang kuat.</p>
<p>Sebagai manusia kita punya banyak kebutuhan, mulai dari materi, ataupun yang sifatnya abstrak seperti kasih sayang dari orang lain, pengakuan dan penerimaan dari orang lain, dan lain sebagainya. Tentu saja hal itu adalah lumrah mengingat kita adalah makhluk biasa, namun ada hal hal lain yang ikut menentukan hasil akhir.</p>
<p>Seberapa banyak yang kita harapkan dan seberapa banyak harapan yang menjadi kenyataan akan menjadi sebuah cobaan bagi kita, apakah kita menerimanya atau sebaliknya tidak menerimanya dan terus menggerutu.<br />
Jika kita tidak bisa menerima apa yang terjadi pada kita dengan lapang dada (meskipun mungkin itu adalah akibat kesalahan sendiri), maka pada akhirnya kita hanya akan jatuh ke dalam penderitaan.</p>
<p>Saya sudah menemui dan berbincang bincang dengan beberapa orang yang menurut saya memiliki pemikiran dan filosofi yang luar biasa. Jika pemikiran dan filosofi itu benar benar diterapkan, seharusnya hidup tidak lagi menjadi terlalu bermasalah. Namun pada kenyataannya, hampir semua orang hebat yang saya temui pada akhirnya juga harus jatuh ke dalam jurang penderitaan, kekecewaan, kesepian, dan lain sebagainya.<br />
Kata kata yang indah tidaklah lagi indah, dan mutiara yang berkilauan sekarang menjadi kusam &#8211; setidaknya begitulah cara mereka melihat pemikiran dan filosofi hidup mereka sendiri &#8211; saya berspekulasi.</p>
<p>Tentu saja mutiara tetaplah mutiara. Namun masalahnya bukan terdapat dalam filosofi, namun dalam bagaimana mereka mempraktekkan apa yang mereka percayai sebagai benar. Orang bilang lebih mudah bicara daripada berbuat &#8211; ini mungkin ada benarnya, karena saya juga mengalaminya.</p>
<p>Contohnya, ada orang orang tertentu yang sangat tidak tahu malu, sedangkan saya sebaliknya sangat tahu malu. Terus terang saja ini tidak dapat dibanggakan karena sifat sangat tahu malu ini tidak lain adalah sifat pemalu. Bah !!<br />
Bukan hanya itu saja, bahkan saking pemalunya jadi mudah tersinggung. Sedikit sedikit malu, dan jika respon orang lain tidak sesuai harapan lantas jadi malu dan tersinggung, kemudian pengen bunuh diri !!!<br />
Untungnya saya nggak (atau belum) sampe kesitu. haha</p>
<p>Kebutuhan kebutuhan (dan juga keinginan keinginan) manusia pada akhirnya menjadi titik lemah manusia. Lihat saja bagaimana orang-orang bisa saling membunuh gara-gara makanan, uang ataupun kekuasaan. Juga lihat bagaimana orang-orang pada berlomba lomba bunuh diri gara gara nggak naik kelas ataupun cinta ditolak. Jah&#8230; terlalu banyak kekacauan disini&#8230; bahkan menjabarkannya saja sudah membuat saya sakit kepala !</p>
<p>Lalu, jika kita sudah mengetahui hal ini mengapa kita masih saja terperangkap dalam hal ini?<br />
Itu karena kita sudah terbiasa hidup dalam ilusi tak berkesudahan. Uang membuat kita gelap mata, pujian membuat kita menjadi angkuh, cinta membuat kita mudah cemburu, perhatian dan kasih sayang membuat kita candu, dan lain lain dan lain lain.</p>
<p>Hidup dalam ilusi, kita tidak sadar bahwa ini semua hanyalah ilusi. Jika kita tidak menyadarinya, bagaimana kita bisa keluar darinya? Film the matrix menggambarkan dengan cara yang mirip, meskipun mungkin tidak sempurna.</p>
<p>Cobalah untuk berpikir secara rasional, meskipun sebenarnya rasional itu sendiri mungkin tidak absolut.<br />
Jika kita hidup di dunia ini, lahir menjadi remaja, kemudian dewasa, kemudian tua, dan lantas mati. Membangun rumah yang bagus kemudian lapuk, reot terakhir jadi makanan rayap, apa yang Anda pikirkan?<br />
Jika Anda berpikir logis tentu saja Anda akan berpikir bahwa semuanya itu tidak berguna. Kalau begitu untuk apa hidup? Untuk apa bekerja, makan, minum, tidur, eek? Kalau makanan yang masuk ke perut lantas jadi eek untuk apa coba??</p>
<p>Jadi apakah itu artinya kita harus menyerah pada hidup? Kita ini siapa? Kenapa kita ada disini?<br />
Jika Anda tanyakan ke saya, saya juga bakal bungkam, karena jujur saya juga tidak tahu jawabannya !!</p>
<p>Tapi ada beberapa orang yang memberi satu petunjuk buat saya. Jika hidup tidak ada artinya bukan berarti benar benar tidak ada artinya. Ada satu kondisi yang tidak bisa dijangkau logika biasa, dan mereka sering menyebutnya &#8220;pulau seberang&#8221;. Rasa makanan tidak bisa diberitahukan kepada orang lain melalui kata-kata, oleh karena itulah bagi yang ingin tahu harus memakan sendiri makanan tersebut.</p>
<p>Saat ini saya sedang berusaha menggapai &#8220;makanan&#8221; itu, dan ketika saya tahu rasanya ya nggak apa apa&#8230;haha&#8230;<br />
Emangnya apa yang Anda harapkan? Saya juga masih dalam tahap belajar dan saya tidak bisa meramal masa depan. Namun yang bisa saya katakan untuk hari ini adalah saya akan berusaha meyakinkan diri saya sendiri agar tidak termakan ilusi. Saya akan berusaha, dan Anda juga harus berusaha&#8230; siapapun Anda.</p>
<p>TETAP SEMANGAT !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/08/ilusi-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tentang Aku</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 01:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian Language]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221; Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan. Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan. Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain. Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Seseorang yang tidak bisa disakiti secara mental adalah seseorang yang tanpa keakuan (ego). Karena tidak ada ego, maka tidak ada yang bisa disakiti&#8221;</p>
<p>Karena ego, kita merasa sakit saat kita dikecewakan.<br />
Karena ego, kita merasa sakit saat kita kehilangan.<br />
Karena ego, mungkin kita bisa berbalik menyakiti orang lain.<br />
Karena ego, kadang-kadang kita menjadi menyakiti diri sendiri dan orang lain.<br />
Karena ego, maka ada yang disebut &#8216;pengorbanan&#8217;, berguna ataupun tidak berguna.</p>
<p>Lalu apakah harus melepaskan ego?<br />
Apakah harus melepaskan semuanya begitu saja?<br />
<span id="more-152"></span></p>
<p>Hidup penuh pertimbangan.<br />
Mungkin hanya untuk sebuah jawaban &#8220;Ya !!!&#8221;, butuh lebih dari seribu kali pertimbangan.<br />
Itu karena adanya rasa takut yang terus menerus menghantui.</p>
<p>Terkadang rasa takut itu muncul hanya sesaat dan kemudian pergi.<br />
Rasa takut itu datang dan pergi semaunya.<br />
Meskipun hati ini sangat tenang, namun sesekali tetesan air jatuh dan membuat riak riak kecil di atas air.</p>
<p>Ini adalah sebuah bentuk peringatan.</p>
<p>Terkadang setelah berjalan sangat jauh, ada hal-hal kecil yang terlupakan.<br />
Bahkan karena hal-hal kecil itu, perjalanan jauh bisa jadi sia-sia.</p>
<p>Hal itulah yang mengundang rasa takut itu muncul dalam diriku, sesekali datang dengan frekwensi yang tidak teratur.</p>
<p>Rasa takut itu datang bukan dari tempat yang jauh, namun datang dari sebuah tempat di dalam diri sendiri yang selama ini adalah merupakan daerah abu abu.. daerah sudah lama tak dijamah dan yang telah ditelantarkan sekian lama. Daerah yang penuh dengan pengalaman buruk dan penderitaan yang menyakitkan hati.</p>
<p>Mungkin kebahagiaan saat ini datang karena aku sudah mengabaikan &#8216;daerah&#8217; tersebut. Mungkin apa yang selama ini kurasakan sebagai &#8216;melepaskan&#8217; hanyalah topeng atau bentuk lain yang lebih canggih dari &#8216;mengingkari&#8217;. Mungkin inilah yang disebut ketidaktulusan yang tidak terlihat.</p>
<p>Jika saja tidak ada event yang memicu datangnya rasa takut ini, mungkin aku tidak akan menyadari ini semua.</p>
<p>Yah&#8230; saat ini aku merasa baik baik saja.<br />
Namun setelah rasa takut itu datang untuk pertama kalinya, dan terus menerus datang dengan intensitas yang semakin kuat, aku merasa aku harus menemukan jawabannya. Aku harus menemukan jalan keluarnya.</p>
<p>Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai bergulir.<br />
Aku terpaksa menghentikan perjalananku untuk sementara waktu, menghabiskan waktu untuk berpikir dan lebih banyak mendengarkan dan menyimak pendapat dan pengalaman orang lain. Meskipun tidak bertanya, namun aku terus mengamati keadaan dan pengalaman orang lain. Aku terus berusaha mencari sebuah jalan keluar.<br />
Apa yang kupelajari dari luar nantinya akan menjadi variabel input bagiku untuk menemukan jalan/jawaban di dalam diriku sendiri.</p>
<p>Namun suatu hari, sesuatu yang tidak kukenal yang datang entah dari mana, datang untuk memperingatkan aku. Ia mengatakan padaku bahwa aku harus melanjutkan perjalananku, terlepas dari berhasil tidaknya aku menemukan jawaban dari dalam diri sendiri. Waktunya sudah dekat, aku tidak boleh hanya berdiam diri disini dan terus menerus mengasihani diri sendiri.</p>
<p>Mengasihani diri sendiri??? Benarkah???<br />
Apakah aku memang sedang mengasihani diri sendiri???</p>
<p>Karena pendapat itu datang dari tempat lain, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, karena terkadang pihak lain bisa melihat diri kita secara lebih jelas, apa adanya.</p>
<p>Aku terus berpikir dan berpikir, namun tetap belum berjalan sedikit pun.<br />
Kemudian sesuatu itu berkata lagi, &#8220;Jika kamu tidak cepat berjalan dan pergi dari tempat ini, ketakutan yang selama ini menghantuimu akan datang lagi dan mewujudkan diri menjadi kenyataan. Menghancurkanmu berlipat lipat dari sebelumnya dan yang paling buruk: meskipun kamu menang, namun dengan cara yang salah maka kamu akan mendapatkan berkah kekuatan negatif yang akan merubahmu menjadi setan, yang pada akhirnya akan membuat orang orang disekitarmu menderita !!! Ini sama saja dengan kalah !!! Dan seandainya kamu tidak &#8216;menang&#8217; dan tidak &#8216;kalah&#8217;, kamu akan memulai perjalanan dari awal lagi.&#8221;</p>
<p>Aku hanya terdiam&#8230; aku tidak berkata apapun padanya.<br />
Namun dalam hati aku tahu apa yang dikatakannya mempunyai potensi untuk menjadi kenyataan.<br />
Jika memang aku tidak siap pada waktunya, maka biarkanlah aku hancur berkeping keping.<br />
Bahkan jika aku harus menjadi setan sekalipun, yang menghancurkan hidup orang banyak, biarkanlah aku menjadi terkutuk dan dikirim ke neraka selamanya.<br />
Aku lelah terus berlari. Aku hanya ingin menang atau sebaliknya dikalahkan. Ini adalah pilihan hidupku.</p>
<p>Kemudian sesuatu itupun pergi, dengan penuh rasa jengkel.<br />
Mungkin karena aku telah mengecewakan dia.<br />
Namun aku tidak menyesal dengan jawabanku, aku ingin terus tersenyum seperti ini. Aku harus terus bertahan.</p>
<p>Melihat kejengkelan yang timbul dari &#8216;sesuatu&#8217; itu, aku pun mulai berspekulasi tentang siapakah &#8216;sesuatu&#8217; itu?<br />
Mengapa ia harus merasa jengkel, mengapa ia begitu peduli, dan mengapa ia datang, padahal aku tidak mengundangnya. Mungkin dia adalah rasa takut itu sendiri yang datang dalam bentuk lain, mencoba mempengaruhi diriku untuk terus menerus melarikan diri darinya.<br />
Mungkin ia melakukan itu untuk mempertahankan eksistensi dirinya sendiri, karena pada saat kondisi terakhir terjadi : aku menang ataupun aku kalah, rasa takut itu takut akan mati, dan menghilang.</p>
<p>Namun sebenarnya dalam pandanganku rasa takut tidak akan hilang, ia hanya akan kehilangan sebagian besar kekuatannya.<br />
Rasa takut telah dimakan oleh kekuatannya sendiri. Namun aku berterima kasih pada rasa takut itu, karena berkat dialah aku menemukan hal lainnya yang akan menjadi tambahan kekuatan bagiku yaitu : Kepercayaan terhadap diri sendiri.</p>
<p>Meskipun aku tidak tahu apakah modalku sudah cukup, namun aku tetap akan menghadapinya.<br />
Aku akan mulai menghidupkan kendaraanku, melanjutkan perjalananku, namun tidak untuk menghindari rasa takut itu.<br />
Jika dia memang harus datang, maka datanglah. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka lebar, tidak untuk mengalah namun untuk menerimanya dengan kasih dan kehangatan. Aku berharap suatu saat disaat aku &#8216;menang&#8217;, rasa takut itu akan mengganti bajunya dan melebur kedalam diriku. Rasa takut itu sebenarnya adalah bagian dari diriku yang telah kupisahkan dan kuasingkan di tempat yang jauh, padahal tempatnya adalah bersama diriku, disini saat ini juga. Aku baru menyadarinya, dan sekarang karena aku telah bersalah, aku bertanggung jawab untuk mengambilnya kembali, dan membersihkan semua noda yang telah membuatnya menjadi rasa takut yang mengerikan seperti sekarang.</p>
<p>Aku tidak tahu apakah aku akan &#8216;menang&#8217;, atau &#8216;menangis&#8217;, ataupun tidak menang tidak kalah.<br />
Aku akan berusaha, sementara itu aku akan terus belajar, belajar dari orang lain, belajar dari hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk.</p>
<p>~~~</p>
<p>Semakin dekat aku dengan rasa sakit, semakin dekat aku dengan rasa kecewa, semakin dekat aku dengan kemarahan, kebencian, kegelisahan dan segala hal yang aku takuti, asalkan aku terus berusaha menjaga kesadaranku maka aku bisa semakin mengenali mereka, bagaimana cara kerja mereka, dan bagaimana mengatasi mereka. Semoga aku bisa tetap bertahan dengan kesadaranku. Aku meletakkan satu tanganku pada keteguhan diriku sendiri, dan satu tanganku yang lain pada keluarga, dan teman temanku. Dengan cara demikianlah aku berusaha tetap teguh untuk menjaga kesadaranku.</p>
<p>Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mencintai seseorang seperti apa yang aku inginkan : tanpa penguasaan, tanpa penghakiman, tanpa pamrih, tanpa kecemburuan, tanpa kecurigaan. Murni berlandaskan keinginan untuk membahagiakan satu sama lain, pengertian, kepercayaan, kejujuran dan ketulusan. Jika hal tersebut tidak dapat berjalan dalam hubungan timbal balik, maka biarkanlah ia berjalan satu arah, sampai saatnya tiba dimana hal tersebut berakhir karena termakan usia/waktu ataupun kejadian. Dengan demikian aku tidak akan menyakiti diri sendiri,karena sudah tidak ada yang bisa disakiti dan memberi usaha maksimal untuk tidak menyakiti orang yang kukasihi.</p>
<p>Sampai saatnya tiba, aku tidak boleh menyerah. Aku harus tetap berusaha. Oleh karena itu aku harus TETAP SEMANGAT !!!<br />
Semoga kita semua menemukan jalan kita. Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2009/02/cerita-tentang-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Most Dangerous Enemy : Ego</title>
		<link>http://www.hardychen.com/2008/11/the-most-dangerous-enemy-ego/</link>
		<comments>http://www.hardychen.com/2008/11/the-most-dangerous-enemy-ego/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 10:29:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hardy Chen</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Inside My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[My Daily Life]]></category>
		<category><![CDATA[anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[anxious]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[enemy]]></category>
		<category><![CDATA[meditation]]></category>
		<category><![CDATA[metta]]></category>
		<category><![CDATA[mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hardychen.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Last night, I couldn&#8217;t sleep&#8230; I&#8217;m very anxious to find out about certain issues in my life and I couldn&#8217;t find the answer&#8230; I felt irritated by this condition, but it couldn’t be helped. I took my time browsing through the web… searching information about metta meditation. Google gave me some results, and I was [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.hardychen.com/wp-content/uploads/2008/06/possibilities.jpg" alt="" width="168" height="126" />Last night, I couldn&#8217;t sleep&#8230;<br />
I&#8217;m very anxious to find out about certain issues in my life and I couldn&#8217;t find the answer&#8230; I felt irritated by this condition, but it couldn’t be helped.<br />
I took my time browsing through the web… searching information about metta meditation. Google gave me some results, and I was directed to a forum where people talk about Buddhism.<br />
They had a quite complex conversation in there, and I was delighted because I found some new inspiration from it.</p>
<p>Every time we feel anxious. We’re worrying about our career, we’re worrying about our relationship, we’re worrying about our family, we’re worrying about our health, and we’re worrying about our family. We have too much things to worry about, and we tend to create disbelief in our mind system. We are starting to create boundaries around us and it will harm us in the future.</p>
<p>Actually, I’m very tired of this and I always think about it. This won’t get me anywhere&#8230; this is completely useless. I just need to feel relaxed. I just need to control myself. The most dangerous enemy comes from your inner, and when you find solution to tame your ego… you’ll become a better person.</p>
<p>So, the first thing I should do is to recognize the forms of the mind. I should not try to destroy it, rather to tame it. It’s sure not an easy job because it’s easier to kill than to cure.</p>
<p>Still long way to go… I hope I’ll get to the place where I always wanted to.</p>
<p>Good night… my friends. <img src='http://www.hardychen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hardychen.com/2008/11/the-most-dangerous-enemy-ego/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
